• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsepsi Umum Tentang Anak

Dalam dokumen pemberatan sanksi terhadap pelaku (Halaman 49-56)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Kerangka Konseptual

4. Konsepsi Umum Tentang Anak

Faktor-faktor yang menimbulkan terjadinya tindak pidana perkosaan diantaranya ialah:

a) Faktor internal ialah: Lingkungan keluarga, ekonomi keuarga, tingkat pendidikan, agama atau moral.

b) Faktor eksternal ialah: Lingkungan sosial, perkembangan ilmu teknologi, kesempatan.43

4. Konsepsi Umum Tentang Anak

rentang kehidupan.44 Mengenai pengertian tentang anak juga dapat di lihat dari berbagai macam peraturan perundang-undangan sebagai berikut:

1) Pengertian Anak dari Aspek Hukum

Dalam hukum terdapat pluralisme yang terkait dengan pengertian anak adalah sebagai akibat tiap-tiap peraturan perundang-undangan yang mengatur secara tersendiri mengenai peraturan anak itu sendiri sedangkan pengertian anak dalam kedudukan hukum meliputi pengertian anak dari pandangan system hukum atau disebut kedudukan dalam arti khusus sebagai subyek hukum.

2) Pengertian Anak dari UUD 1945

Pengertian anak di dalam UUD 1945 terdapat di dalam pasal 34 yang berbunyi: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara” dalam hal ini mengadung arti bahwa anak merupakan subjek hukum dari hukum nasional yang harus dilindungi, dipelihara dan dibina untuk mencapai kesejahteraan anak, dengan kata lain anak tersebut merupakan tanggujawab pemerintah dan masyarakat.

Menurut pendapat Irma Setyowati Soemitri: Ketentuan UUD 1945 ditegaskan bahwa peraturanya dan dikeluarkannya UU No. 4 tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak, yang mempunyai

44 D.Y. Wita nto, Hak dan Kedudukan Anak Luarkawain, (Ja ka rta : Kenca na, 2012), 59.

arti (pengertian tentang anak) yakni seseorang yang harus memperoleh hak-hak yang kemudian hak-hak tersebut dapat menjaminkan pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar baik secara rahasia, jasmaniah, maupun sosial. Anak juga berhak atas pelanyanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehid upan sosial. Anak juga berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik semasa dalam kandungan maupun sesudah ia dilahir.

3) Pengertian Anak berdasarkan UU Peradilan Anak

Anak dalam UU No. 3 tahun 1997 tercantum dalam pasal 1 ayat (2) yang berbunyi: “Anak merupakan orang dalam perkara anak nakal yang telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah menikah. Jadi dalam hal ini pengertian anak dibatasi dengan syarat sebagai berikut:45 a) Anak dibatasi dengan umur antara 8 (delapan) sampai dengan 18 (delapan belas) tahun; b) Anak tersebut belum pernah kawin atau tidak sedang terikat dalam perkawinan ataupun pernah nikah dan kemudian cerai, apabila anak tersebut sedang terikat dalam perkawinan atau putus dari perceraian, maka anak tersebut diangap sudah dewasa walaupun umurnya belum genap 18 (delapan belas) tahun.

45 UU No.3 ta hun 1997, Tentang Peradilan Anak, Terca ncum da la mPasal 1 a ya t (2).

4) Kitab Undang-undang Pedata (KUHPerdata)

Menurut KUHPerdata batas kedewasaan anak diatur dalam Buku I bab kelimabelas bagian kesatuan yang terdapat dalam Pasal 330 KUHPerdata yang menyatakan bahwa “Belum dewasa ialah mereka yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun, dan tidak lebih dahulu kawin”.

b. Perlindungan Terhadap Anak

Membicarakan tentang perlindungan anak yang berkaitan dengan hukum di Indonesia, maka dapat dilihat pada Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak yang sebelumnya adalah Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002. Perlindungan Anak tersebut adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak- haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Perlindungan anak terkait erat dengan lima pilar yakni: Orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah daerah dan Negara. Kelimanya memiliki keterkaitan satu sama lain sebagai penyelenggara perlindungan anak.46

Dalam bentuknya yang paling sederhana, perlindungan anak mengupayakan agar setiap hak anak tidak dirugikan. Perlindungan anak bersifat melengkapi hak-hak lainnya menjamin bahwa anak-anak akan menerima yang mereka butuhkan agar anak dapat bertahan hidup,

46 Wa ludi, 2009, Hukum Perlindungan Anak, (Ba ndung: Ma ju Ba ndung), 367.

berkembang dan tumbuh. Sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 20 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 “Negara, Pemerintah, Daerah, Masyarakat, Keluarga, dan Orang Tua atau Wali berkewajiban dan bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan Perlindungan Anak”.

Menurut Ahmad Kamil Perlindungan Anak merupakan pertanggungjawaban orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara yang merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus demi terlindunginya hak-hak anak. Sementara pengawasan ekstra terhadap anak baik secara pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat, perlu dilakukan. Hal tersebut ditujukan untuk melindungi hak-hak anak serta mencegah masuknya pengaruh eksternal yang negatif yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak.47

Sementara yang dimaksudkan hukum sebagai perlindungan terhadap anak itu sendiri ialah Undang-undang dalam arti materil.

Maka dapat diartikan Undang-undang dalam arti materil (selanjutnya disebut Undang-undang) adalah peraturan tertulis yang berlaku umum dan dibuat oleh penguasa pusat maupun daerah yang sah. Hakikat perlindungan anak sendiri dapat dibedakan menjadi dua bagian, di mana kedua bagian tersebut merupakan unsur inti dalam perlindungan anak. Adapun kedua bagian yang maksud adalah:

47 Ahma d Ka mil da n Fa uza n, 2008, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak Indonesia,(Ja ka rta: Ra ja Gra findo Persa da ), 5.

1) Perlindungan anak yang bersifat yuridis, mencakup: Perlindungan dalam bidang hukum publik dan Perlindungan dalam bidang hukum keperdataan.

2) Perlindungan anak yang bersifat non yuridis, meliputi:

Perlindungan dalam bidang sosial, Perlindungan dalam bidang kesehatan, dan Perlindungan dalam bidang pendidikan.

Perlindungan anak dimaknai pula sebagai usaha untuk pencegahan, rehabilitasi dan pemberdayaan terhadap anak, sehingga anak terlepas dari perlakuan salah (child abused), eksploitasi, dan penelantaran. Dari berbagai usaha tersebut tidak lain adalah sebagai jaminan atas kelangsungan anak agar dapat hidup dan berkembang secara normal, baik fisik, mental, dan sosialnya. Perlindungan anak merupakan suatu usaha melindungi anak atas pemenuhan hak dan kewajibannya. Perlindungan anak bermanfaat bagi anak dan orang tuanya serta pemerintahnya, maka koordinasi kerja sama perlindungan anak perlu diadakan dalam rangka mencegah ketidak seimbangan kegiatan perlindungan anak secara keseluruhan. Perlindungan anak berhubungan dengan beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatiah, yaitu:48

1) Luas lingkup perlindungan:

a) Perlindungan yang pokok meliputi antara lain: sandang, pangan, pemukiman, pendidikan, kesehatan, hukum.

48 Muha mma d Fa chri Sa id, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia, Cendekia Hukum, 1 (September, 2018), 145 -147.

b) Meliputi hal-hal yang jasmaniah dan rohaniah.

c) Mengenai pula penggolongan keperluan yang primer dan sekunder yang berakibat pada prioritas pemenuhannya.

2) Jaminan pelaksanaan perlindungan:

a) Sewajarnya untuk mencapai hasil yang maksimal perlu ada jaminan terhadap pelaksanaan kegiatan perlindungan ini, yang dapat diketahui, dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan perlindungan.

b) Sebaiknya jaminan ini dituangkan dalam suatu peraturan tertulis baik dalam bentuk undang-undang atau peraturan daerah, yang perumusannya sederhana tetapi dapat dipertanggungjawabkan serta disebarluaskan secara merata dalam masyarakat.

c) Pengaturan harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi di Indonesia tanpa mengabaikan cara-cara perlindungan yang dilakukan di Negara lain, yang patut dipertimbangkan dan ditiru.

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UU Perlindungan Anak Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (UU 35/2014), maka pelaku pemerkosaan anak (termasuk anak

kandungnya) dapat dipenjara dengan Pasal 81 ayat (1). Pasal 76D UU 35/2014.49

Pasal 76D UU 35/2014 yang berbunyi “Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain”.

Pasal 81 ayat (1) UU 35/2014 yang berbunyi: “Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000.00 (lima miliar rupiah)

5. Konsepsi Pemberatan Sanksi

Dalam dokumen pemberatan sanksi terhadap pelaku (Halaman 49-56)

Dokumen terkait