• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PELAPORAN KEMAJUAN PENELITIAN

5.1 Pengantar

Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sungguh luas, yaitu membentang dari utara (berbatasan dengan Malaysia, Fili- pina, dan Laut Cina Selatan) sampai ke selatan (berbatasan dengan Australia dan Lautan Hindia) serta membujur dari barat (Sabang) sampai ke timur (Merauke). Setiap warga negara Indo- nesia yang akan menjelajahi seluruh wilayah daerah di Indonesia yang demikian luasnya itu tentu memerlukan waktu, tenaga, dan dana yang besar. Oleh karena itu, mereka perlu dibantu dengan adanya informasi tentang kekayaan alam, keadaan dae- rah, masyarakat, ekonomi, karakter manusia, dan sosial budaya daerah tersebut melalui informasi kepariwisataan Indonesia.

Informasi kepariwisataan tersebut dapat diberikan melalui ber- bagai macam cara, salah satunya melalui karya sastra yang ber- bentuk puisi, agar orang-orang yang berada di luar daerahnya dapat memiliki gambaran yang konkret tentang alam, karakter manusia, keadaan daerah, ekonomi kreatif, dan sosial budaya daerah yang bersangkutan.

Promosi kedaerahan dalam kesusastraan Indonesia dikenal dengan istilah warna lokal daerah. Esten (1982) menyatakan bahwa sifat kedaerahan yang kuat berpengaruh pada sastra periode 1920-an, dan kini muncul kembali menjadi kecenderungan yang kuat dalam sastra Indonesia mutakhir. Atas dasar warna lokal daerah itu tidaklah mengherankan jika sekarang muncul puisi-

BAB V

PELAPORAN KEMAJUAN PENELITIAN PROMOSI KEPARIWISATAAN INDONESIA

DALAM PUISI INDONESIA MODERN

puisi promosi wisata daerah tempat tinggal lingkungan penyair- nya, bahkan penyair daerah lain pun saat berkunjung ke daerah tersebut menuliskan pesan dan kesannya tentang objek-objek wisata yang dikunjunginya. Hal itu seolah-olah sebagai cerminan dari etnisitas berbisik. Mengapa demikian? Karena lintas daerah dan lintas budaya dalam konteks nasionalisme perlu kita kem- bangkan lebih lanjut untuk mempromosikan dunia kepariwisa- taan Indonesia melalui puisi kepada pembaca di seluruh dunia, baik di Indonesia sendiri maupun di luar negeri. Kini telah men- jadi kenyataan bahwa setiap daerah menampilkan wajah daerah- nya untuk pembinaan dan pengembangan dunia kepariwisataan Indonesia, salah satunya melalui penulisan puisi atau sajak ten- tang objek-objek pariwisata.

Pada umumnya promosi kepariwisataan di Indonesia hingga saat ini ditulis dalam bentuk bahasa iklan atau wacana deskriptif- informatif (ilmiah atau semi ilmiah/populer), sebagaimana ter- dapat pada surat kabar, majalah, brosur-brosur, buku panduan kepariwisataan, tayangan internet, dan kain rentang atau papan nama yang terdapat di persimpangan jalan yang dianggap stra- tegis. Promosi kepariwisataan tersebut pada umumnya ditangani oleh para pekerja wisata yang profesional di bidangnya, atapun oleh biro periklanan dan biro perjalanan. Bahasa promosi itu bersifat membujuk, menarik perhatian, dan menggugah keingin- tahuan pembaca atas jasa kepawisisataan yang ditawarkan me- reka. Selain itu, ada juga promosi kepariwisataan di Indonesia yang ditulis dalam bahasa sastra, misalnya ditulis dalam bentuk puisi. Promosi kepariwisataan Indonesia dalam bentuk puisi ini ditulis oleh sastrawan atau penyair yang bukan ahli di bidang pariwisata.

Kedua ragam bahasa yang ditulis oleh ahli di bidang kepari- wisataan dan yang ditulis oleh sastrawan atau penyair itu jelas terdapat perbedaan. Ragam bahasa promosi kepariwisataan yang ditulis oleh sastrawan atau penyair itu lebih bersifat personal.

Seperti yang dikemukakan oleh para pakar kesusastraan bahwa

bahasa sastra berbeda dengan bahasa iklan atau wacana deskrip- tif-informatif (ilmiah, semi ilmiah/populer). Bahasa sastra lebih banyak bersifat konotatif (Wellek, 1956:23). Bahasa yang bersifat konotatif dapat menimbulkan tafsir ganda (poly interpretable). Hal itu disebabkan oleh pemakaian bahasa sastra, khususnya puisi, yang menyatakan sesuatu secara tidak langsung (Riffaterre, 1978:1—2). Bahkan, ragam bahasa puisi sering menyimpang dari tata bahasa normatif (Leech dalam Waluyo, 1991:68—69). Pe- nyimpangan dari tata bahasa normatif itu disebabkan oleh tidak konsistennya penyair menggunakan media bahasa sebagai alat ekspresinya.

Meskipun terdapat perbedaan antara kedua ragam bahasa promosi kepariwisaataan, melalui penelitian ini Tim Peneliti akan berusaha mengungkapkan bagaimana sebenarnya promosi kepariwisaataan di Indonesia yang ditulis dalam bentuk puisi.

Sesungguhnya promosi kepariwisataan Indonesia dalam puisi Indonesia modern itu telah dimulai dan ditulis oleh para sastra- wan jauh hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 1945.

Hal ini dapat dibuktikan dari beberapa penyair sastra Indonesia modern yang menulis puisi tentang daerah atau tempat yang sekarang disebut sebagai objek wisata, baik wisata alam maupun wisata daerah, bahkan wisata legenda. Dari buku Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga Tahun 40-an (J.S. Badudu dkk., 1984) dapat diketahui nama-nama penyair yang menulis puisi- puisi yang dapat dikategorikan sebagai bentuk promosi kepari- wisataan tersebut, antara lain Abdul Rivai yang menggunakan nama samaran Yudho S. menulis “Di Tepi Pantai” (1933) dan

“Ziarah di Selarong” (1934); J.E. Tatengkeng menulis “Nelayan Sangihe” (1934), dan “Di Pantai Waktu Petang” (1934); Sanusi Pane menulis puisi “Candi” (1927), “Ke Pantai” (1927), dan “Di Tepi Danau” (1927); Anwar Rasjid atau Samadi menulis puisi

“Di Tepi Danau Maninjau” (1941) dan “Musafir Mendaki Gu- nung:” (1941); Rifai Ali menulis puisi “Ngarai Sianok” (1941) dan “Danau Maninjau”; dan Amir Hamzah menulis puisi “Batu

Belah: Kabaran” (1937) sebuah puisi tentang objek wisata Batu Belah di daerah Gayo, Takengon, yang isinya dikaitkan dengan legenda Batu Belah dari Aceh Tengah tersebut.

Setelah kemerdekaan, tentu banyak puisi-puisi yang diterbit- kan, bahkan ribuan jumlahnya. Di antara ribuan puisi yang diter- bitkan itu juga terselip puisi-puisi yang bertema kepariwisataan Indonesia. Pada tahun 1991, dalam rangka menyambut Tahun Kunjungan Indonesia 1991, telah terbit sebuah buku kumpulan puisi yang berjudul Potret Pariwisata Indonesia dalam Puisi (editor Lazuardi Adi Sage, 1991). Puisi-puisi yang tercakup dalam buku tersebut dapat dikatakan sebagai puisi promosi kepariwisataan Indonesia karena “mengiklankan” atau setidak-tidaknya mem- perkenalkan dan memberi informasi tentang objek-objek wisata di Indonesia yang pernah dikunjungi oleh penyair untuk diinfor- masikan kepada pembacanya, baik pembaca dalam negeri Indonesia sendiri maupun luar negeri, bagi mereka yang mem- bacanya dalam bahasa Indonesia. Objek-objek wisata yang dipro- mosikan dalam buku tersebut meliputi objek-objek wisata di seluruh Indonesia—mulai dari Aceh sampai Timor-Timur ketika itu, baik objek wisata daerah, wisata alam, maupun wisata bu- daya—yang ditulis dalam bentuk puisi. Daerah-daerah wisata di tanah air yang selama ini belum pernah kita kenal dan belum pernah kita kunjungi, semua dipaparkan dan dipotret secara me- narik dan artistik dalam bentuk puisi. Beberapa penyair muda dan penyair daerah ikut berpartisipasi mempromosikan kehe- batan, keindahan, ketakjuban, dan sekaligus keanggunan objek wisata di daerahnya. Buku yang dieditori oleh Lazuardi Adi Sage itu mendapat restu dari Menteri Pariwisata Pos dan Teleko- munikasi pada waktu itu, yaitu Bapak Soesilo Soedarman (alm.), dengan memberikan sepatah kata pengantar pada buku tersebut.

Selain dalam buku Potret Pariwisata Indonesia dalam Puisi, puisi-puisi promosi kepariwisataan Indonesia yang lain cukup banyak, misalnya puisi yang ditulis oleh Abdul Hadi W.M. (1975) dalam kumpulan puisi Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai

Sanur, Korrie Layun Rampan dan Steve Kamajaya (1992) dalam kumpulan puisi Nyanyian Tanah Air, Ramadhan K.H. (1958) dalam kumpulan puisi Priangan si Jelita, beberapa sajak yang ditulis Sapardi Djoko Damono (1982) seperti “Di Banjar Tunjuk Ta- banan” dan “Di Kebun Binatang”, puisi yang ditulis oleh Isma Sawitri (1983) berjudul “Piknik”, puisi yang ditulis oleh Abdul Rivai (1934) yang berjudul “Ziarah ke Salarong”, dan puisi yang ditulis Slametmuljana (1951) berjudul “Ulat dan Barabudur”. Ben- tuk dan gaya promosi kepariwisataan yang mereka tulis masing- masing jelas berbeda. Namun, terdapat satu kesamaan visi yang mereka kemukakan, yaitu memberikan infomarsi tentang objek- objek wisata di Indonesia (baik wisata daerah, wisata alam, wi- sata budaya, wisata belanja, wisata tirta, agrowisata, maupun wisata kuliner) melalui bahasa seni yang puitis dan penuh pe- sona. Hal ini jelas merupakan wujud kepedulian penyair terhadap dunia kepariwisataan di Indonesia yang tampaknya belum dike- lola secara baik. Mereka mencoba merangsang atau mendorong pembaca (dalam negeri maupun luar negeri) untuk lebih jauh mengenal objek-objek wisata di Indonesia. Kemudian mereka juga menunjukkan adanya kekayaan daerah, alam, dan budaya Indonesia yang beraneka ragam melalui bahasa puisi yang segar, cemerlang, dan penuh pesona.

Akhirnya, dengan adanya puisi-puisi promosi kepariwisa- taan Indonesia itu sebagai pertanda bahwa sastrawan atau pe- nyair pun ikut serta membina dan mengembangkan objek-objek wisata yang kurang dikenal untuk lebih dikenal lagi, bahkan kalau dapat menjadi primadona kepariwisataan Indonesia. Pem- binaan dan pengembangan kepariwisataan Indonesia tidak hanya dilakukan oleh orang-orang dari Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, tetapi juga oleh mereka yang peduli terhadap dunia kepariwisataan dan industri kreatif di Indonesia. Salah satu dari mereka adalah penyair atau sastrawan dengan cara menuliskan objek-objek wisata tersebut dalam baris-baris puisi yang indah dan menarik.

Dalam penelitian ini tidak membicarakan perbedaan antara ragam bahasa promosi yang ditulis dengan bahasa iklan atau dalam wacana deskriftif-informatif (ilmiah atau semi ilmiah/

populer) dengan ragam bahasa promosi yang ditulis dalam ben- tuk puisi. Fokus penelitian ini adalah mendeskripsikan dan mengungkapkan makna dan pesan utama puisi-puisi yang di- anggap sebagai bentuk promosi kepariwisataan Indonesia berda- sarkan peta kewilayahan atau objek daerah yang dipromosikan, yaitu 500 buah puisi kepariwisataan Indonesia yang terbagi atas:

(1) 80 puisi promosi kepariwisataan wilayah Pulau Sumatera, (2) 220 puisi promosi kepariwisataan wilayah Pulau Jawa, (3) 45 puisi promosi kepariwisataan wilayah Pulau Kalimantan, (4) 45 puisi promosi kepariwisataan wilayah Pulau Sulawesi, (5) 92 puisi promosi kepariwisataan wilayah Pulau Bali dan Nusa Tenggara, dan (6) 18 puisi promosi kepariwisataan wilayah Kepulauan Ma- luku dan Papua (lihat Lampiran 1 Populasi Data Puisi Kepariwi- sataan). Akan tetapi, sampel utama yang dianalisis konten makna dan pesan utamanya serta dijadikan bahan kuesioner adalah 30 puisi dari 30 penyair sastra Indonesia, masing-masing provinsi diwakili satu puisi, kecuali untuk Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Sulawesi Barat, dan Provinsi Gorontalo karena tidak ditemukan puisi kepariwisataan yang berbicara tentang objek wisata di tiga provinsi tersebut. Selain itu, juga ditelaah tentang konteks sosial pembaca atas kepariwisataan Indonesia (300 res- ponden dari 10 provinsi, yaitu Padang, Medan, Yogyakarta, Se- marang, Banjarmasin, Palangkaraya, Denpasar, Mataram, Ma- nado, dan Gorontalo), tingkat keberterimaan masyarakat atas 30 puisi kepariwisataan Indonesia (300 responden dari 10 provinsi tersebut di atas), dan harapan masyarakat atas adanya puisi- puisi kepariwisataan Indonesia sebagai salah satu bentuk kam- panye “sadar wisata” dari beberapa narasumber dan pembaca ahli dari 10 provinsi tersebut.

Dalam dokumen PARADIGMA, PROPOSAL, PELAPORAN, DAN PENERAPAN (Halaman 101-107)