• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriteria) Strategi(Indikator) 1 Optimalisasi pendidikan informal terutama Al-

Dalam dokumen Scanned by CamScanner (Halaman 110-114)

qur‟an

6 indikator 2 Peningkatan peranan masjid/surau sebagai sentra

kehidupan sosial masyarakat

9 indikator 3 Pelaksanaan Perlindungan atas kampung dan

masyarakat nagari

5 indikator 4 Peningkatan rasa kepedulian sosial, ukhuwah

islamiyah, kekeluargaan dan gotong royong

7 indikator 5 Penerapan adat, seni budaya dan olah raga sesuai

filosofi ABS–SBK

5 indikator 6 Peningkatan peran serta lembaga dan ormas 5 indikator 7 Peningkatan kesalehan Individu dan Sosial 6 indikator

Untuk mengukur ketercapaian program, Gerakan Nagari Madani dievaluasi setiap tahun. Dalam Perbup No. 74 Tahun 2016 telah diatur tentang mekanisme, instrumen dan analisis evaluasi Gerakan Nagari Madani.

4.3.2 Gerakan Save Maninjau

Danau Maninjau dan kawasan sekitarnya yang memiliki fungsi ekologi, sosial, ekonomi, sumber energi dan budaya, sedang dihadapkan dengan permasalahan menurunnya kualitas lingkungan dan air danau akibat eksploitasi pemanfaatan danau sebagai sentra perikanan budidaya yang tidak memperhatikan aspek daya dukung danau dan rusaknya sebagaian catchment area akibat bencana. Status trofik Danau Maninjau saat ini berada pada kondisi eutropik berat, dimana air danau mengandung unsur hara dengan kadar tinggi. Status ini menunjukkan air telah tercemar oleh peningkatan kadar nitrogen dan fosfor. Hal ini mengakibatkan terancam punahnya biota endemis Danau Maninjau, seperti bada, rinuak, ikan sidat dan biota endemis lainnya.

Terdapat tiga aktivitas utama di Danau Maninjau yaitu :

1. Sumber energi listri, yang memenuhi kebutuhan energi listrik masyarakat di Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Riau. Adanya aktivitas PLN mengakibatkan terjadinya perubahan sistem hidrologi danau, yaitu dari aliran di atas permukaan menjadi 6-10 m di bawah permukaan;

2. Sentra budidaya perikanan air tawar dengan sistem jaring apung,

dimana jumlah KJA sampai dengan saat ini mencapai 17.226 petak

(DKP, 2016), yang keberadaannya tersebar di hampir seluruh nagari

yang ada di salingka Danau Maninjau kecuali Nagari Paninjauan;

Perubahan RKPD Kabupaten Agam Tahun 2018 IV.14 3. Pariwisata, Danau Maninjau merupakan daerah tujuan wisata baik

oleh wisatawan domestik maupun mancanegera. Berbagai bangunan penunjang kegiatan pariwisata seperti hotel, restoran dan taman rekreasi tersebar di beberapa tempat di pinggir Danau Maninjau.

Namun fungsi sebagai daerah tujuan wisata ini semakin hari semakin menurun seiring terjadinya penurunan kualitas lingkungan Danau Maninjau.

Untuk mencegah semakin parahnya kerusakan lingkungan di kawasan Danau Maninjau tersebut dan agar aktivitas utama di kawasan tersebut dapat berjalan dengan seimbang maka Pemerintah Daerah mencanangkan kebijakan Strtegis “Penyelamatan Danau Maninjau”dengan cara :

1. Mengurangi pencemaran danau;

2. Mengembalikan fungsi danau sebagai habitat biota endemik danau;

3. Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat;

4. Menata kembali aktivitas ekonomi masyarakat.

Sasaran yang akan dicapai adalah : 1. Pengendalian sumber pencemar 2. Pengurangan dan pengaturan KJA 3. Pembersihan dan pengerukan danau 4. Perbaikan tata kelola aktivitas ekonomi

Dalam upaya penyelamatan Danau Maninjau terdapat 10 agenda yang akan dilaksanakan yaitu :

1. Perbaikan daerah tangkapan air (catchment area);

2. Pengaturan pintu air PLTA;

3. Stop Keramba Jaring Apung (KJA) Baru;

4. Pengurangan KJA;

5. Pembersihan Permukaan Danau;

6. Pengerukan dan atau penyedotan dan atau bioremediasi;

7. Penyelamatan Biota Endemis;

8. Transformasi Ekonomi;

9. Penguatan Regulasi (Supporting System);

10. Penguatan Kelembagaan (Supporting System).

4.3.3 Gelora Palembayan

Gelora Palembayan adalah suatu kebijakan strategis Pemerintah

Daerah untuk menjawab isu berkembang bahwa Kecamatan

Palembayan dianggap kecamatan tertinggal dengan tingkat kemiskinan

Perubahan RKPD Kabupaten Agam Tahun 2018 IV.15 yang tinggi, padahal kecamatan Palembayan mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan. Gerakan ini sekaligus untuk mengurangi tingkat kesenjangan pembangunan antar wilayah di Kabupaten Agam.

Terdapat beberapa masalah di Kecamatan Palembayan sebagai berikut : 1. Terdapatnya ketimpangan pembangunan dimana salah satu Nagari

mendominasi baik dari segi sarana prasarana pelayanan, jumlah penduduk maupun kegiatan ekonomi lainnya.

2. Penduduk yang menyebar di wilayah yang luas, akan tetapi belum didukung dengan infrastruktur yang baik, menyulitkan untuk pembinaan dan memfokuskan pengembangan komoditi. Kondisi ini juga menyulitkan untuk penyediaan fasilitas pelayanan dasar yang layak oleh Pemerintah.

3. Kurangnya sumber daya manusia yang berpendidikan yang menetap di wilayah kecamatan, karena lebih tertarik untuk berusaha di luar daerah.

4. Kegiatan ekonomi masyarakat lebih bersifat sub sistem dengan skala usaha kecil-kecil, sulit untuk bangkit.

5. Kegiatan ekonomi umumnya pada tingkat ekonomi primer yang mempunyai nilai tambah kecil, sementara upaya peningkatan nilai tambah produk sangat kurang. Karenanya sangat sulit untuk mendapatkan dukungan lembaga permodalan.

6. Kurangnya akses informasi dan akses permodalan bagi pelaku usaha.

7. Kurangnya pembinaan kepada kelompok-kelompok usaha masyarakat dan pelaku usaha tentang bagaimana menjalankan usaha dengan baik.

8. Kurangnya tenaga pengajar di sekolah dasar dan sekolah menengah terutama Guru Agama

9. Akses jalan kurang memadai terutama di daerah terisolir 10. Potensi pariwisata belum tergarap

11. Masih adanya daerah yang belum teraliri listrik

12. Kurangnya frekwensi angkutan umum sehingga masyarakat sulit mengakses daerah luar

13. Belum adanya akses internet

Pembangunan Kecamatan Palembayan dilaksanakan dalam

konteks pembangunan kawasan perdesaan, yang memiliki peran sangat

strategis dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup manusia, karena

Perubahan RKPD Kabupaten Agam Tahun 2018 IV.16 kawasan perdesaan umumnya memiliki fungsi sebagai sentra pertanian, menyediakan sumber pangan. Wilayah Kecamatan Palembayan menjadi hinterland (penyangga) bagi kawasan perkotaan dan kawasan produksi lainnya seperti Kawasan Minapolitan dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Dengan fungsi yang demikian dan sesuai potensi wilayah maka arah kebijakan pembangunan Kec. Palembayan adalah :

1. Pembangunan kawasan pedesaan berbasis komoditi yaitu tanaman pangan (padi sawah, padi organik, jagung dan keladi/talas), hortikultura (manggis, duku, durian) dan perkebunan (kopi, tebu).

2. Integrasi peternakan, perikanan dan pertanian/perkebunan.

3. Pengembangan usaha perikanan

4. Pembangunan infrastruktur yang tepat dan terarah sesuai arahan tata ruang dan mitigasi bencana.

5. Peningkatan sumber daya manusia dengan mendekatkan layanan pendidikan dan kesehatan.

6. Peningkatan nilai tambah produk masyarakat.

7. Optimalisasi pemanfaatan Dana Nagari

8. Pembentukan/peningkatan peranan Badan Usaha Milik Nagari dan Koperasi.

9. Peningkatan konektifitas antar dan inter kawasan.

10. Peningkatan akses dan sarana pemasaran.

11. Peningkatan kualitas dan kuantitas jaringan telekomunikasi 4.3.4 Pengembangan Kawasan Berbasis Komoditi

Untuk percepatan pencapaian target pertumbuhan ekonomi

dilaksanakan pembangunan kawasan berbasis komoditi yang sesuai

dengan karakteristik dan budaya kebiasaan masyarakat di masing-

masing wilayah. Mempedomani tata ruang wilayah, arahan RPJMD

Kabupaten Agam dan singkronisasi dengan kebijakan pengembangan

komoditi oleh Pemerintah Provinsi dan Pusat, maka untuk tahun 2019

rencana pengembangan kawasan dapat diliat pada Tabel IV.4 sebagai

berikut :

Perubahan RKPD Kabupaten Agam Tahun 2018 IV.17

Tabel IV.4

Dalam dokumen Scanned by CamScanner (Halaman 110-114)

Dokumen terkait