• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

A. METODE PENELITIAN KUANTITATIF

2. Kuesioner (Angket)

Kuesioner (Angket) merupakan salah satu teknik pengumpulan data dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan tertulis dari peneliti kepada responden untuk dijawab. Kuesioner bisa dikatakan efisien apabila peneliti sudah mengetahui dengan pasti tentang variabel yang akan diukur maupun hasil yang akan diperoleh dari responden.

Apabila responden besar dan tersebar di wilayah yang luas maka pengumpulan data dengan teknik kuesioner sangat cocok digunakan.

Kuesioner dapat dilakukan berupa pertanyaan– pertanyaan dengan cara tertutup ataupun dengan cara terbuka. Kuesioner dapat dikirim melalui jasa pos, dapat melalui internet maupun diantar/diberikan langsung dari peneliti ke responden.

Berbeda apabila penelitian dilakukan pada lingkup yang kecil (tidak terlalu luas), kuesioner dapat diantar langsung oleh peneliti ke responden dengan waktu yang tidak terlalu lama, kuesioner tidak perlu di kirim melalui pos atau melalui internet. Jadi dengan demikian sudah terjalin hubungan yang baik dan juga suasana yang cukup baik antara peneliti dengan responden yang pada akhirnya akan menghasilkan perolehan data yang akurat dan valid karena dari pihak responden dengan sukarela akan memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh peneliti.

Beberapa prinsip sebagai teknik pengumpulan data menurut Uma Sekaran (1992) yaitu: prinsip penulisan, pengukuran dan penampilan fisik sebagai berikut:

a. Prinsip Penulisan Angket

Prinsip penulisan angket terdiri beberapa faktor :

1) Isi dan Tujuan Pertanyaan

Yang dimaksudkan isi dan tujuan pertanyaan adalah apakah isi dari pertanyaan pada kuesioner (angket) yang diajukan oleh peneliti kepada responden itu berbentuk pengukuran atau bukan. Kalau berbentuk pengukuran maka peneliti harus teliti dalam membuat pertanyaan. Skala pengukuran dan item dari pertanyaan tersebut mencukupi untuk mengukur variabel yang akan diteliti.

2) Bahasa yang Digunakan

Bahasa yang digunakan dapat diartikan bahwa Penggunaan bahasa pada kuesioner (angket) harus disesuaikan dengan kemampuan berbahasa responden dengan memperhatikan jenjang pendidikan responden, keadaan sosial budaya dan “frame of reference” dari responden.

Frame of reference merupakan nilai pandangan seseorang sebagai perpaduan dari faktor-faktor jenis kelamin, usia, pendidikan, kebudayaan, agama dan lain-lain yang berpengaruh terhadap pesan komunikasi yang dilancarkan kepadanya.

3) Tipe dan Bentuk Pertanyaan

Tipe pertanyaan dalam kuesioner (angket) bisa terbuka, bisa tertutup dan bentuknya bisa menggunakan kalimat positif maupun kalimat negatif.

Pertanyaan terbuka dimaksudkan adalah pertanyaan yang mengharapkan jawaban dari responden dalam bentuk uraian jawaban yang ditulis. Pertanyaan tertutup dimaksudkan adalah pertanyaan yang diajukan oleh peneliti kepada responden dengan mengharapkan jawaban singkat atau memilih alternatif jawaban setiap pertanyaan yang telah disediakan oleh peneliti dalam kuesioner. Bentuk dari pertanyaan tertutup itu sendiri terdiri dari data nominal, ordinal, interval, dan ratio.

4) Pertanyaan Tidak Mendua

Dalam membuat pertanyaan pada kuesioner (angket) setiap pertanyaan jangan mendua (double-barreled) karena ini dapat menyulitkan responden dalam memberikan jawabannya.

Contoh : Bagaimana pendapat Anda tentang kualitas dan kecepatan pelayanan ….. Di sini dikatakan mendua karena ada dua hal yang ditanyakan sekaligus. Yaitu “kualitas“ dan “kecepatan”

Seharusnya “Bagaimana pendapat Anda tentang kualitas pelayanan…..” dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya “Bagaimana pendapat Anda tentang kecepatan pelayanan…”

5) Tidak Menanyakan yang Sudah Lupa

Dimaksudkan di sini adalah peneliti sebaiknya tidak membuat pertanyaan dalam instrumen kuesioner (angket) yang menanyakan hal–hal yang diperkirakan responden sudah lupa, atau pertanyaan yang memerlukan jawaban yang membuat responden berpikir berat.

Misalnya pertanyaan yang ditujukan kepada responden yang tingkat pendidikannya rendah dengan contoh pertanyaan:

Bagaimanakah caranya mengatasi tingkat pengangguran saat ini? Pertanyaan tersebut di atas seharusnya ditanyakan kepada pakar ekonomi yang notabene mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi.

Atau pertanyaan yang jawabannya diperkirakan responden sudah lupa dengan contoh pertanyaan :

Bagaimanakah tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia di awal kemerdekaan?. Pertanyaan ini sudah diperkirakan responden sudah lupa atau sulit untuk memberikan jawaban karena responden sendiri belum lahir saat itu.

6) Pertanyaan Tidak Menggiring

Dimaksudkan di sini adalah pertanyaan dalam kuesioner (angket) sebaiknya tidak menggiring ke jawaban yang baik saja atau yang jelek saja.

Misalnya pertanyaan “Bagaimanakah pendapat Anda kalau gaji PNS dinaikkan. Kalau pertanyaan ditujukan kepada PNS (responden) pasti jawabannya sangat setuju semua. Atau menanyakan prestasi PNS yang bersangkutan pasti jawaban responden (PNS) mengatakan baik walaupun sebenarnya kurang baik.

7) Panjang Pertanyaan

Peneliti dalam membuat pertanyaan pada kuesioner (angket) sebaiknya tidak terlalu panjang, sehingga membuat perasaan jenuh bagi responden dalam memberikan jawaban.

Bila variabelnya banyak tentu memerlukan instrumen pertanyaan yang banyak pula. Kalau terjadi demikian sebaiknya instrumen-instrumen tersebut dibuat bervariasi dalam penampilan termasuk penggunaan model skala pengukuran maupun cara mengisi skala tersebut. Sebaiknya jumlah pertanyaan antara 20 sampai dengan 30 pertanyaan.

8) Urutan Pertanyaan

Urutan–urutan dalam pertanyaan dalam kuesioner (angket) dimulai dari hal yang bersifat umum menuju hal–

hal yang bersifat spesifik, atau dari yang mudah menuju ke hal yang sulit, atau diacak.

Hal ini sangat penting untuk dipertimbangkan karena secara psikologis akan mempengaruhi semangat responden untuk menjawab. Apabila pertanyaan diawali dengan pertanyaan sulit atau spesifik, maka responden akan tidak bersemangat untuk menjawab angket yang diberikan kepadanya. Begitu pun dengan pertanyaan yang diacak, perlu dibuat apabila responden telah mempunyai tingkat kematangan terhadap masalah yang ditanyakan.

9) Prinsip Pengukuran

Angket yang diberikan oleh peneliti kepada responden adalah merupakan instrumen penelitian yang digunakan sebagai alat untuk mengukur variabel yang akan diteliti.

Untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variabel yang diukur maka digunakan instrumen angket.

Untuk itu sebelum instrumen angket diberikan kepada responden untuk dijawab, maka perlu diuji validasi dan reliabilitas terlebih dahulu. Ini dilakukan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel.

10) Penampilan Fisik Angket

Penampilan fisik angket akan mempengaruhi responden dalam mengisi atau memberikan jawaban pada angket.

Apabila penampilan fisik angket misalnya dicetak pada kertas yang bagus maka responden akan tertarik untuk mengisi angket, berbeda bila penampilan fisik angket dicetak pada kertas buram akan membuat respons yang kurang menarik bagi responden untuk mengisi angket.