Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi Lingkungan
C. Ide, Gerakan Konservasi Lingkungan
1. Konsep Ecodevelopment dan Sustainable Development Kesadaran global tentang masalah lingkungan dalam bentuk
gerakan berkembang pesat sejak Deklarasi Stockholm, Swedia tanggal 5-16 Juni 197275 dan semakin intens sejak konferensi di Nairobi Kenya 1982 serta Konferensi PBB tentang lingkungan di Rio de Janeiro Brasil Juni 1992. Pertemuan itu membahas bagaimana alam sudah berada di tingkat kritis karena peradaban industrialisasi modern. 76
Deklarasi Stocholm ini dikenal juga dengan UNCHE (United Nations Conference on Human Environment) dihadiri oleh 113 negara, 21 organisasi PBB, 16 Organisasi antar pemerintah, dan 258 LSM (NGOs) dari berbagai negara. Konferensi ini melahirkan konsep
75Hasil dari konferensi ini adalah : 1) Deklarasi tentang lingkungan hidup manusia, terdiri atas muqaddimah (preamble) dan 26 prinsip dalam Stocholm declaration, 2) Rencana Aksi Lingkungan Hidup (Action plan) yang terdiri dari 109 rekomendasi. Deklarasi dan rekomendasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi lima bidang utama yaitu: pemukiman, pengelolaam sumber daya alam, pencemaran, pendidikan, dan pembangunan. Deklarasi Stoclhom juga menyerukan agar bangsa-bangsa di dunia mempunyai kesepakatan untuk melindungi kelestarian alam dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup bagi manusia. Selanjutnya lihat Saifullah, Hukum Lingkungan; paradigma Kebijakan Kriminal di Bidang Konservasi Keanekragaman Hayati, (Malang: UIN Malang Press, 2007), h. 3, lihat juga WALHI, Seri Konvensi Internasional; Konvensi Ramsar, CITIES, Konvensi Keanekaragaman Hayati, Konvensi Perubahan Iklim, (Jakarta:
Pustaka Pelajar Ofset, 1999)
76Krisis lingkungan tersebut ditandai dengan berbagai peristiwa lingkungan seperti: pencemaran di darat, udara, air, pemanasan global (global warming), pelubangan lapisan ozon, berkurangnya sumber daya alam dan energi baik itu renewable resources, non renewable resources, maupun common property resources.
80 Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi lingkungan
ecodevelopment yang dicetuskan oleh Mauroce Strong yang kemudian dilanjutkan oleh Ignacy Sachs. Kemudian untuk terselenggaranya konsep ecodevelopment tersebut, PBB membentuk WCED (World Commission on Environment and Development) pada tahun 1983. WCED melakukan pendekatan terhadap lingkungan dan pembangunan dari berbagai aspek yaitu: keterkaitan, keberlanjutan, pemerataan, keamanan dan resiko lingkungan, pendidikan serta komunikasi dan kerjasama internasional.
Konferensi Stocholm kemudian membentuk UNEF (United Nations Environment Program) yaitu sebuah badan PBB yang mengurusi masalah lingkungan yang berkedudukan di Nairobi Kenya.
Istilah sustainable development diperkenalkan dalam Worl Conservation strategi yang diterbitkan oleh UNEP, IUCN dan WWF pada tahun 1980. Tahun 1982 UNEP menyelenggarakan sidang istimewa memperingati 10 tahun gerakan lingkungan dunia (1972- 1982) di Nairobi Kenya sebagai reaksi ketiakpuasan atas penanganan lingkungan selama ini. Salah satu substansi dari pertemuan tersebut adalah mengusulkan terbentuknya satu komisi yang bertugas melakukan pengkajian tentang arah pembangunan di dunia termasuk mengesahkan World Charter for Nature dan deklarasi Naerobi. Usulan tersebut akhirnya melahirkan WCED (World Commission on Environment and Development) pada tahun 1983. Dalam sidang istimewa tersebut disepakati pembentukan WCED (World Comission on Environment and Development), PBB memilih PM Norwegia Harlem Brundtland dan mantan luar negeri Sudan Mansyur Khaled menjadi Ketua dan Wakil ketua WCED.77
Pada laporan WCED tahun 1987 telah termuat konsep sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Konsep ini didefiniskan sebagai:
77David Pearce, Blue Print 3; Measuring Sustainable Development, (UK:
Earthscan Publication, Ltd, 1993), h,7
sustainable development is evelopment that meets the needs pf the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs.78
Di dalam konsep ini terkandung dua pokok gagasan penting, yaitu:
a) Kebutuhan; khususnya kebutuhan esensial kaum miskin sedunia yang harus diberi prioritas utama
b) Gagasan keterbatasan yang bersumber pada kondisi teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kini dan masa depan.79
Pembangunan berkelanjutan dapat dipahami sebagai cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan, kualitas kehidupan, dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan datang untuk menikmati dan memanfaatkannya. Dalam proses pembangunan berkelanjutan terdapat proses perubahan yang terencana, yang di dalamnya terdapat eksploitasi sumberdaya, arah invetasi orientasi pembangunan teknologi, dan perubahan kelembagaan yang kesemuanya ini dalam keadaan yang selaras, serta meningkatkan potensi masa kini dan amsa depan untuk memenuhi kebutuhan dan apirasi masyarakat.
Susan Smith mendefiniskan sustainabale development sebagai meningkatkan mutu hidup generasi kini dengan mencadangkan modal/sumber alam bagi generasi mendatang. Menurutnya, dengan cara ini dapat dicapai empat hal, yaitu:
a) Pemeliharaan hasil-hasil yang dicapai secara berkelanjutan atas sumber daya yang diperbatui
b) Melestarikan dan menggantikan sumber alam dengan yang bersifat jenuh (exhaustible resources)
78Our Common Future – World Comission on Environtmen and Deleopment, University Press, printed in Great Britain in 1987, Chairman‘s Foreword, h.
8/43
79Mohan Munasinghe, Environmental Economics and Sustainable Development, (Washington, the World Bank, 1997), h,7
82 Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi lingkungan
c) Pemeliharaan sistem pendukung ekologis d) Pemeliharaan atas keanekaragaman hayati.80
Jadi, tujuan pembangunan ekonomi dan sosial harus dituangkan dalam gagasan keberlanjutan disemua negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Berikut ini skema tiga pilar konsep sustainable development:
Gambar: 3 Pilar konsep sustainable development
Selanjutnya ada empat syarat yang harus dipenuhi bagi suatu proses pembangunan berkelanjutan:
a) Menempatkan suatu kegiatan dan proyrk pembangunan pada lokasi yang secara ekologis benar
b) Pemanfaatan sumber daya terbarukan (renewable resources) tidak boleh melebihi potensi lestarinya serta upaya mencari pengganti bagai sumber daya tak terbarukan (non renewable resources)
c) Pembuangan limbah industri maupun rumah tangga tidak boleh melebihi kapasitas asimilasi pencemaran
d) Perubahan fungsi ekologis tidak boleh melebihi kapasitas daya dukung libgkungan (carrying capacity).
80NHT Siahaan, Lingkungan dan Ekologi Pembangunan, (Jakarta: Erlangga, 2004), h 148
Pada masa sebelum pembangunan berkelanjutan dicanangkan, pertumbuhan ekonomi merupakan satu-satunya tujuan bagi dilaksanakannya satu pembangunan tanpa pertimbangkan aspek lainnya seperti sosial dan lingkungan. Selanjutnya pada era pembangunan berkelanjutan ada 3 tahapan pertumbuhan ekonomi yang dilaui oleh setiap negara. Pada setiap tahap, tujuan pembangunan adalah oertumbuhan ekonomi namun dengan dasar pertimbangan aspek-aspek yang semakin komprehensif dalam setiap tahapannya. Tahap pertama dasar pertimbangannya hanya aspek ekologi, tahap kedua harus memasukkan pula aspek keadilan sosial, dan tahap ketiga semestinya dasar pembangunan mencakup pula aspek aspirasi politis dan sosial budaya dari masyarakat setempat, Tahapan-tahapan digambarkan sebagai evolusi konsep pembangunan berkelanjutan, seperti dalam gambar berikut ini:
Sebelum Sustainable Development
Pembangunan Berkelanjutan
Fase 1 Fase 2 Fase 3
Pertumbuhan Ekonomi Sebagai obyek utama pembangunan
Pertumbuhan Ekonomi dan
Pertumbuhan Ekonomi dan
Pertumbuhan Ekonomi dan
Keberlanjutan Ekologis (Ecological Sustainability) Perlu dicapai dan diseimbangkan dalam proses pembangunan
Keberlanjutan Ekologis (Ecological Sustainability) dan
Keberlanjutan Ekologis (Ecological Sustainability) dan
Keadilan Sosial
Perlu dicapai dan diseimbangkan dalam proses pembangunan
Keadilan Sosial
Perlu dicapai dan diseimbangkan dalam proses pembangunan dan PelestarianKeadilan Sosial
Perlu dicapai dan diseimbangkan dalam proses pembangunan
Gambar: Tahapan Pembangunan Berkelanjutan
Berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan di atas, maka indikator pembangunan berkelanjutan tidak akan terlepas aspek-aspek seperti ekonomi, sosial, ekologi/lingkungan, politik dan budaya.
Terkait dengan konsep ini, Otto Soemarwoto mengajukan enam tolak
84 Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi lingkungan
ukur pembangunan berkelanjutan secara sederhana yang dapat digunakan baik untuk menilai keberhasilan suatu pemerintahan dalam pelaksanaan proses pembangunan berkelanjutan, Enam tolak ukur itu meliputi: pro lingkungan hidup, pro rakyat miskin, pro kesetaraan gender, pro penciptaan lapangan kerja, pro dengan bentuk kesatuan negara RI dan harus anti koripsi, kolusi serta nepotisme.
Gondokusumo menyebutkan syarat-syarat yang perlu dipenuhi untuk tercapainya proses pembangunan berkelanjutan, syarat tersebut secara umum terbagi dalam tiga indikator utama;
a) Pro Ekonomi kesejahteraan, maksudnya adalah pertumbuhan ekonomi ditujukan untuk kesejahteraan semua anggota masyarakat, dapat dicapai melalui teknologi inovatif yang berdampak minimum terhadap lingkungan.
b) Pro Lingkungan Berkelanjutan, maksudnya etika lingkungan non antroposentris yang menjadi pedoman hidup masyarakat, sehingga mereka selalu mengupayakan pelestarian dan keseimbangan lingkungan, konservasi sumberdaya alam vital, dan mengutamakan peningkatan kualitas hidup non material.
c) Pro Keadilan Sosial, maksudnya adalah keadilan dan kesetaraan akses terhadap sumber daya alam dan pelayanan publik, serta menghargai diversitas budaya.81