BAB IV PROPOSAL PENELITIAN PROMOSI
4.6 Landasan Teori
daerah tujuan wisata. Yang termasuk dalam kegiatan commu- nication mix adalah advertising, publishing, dan presentation. Ada- pun service mix merupakan analog atau sama dengan pengertian after sales, yaitu memberikan pelayanan kepada wisatawan dengan memuaskan, dimulai sejak wisatawan membayar harga paket wisata sampai ia menikmati perjalanan di daerah tujuan wisata dan akhirnya kembali ke rumah di mana ia tinggal.
Berdasarkan pemahaman atas studi pustaka terhadap buku- buku tersebut dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan “promosi kepariwisataan Indonesia dalam puisi Indo- nesia modern” adalah segala daya upaya untuk dapat menge- nalkan, memajukan, dan memasarkan objek-objek wisata yang memiliki daya tarik keindahan alam, sejarah, dan budaya di wilayah Indonesia kepada para turis atau pelancong yang ber- minat berkunjung ke tempat wisata tersebut yang terekspresikan dalam puisi Indonesia modern. Sebuah puisi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mempromosikan objek-objek wisata di daerah tempat tinggal penyair atau objek wisata yang pernah dikunjungi oleh penyair melalui puisi yang ditulisnya. Sebanyak 30 puisi dari 500 puisi kepariwisataan Indonesia dijadikan sampel objek penelitian ini, yaitu setiap provinsi diwakili atas satu puisi pariwisata kecuali untuk provinsi Bangka Belitung, Sulawesi Barat, dan Gorontalo yang tidak ditemukan puisi yang mempro- mosikan objek wisata ketiga daerah tersebut.
agar mengenal lebih jauh Indonesia sebagai tanah tumpah darah bagi kehidupan manusia warga negara Indonesia. Sementara itu, untuk menganalisis tanggapan pembaca terhadap tingkat keberterimaan masyarakat 10 kota provinsi di Indonesia ter- hadap makna dan pesan utama puisi-puisi bertema kepariwi- sataan Indonesia, tim peneliti menggunakan teori resepsi sastra atau estetika resepsi. Jadi, secara jelasnya penelitian ini menggu- nakan teori interpretasi (penafsiran) terhadap teks puisi dan tanggapan pembaca terhadap puisi kepariwisataan Indonesia.
Kritik sastra objektif menganggap bahwa karya sastra sebagai sesuatu yang mandiri (otonom). Karya sastra dianalisis bebas dari pengaruh sekitarnya, bebas dari pengarangnya, bebas dari penyairnya, pembaca, atau dunia sekitarnya (lihat Abrams 1981:37; dan Pradopo, 2002:20). Karya sastra adalah sebuah dunia yang dapat melepaskan diri dari siapa pengarangnya dan ling- kungan sosial budayanya. Karya sastra harus dilihat sebagai objek yang mandiri dan menonjolkan struktur verbal yang oto- nom dengan koherensi interen. Oleh sebab itu, karya sastra meru- pakan sebuah keseluruhan yang mencakupi dirinya, tersusun dari bagian-bagian yang saling berjalinan erat dan padu, serta menghendaki pertimbangan analisis intrinsik berdasarkan keber- adaan karya sastra itu sendiri, seperti kompleksitas, koherensi, keseimbangan, integritas, dan saling berhubungan antara unsur- unsur pembentuknya (Santosa et al. 2009:29). Dalam teori kritik objektif ini terjalin secara jelas antara konsep-konsep kebahasaan (linguistik) dan pengkajian sastra, salah satunya adalah analisis unsur tema dan pesan utama amanat dari teks karya sastra ter- sebut.
Sebuah puisi dibangun oleh berbagai unsur kebahasaan yang ada, seperti huruf, bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Setiap unsur kebahasaan itu saling berkaitan erat membentuk sebuah struktur puisi. Oleh karena itu, struktur merupakan komponen utama dan memiliki prinsip kesatuan yang bulat, utuh, dan terpadu dalam sebuah bangunan yang disebut sajak. Struktur sebuah
puisi merupakan bangunan yang terdiri atas unsur-unsur atau komponen kebahasaan yang dapat menimbulkan tipografi (ukiran atau tata bentuk), simbol (perlambang), citraan (peng- imajian), dan makna kias. Jadi, unsur atau komponen tersebut membentuk satu kesatuan yang saling berkaitan sehingga tersu- sun sebuah bangunan yang arsitektural (Levitt, 1971:14, dan Longeworth, 1973:48). Struktur dalam sebuah sajak merupakan tempat, hubungan, dan fungsi dari unsur-unsurnya dalam mem- bentuk satu kesatuan yang bulat, utuh, dan terpadu.
Unsur terpenting struktur sebuah puisi yang dapat diamati secara cepat adalah tata wajah (tipografi), versivikasi (rima, ritma, metrum), majas (bahasa figuratif), kata konkret, pengima- jian (citraan), dan diksi atau pilihan kata (Waluyo, 1991:72—
100). Pradopo (1987:22—144) lebih menyederhanakan lagi struk- tur puisi yang dapat diamati itu meliputi bunyi, irama, dan kata.
Semi (1988:107) menyebutkan bahwa yang dikemukakan Waluyo dan Pradopo itu baru berupa “struktur fisik”-nya. Semi menye- butkan masih ada satu struktur lagi, yaitu “struktur mental”
atau “struktur batin”. Struktur mental dapat mencakupi tema, urutan logis, pola asosiasi, satuan arti yang dilambangkan (oleh bunyi, kata, dan kalimat), pola-pola citraan, dan emosi. Lain halnya dengan Luxemburg (1984: 1977—199) yang mengatakan bahwa struktur persajakan yang paling utama adalah (1) susunan tematik, (2) pola-pola makna, (3) sintaksis, (4) bunyi, (5) versi- vikasi, dan (6) tata muka.
Dari berbagai teori yang telah disebutkan di atas penulis akan mengambil teori tentang struktur fisik dan struktur mental puisi. Struktur fisik puisi meliputi bentuk sajak (tata wajah, daya guna bunyi, diksi, citraan, dan sarana retorika) dan struktur mental (isi atau tema puisi). Struktur mental puisi berkaitan dengan masalah tema dan amanat. Tema adalah gagasan, ide, ataupun pikiran utama di dalam karya sastra (Sudjiman, 1990:78).
Tema karya sastra bersifat lugas, objektif, dan khusus (Waluyo, 1991:107). Artinya, penyampaian tema karya sastra itu dilakukan
secara khusus melalui bahasa yang lugas, apa adanya, tersurat, dan objektif bagi semua penafsir sehingga tidak dibuat-buat.
Sebab, tema berhubungan dengan “arti” karya sastra (Kenney, 1966:88), ‘to put the matter simply, theme is the meaning of the story’.
Sementara itu, amanat adalah pesan pengarang kepada pembaca, baik tersurat maupun tersirat yang disampaikan melalui karyanya (Zaidan et al. 2007:27). Amanat dalam karya sastra, juga termasuk puisi, tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga di balik tema yang diungkapkan (Waluyo, 1991:130). Oleh karena itu, amanat karya sastra berhubungan dengan makna (significance) karya sastra atau puisi yang bersifat kias, subjektif, dan umum.
Sebab, amanat puisi berhubungan dengan konsep seseorang dan situasi di mana penyair mengimajinasikan karyanya.
Analisis konten adalah penelitian yang berusaha mengana- lisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung di dalam dokumen tersebut (Wuradji dalam Jabrohim, 2001:6).
Dalam analisis konten ini terdapat dua macam analisis, yaitu analisis isi laten dan analisis isi komunikasi (Ratna, 2008: 48—
49). Analisis isi laten akan menghasilkan arti, sedangkan analisis isi komunikasi akan menghasilkan makna. Sebagaimana halnya dengan metode kualitatif, dasar metode analisis konten adalah penafsiran atau interpretasi teks. Jadi, analisis konten atau analisis isi adalah strategi untuk menangkap makna dan pesan utama karya sastra (Endraswara, 2011:161). Tujuan analisis konten adalah membuat inferensi (simpulan) dari puisi-puisi yang dianalisis. Inferensi diperoleh melalui identifikasi, penaf- siran, dan konteks yang melingkupi karya sastra yang dianalisis- nya. Oleh karena yang digunakan sebagai sampel dan sekaligus objek penelitian ini adalah 30 puisi yang bertema promosi kepa- riwisataan Indonesia, maka yang akan diungkap adalah makna dan pesan utama ketiga puluh puisi tersebut dalam kaitannya dengan mengenalkan, memajukan, dan memasarkan objek-objek wisata di wilayah Republik Indonesia.
Dengan menganalisis konten 30 puisi, masalah tema dan pesan utama puisi, penelitian ini akan memperoleh gambaran tentang makna dan pesan utama dalam konteks realitas kehidup- an pariwisata Indonesia, gagasan utama penyair tentang kepari- wisataan Indonesia, dan pesan utama puisi yang memuat kesa- daran seseorang akan makna berwisata, ikut serta berpartisipasi mengenalkan, memajukan, dan memasarkan objek-objek wisata daerahnya dalam rangka melepaskan rutinitas, membuat rasa menjadi senang dan bahagia dengan mensyukuri nikmat Ilahi, serta refresing dalam menjalani seni hidup sehari-hari. Kesa- daran akan berwisata ini penting untuk dapat mengubah perilaku manusia dari kejenuhan menghadapi kegiatan rutinitas sehari- hari dengan refresing, menyegarkan suasana dan perasaan agar dalam menjalani hidup ini ada nilai seni dan hikmahnya. Terlebih pesan utama untuk dapat menjaga, memelihara, dan melestarikan keseimbangan antara rutinitas dan refresing, antara keseimbang- an otak kiri dan kanan, tentu banyak memberi manfaat bagi kehidupan manusia sebagai usaha peningkatan dan pengem- bangan kepariwisataan di Indonesia, transportasi, perhotelan, kuliner, industri kreatif, serta kesegaran jasmani dan rohani dalam menjalani kehidupan.
Teori estetika resepsi atau resepsi sastra mendasarkan diri pada teori bahwa karya sastra itu sejak terbitnya selalu mendapat resepsi atau tanggapan para pembacanya. Karya sastra meru- pakan struktur estetik yang terdiri atas tanda-tanda estetik yang dipancarkan ke pembacanya. Di dalam metode estetika resepsi yang perlu diperhatikan bukan hanya eksistensi sebuah karya sastra, melainkan juga resepsi pembacanya. Resepsi sastra juga ditentukan oleh penerimaan estetik, interpretasi, dan evaluasi pembacanya (Vodicka, 1964:71). Jadi, estetika resepsi adalah se- buah metode kritik sastra yang menitikberatkan pada peranan pembaca yang memperhatikan karya sastra sebagai sebuah struktur. Di satu pihak pembaca memiliki nilai-nilai yang ber- ubah. Sementara, di lain pihak karya sastra sebagai sebuah
struktur menentang struktur karya sebelumnya. Estetika resepsi melihat nilai sastra sebagai sebuah konsep dari perubahan yang tetap, bergantung pada sistem norma pembacanya (Segers, 1978:49). Metode estetika resepsi merupakan sebuah kejutan untuk evaluasi kesusastraan guna melengkapi perbedaan pan- dangan dari konsep “nilai kesusastraan”. Hal itu disebabkan bahwa selama ini pendekatan struktural dianggap sebagai nilai sastra yang terlepas dari pembacanya (Segers, 1978:49).
Karya sastra bukan merupakan sebuah objek yang berdiri sendiri dan memiliki wajah yang sama pada setiap pembaca pada masing-masing periode. Karya sastra bukan merupakan sebuah monumen yang tidak memiliki rival di dalam pembicaraannya.
Karya sastra lebih menyerupai sebuah orkestrasi yang selalu menampilkan paduan nada baru bagi pembacanya, pembaca bebas untuk mensubstitusikan kata-kata di dalam karya sastra dan membuat makna yang banyak pada waktu yang sama. Kata- kata di dalam karya sastra merupakan suatu kreasi yang dilaku- kan pengarangnya, misalnya dengan perubahan urutan untuk mengenakkan pendengaran. Karya sastra harus dimengerti sebagai sebuah kreasi suatu dialog, dan filologi telah menemukan kembali keberlangsungan pembacaan sebuah teks dan tidak ber- henti hanya sebagai fakta belaka (Jauss, 1974:14). Dengan demi- kian, para ahli sejarah sastra, ahli estetika, dan kritikus berpen- dapat tidak ada satu pun sebuah nilai yang benar sebab tidak terdapat nilai estetika yang benar sehingga tidak ada sebuah evaluasi saja. Sebuah karya sastra merupakan sebuah subjek untuk bermacam-macam evaluasi dalam bentuknya sebagai kon- kretisasi pada perubahan yang tetap (Vodicka, 1964;78—79).
Estetika resepsi sebagai sebuah metode melihat karya sastra sebagai objek estetik yang memiliki keragaman nilai dalam per- kembangan nilai-nilai estetikanya. Sementara itu, karya sastra juga merupakan sebuah objek estetik yang menciptakan dialog dengan pembacanya sesuai dengan sifatnya yang poly interpretable (banyak tafsir). Di dalam hal ini estetika resepsi menempatkan
karya sastra sebagai bagian perkembangan struktur. Estetika resepsi merupakan salah satu titik tolak dari perkembangan seja- rah sastra dengan tidak mengabaikan struktur dalamnya.
Metode estetika resepsi meneliti resepsi-resepsi setiap pe- riode, yaitu tanggapan-tanggapan sebuah karya sastra oleh para pembacanya sehingga membentuk jalinan sejarah. Pembaca yang dimaksud adalah pembaca yang cakap, ahli sastra, ahli sejarah, ahli estetika, bukan orang awam, dan dapat sebagai kritikus sastra, peneliti, serta dapat juga sastrawan atau pengarang sastra.
Para ahli sastra di setiap periode memberikan komentar-ko- mentar, tulisan, tanggapan berdasarkan konkretisasinya terha- dap karya sastra yang bersangkutan. Istilah “konkretisasi” yang dikemukakan oleh Vodicka ini berasal dari Roman Ingarden (Vodicka, 1964:79), yang berarti ‘pengonkretan makna karya sastra atas dasar pembacaan dengan tujuan estetik’. Jadi, metode estetika resepsi sastra itu seperti yang dikemukakan Segers (1978:49) meliputi: (1) merekonstruksi bermacam-macam konkretisasi sebuah karya sastra dalam masa sejarahnya, dan (2) penelitian hubungan antara konkretisasi-konkretisasi di satu pihak dan penelitian hubungan antara karya sastra dengan kon- teks kesejarahan (historis) yang memiliki konkretisasi-konkreti- sasi itu di lain pihak.
Atas dasar pemahaman itu, metode estetika resepsi dapat dikatakan sebagai penelitian kritik pragmatik, yaitu penelitian kritik sastra yang menitikberatkan peranan pembaca sebagai pe- nyambut dan penghayat karya sastra. Jan van Luxemburg et al.
(1984:79–80) menyatakan bahwa ada sembilan sumber terpenting yang dapat dijadikan objek kritik sastra dengan metode estetika resepsi, yaitu: (1) laporan resepsi dari pembaca nonprofesional:
catatan dalam buku catatan harian, catatan di pinggir buku, la- poran dalam autobiografi, dan lain-lain; (2) laporan profesional;
(3) terjemahan dan saduran; (4) saduran di dalam sebuah medium lain; misalnya film atau sinetron yang berdasarkan sebuah novel atau cerpen; (5) resepsi produktif: unsur-unsur dari sebuah karya
sastra diolah dalam sebuah karya baru; (6) resensi; (7) pengolah- an dalam buku-buku sejarah sastra, ensiklopedia, dan lain-lain;
(8) dimuatnya sebuah fragmen dalam sebuah bunga rampai, buku teks untuk sekolah, daftar bacaan wajib bagi pelajar dan maha- siswa; dan (9) laporan mengenai angket, penelitian sosiologis dan psikologis.
Kaidah teori estetika resepsi dari Jan van Luxemburg yang ke-9, yaitu laporan mengenai angket, penelitian sosiologis dan psikologis, tim peneliti gunakan untuk melengkapi analisis 30 puisi Indonesia modern yang bertema kepariwisataan Indonesia.
Angket disusun dalam bentuk kuesioner dan disebarkan kepada 300 responden, 10 orang pembaca ahli, dan 10 orang narasumber yang berada di 10 kota wilayah Republik Indonesia (Padang, Medan, Yogyakarta, Semarang, Banjarmasin, Palangkaraya, Den- pasar, Mataram, Manado, dan Gorontalo).
4.7 Metodologi