• Tidak ada hasil yang ditemukan

Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi Lingkungan

D. Spiritualitas Agama sebagai Etika Lingkungan Global Berbagai dekalarasi dan konvensi internasional tentang

2. Temple

Komunitas agama yang berpusat di tempat suci (Gereja, Masjid, Pure, dan lainnya) maupun bentuk lembaga-lembaga keagamaan lainnya adalah sarana mobilisasi sosial yang efektif.

Dalam konteks Islam, Masjid103 merupakan basis pergerakan masyarakat Islam. Secara konsepsional dapat dilihat dalam sejarah bahwa masjid zaman Nabi memiliki banyak fungsi, diantaranya sebagai tempat menjalankan ibadah, sebagai tempat musyawarah, tempat pengaduan masyarakat dalam menuntut keadilan dan secara tak langsung sebagai tempat pertemuan bisnis.

Fungi strategis masjid lainnya adalah sebagai pusat pengembangan masyarakat dimana setiap hari masyarakat berjumpa dan mendengar arahan-arahan dan nasehat agama dari Nabi tentang berbagai hal;

prinsip-prinsip keberagamaan, tentang sistem masyarakat baru. Di

102C.A. Qadir, Philosophy and Science in the Islamic World, (London, Routledge, 1988),

103Jika menengok sejarah Nabi ada 7 langkah strategis yang dilakukan Nabi dalam membnagun masyarakat madani di Madinah, yaitu: mendirikan Masjid, mengikat persaudaraan antar komunitas muslim, mengikat perjanjian dengan masyarakat non muslim, membangun sistem politik, meletakkan sistem dasar ekonomi, membangun keteladanan pada elit masyarakat, dam menjadikan ajaran Islam sebagai sistem nilai dalam masyarakat.

dalam masjid pula terjadi interaksi antara pemikiran, ide dan karakter manusia.

Indonesia dikenal berpenduduk mayoritas muslim dengan (88%

dari 245.000.000) penduduknya beragama Islam. Ini merupakan basis komunitas yang cukup signifikan dalam membangun sebuah komunitas dan peradaban manusia yang ramah terhadap lingkungan.

Di samping mempunyai masjid, Islam juga mempunyai berbagai lembaga sebagai sarana mobilisasi sosial seperti, pesantren yang mempunyai Basis pengikut dan massa yang besar, sumber daya materi yang signifikan, serta berpotensi untuk membangun komunitas. Di samping itu, pesantrren dengan berbagai lembaga pendidikannya dapat turut berperan aktif dalam upaya konservasi lingkungan dengan terjun langsung dalam penanaman pohon maupun memotivasi masyarakat untuk berperan serta.

Jumlah pesantren di Indonesia berdasarkan data Dirjen Lembaga Islam Departemen Agama RI Tahun Ajaran 2003/2004 telah mencapai 14.656 buah. Jumlah ini tentunya semakin memperkuat potensi ekologi Islam sebagai basis etika lingkungan global dengan aspek membangun komunitas massa.104 Pesantren adalah lembaga yang kebanyakan berada di kawasan pedesaaam dan berada dekat dengan daerah kawasan konservasi. Berdasarkan data tahun 2004, Secara geografis 83,83 % (12.286) dari jumlah pesantren berada di pedesaan, 8,46 % (1.240) berada di perkotaan dan 7,71 % (1.130) berada di perbatasan keduanya. Di samping itu Masyarakat pesantrean sudah terbiasa dengan masalah pertanian, peternakan, kehutanan, dan pengelolaan lingkungan sosial dan lingkungan alam

104 Model Gerakan konservasi lingkungan dengan basis pesantren selanjutnya lihat hasil penelitian LIPI dan kerjasamanya dengan Tiga Pesantren (Pondok Pesantren Al-Amanah, Al-Wasilah dan Ar-Risalah), Di kabupaten Bandung, Garut dan Ciamis. LIPI berkesimpulan bahwa masyarakat akan lebih tersentuh apabila materi dan agenda konservasi lingkungan menggunakan media agama dan budaya lokal. Selanjutnya lihatArif Budiman dan Ahmad Jauhar Arif, Konservasi Berbasis Keimanan; Contoh Kasus di Tiga Pesantren, dalam Fahrudin Mangun Jaya, Menama Sebelum Kiamat, h.222

98 Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi lingkungan

secara luas. Dengan argumen ini, maka pesantren dapat beperan signifikan dalam upaya rehabilitasi lahan dan penghutanan kembali.

Penandatanganan MoU antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) dan Departemen Agama (Depag), pada tanggal 4 Desember 2006, telah membuka kesempatan bagi kedua belah pihak untuk saling mengisi dalam upaya meningkatkan peranan Lembaga Pendidikan Islam dalam mempersiapkan generasi sadar lingkungan dalam meningkatkan pengelolaan lingkungan hidup. Setelah penandatangan MoU, dilanjutkan Seminar Kaderisasi Lingkungan Pondok Pesantren Se-Indonesia, yang dilaksanakan dari tanggal 4 – 5 Desember 2006 di Pondok Pesantren Darunnajah I, Ulujami, Jakarta Selatan. Pada acara ini hadir wakil wakil dari 41 pesantren yang ada di Indonesia untuk melaksanakan seminar kaderisasi lingkungan.

Menghasilkan 8 rekomendasi Pesantran menuju eco-pesantren.105 3. Teacher

Dalam sosialisasi dan mobilisasi sebuah program tidak cukup hanya dengan modal normatif ―ayat-ayat hijau‖ dan komunitas massa yang banyak, namun dibutuhkan figur dan ketokohan seorang Kyai atau ulama yang akan menjadi Tauladan dan agen bagi gerakan mobilisasi tersebut.

105 Delapan Rekomendasi Lingkungan Menuju Eco pesantren. 1) Mensuport, Memberikan, menfasilitasi penghargaan Kalpataru dan penghargaan Adiwiyata kepada Pondok Pesantren Se-Indonesia sesuai prosedur yang ada khususnya kepada lembaga/pondok pesantren peserta seminar Kaderisasi Lingkungan Pondok Pesantren Se-Indonesia. 2). Pro aktif memfasilitasi dan mensuport kegiatan lingkungan di pondok pesantren, 3).Pro Aktif, memfasilitasi dan mensuport kegiatan SABIM (Santri Bina Masyarakat) yaitu konsep Dakwah dengan Media Lingkungan dalam rangka pemberdayaan pesantren dan masyarakat. 4).Mengagendakan dan melaksanakan kegiatan seminar Lingkungan Pondok Pesantren Se_Indonesia setiap tahun. 5).

Memberikan upaya solusi konkrit pada permasalahan sampah dan pembuatan Green Area di pondok pesantren. 6).Memberikan BPLP (Bantuan Pembinaan Lingkungan Pesantren), 7). Menunjuk beberapa pesantren untuk menjadi Pilot Project Lingkungan. 8). Mengintruksikan kegiatan diatas kepada pihak terkait.

Kyai dan Ulama diharapkan mempunyai peran ganda yaitu melakukan aktivitas penyebaran materi kegamaan dan melakukan pendampingan masyarakat untuk isu-isu sosial seperti korupsi, kolusi, perusakan lingkungan hidup, dan menjadi advokasi terhadap pelanggaran hak rakyat oleh negara seperti kasus penggususran, hak- hak perempuan, konflik antar agama, dan problem kemanusiaan lainnya. Dalam konteks inilah seorang Kyai atau ulama harus berperan sebagai kekuatan perantara (intermediary forces) bagi permasalahan sosial ummat, di samping tugasnya sebagai apa yang disebut oleh Clifford Geertz sebagai peran makelar budaya (cultural broker) yang harus menyeleksi dan mengarahkan nilai-nilai budaya yang akan memberdayakan masyarakat.106

Kalangan ulama sebagai pihak yang ditokohkan dan diteladani masyarakat mempunyai peran yang sangat penting dalam transformasi wacana ekologi Islam, namun demikian ulama tidak dapat berjalan sendiri, karena upaya konservasi lingkungan merupakan perpaduan antara elemen normatif syari'ah dan elemen sains serta teknologi. Oleh karena itu menjadi penting untuk mewujudkan adanya sinergi positif antara ulama dan kalangan ilmuan serta pengggiat organisasi yang bergerak dibidang konservasi lingkungan hidup.

Menurut Syahrul A‘zam, ada beberapa peran yang bisa dimainkan oleh seorang kyai atau ulama dalam fungsinya sebagai agen perubahan dalam usaha konservasi alam.107 Peran-peran tersebut adalah: Pertama, Sebagai motivator. Da‘i dengan dakwahnya harus bisa memberikan motivasi kepada setiap orang untuk melakukan perubahan dari cara hidup yang merusak alam dan lingkungan menuju cara hidup yang memanfaatkan lingkungan dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai agama. Kedua, Sebagai Penghubung, setelah umat mempunyai motivasi

106Lebih lengkapnya tentang peran da‘i sebagai kekuatan perantara, baca hasil penelitian Hiroko Horikoshi di Garut, Kyai dan Perubahan Sosial, (Jakarta:

P3M, 1987)

107Syahrul A‘zam, Konsep dan Teknik Penyusunan Materi Dakwah konservsai Alam dan Lingkungan dalam Fahruddin M Mangunjaya, dkk, Menanam Sebelum Kiamat, h. 264

100 Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi lingkungan

untuk melakukan perubahan, maka seorang da‘i harus mampu menghubungkan dengan ide-ide konservasi alam dan lingkungan.

Ketiga Sebagai Pendiagnosis Masalah. Masyarakat terkdang sulit menerima materi dakwah, karena mereka sendiri mempunyai masalah yang belum dan tidak mampu mereka pecahkan. Karena itu, dai harus mampu mendiagnosa permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat dan memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut.

Keempat Sebagai Pemelihara Inovasi. Pemikiran dan ide-ide baru tentang konservasi alam dan lingkungan yang baru disampaikan kepada masyarakat tentu tidak mudah dipahami dan dipraktekkan. Oleh sebab itu seorang da‘i harus terus memantau, memperhatikan pemahaman masyarakat tentang konservasi alam tersebut sehingga nantinya akan menjadi sebuah pola hidup masyarakat. Dalam konteks inilah, pemuka agama kyai atau ulama bisa menjadi pusat perumusan upaya-upaya pemecahan masalah sekaligus mobilisasi sumberdaya masyarakat.

Hasil penelitian J. Baird Callicot membuktikan kebenaran berbagai teori tokoh di atas, bahwa agama dan tradisi spiritualitas dapat menjadi basis etis penyelamatan lingkungan. Ia menegaskan bahwa kesadaran lingkungan Barat dan kemunculan ide berbagai environmentalist Barat modern tentang etika lingkungan sesungguhnya dipengaruhi dan dibentuk oleh spiritualitas dan filsafat Timur. Ide transendentalisme Amerika dari Ralph Waldo Emerson dan Henri David Thoreau diilhami oleh pemikiran Hindu. Arne Naess dengan Deep Ecologi-nya dipengaruhi oleh Ajaran Vedanta yang menekankan non-dualitas untuk mengolah pengalaman keterbukaan terhadap alam. Begitupun dengan pengaruh spiritualitas Zen-Budhisme dalam etika lingkungan kontemporer abad 20 yang dikemukakan oleh DT. Suzuki, Alan Watts, dan Gary Sinder.108

108J. Baird Callicott, Menuju Etika Lingkungan Global, dalam Mary Evelyn Tucker dan John A Grim (eds), Worldviews and Ecology; Religions, Philosophy and Environment, ter. Agama, Filsafat dan Lingkungan Hidup, (Yogyakarta; Kanisus, 2003), h.29

Untuk membalikkan kecendrungan masyarakat modern yang ekploitatif dan paham konsumerisme yang ada sekarang ini, harus ada upaya yang signikan dari semua pemerintah di dunia serta lembaga- lembaga ilmiah dan otoritas-otoritas keagamaan. Tapi semua itu tidak akan berhasil tanpa menambahkan dimensi moral kepada hubungan manusia dengan lingkungan. Dalam konteks inilah Anthony Giddens mengatakan bahwa moral harus dilibatkan dalam upaya pemanusian teknologi.109

John Passmore juga mengubah berbagai persetujuan dan dukungannya terhadap ciri pandangan manusia modern yang antroposentis, baik manusia sebagai penjaga (stewardship), maupun manusia sebagai penyempurna alam. Ia menyatakan bahwa dewasa ini kita memerlukan suatu metafisika "baru" yang seutuhnya tidak antroposentis.110

Di Indonesia telah banyak dilakukan upaya-upaya penguatan peran agama dalam usaha konservasi alam. Pengelola Lingkungan Hidup Regional Jawa bekerjasama dengan Pusat pengelolaan lingkungan Hidup UGM pada tanggal 27 September 2006 telah mengadakan sarasehan untuk mengupayakan penguatan kembali (repowering) kearifan lingkungan yang terdapat dalam agama dan kearifan adat dan tradisi masyarakat Indonesia dalam rangka membangun kebijakan pengelolaan lingkungan hidup di pusat dan daerah.111

Hasil rumusan dari pandangan pemerintah, akademisi, pakar dan tokoh agama dalam sarasehan nasional kearifan lingkungan tersebut kemudian dilanjutkan dalam bentuk aksi (action plan). Berikut ini skema penguatan lingkungan:

109Anthony Gidden, The Consequences of Modernity, (stanford: Stanford University Press, 1990), h.170

110Selanjutnya lihat John Passmore, Attitudes toward Nature , dalam Nature and Conduct, ed. RS. Peters, (New York; Macmillan, 1975), h.260

111 Selanjutnya lihat Kementrian Negara Lingkungan Hidup, PPLH Regional Jawa, Kearifan Lingkungan Budaya Indonesia, (Yogyakarta: KLH Regional jawa, 2008), h.xi

102 Krisis Lingkungan dan Ide, Gerakan Konservasi lingkungan

Adapun agenda utama dalam repowering kearifan lingkungan dalam agama dan adat istiadat di Indonesia adalah sebagai berikut:

a) Membentuk lembaga clearing house yang mempunyai fungsi memperlancar dan mengefektifkan program dan kegiatan mulai ari penggalian, inventraisasi, sampai ke upaya integrasi ke dalam kebijakan regulasi

b) Menggali dan mengkaji kearifan lingkungan yang ada dalam agama, adat-istiadat, budaya dan juga prilaku ekosistem diseluruh pelosok Indonesia

c) Membangun sistem informasi dan komunikasi kearfian lingkungan dalam rangka memperlancar informasi antar daerah

d) Mengembangkan pendidikan dan penghayatan dengan menciptakan model pendidikan yang progresif dan inovatif demi memuncu;kan rasa empati lingkungan

e) Mengintegrasikan ke dalam regulasi dan kebijakan tingkat nasional dan daerah, dengan mengakomodasinya ke dalam kebijakan legal formal; seperti peraturan daerah, bahkan ke dalam undang-undang demi terjamin keutuhan dan efektifitasnya.

Lembaga Kearifan Ling.

Hidup Ind.

(LKLI)

Pemerintah Pusat

& Daerah

TOKOH AGAMA & MASY

ISLAM

KRISTEN

HINDU

BUDHA

KONGHUCU

KETUA ADAT ELIMINASI

ETIKA LINGKUNGAN

Fenomena Alam

RELIGI

SAINS DAN TEKNOLOGI

Tekad Adat &

Agama

GERAKAN

AGENDA

GAJI & KAJI

SSITEM INFOKOM

SOSIALISASI

DIKLAT &

PENGHAYATAN

INTEGRASI REGULASI &

KEBIJAKAN

CLEARING HOUSW

AKTUALISASI

PELAKU PERGURUAN TINGGI

PAKAR LINGKUNGAN

Bencana Alam

KONSEPTUAL PRAKTIKAL

Dari uraian dan argumentasi di atas nampak bahwa agama sangat potensial menjadi basis bagi etika konservasi lingkungan. Semua agama dituntut berperan aktif untuk bersinergi dengan sains dan teknologi sebagai solusi bagi krisis tersebut. Agama dituntut tidak hanya berperan dalam masalah urusan vertikal dengan Tuhan, tapi bagaimana agama juga membumi menjadi rahmatan lil aalamin dalam konteks Islam.

104 Konseptualisasi Etika Lingkungan dalam Perspektif Tradisionalisme Islam

Dalam dokumen Konservasi Alam Berbasis Spiritualitas Islam (Halaman 108-116)