• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTROVERSIALNYATENTANG PEMERINTAH KOLONIAL BELANDA

Dalam dokumen NUANSA KAJIAN SEJARAH DAN BUDAYA ISLAM (Halaman 160-165)

REVIU ARTIKEL JURNAL

26

150 Nuansa Kajian Sejarah dan Budaya Islam (Vol. 2)

Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam volume 5 no. 2, 2017, halaman 37-57,

https://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/tamaddun /article/view/2120

Artikel ini membahas tentang sosok Sayyid Usman yang merupakan seorang mufti Betawi yang hidup di zaman penjajahan Hindia-Belanda. Tokoh ini merupakan orang yang sangat berpengaruh di zaman tersebut, karena karya-karyanya di cetak dalam jumlah yang sangat besar dengan teknologi mesin cetak litograf yang ia pelopori di bumi Nusantara.

Akibat pamor Sayyid Usman yang sangat cemerlang, pejabat kolonial di Batavia pun meliriknya. Tidak selang berapa lama, Sayyid Usman di dapuk menjadi partner Christian Snouck Hurgronje sebagai penasehat kolonial. Ini yang berbeda dengan para ulama lain, di saat yang lain dengan keras dan lantang menyerukan kalimat-kalimat yang sangat negatif terhadap kekuasaan kolonial, sang mufti Betawi malah mengambil sikap yang berbeda.

Dengan otoritasnya sebagai pihak yang paling menentukan dalam persoalan hukum Islam, Sayyid Usman malah menjadi pendukung status-quo pemerintahan colonial. Pemikiran anti- mainstream inilah yang menarik untuk dijadikan pembahasan pada artikel ini.

B. Deskripsi Penelitian Terdahulu

Pada bagian ini, penulis mendeskripsikan sejumlah penelitian terdahulu yang mengkaji persoalan “Sayyid Usman dan Pandangan Kontroversialnya Tentang Pemerintah Kolonial Belanda.” Persoalan tersebut diberikan oleh Kapten Niko dan Azyumardi Azra. Dua penelitian terdahulu ini, penulis deskripsikan sebagai berikut:

Pertama, perlu ditegaskan bahwa posisi Sayyid Usman adalah sebagai penasehat pejabat kolonial dan telah menjadi isu penting dan menarik. Sikapnya yang mendukung kebijakan kolonial Belanda dengan menyerang ulama pesantren serta tarekat yang terlibat dalam pemberontakan sulit diterima.

Belanda tidak hanya kafir tapi juga dianggap anti Islam, oleh

karena itu mereka yang berada di pihak kolonial seperti penghulu kerap mendapat perlakuan dan Citra yang negatif. 71

Kedua, Seorang Sayid bukanlah seorang pendiam. Dia terlibat dalam berbagai polemik dengan ulama lain, baik dalam masalah agama maupun politik. Ia juga cepat dalam menanggapi hal-hal yang diajukan oleh orang lain dan langsung disetujui. Selain itu Sayid Usman adalah ulama pertama yang membawa masalah ka'fah ke dalam wacana Islam di nusantara. Tulisannya tentang masalah ini adalah yang pertama ditemukan dalam literatur Islam di nusantara.

Beberapa studi yang ditujukan untuk kontroversi sayyid di antara hadhramis, yang disebutkan di atas, gagal memasukkan tanggapan sayyid usman terhadap masalah khusus ini.72

C. Pembahasan Reviu

Muhammad Noupal dalam artikelnya menyebutkan, “Tapi Sayyid Usman juga sangat menaruh harapan kepada pemerintah Belanda untuk tetap tidak mencampuri urusan dalam agama Islam, terutama tidak mencegah orang Islam untuk melakukan ajaran agamanya. Tetapi ternyata, menurut Steenbrink, setelah Sayyid Usman meninggal, pemerintah Belanda mulai mencampuri urusan agama, terutama karena dihilangkannya jabatan mufti setelah Sayyid Usman.” Dalam artikel tersebut dijelaskan, bahwa Sayyid Usman ingin pemerintah Belanda tidak mencampuri urusan agama Islam. Namun sayangnya setelah ia meninggal, pemerintah Belanda mulai mencampuri Urusan Agama Islam. Sedangkan dalam artikel karya Idan Dandi, tidak disebutkan harapan Sayyid Usman terhadap Belanda sehingga pembaca mengetahui Sayyid Usman hanya bagian dari pemerintah Belanda tanpa adanya harapan apapun terhadap hal itu. Dalam artikel karya Idan Dandi hanya disebutkan kritikan dari masyarakat saja, tidak ada pembahasan tentang pendapat ulama lain mengenai hal itu.

71Studi Islamika: Indonesia Journal for Islamic Studies 22, no 1 (2015).

72 Azyumardi Azra, “Hadhrami Scholars in the Malay-Indonesian Diaspora: A Preliminary Study of Sayyid Uthman,” 10.

152 Nuansa Kajian Sejarah dan Budaya Islam (Vol. 2)

Dalam Studia Islamika, Azyumardi Azra menyatakan bahwa Sayyid Usman adalah ulama keturunan Arab yang paling terkemuka di Nusantara pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Hal itu dapat dilihat dari karirnya yang cemerlang, karena setelah karya-karyanya menjangkau khalayak yang luas, dia semakin dikenal oleh pejabat-pejabat Batavia dan kemudian mendapat posisi yang penting sebagai penasehat pemerintah di dalam struktur pemerintahan kolonial di kota yang menjadi pusat administrasi tersebut.

D.Kontribusi Artikel bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan Hasil penelitian artikel “Sayyid Usman dan Pandangan Kontroversialnya tentang Pemerintah Kolonial Belanda”

memberikan kontribusi terhadap bidang kajian “Ilmu Dakwah”

dalam pengembangan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Ada beberapa point penting yang perlu kita ketahui dari aspek biografi Sayyid Usman. Pertama, Sayyid Usman adalah penulis sehingga dakwahnya dilakukan dalam sebuah metodologi yang sangat baik. Sebagai penulis dengan kualifikasi keilmuan yang bisa diakui, posisi Sayyid Utsman dalam mengembangkan dakwah dirasakan secara luas. Kemudian posisi Sayyid Utsman sebagai penasehat pemerintah juga menjadi faktor yang cukup menentukan tercapainya dakwah agama. Untuk hal ini kita hanya perlu memahami bahwa dakwah yang dilakukan Sayyid Utsman bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat, khususnya dari pemahaman-pemahaman yang keliru karena ketidaktahuan masyarakat terhadap inti suatu masalah.

Dalam perspektif dakwah, peran politik yang telah dimainkan oleh Sayid Usman sebagai informan Belanda dan penasehat kehormatan untuk urusan Arab, merupakan dakwah di jalan sunyi dan penuh caci maki karena dianggap telah menghamba kepada kepentingan penguasa kafir. Dalam perspektif Sayid Usman, peran politik ini perlu dilakukan agar dakwah Islam di Nusantara tetap dapat berjalan dengan baik tanpa ada tekanan dari pihak penguasa yang bisa menghambat

aktivitas dakwah. Meskipun demikian pandangan mayoritas kaum muslimin cenderung negatif ketika ada ulama yang bekerja bagi kepentingan kolonial.

REVIU ARTIKEL JURNAL

13

THE HISTORICITY AND THE TRADITION

Dalam dokumen NUANSA KAJIAN SEJARAH DAN BUDAYA ISLAM (Halaman 160-165)