• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsepsi Pemberatan Sanksi

Dalam dokumen pemberatan sanksi terhadap pelaku (Halaman 56-63)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Kerangka Konseptual

5. Konsepsi Pemberatan Sanksi

kandungnya) dapat dipenjara dengan Pasal 81 ayat (1). Pasal 76D UU 35/2014.49

Pasal 76D UU 35/2014 yang berbunyi “Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain”.

Pasal 81 ayat (1) UU 35/2014 yang berbunyi: “Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000.00 (lima miliar rupiah)

5. Konsepsi Pemberatan Sanksi

b. Pemberatan Pidana Meliputi Dua Aspek Kualitas Maupun Aspek Kuantitas Pidana

1) Yang dimaksud dengan kualitas di sini apabila pemberatan terjadi karena perubahan dari suatu jenis pidana yang lebih ringan kepada jenis pidana lain yang lebih berat, dengan memperhatikan ketentuam pasal 69 KUHP di sebut bahwa:

a) Pebandingnya berat pidana pokok yang tidak sejenis ditentukan dangan urutan-urutan dalam pasal 10.

b) Jika hakim memilih antara beberapa pidana pokok, maka dalam perbandingan hanya terberatlah yang dipakai.

c) Perbandingan beratnya pidana-pidana pokok yang sejenis ditentukan menurut maksimumnya masing-masing.

d) Perbandingan lamanya pidana-pidana pokok yang sejenis ditentukan menutut maksimumnya masing-masing.

2) Sedangkan pemberatan dari aspek kuantitas disini adalah apabila jumlah pidana bertambah dari jumlah pidana yang diancamkan sebelumnya. Pemberatan juga dapat terjadi apabila dalam Hukum Pidana Khusus terjadi spesialitas yang logis apabila dibandingkan dengan rumusan tindak pidana lain yang lebih umum sifatnya, yang diatur dalam sebuah Undang-Undang Pidana Khusus. Dalam hal ini bisa terjadi perubahan jenis dan jumlah ancaman pidana yang ditentukan dalam suatu delik yang satu yang bersifat generalis, apabila dibandingkan dengan delik lainnya yang dalam

satu perbuatan yang dilarang dan ditambah hal-hal lain yang akan menjadi ketentuan pidana yang bersifat spesialis.51

Menurut sudarto fungsi dari Hukum Pidana Khusus bagi hukum pidana adalah untuk melindungi kepentingan hukum terhadap perbuatan yang hendak memperkosanya (rechtguterschutz) dengan sanksi yang berupa pidana yang sifatnya lebih tajam jika dibandingkan dengan sanksi yang dapat pada cabang hukum lainya. Dalam sanksi pidana itu terdapat suatu tragic (suatu yang menyedihkan) sehingga hukum pidana dikatakan sebagai “Mengiris danging sendiri” atau sebagai “Pedang bermata dua”, yang bermakna bahwa hukum pidana bertujuan untuk melindungi kepentinga-kepentingan hukum (misalnya:

Nyawa, harta benda, kemerdekaan, kehormatan). Namun jika terjadi pelanggaran terhadap larangan dan perintahnya justru mengenakan perlukaan (menyakiti) kepentingan (benda) hukum sipelanggar. Dapat dikatakan bahwa hukum pidana itu memberi aturan-aturan untuk menanggulangi perbuatan jahat. Dalam hal ini perlu diingat bila bahwa sebagai alat social control fungsi hukum pidana adalah subsidair artinya hukum pidana hendaknya baru d iadaakan (dipergunakan) apabila usaha-usaha lain kurang memadai.52

Suatu langkah hukuman yang dijatuhkan oleh Negara atau kelompok tertentu karena terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh

51 https://doktorhukum.com/ala san-diberatkannya-hukuman-pidana-seorang-t e rd a kwa /, dia kses pa da ta ngga l 23 Desember 2021.

52 Didik Endro Purwoleksono, Hukum Pidana, (Sura ba ya : Airla ngga University Prees Ka mpus C Una ir, 2016), 3-5.

seseorang atau kelompok. Sistem hukum pidana ada dua jenis sanksi yang mempunyai kedudukan yang sama, yaitu sanksi pidana dan sanksi tindakan. Sanksi pidana merupakan jenis sanksi yang paling banyak digunakan di dalam menjatuhkan hukuman terhadap seseorang yang dinyatakan bersalah melakukan perbuatan pidana.53 Sanksi marupakan pertanggungjawaban, tanggungan, tindakan, hukuman untuk memaksa orang untuk menepati perjanjian atau menaati ketentuan Undang-undang yang ada.

Black’s Law Dictionary Henry Campbell Black memberikan pengertian sanksi pidana sebagai punishment attached toconviction atcrimes such fines, probation and sentences (suatu pidana yang dijatuhkan untuk menghukum suatu penjahat (kejahatan) seperti dengan pidana denda, pidana pengawasan dan pidana penjara).54 Sanksi tindakan adalah suatu sanksi yang bersifat antisipatif bukan reaktif terhadap pelaku tindak pidana yang berbasis pada filsafat determinisme dalam ragam bentuk sanksi yang dinamis (open system) dan spesifiksi non penderitaaan atau perampasan kemerdekaan dengan tujuan untuk memulihkan keadaan tertentu bagi pelaku maupun korban bagi perseorangan, badan hukum publik maupun perdata.55

53 Ma hrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana , (Ja ka rta ,2015), 193.

54 Ma hrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, 194.

55 Ma hrus Ali, 195.

Kebijakan pemberatan pidana, khususnya pidana pokok, diatur dalam Pasal 81 ayat (1) sampai ayat (5) ditujukan dalam hal sebagai berikut:56

1) Kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang tua, wali, orang- orang yang mempunyai hubungan keluarga, pengasuh anak, pendidik, tenaga kependidikan, atau aparat yang menangani perlindungan anak. Pemberatan ini dilatarbelangi bahwa pihak- pihak tersebut merupakan orang-orang terdekat anak sehingga potensi untuk melakukan kekerasan terhadap anak lebih besar dengan memanfaatkan kondisi fisik dan psikis anak yang lebih lemah.

Beberapa tahun terakhir ini banyak kasus-kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang-orang terdekat anak, sehingga dibutuhkan proteksi yang lebih besar terhadap anak dari potensi kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya.

Selain orang-orang terdekat anak, mereka juga memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan terhadap anak, baik karena ada hubungan keperdataan, hubungan kerja, maupun karena profesinya berkaitan dengan perlindungan terhadap anak. Dengan demikian, pemberatan juga dimaksudkan karena adanya unsur pengingkaran terhadap kewajiban yang melekat pada diri seseorang.

56 Erdia nto Effendi, Hukum Pidana Indonesia-Suatu Pengantar, (Ba ndung: PT Refika Adita ma , 2011), 174.

2) Kekerasan seksual yang dilakukan oleh lebih dari 1 (satu) orang secara bersama-sama. Pemberatan ini ditujukan dalam kasus kekerasan seksual berupa delik penyertaan (deelneming delicten), yaitu ada 2 (dua) orang atau lebih yang mengambil bagian dalam mewujudkan suatu tindak pidana. Karena bentuk pertanggungjawaban dalam delik ini tidak diatur secara khusus dalam Pasal 55 dan 56 KUHP. Sebagaimana diatur dalam kedua pasal tersebut, ada 2 (dua) pihak yang dapat dipertanggungjawabkan dalam delik penyertaan, yaitu pembuat delik dan pembantu delik.57 Pihak yang dapat dianggap sebagai pembuat delik meliputi pelaku (pleger), orang yang menyuruhlakukan (doenpleger), orang yang turut serta (medepleger), dan orang yang menganjurkan (uitlokker).

Sementara pembantu delik disebut medeplichtiger.

Ketentuan pemberatan pidana semacam ini tidak dikenal dalam KUHP, sehingga merupakan ketentuan khusus (lex spesialis). Meskipun Pasal 103 KUHP memperbolehkan adanya penyimpangan terhadap asas-asas yang diatur dalam Buku Ke I KUHP, namun tetap harus memperhatikan prinsip keadilan (proporsionalitas) dalam pengaturannya.

Rumusan yang mempersamakan pidana bagi pembantu delik dengan pembuat delik tentu tidak adil karena pembantu delik

57 Eddy O.S. hia riej, Prinsip-Perinsip Hukum Pidana, (Yogya ka rta : Ca ha ya Atma Piusta ka , 2014), 295.

perannya hanya membantu pada persiapan tindak pidana atau memainkan peranan selaku bawahan, sehingga perbuatannya agak bersifat skunder.58 Sifat pembantuan juga tidak sangat menentukan bagi terjadinya suatu tindak pidana. Itulah sebabnya menurut Pasal 57 ayat (1) KUHP pembantu delik diancam dengan maksimum pidana pokok dikurangi 1/3 (sepertiga).

3) kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelaku yang pernah dipidana karena melakukan kekerasan seksual Pasal 76D. Dalam hal ini pemberatan pidana ditujukan pada pelaku delik pengulangan (recidive delicten). Dalam Hukum Pidana dikenal 3 (tiga) jenis delik pengulangan, yaitu general recidive (pengulangan umum), special recidive (pengulangan khusus), dan tussen stelsel recidive.59 General recidive merupakan perbuatan pidana yang pelakunya telah dijatuhi pidana berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, dan setelah selesai menjalani pemidanaan, belum melampaui 5 (lima) tahun ia melakukan kejahatan lagi berupa kejahatan apapun.

Sementara, disebut special residive jika kejahatan yang dilakukan sama dengan kejahatan yang dilakukan sebelumnya.

Adapun disebut tussen stelsel recidive jika kejahatan yang dilakukan tidak sama persis namun masih dalam satu kualifikasi delik yang sama dengan kejahatan sebelumnya.

58 Ja n Remmelink, Hukum Pidana, (Ja ka rta : PT. Gra media Pusta ka Uta ma, 2003), 324.

59 M. Aba dul Kholiqseba ga ima na dikutip da la m Ma hrus Ali, Dasar-Dasar Hukum Pidana, (Ja ka rta : Sina r Gra fika ), 141.

4) Kekerasan seksual yang mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia. Pemberatan keempat dan kelima ini didasarkan pada keseriusan tindak pidana dengan melihat pada korbannya, baik secara kuantitas maupun kualitas. Dalam menentukan bobot pidana memang harus diperhatikan faktor-faktor yang dapat dijadikan pertimbangan memberatkan dan meringankan pidana dari delik genus (delik yang menjadi standar pengancaman pidana dalam keadaan normal), salah satunya adalah faktor akibat dari perbuatan pelaku terhadap masyarakat dan korban.60

Dalam dokumen pemberatan sanksi terhadap pelaku (Halaman 56-63)

Dokumen terkait