• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Pustaka

BAB IV PROPOSAL PENELITIAN PROMOSI

4.5 Tinjauan Pustaka

agar terbebas dari rutinitas, kejenuhan, stres yang membuat ber- hentinya aktivitas dan semangat kerja. Dengan melakukan wisata tersebut diharapkan hidup kembali segar dan penuh semangat beraktivitas sehari-hari dalam menyelesaikan tugas dan kewa- jiban diri sebagai warga negara Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain dua hal tersebut, hasil penelitian ini juga bermanfaat bagi dunia pendidikan di Indonesia, terutama bagi mereka yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa dalam rangka menanamkan budi pekerti dan memupuk keteguhan wa- tak nasionalisme atau kebangsaan. Hasil penelitian ini dapat diolah kembali sebagai penulisan penanaman budi pekerti dan memupuk watak nasionalisme melalui penulisan bahan ajar di sekolah dan perguruan tinggi ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

wisataan cukup rumit karena aktivitas komponen-komponennya ditentukan oleh berbagai faktor eksternal. Agar masing-masing komponen itu dapat berfungsi secara optimal, maka kegiatannya harus direncanakan dengan baik. Adapun kerangka dasar peren- canaan ekowisata erat berkaitan dengan potensi kawasan eko- wisata Indonesia yang sangat besar. Kawasan ekowisata Indo- nesia itu tersebar di darat (kawasan hutan konservasi) dan di laut (taman nasional laut). Kajian terhadap kawasan konservasi itu memperlihatkan keunikan dan keragaman. Hal ini merupakan potensi besar pengembangan ekowisata sekaligus sebagai pra- syarat keberhasilan perencanaan dan implementasinya dalam pengembangan kepariwisataan Indonesia.

Dalam kaitannya dengan ekowisata sebagai fokus perenca- naan tidak juga lepas dari konsep, prinsip, karakteristik, dan kriteria pengembangan ekowisata sebagai unsur dasar yang ha- rus dijadikan acuan dalam perumusan dan implementasi proyek- proyek ekowisata. Dalam kaitannya dengan perencanaan ekowi- sata memerlukan proses yang panjang dan dilakukan dengan cermat. Kajian terhadap berbagai unsur dan aspek yang berhu- bungan dengan kegiatan inti (core activities) ekowisata menjadi prasyarat untuk memperoleh gambaran yang jelas, apakah pro- yek ekowisata layak dikerjakan, sejauh mana hal itu dapat diker- jakan dan jika demikian unsur-unsur apa saja yang perlu diran- cang lebih awal untuk memudahkan pencapaian tujuan.

Iwan Nugroho dalam bukunya yang berjudul Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan (2011) menjelaskan bahwa ekowisata adalah perjalanan wisata ke wilayah-wilayah yang lingkungan alamnya masih asli, dengan menghargai warisan budaya dan alamnya, mendukung upaya-upaya konservasi, tidak mengha- silkan dampak negatif, dan memberikan keuntungan sosial eko- nomi serta menghargai partisipasi penduduk lokal.

Adapun pembangunan “ekowisata berkelanjutan” difokus- kan pada posisi geografis Taman Nasional sebagai wilayah tujuan utama ekowisata di pesisir, lautan, pegunungan, dan yang terse-

bar di berbagai wilayah Nusantara, memiliki kedudukan penting untuk menyokong ketahanan nasional, meliputi gatra geografi, kekayaan alam, demografi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Selain itu, dalam buku itu, antara lain, dibahas peran ekowisata untuk memelihara kelanjutan budaya dan menjanjikan kesejahteraan ekonomi bagi penduduk lokal.

Inu Kencana Syafiie dalam bukunya berjudul Pengantar Ilmu Pariwisata (2000) mengemukakan bahwa buku ditulis sebagai

“pengantar” memasuki keilmuan pariwisata. Buku itu, antara lain, memuat (1) ilmu pengetahuan tentang hal-ihwal kepariwi- sataan, (2) gambaran secara sistematis tentang ilmu kepariwisa- taan—mulai dari pencarian benang merah ilmu pariwisata sampai pada etika dan seni keberadaannya, dan (3) menjawab secara mendasar seperti apa dan bagaimana sebenarnya ilmu pariwisata itu.

Selain itu, ilmu pengantar pariwisata itu ditulis sekaligus sebagai penolakan terhadap ilmu pariwisata sekuler yang mem- buat “5-S” sebagai unsur kepariwisataan, yaitu (1) Sex, maksud- nya daya tarik pelacuran; (2) Smile, maksudnya daya tarik kera- mahan; (3) Sand, maksudnya daya tarik pasir pantai; (4) Sun, maksudnya daya tarik pemandangan matahari sore atau pagi;

dan (5) See, maksudnya daya tarik pemandangan di gunung atau pantai.

Penolakan terhadap kelima unsur kepariwisataan itu dido- rong oleh pemikirannya untuk memasukkan nilai-nilai luhur keagamaan sebagai unsur kepariwisataan. Kemudian, Syafiie me- negaskan bahwa daya tarik kepariwisataan yang sesungguhnya memiliki unsur: (1) daya tarik budaya, (2) daya tarik sejarah, dan (3) daya tarik keindahan alam. Daya tarik budaya timbul karena keingintahuan orang terhadap suatu budaya pada suatu daerah (negara/bangsa) lain karena berbeda dengan budaya orang tersebut. Daya tarik sejarah adalah daya tarik terhadap suatu tempat karena memiliki nilai sejarah dalam perjuangan manusia. Dan, daya tarik keindahan adalah daya tarik terhadap

suatu tempat, wilayah, atau alam karena memiliki keindahan, mempunyai daya pesona.

Atas dasar beberapa pemikiran itu dikemukakan bahwa ilmu pariwisata adalah ilmu yang mempelajari bagaimana suatu ne- gara, baik pemerintah—sebagai penguasa—maupun masyara- kat—sebagai yang diperintah—menyuguhkan kepada tamu-ta- mu (turis, pelancong) mereka yang akan datang berkunjung meli- hat keindahan pemandangan alam, sejarah bangsa tersebut, dan menikmati seni budaya negeri tersebut secara bertata krama dan halus berbudi dalam arti agamis.

H. Oka A. Yoeti dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Pengertian Hospitaliti dan Pariwisata (2010) membahas secara detail tentang pengertian pariwisata dan hospitaliti serta pertautan hospitaliti dengan pariwisata. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Hospitaliti diartikan sebagai suatu bentuk pelayanan yang diberikan kepada wisatawan atau orang asing lainnya, dengan menyediakan kebutuhan-kebutuhan dan fasilitas bagi mereka selama berkunjung pada suatu daerah tujuan wisata un- tuk bersenang-senang.

Lebih lanjut, dikemukakan ruang lingkup dan pertautan antara pariwisata dan hospitaliti. Ruang lingkup pariwisata (tourism) jauh lebih luas dibandingkan dengan hospitaliti. Ke- giatan pariwisata mencakupi bidang usaha yang mengatur atau mengorganisasikan perjalanan orang-orang, seperti Agen Perjalanan (Travel Agent), Biro Perjalanan Wisata (Tour Operator), atau Pedagang Besar Wisata (Whole-saler), Angkutan Wisata, dan Daya Tarik Wisata, sedangkan hospitaliti merupakan bagian dari pariwisata. Adapun perbedaan yang nyata pada hospitaliti adalah kegiatannya lebih berkonsentrasi untuk memanjakan diri, mem- buat fisik menjadi segar bugar kembali, menjaga badan tetap sehat, olah raga dan bersenang-senang menghabiskan sisa hidup dengan keluarga atau teman-teman.

A.J. Mulyadi dalam bukunya yang berjudul Kepariwisataan dan Perjalanan (2000) berpendapat bahwa kepariwisataan dan perjalanan merupakan dua hal yang saling melengkapi dan me- mengaruhi. Dalam hal kepariwisataan, dibahas tentang per- kembangan dan pengertian pariwisata beserta sistemnya pada tataran mikro dan makro serta pemasaran dan pengaruhnya ter- hadap perekonomian. Adapun dalam hal perjalanan dibahas se- cara lengkap mengenai usaha perjalanan, pelayanan, pemesanan hotel, pelayanan pengurusan dokumen, MICE (meeting, incentive, convention, dan exibition) serta masalah transportasi dalam kepa- riwisataan.

H. Oka A. Yoeti dalam bukunya yang berjudul Pemasaran Pariwisata Terpadu (1996) secara eksplisit menjelaskan tentang pengertian dan/atau konsep serta unsur-unsur dalam pemasaran pariwisata terpadu. Konsep pemasaran terpadu (marketing mix) dalam kepariwisataan pertama kali diperkenalkan oleh Interna- tional Union of Official Tour (IUOTO) dalam suatu studi penga- rahan dalam persiapan perencanaan pemasaran yang akan dilak- sanakan.

Dalam pemasaran, terpadu (mix) dapat diartikan campuran bermacam-macam unsur (the mixture of element) di mana unsur yang satu saling menunjang dan saling memengaruhi dalam men- capai tujuan. Jenis-jenis campuran (mix) itu dapat berbentuk kerja sama (cooperation) atau pertukaran tempat (replacing ich other) atau sebagai bagian yang dapat saling mengganti (substitution).

Lebih lanjut H. Oka A. Yoeti menambahkan, berdasarkan IUOTO, bahwa pemasaran terpadu pariwisata terdiri atas unsur (1) product mix, (2) distribution mix, (3) communication mix, dan (4) service mix. Product mix adalah serangkaian kesenangan, kera- mahan, dan kenikmatan hidup yang berkaitan dengan macam- macam atraksi yang akan dijual di pasaran. Distribution mix adalah semua perantara (intermiaries) yang beroperasi dalam pasar, ter- masuk perusahaan angkutan yang secara bersama melayani suatu paket wisata (package tour) dan kemudian membawanya ke

daerah tujuan wisata. Yang termasuk dalam kegiatan commu- nication mix adalah advertising, publishing, dan presentation. Ada- pun service mix merupakan analog atau sama dengan pengertian after sales, yaitu memberikan pelayanan kepada wisatawan dengan memuaskan, dimulai sejak wisatawan membayar harga paket wisata sampai ia menikmati perjalanan di daerah tujuan wisata dan akhirnya kembali ke rumah di mana ia tinggal.

Berdasarkan pemahaman atas studi pustaka terhadap buku- buku tersebut dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan “promosi kepariwisataan Indonesia dalam puisi Indo- nesia modern” adalah segala daya upaya untuk dapat menge- nalkan, memajukan, dan memasarkan objek-objek wisata yang memiliki daya tarik keindahan alam, sejarah, dan budaya di wilayah Indonesia kepada para turis atau pelancong yang ber- minat berkunjung ke tempat wisata tersebut yang terekspresikan dalam puisi Indonesia modern. Sebuah puisi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mempromosikan objek-objek wisata di daerah tempat tinggal penyair atau objek wisata yang pernah dikunjungi oleh penyair melalui puisi yang ditulisnya. Sebanyak 30 puisi dari 500 puisi kepariwisataan Indonesia dijadikan sampel objek penelitian ini, yaitu setiap provinsi diwakili atas satu puisi pariwisata kecuali untuk provinsi Bangka Belitung, Sulawesi Barat, dan Gorontalo yang tidak ditemukan puisi yang mempro- mosikan objek wisata ketiga daerah tersebut.