• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dasar Pertimbangan Hukum Hakim (Ratio Decidendi)

Dalam dokumen pemberatan sanksi terhadap pelaku (Halaman 77-97)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Penyajian Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Dasar Pertimbangan Hukum Hakim (Ratio Decidendi)

Perspektif Hukum Positif dan Prinsip Pidana Islam

Mahkamah Agung RI sebagai badan tertingi pelaksaan kekuasaan kehakiman yang membawahi empat badan peradialan di bawahnya telah menentukan bahwa putusan Hakim harus mempertimbangkan segala aspek yang bersifat yuridis, filosofis dan sosiologis.79 Terpenuhinya ketiga aspek tersebut, maka keadilan yang ingin dicapai, diwujudkan dan dipertanggungjawabkan dalam putusan Hakim adalah keadilan yang berorentasi pada keadilan umum, keadilan moral dan keadilan masyarakat.

Keadilan hukum adalah keadilan berd asarkan hukum positif dan peraturan Perundang-Undangan, Hakim tidak perlu mencari sumber-sumber hukum di luar hukum tertulis dan Hakim hanya dipandang menerapkan Undang- Undang pada perkara-perkara kongkret rasional belaka. Dengan itu Hakim adalah sebagai corong ataupun mulut Undang-Undang.

Hakim ialah pejabat peradilan Negara yang diberi wewenang oleh Undang-Undang untuk mengadili. Seorang Hakim dalam sistem

79 Ma hka mah Agung RI, Pedoman Perilaku Hakim (Code Of Counduct), Kode Etika Hakim dan Makalah Bekaitan, Pusdiklat Teknis, (Ja ka rta : Pera dila n M.A R.I, 2004), 2.

kehidupan masyarakat berkedudukan sebagai penyelesaian setiap konflik yang timbul sepanjang konflik atau masalah itu diatur dalam Perundang- undangan. Memulai Hakim masyarakat hendak dibangun dengan nilai- nilai kemanusiaan. Oleh sebab itu dalam melakukan tungasnya, seorang Hakim tidak boleh berpihak, kecuali dalam kebenaran dana keadilan serta nilai-nilai kemanusiaan.

Suatu proses di peradilan dengan putusan akhir atau divonis. Dalam putusan tersebut Hakim menyatakan pendapat tentang apa yang telah dipertimbangkan dalam putusan tersebut. Putusan peradilan ialah pernyataan Hakim yang diucapkan dengan sidang terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atas bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut acara yang diatur dalam Undang-Undang.

Berdasarkan surat putusan Penagdilan Negari Makassar yang memerikasa dan mengadili perkara Nomor: 1459/Pid/B/2013/PN.Mks, Hakim dalam memberikan putusannya mulai pertimbangan-pertimbangan untuk memberikan keadilan yang seadil-adilnya. Diantara pertimbangannya ialah sebagai berikut:

a. Pertimbangan Hukum Hakim

1) Pertimbangan menggunakan Undang-Undang

Hakim dalam memutuskan perkara tersebut beracuan pada Pasal 81 ayat (1) UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Rerlindungan Anak yaitu “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan

pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp300.000.000,- (tiga ratus juta) dan paling sedikit Rp 60.000.000,- (enam puluh juta rupinyah);

2) Pertimbangan Menggunakan Keterangan Saksi

Hakim dalam memutuskan perkara tersebut berpacuan kepada keterang saksi, di mana dalam perkara ini ada beberapa keterangan dari saksi diantaranya sebagai berikut:

a) Saksi ke-1 saksi Korban RISNAWATI Alias RISNA: Bahwa saksi kenal dengan terdakwa dan adanya hubungan keluarga sedarah di mana terdakwa adalah Bapak kandung saksi.

Terdakwa telah melakukan perbuatan pemerkosaan tersebut pada hari Selasa 25 Juni 2013 sekitar jam 00.30 Wita di rumah Terdakwa di Jl. Nuri Baru Lr.312 Kota Makassar. Terdakwa mendatangi saksi yang sedang tidur di kamarnya bersama dengan adik kandung perempuanya sementara Ibu kandung dari saksi sedang bekerja sebagai tukang parkir di Lagoligo dan biasanya baru pulang menjelang subuh, terdakwa mematikan lampu kamarnya dan mengancam akan membunuh saksi dengan parang apabila saksi tidak mau melayaninya di mana saat itu saksi mencium bau minumman keras dari mulut terdakwa hingga saksi menduga waktu itu terdakwa dalam keadaan mabuk, setelah itu terdakwa membuka celananya

sehingga kelihatan kemaluannya saksi dan kemudian terdakwa melepas celana dalam saksi selanjutnya terdakwa langsung memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan saksi sambil tangannya terdakwa menyekap mulut saksi dengan tangan kanannya, di mana pada saat itu adik perempuan saksi yang bernama Uli diam saja.80

b) Saksi ke-2 YULIANA Alias ULI: Bahwa saksi kenal dengan Terdakwa dan ada hubungan keluarga kandung di mana Terdakwa adalah Bapak kandung dari saksi. Bahwa Terdakwa mematikan lampu kamar dan naik ke atas tempat tidur serta mengacam akan membunuh saksi dengan parang apabila saksi ribut, kemudian Terdakwa memperkosa kakak kandung saksi yang bernama Rismawati Alias Risna tersebut dengan diancam pakai parang, saksi melihat kejadian tersebut sampai selesai dan kemudian saksi melihat kakaknya bangun untuk pergi ke kamar mandi mendengar kakaknya menangis di kamar mandi;

- Bahwa Terdakwa melakukan persetubuhan dengan saksi hanya satu kali, berlangsung sebentar dengan kemudian Terdakwa langsung pergi tidur di luar kamar.

c) Saksi ke-3 RUKIYAH DG. BAJI: Bahwa saksi kenal dengan terdakwa sebagai adik ipar saksi di mana Terdekwa adalah suami dari adik kandung saksi tapi tidak ada hubungan sedarah

80 Putusa n Penga dila n Negeri Ma ka ssa r .... 8.

dengan terdakwa, Bahwa korban melaporkan kejadian tersebut kepada saksi kerena tantenya korban, dan karena ibu kandung korban agak idiot maka persoalan saksi korban tersebut diabil alih oleh saksi dan kemudian bersama korban dan adiknya korban, saksi melaporkan terdakwa kepolisian, yang mana pada saat kejadian tersebut korban masih sekolah kelas 2 SMP tapi akibat kejadian tersebut korban hamil dan karena malu kemudian korban keluar dari sekolah.

- bahwa keterangan saksi semuanya dibenarkan oleh terdakwa;

3) Pertimbangan Menggunakan Ketengan Surat

Hakim dalam memutuskan perkara tersebut dan berpacuan kepada keterang bukti yang ada dalam persidangan visum et revertum nomor: VER/13/VII/2013/Rumkit tanggal 22 Juni 2013 yang dibuat dan ditanda tangani oleh dr. Mauluddin, dokter rumah sakit Bhayangkara Makassar, dengan hasil pemeriksaan sebagai berikut:

a) Hasil pemeriksaan

(1) Tampak robeknya pada selaput dara arah jam 3 dan 5;

(2) Test kehamilan hasil positif.

b) Hasil tindakan

(1) Tidak mendapatkan pengobatan;

(2) Tidak dilakukan rawat inap.

c) Kesimpulan

(1) Telah dilakukan pemeriksaan terhadap seseorang berjenis kelamin prempuan berusia anak;

(2) Ditemukan adanya luka robek lama pada selaput dara yang dapat sesuai akibat persetubuhan yang dilakukan terdawa / penetrasi benda tumpul;

(3) Ditemukan tanda-tanda kehamilan (test kehamilan hasilnya positif).

b. Analisis Terhadap Ratio Decidendi Perkara Tindak Pidana Pemerkosaan yang Dilakukan Keluarga Kandung Pada Putusan Nomor:1459/Pid/B/2013/PN.Mks Perspektif Hukum Positif dan Hukum Pidana Islam

Dalam dinamika kehidupan sehari-hari sering terjadi permasalahan di dalam masyarakat, permasalahan yang terjadi tidak dapat diselesaikan oleh para pihak yang terkait. Diperlukan adanya campur tangan institusi khusus yang memeperlukan secara objektif untuk menyelesaikan masalah tersebut. Penyelesaian tersebut tentu didasarkan pada pedoman-pedoman yang berlaku secara objektif pula.

Fungsi ini pantas dilaksanakan oleh suatu lembaga peradilan, yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan, penilaian dan memberikan keputusan kehakiman yang dalam praktiknya dilakukan oleh Hakim.

Pertimbangan Hakim pada dasarnya berdasarkan kepada Dakwaan Jaksa Penuntut Umum, alat bukti yang sah maupun syarat

subjektif dan objektif dapat dijatuhi pidana agar selanjutnya disebut putusan Hakim. Dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapkan kepada Hakim maka Hakim harus dapat menyelesaikan secara objektif berdadarkan hukum yang berlaku, maka dalam proses pengambilan keputusan, para Hakim harus mandiri dan bebas dari pengaruh pihak manapun, termasuk dari eksekutif. Dalam pengambilan keputusan, Hakim hanya terikat pada fakta-fakta yang relavan dan kaidah hukum yang menjadi atau dijadikan dasar hukum keputusannya. Tetapi penentuan fakta-fakta yang termasuk fakta-fakta yang relavan dan pilihan kaidah hukum yang mana yang akan dijadikan dasar untuk menyelesaikan kasus yang dihadapinya diputuskan oleh Hakim yang bersangkutan sendiri.81

Dengan demikian, jelas bahwa Hakim atau para Hakim memiliki wewenang yang besar terhadap para pihak yang bersengketa berkenaan dengan masalah atau konflik yang dihadapkan kepada Hakim atau para Hakim tersebut, namun dengan demikian berarti pula bahwa para Hakim dalam menjalankan tugasnya sepenuhnya memiliki tanggungjawab tersebut, sebab keputusan Hakim dapat membawa akibat yang sangat jauh pada kehidupan orang-orang lain yang terkena oleh jangkauan keputusan tersebut. Keputusan Hakim yang tidak adil bahkan dapat membekas dalam batin para pihak berperkara yang bersangkutan sepanjang dalam perjalanan hidupnya.

81 Firma n Flora n Adpna ra , Prinsip Kebebasan Hakim dalam Memutus Perkara sebagi Amanah Konstitusi, (Jurnal Konstitusi, 17 juli, 2022), 218.

Berkaitan dengan kasus yang diangkat oleh peneliti pada putusan Pengadilan Negeri Makassar Nomor:

1459/Pid/B/2013/PN.Mks. Tentang tindak pidana pemerkosaan yang dilakukan oleh keluarga kandung yang diartur di luar KUHP yaitu pada Undang-Undang Perlindungan Anak UUPA Nomor 23 Tahun 2014 “Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 pasal 76D“Tentang Perlindungan Anak”. Sebagaimana yang diatur dalam pasal tersebut, yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut:

1) Setiap orang

2) Dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan danganya atau dengan orang lain

Pengadilan keputusan sangat diperlukan oleh Hakim atas sengketa yang diperiksa dan diadilinya, Hakim harus dapat mengelolah dalam memproses data-data yang diperoleh selama proses persidangan baik dari bukti surat, saksi, persangkaan, pengakuan maupun sumpah yang terungkap dalam persidangan. Sehingga keputusan yang akan dijatuhkan dapat disadari oleh rasa tanggungjawab, keadilan, kebijaksaan, profesionalisme dan bersifat obyektif, sebagaimana yang dijelaskan dalam pasal 5 Undang-Undang No. 48 Tahun Kekuasaan

Kehakiman, dalam memutuskan perkara yang terpenting adalah kesimpulan hukum atas fakta yang terungkap dipersidangan.82

Dalam pertimbangan Hakim dalam kasus ini menjatuhkan hukuman kepada terdakwa 8 (delapan) tahun penjara. Saudara Muddin Dg. Kulle menurut putusan majelis Hakim dinyatankan secara sah

“Melakukan Pemerkosaan terhadap anak di bawah umur” dalam pertimbangan Hakim dikenakan Undang-Undang UUPA Nomor 23 Tahun 2014 “Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002.

1) Tindak Pidana Pemerkosaan dalam Perspektif Hukum Positif Pengertian tindakan pemerkosaan adalah adanya perilaku kekerasan yang terkait dengan hubungan seksual yang dilakukan dengan jalan melanggar hukum dilakukan dengan cara pemaksaan.83 R.Sugandhi: Menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkosaan adalah seorang pria yang memaksa seorang wanita bukan istrinya untuk melakukan persetubuhan denganya dengan ancaman kekersan, yang di mana diharuskan kemaluan pria telah masuk kedalam lubang kemaluan seseorang wanita yang kemudian mengeluarkan air mani.84

Tindak pidana pemerkosaan ialah salah satu bentuk kesejahatan asusila yang diatur di dalam KUHP, larangan yang

82 Sekreta ria t Nega ra RI, Unda ng-Unda ng No.28 Ta hun 2009 Tenta ng Kekua sa an Keha kima n.

83 M. Muna ndar Sula ima n, Kekerasan .... 28.

84 Abdul Wa hid da n Muha mmad Irfa n, Perlindungan.... 11.

mengantur tentang kejahatan tindak pidana persetubuhan yaitu tidak hanya KUHP aja yang lebih khusus diterapkan ke dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak karena pelaku dan korban pemerkosaan tersebut adalah seorang anak. Di dalam KUHP dijelaskan dalam pasal 289, 290, 291, 292, 239, 294, 295, 296 sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak dijelaskan dalam Pasal 81. Dalam isi dari pasal-pasal yang mengatur tentang pemerkosaan sebagai berikut:

a) Larangan yang mengatur tindak pidana pemerkosaan dalam KUHP yaitu:85

1. Pasal 289: “Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa sesorang melakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul, dihukum karena merusak kesopanan dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun”.

2. Pasal 290: “Dihukum penjara paling lama 7 (tuju) tahun: a) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang, namun diketahuinya bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya; b) Barang siapa melakukan perebuatan cabul dengan seseorang meskipun diketahuinya atau sepatutnya harus dilupakan, bahwa umurnya belum 15 (lima belas) tahun, atau umurnya tidak sejelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin; c) Barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus dilupakan bahwa umurnya belum 15 (lima belas) tahun, atau kalau umurnya tidak jelas yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin, untuk melakukan atau membiarkan perbuatan cabul atau persetubuh di luar perkawinan dengan orang lain”.

3. Pasal 291: (1) jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 289 dan 290 itu menyebabkan luka berat pada tubuh, dijatuhkan hukuman

85 R. Soesilo, Kitab Undang-Undang HukumPidana(KUHP) Serta Komentar- Komentarnya Lengkap PasalDami Pasal, (Politeia : Bogor, 1995), 212-217.

penjara paling lama 12 (dua belas) tahun; (2) jika satauh satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285,286,287,289 dan 290 itu menyebabkan orang mati, dijatuhkan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.

4. Pasal 292: “Orang dewasa yang meakukan perbuatan cabul dengan orang yang belum dewasa dari jenis kelamin yang sama, sedang diketahuinya atau patut harus disangkanya hal belum dewasa itu, dihukum penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.

5. Pasal 293: (1)Barang siapa dengan mempergunakan hadiah atau perjanjian akan memberikan uang atau barang, dengan salah mempergunakan pengaruh yang berkelebih- lebihan yang ada disebabkan oleh perhubungan yang sesungguhnya ada atau dengan tipu, sengaja membujuk orang yang belum dewasa yang tidak tercacat kelakuanya, yang diketahuinya atau patut harus disangkanya belum dewasa, akan melakukan perbuatan cabul dengan dia atau memberikan dilakukan perbuatan yang demikian pada dirinya, dihukum penjara paling lama 15 (lima belas) tahun; (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang dikenai kejahatan itu.

6. Pasal 294: (1)Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak anagkatnya, anak di bawah pengawasanya yang belum dewasa, atau dengan orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan atau penjagannya diserahkan kepadanya ataupun dengan bujangnya atau bawahannya yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun. (2)Dengan hukuman yang serupa dihukum: a)Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang di bawah perintahnya atau dengan orang yang dipercayakan atau diserahkan padanya untuk dijaga; b)Pengurus, tabib, guru, pengawai, mandor, (opzichter) atau bujang dalam penjara, rumah tempat melakukan pekerjaan untuk negeri (landswerkinrichting), rumah sakit ingatan atau balai derma, yang melakukan pencabulan dengan orang yang ditempat disitu.

7. Pasal 295: (1) Diancam: a) Dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya, anak tiri, anak angkatnya, atau anak di bawah pengawasan yang belum dewasa, atau oleh orang yang belum dewasa yang memeliharanya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya, ataupun oleh pujangnya atau bawahannya yang belum cukup umur, dengan orang lain;

b)Dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun barang

siapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul, kecuali yang disebut dalam butir 1 di atas, yang dilakukan oleh orang yang diketahuinya belum dewasa yang sepatutnya harus diduganya demikian, dengan orang lain. (2)Jika yang bersalah melakukan kejahatan itu sebagai pencarian atau kebiasaan, maka pidana dapat ditambah seperempat.

8. Pasal 296:“Barang siapa yang pencahariannya atau kebiasaannya yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain dihukum penjara paling lama 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp. 15.000.

b) Larangan tindak pidana pemerkosaan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

Tindak pidana persetubuhan yang dilakukan terhadap anak maka akan dijerat dengan padasl 76D Undang-Udang Nomor 35 Tahun 2014 Tetang Perlindungan Anak yang berbunyi, Pasal 76D: “Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain”.

Sebagaimana sanksinya yaitu terdapat pada pasal 81 yang berbunyi:

1) Ayat (1): “Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”.

2) Ayat (2): “Ketentuan pidana sebangaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat,

serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain”.

3) Ayat (3): “Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimasud pada ayat (1) dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pedidikan, atau tenaga pendidikan maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana di maksud pada ayat (1)”. 86 Oleh karena itu bisa dilihat berdasarkan pada falsafah pemidanaan ada beberapa hal yang harus diperhatikan yakni: Let the funishmet fit the crime (sesuaikan hukuman dengan perbuatannya), dan aliran moderen falsafah pemidaannya Let the funisment fit the criminal (sesuaikan hukuman dengan pelakunya), serta aliran neo klasik falsafah pemidaannya Let the funishment fit the crime and the criminal (sesuaikan hukuman dengan perbuatan dan pelakunya).

2) Tindak Pidana Pemerkosaan dalam Perspektif Hukum Pidana Islam

Pemerkosaan atau perkosaan berasal dari bahasa latin repere yang artinya mencuri, memaksa, merampas, atau membawa pergi. Pemerkosaan dalam bahasa Arab yaitu al-wath’u bi al-ikrah yang artinya hubungan seksual antara seorang laki-laki dan perempuan dengan paksaan. Fukaha ketika mengartikan tentang pemerkosaan mengatakan dengan definisi zina. Abu Zahrah menjelaskan zina ialah hubungan kelamin antara laki-laki dengan

86 Sekreta ria t Nega ra RI, Unda ng-Unda ng No. 35 Ta hun 2014 Tenta ng Perlindunga n Ana k.

perempuan tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah dan dilakukan dengan sadar serta tanpa adanya unsur subhat. Zina dan pemerkosan tidak ada bedanya, hanya saja beda cara melakukan zina dilakukan dengan sama-sama menginginkan kedua belah pihak hukuman (had) yang dikenakan ialah laki-laki dan perempuan yang melakukan perbuatan zina sedangkan pemerkosaan ialah dengan menggunakan kekerasan atau dengan paksaan kepada korban atau zina yang dipaksa bentuk paksaan (al- ikrah).

a) Pembuktian dalam Tindak Pidana Persetubuhan (Jarimah Zina) Bagi pelaku jarimah zina dapat dijatuhkan had jika perbuatannya tersebut dapat dibuktikan, untuk jarimah zina sendiri ada 3 macam cara pembuktianya yakni dengan pembuktian dengan saksi, pembuktian dengan pengakuan, pembuktian dengan qarimah.

(1) Pembuktian dengan saksi87

Para Ulama telah sepakat dengan jarimah zina tidak dapat dibuktikan dengan kecuali dengan empat orang saksi, jika saksi itu kurang dari empat orang maka kesaksiannya itu tidak dapat diterima, agar dapat diterima kesaksiannya harus dipenuhi syarat-syarat yang umumnya berlaku untuk

87 Ahma d Wa rdi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Ja ka rta : Sina r Gra fika , 2005), 29.

semua jenis kesaksian dalam setiap jarimah. Syarat-syarat tersebut yaitu:

(a) Baligh atau dewasa ialah seorang saksi dalam setiap jarimah diharuskan baligh, apa bila belom baligh maka kesaksiannya tidak dapat diterima;

(b) Berakal ialah orang yang mengetahui kewajiaban yang pokok dan yang bukan, yang mungkin dan tidak mungkin, serta mudarat dan manfaat;

(c) Islam ialah kesaksian orang yang bukan islam tidak dapat diterima, baik untuk perkara orang muslim ataupun perkara non muslim;

(d) Kuat ingatannya ialah seorang saksi disyatkan harus maupun mengingat apa yang disaksikanya dan memahami serta menganalisis apa yang dilihatnya dan dapat dipercaya apa yang dikatakannya;

(e) Dapat melihat ialah seorang saksi haruslah bisa melihat, apabila tidak bisa melihat status kesaksianya pun masih diperselisihkan Para Ulama;

(f) tidak ada penghalang persaksiannya ialah seorang saksi disyaratkan tidak ada hal-hal yang menghalangi diterimanya kesaksiannya

(g) Dapat bicara ialah seorang saksi disyaratkan harus bisa bicara, apabila tidak dapat bicara (bisu) status kesaksiannya diperdepatkan Para Ulama;

(h) Adil seorang saksi haruslah adil dan adilnya seseorang tergantung pada Hakim, apabila menurut Hakim saksi ialah orang yang memenuhi sifat-sifat adil maka dia bisa diterima kesaksiannya.88

(2) Pembuktian dengan pengakuan

Pengakuan dapat digunakan sebagai alat bukti untuk jarimah zina dengan syarat-syarat sebagai berukut:

(a) Pengkuan harus dinyatakan sebanyak empat kali dengan mengiaskannya kepada empat orang saksi;

(b) Pengajuan harus jelas atau terperinci tentang hakikat perbuatan sehingga dapat menghilangkan syubhat atau ketidak jelasan dalam perbuatan zina tersebut;

(c) Harus dinyatakan dalam sidang pengadilan

(d) Pengakuan harus sah atau benar dan hal ini tidak mungkin timbul kecuali dari orang yang berakal dan mempunyai kebebasan.89

(3) Pembuktian dengan qarimah

Pembuktian dengan qarimah ialah tanda yang dianggap sebagai alat pembuktian dalam jarimah zina yaitu

88 Ahma d Wa rdi Muslich, Hukum Pidana Islam...43-48.

89 Ahma d Wa rdi Muslich, Hukum Pidana Islam....53-54.

timbulnya kehamilan pada seorang wanita yang bersuami atau tidak diketahui suaminya.90

b) Hukuman Tindak Pidana Pemerkosaan (Jarimah Pemerkosaan) Hukuman atau hukum pidana dalam Islam disebut

‘Uqubah, yang meliputi baik hal-hal yang merugikan ataupun tindak kriminal, di dalam hukum pidana Islam memandang setiap hukuman kelamin di luar nikah sebagai pemerkosaan dan mengencamnya dengan hukuman, baik orang yang melakukan sudah nikah atau belum, baik dilakukan dengan dasar mau sama mau atau tidak. Walaupun para Ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan pengertian pemerkosaan tetapi mereka sepakat dalam unsur pemerkosaan sebagai berikut: a. Wathi haram; b.

Sengaja atau ada itikat jahat. Yang dimaksud dengan wathi haram ialah wathi pada faraj wanita bukan istrinya atau hambanya dan masuknya zakar itu seperti masuknya ember kedalam sumur dan tetap dianggap pemerkosaan meskipun ada penghalang antara zakar dengan farajnya selama pengahalang itu tidak menghalangi kenikmatan.91 Pemerkosaan dilihat dari macam-macam hukuman yaitu tergantung kepada keadaan pelakunya apakah ia belum menikah ghairu mushsan atau sudah menikah mushsan.

90 Ahma d Wa rdi Muslich, Hukum Pidana Islam....55.

91 Dja zuli, Fiqh Jinayah (Upaya Menanggulagi Kejahatan Dalam Islam), 37.

Dalam dokumen pemberatan sanksi terhadap pelaku (Halaman 77-97)

Dokumen terkait