BAB II KAJIAN TEORI
K. Landasan Pendidikan Inklusi
Bertolak dari filosofi Bhineka Tunggal Ika, kelainan (kecacatan) dan keterbatasan hanyalah satu bentuk kebhinekaan seperti halnya perbedaan suku, ras, bahasa budaya, atau agama. Didalam diri individu berkelainana pastilah dapat ditemukan keunggulan- keunggulan tertentu, sebaliknya didalam diri individu berbakat pasti terdapat juga kecacatan tertentu, karena tidak hanya makhluk di bumi ini yang diciptakan sempurna. Kecacatan dan keunggulan tidak memisahkan peserta didik satu dengan yang lainnya, seperti halnya perebdaan suku, bahasa, budaya, atau agama. Hal ini harus diwujudkan dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam, sehingga mendorong sikap silih asah, silih asih, dan silih asuh dengan semangat toleransi speerti halnya yang dijumpai atau dicita- citakan dalam kehidupan sehari- hari.
2. Landasan Religius
Sebagai bangsa ynag beragama, penyelenggara pendidikan inklusif tidak bisa lepas dari konteks agama karena pendidikan merupakan tangan utama dalam mengenal Tuhan. Tuhan tidak sekaligus menjadikan manusia di atas bumi beriman kepada- Nya, tetapi masih melalui proses kependidikan yang berkeimanan dan Islami. Dalam hubungan dengan konsepsi pendidikan Islami yang nativistis, faktor pembawaan diakui pula sebagai unsur pembentuk corak keagamaan dalam diri manusia.
Ada banyak ayat Al Qur`an yang menjelaskan tentang landasan religius dalam penyelenggara pendidikan inklusif. Faktor religius yang digunakan untuk penjelasan ini adalah Surah Al- Hujurat (49) ayat 13 yang berbunyi:
اَهُّي َ أَٰٓ َي ساَّلنٱ
اٗبو ع ش ۡم لَٰ َنۡلَعَجَو َٰ َثَن أَو ٖر َكَذ نِ ن م لََٰنۡقَلَخ اَّنِإ َدنِع ۡم لَنَرۡك َ
أ َّنِإ ْۚ آو فَراَعَِلِ َلِئٓاَبَقَو ِ َّللّٱ
َّنِإ ْۚۡم لَٰىَقۡت َ أ َ َّللّٱ
ٌميِلَع
ٞيرِبَخ ١٣
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Al Hujarat [49]:
13)
Ayat tersebut memberikan perintah kepada kita, agar saling ta’aruf, yaitu saling mengenal dengan siapapun, tidak memandang latar belakang, sosial, ekonomi, ras, suku, bangsa, dan bahkan agama. Inilah konsep Islam yang begitu universal, yang memandang kepada semua manusia dihadapan Allah adalah sama, justru hanya tingkat ketakwaannyalah menyebabkan manusia mulia dihadapan Allah.
Secara jelas, pernyataan ini bersumber dari QS Al- Maidah (5) ayat 2 yang berbunyi:
َ َعَل او نَواَعَتَو ....
ِ ِب ۡلٱ َٰىَوۡقَّلِٱ َو
َ َعَل او نَواَعَت َلََو ِمۡثِ ۡ
لۡٱ ِنَٰ َوۡد ع ۡلٱ َو
....
Artinya: “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan”.(QS Al Maidah [5]: 2)
Ayat tersebut juga memberikan perintah kepada kita agar kita memberika pertolongan kepada siapa saja, terutama kepada mereka yang membutuhkan, tanpa memandang latar belakang keluarga dan dari mana dia berasal, lebih- lebih mereka yang mengalami keterbatasan atau kecacatan fisik, sebagai contoh tunanetra, tunadaksa, tunarungu, tunagrahita, dan tunalaras. Anak didik yang membutuhkan layanan
pendidikan inklusif pada hakikatnya adalah manifestasi dari manusia sebagai makhluk yang berbeda atau individual difference.
Bila kita mencermati ayat- ayat Al Qur`an mengenai hakikat fitrah manusia, ternyata ada kesamaan antara landasan filosofis dan landasan religius. Dalam konteks kebenaran hakiki, landasan filsafat menggunakan rasio atau akal, sementara landasan agama menggunakan wahyu. Lalau apa kesamaan dan titik temunya bila keduanya bersentuhan satu sama lain? Ternyata sumber hakikinya terletak pada Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi landsan fundamental bagi setiap manusia untuk mendapatkan kebaikan dan keberkatan.
3. Landasan Yuridis
Landasan yuridis dalam pelaksanaan pendidikan inklusif berkaitan langsung dengan hierarki, undang- undang, peraturan pemerintah, kebijakan direktur jenderal, hingga peraturan sekolah.
Fungsi dari landasan yuridis ini adalah untuk memperkuat argumen tentang pelaksanaan pendidikan inklusif yang menjadi bagian penting dalam menunjang kesempatan dan peluang bagi anak berkebutuhan khusus. Penyelenggaraan pendidikan inklusif juga berkaitan dengan kesepakatan- kesepakatan internasional yang berkenaan dengan pendidikan.
Landasan yuridis internasonal tentang penerapan pendidikan inklusif adalah deklarasi Salamanca (UNESCO), (1995) oleh para menteri pendidikan sedunia. Deklarasi ini sebenarnya penegasan kembali atas Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948 dan berbagai deklarasi lanjutan yang berujung pada peraturan standar PBB yahun 1993 tentang kesempatan yang sama bagi individu kelainan memperoleh pendidikan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan yang ada. Di Indonesia, penerapan pendidikan inklusif dijamin oleh
Undang- Undang No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berkelainan atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus.
Dengan melihat landasan yuridis tersebut, tidak ada kata menolak bagi sekolah- sekolah reguler untuk menerima anak berkebutuhan khsusu (ABK). Namun realitas yang terjadi, banyak sekolah- sekolah yang tidak mau menerima anak berkebutuhan khusus dengan berbagai macam alasan. Penunjukkan bukanlah sebagai tujuan, yang terpenting adalah nilai ibadah dengan menididk mereka (anak berkebutuhan khusus). Namun juga terbesit harapan kiranya pemerintah lebih memerhatikan lagi.
4. Landasan Pedagogis
Pada pasal 3 Undang- Undang No 20 tahun 2003, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang berdemokratis dan bertanggung jawab. Jadi, melalui pendidikan, peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan ini mustahil tercapai jika sejak awal mereka diisolasikan dari teman sebayanya di sekolah- sekolah khusus. Betapapun kecilnya, mereka harus diberi kesempatan bersama teman sebayanya.
5. Landasan Empiris
Penelitian tentang inklusif telah banyak dilakukan di Negara- Negara Barat sejak 1980 an, namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh The National Academy Of Science (Amerika Serikat).
Hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan di sekolah, kelas, atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. Layanan ini merekomendasikan agar pendidikan khusus secara segregatif hanya diberikan terbatas berdasarkan hasil identifikasi yang tepat. Beberapa pakar bahkan mengemukakan bahwa sangat sulit untuk melakukan identifikasi penempatan anak berkelainan secara tepat karena karakteristik mereka yang sangat heterogen. Beberapa peneliti kemudian melakukan metaanalisis (analisis lanjut) atas hasil banyak penelitian sejenis. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 tindakan penelitian Wan dan Baker (1985/1986) terhadap 11 tindakan penelitian, dan Baker (1994) terhadap 13 tindakan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif berdampak positif, baik terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya.
Pendidikan didalam sistem pendidikan umum dan tidak didiskrminasikan telah disorot dalam instrumen- instrumen yang lebih rinci seperti deklarasi Jomtien dan Konvensi PBB tentang hak anak.
Namun, hak atas pendidikan tidak secara otomatis mengimplikasikan inklusi. Hak atas pendidikan inklusi yang paling jelas telah dinyatakan dalam pernyataan Salamanca dan kerangka aksi yang menekankan bahwa sekolah membutuhkan perubahan dan penyesuaian. Pendidikan inklusif merupakan perkembangan terkini dari model pendidikan bagi anak berkelainan yang secara formal kemudian ditegaskan dalam pernyataan Salamanca pada Konferensi Dunia tentang Pendidikan
Berkelainan pada bulan juni 1994 bahwa “prinsip mendasar dari pendidikan inklusif adalah selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama- sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan secara fisik, intelektual, sosial, emosional, bahasa, atau kondisi lain, termasuk anak penyandang cacat dan anak berbakat, anak jalanan, anak yang bekerja, anak dari etnis, budaya, bahasa, minoritas dan kelompok anak- anak yang tidak beruntung dan terpinggirkan, inilah ynag dimaksud oneschool for all.48
Dengan demikian, adanya landasan- landasan pendidikan inklusif yang sudah dijelaskan diatas, maka tidak ada keraguan untuk mengecam bahwa pendidikan inklusi kurang baik untuk anak berkebutuhan khusus yang memiliki kecacatan rendah dan masih bisa ditangani atau masih dapat berbaur dengan teman- teman sebayanya.
Karena dengan adanya pendidikan inklusif inilah maka sikap- sikap yang tidak baik, seperti sikap diskriminasi terhadap orang lain akan berkurang, bahkan tidak ada. Karena rasa menerima kekurangan orang lain dan toleransi akan tumbuh dalam hati dengan sendirinya sejak belajar sekolah tersebut.