Bab 4. Aplikasi Model King dalam Perilaku Perawatan Diri
4.1. Latar belakang
Indonesia berada pada urutan keempat dari jumlah penderita diabetes setelah negara Amerika Serikat, RRC, negara India, dimana penyakit ini adalah penyebab terjadinya kematian urutan ketiga di seluruh Indonesia dengan jumlah 6,7%. Penyakit Diabetes dikenal sebagai penyakit penyebab kematian yang tertinggi dunia.
The WHO (2010) melaporkan bahwa penyandang Diabetes berada pada peringkat ke-enam penyebab kematian dunia. Penderita DM di seluruh dunia dari tahun ketahun terus meningkat dan perkiraan ada 350 juta jiwa didunia, dan perkiraan > 80% penyebab kematian akibat diabetes dialami oleh negara miskin dan negara yang sedang berkembang. Laporan badan dunia kesehatan WHO mengemukakan data kematian yang diakibatkan diabetes, diperkirakan akan mengalami peningkatan 2 kali lipat pada tahun 2005-2030. Perkiraan angka kejadian penyakit diabetes mellitus di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring adanya perubahan pola kehidupan masyarakat, khusunya di perkotaan yang beresiko penyakit diabetes mellitus.
Pada era sekarang ini, kemajuan IPTEKS dan Modernisasi kehidupan berdampak pada perubahan pola hidup yang merubah kebiasaan seseorang terhadap kebiasaan mengkonsumsi jenis makanan cepat saji, tinggi karbohidrat dan gaya hidup yang tidak diimbangi dengan olahraga teratur berdampak terhadap resiko penyakit diabetes melitus. Hal ini perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan dan meminimalkan resiko penyakit diabetes. Penyakit diabetes merupakan suatu kondisi tubuh mengalami perubahan atau penurunan fungsi produksi insulin sehingga kebutuhan tubuh tidak terpenuhi dan mengakibatkan terjadinya peningkatan gula darah diatas kadar yang normal. Kegagalan insulin sebagai transportasi gula darah kedalam sel mengakibatkan tidak
tersuplainya asupan makanan untuk sel-sel tubuh, hal inilah yang akan memicu semakin buruknya keadaan penderita diabetes mellitus. Pasien penyandang diabetes mengalami peningkatan gula darah seseorang yang dikenal dengan istilah hiperglikemia ditandai gejala Trias DM yang merupakan respon peningkatan KGD berupa: Poliuria, Polidipsia, Polifagia. Selain itu gejala yang sering timbul adalah penglihatan kabur, dan penurunan kekebalan tubuh.
Untuk itu penatalaksanaan pada klien DM ini yang umum dilakukan adalah Program pemberian obat-obatan secara teratur, pemantauan diet, dan pengaturan aktivitas olahraga dan istirahat.
Keseimbangan dan kepatuhan untuk menjalankan ketiganya secara seimbang dan proporsional menjadi sangat penting. Keadaan penderita diabetes yang tidak ditangani dengan tuntas dan tepat akan membawa resiko tinggi terjadinya komplikasi seperti terjadi kebutaan, masalah jantung, gangguan gagal ginjal, bahkan stroke, serta kematian jaringan tubuh dan amputasi. Penatalaksanaan pada klien diabetes mellitus ini yang umum dilakukan adalah program pemberian obat-obatan secara teratur, pemantauan diet, dan pengaturan aktivitas olahraga dan istirahat. Keseimbangan dan kepatuhan untuk menjalankan ketiganya secara seimbang dan proporsional menjadi sangat penting. Dalam menjalankan program tersebut, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah tingkat kepatuhan terhadap program diit, hal ini menjadi sulit mengingat bahwa secara fisiologis, klien akan selalu merasa haus, lapar dan ingin mengkonsumsi makanan yang mengandung glukosa sesering mungkin padahal mereka harus mematuhi program diit dengan kadar rendah gula atau rendah karbohidrat. Kondisi yang tidak terkontrol tersebut akan berdampak buruk terhadap resiko peningkatan kadar gula darah klien. Penderita diabetes mellitus harus dapat membiasakan diri mengkonsumsi jenis makanan dalam porsi yang tepat sesuai jadwal, yaitu 3 kali jenis makanan utama, dan 2-3 kali makanan selingan dengan interval waktu 2-4 jam.
Penelitian terdahulu menjelaskan bahwa penderita diabetes mellitus seringkali mengalami gangguan tidur termasuk sering terbangun dari tidur dimalam hari dengan beberapa alasan, yaitu:
buang air kecil, gatal-gatal karena kulit kering yang, rasa lapar, dan kadang-kadang perut kembung. Kondisi klien diabetes mellitus
yang mengalami gangguan tidur mengakibatkan kualitas tidur yang buruk, sehingga akan berakibat pada peningkatan kadar gula darah.
Hal inilah yang menjadi alasan bahwa sangat penting mempertahankan dan meningkatkan kualitas tidur yang baik pada klien dengan diabetes mellitus agar mereka senantiasa dapat meminimalkan resiko terjadi peningkatan kadar gula darah akibat dari tidur yang kurang. Bila hal tersebut tidak dicegah, maka dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan angka penderita diabetes melitus diperkirakan akan terus mengalami pertambahan jumlah dan peningkatan resiko terkena diabetes. Diabetes merupakan penyakit degeneratif dengan kondisi kronis membutuhkan perawatan jangka panjang. Karenanya sering menimbulkan masalah psikososial yang berkontribusi terhadap penurunan motivasi berobat dan melakukan perawatan diri. Bila tidak dilakukan penanganan dengan baik dapat berdampak terhadap komplikasi akibat penyakit diabetes melitus yang lebih serius.
Ketika kadar glukosa darah tidak dapat dikontrol akan beresiko menjadi penyebab utama komplikasi baik secara microvascular yaitu: retinopathy, katarak, neuropathy. Sedangkan komplikasi macrovascular adalah; miocard infarck (MI), angina pectoris (AP), hipertensi menahun, nephropathy ada korelasi yang signifikan antara pengendalian diabetes terhadap kadar glukosa dalam darah.
Komplikasi akut diabetes dapat terjadi berupa tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia karena gaya hidup yang tidak sehat, ketidak patuhan dan perilaku perawatan diri penderita diabetes yang buruk. Kontrol teratur, informasi, pengetahuan tentang penyakit diabetes, dan kemandirian perawatan diri merupakan peran penting penderita diabetes dalam upaya pencegahan penyakit tingkat sekunder. Kedisiplinan dan kepatuhan pengobatan, program perencanaan diit, dan tindakan latihan senam diabetes dapat menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan.
Perubahan perilaku perawatan diri penderita diabetes akan meminimalkan resiko terjadinya kekambuhan dan kondisi kronis yang memburuk. Melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara teratur sangat efektif untuk mengkontrol keadaan gula darah.
Secara umum, pasien diabetes memiliki persepsi dan pengalaman
serta perilaku yang berbeda tentang penyakitnya, dan juga tingkat kepatuhan mereka terkait dengan perilaku merawat dirinya.
Beberapa hal umum mempengaruhi untuk perawatan diri penderita diabetes khusunya dalam menjalani program diit adalah; informasi salah, pengetahuan kurang dan sikap negative tentang penyakit diabetes, lingkungan sosial tidak mendukung program perawatan diri, hilangnya potensi diri dan motivasi rendah karena stress dengan kondisi kronis, serta belum optimalnya dukungan yang diberikan oleh tim medis dan tim kesehatan di unit layanan.
Menurut King (1997) persepsi, interaksi, dan komunikasi dapat merubah persepsi dan prilaku sehat pasien. Persepsi pasien bahwa kondisinya normal yang tidak memerlukan penanganan khusus, meyakini kondisinya baik karena tidak ada gejala sakit, tidak tahu tentang penyakitnya dan jarang berobat ke pelayanan kesehatan.
Hal ini memicu pasien mengabaikan penyakit dan meningkatkan resiko komplikasi. Sikap pasien beralasan karena kurang pengetahuan, tidak pernah dikomunikasikan oleh perawat dan tenaga kesehatan bahwa penyakit diabetes berdampak negatif.
Pasien tidak mendapat informasi akurat saat pengobatan ke puskesmas/klinik, perawat tidak memiliki kesempatan berinteraksi dan berdiskusi dengan pasien tentang penyakitnya. Perbedaan persepsi dan gap komunikasi perawat dan pasien menimbulkan respon prilaku berbeda sehingga pasien tidak memiliki kemampuan merawat diri melalui upaya pencegahan. Prilaku perawatan diri belum optimal, padahal bila pasien memiliki kekuatan sumber daya ini dan menyadari tentang pentingnya menjalankan program diit, melakukan pemantauan Kadar Gula Darah, olahraga dan kontrol ke dokter atau pelayanan kesehatan, maka penderita diabetes mellitus akan memiliki derajat kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik. Perilaku perawatan diri adalah tindakan atau aktivitas yang dilakukan individu atas kesadaran sendiri sehingga memiliki kemandirian dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatannya.
Menurut teori King (1997) bahwa persepsi, komunikasi, interaksi, pengambilan keputusan, dan transaksi, melalui pemberian asuhan keperawatan akan menguatkan kemampuan kemandirian perilaku perawatan diri klien. Studi terdahulu menjelaskan melalui komunikasi efektif, interaksi antara tenaga kesehatan ataupun
perawat dengan klien dan keluarganya secara dua arah, pemberian informasi yang akurat, dan memberikan motivasi yang positive yang dikombinasikan dengan perencanaan pengobatan dan perawatan penyakit diabetes akan meningkatkan kepatuhan pasien akan kesehatannya. Pengobatan yang terkontrol dan pemeriksaan kadar gula darah secara teratur dapat mencegah resiko terjadinya komplikasi, dalam hal ini edukasi terhadap klien akan meningkatkan kemandirian mereka terus terjaga. Persepsi yang sama antara perawat dengan klien dan keluarganya mempengaruhi proses interaksi dan transaksi keduanya, klien memiliki hak atas pengetahuan tentang kesehatan mereka dan mereka berhak menerima atau menolak tindakan pengobatan dan perawatan kesehatan yang diberikan. Mereka berhak ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan penting terkait dengan kelangsungan hidup dan pelayanan keperawatan yang harus mereka jalani.
Para profesional kesehatan khususnya perawat memiliki tanggung jawab untuk melakukan interaksi, berkomunikasi dan berbagi informasi tentang kesehatan mereka untuk membantu klien dalam pengambilan keputusan yang tepat tentang kesehatan mereka.
Profesional kesehatan memiliki tanggung jawab untuk mengumpulkan informasi yang relevan tentang persepsi pasien akan penyakit yang diderita sehingga tujuan dan sasaran pasien berjalan secara sinergi. Pelayanan primer termasuk puskesmas, klinik kesehatan, dan praktik mandiri perawat yang ada di komunitas sebagai pemberi layanan jasa kesehatan kepada seluruh masyarakat sangat efektif dalam memberikan pertolongan dan pendampingan dalam pengobatan dan perawatan sesuai standar pelayanan kesehatan. Selain membina dan pendampingan peran serta pasien dan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya juga memberikan pelayanan kesehatan dan keperawatan secara komprehensif kepada masyarakat di wilayah kerja binaannya dalam beragai kegiatan upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dengan tidak mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif. Oleh karena itu pelayanan primer puskesmas, klinik, dan praktek mandiri perawat diharapkan dapat menjadi tempat untuk memperbaiki dan meningkatkan prilaku perawatan diri dan
kemandirian pasien, keluarga, dan masyarakat khususnya penyakit diabetes melitus yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
Penyandang diabetes merupakan penyakit degeneratif yang mengalami kondisi kronis yang memerlukan penatalaksanaan kesehatan dan perawatan jangka panjang, namun tingkat kepatuhan dan disiplin pasien dalam perawatan diri masih rendah. Khususnya perilaku perawatan diri untuk menjalani program diit, pengetahuan dan sikap buruk tentang penyakit diabetes, lingkungan sosial tidak mendukung, hilangnya potensi diri dan tidak termotivasi untuk sembuh karena stress dan depresi akibat penyakit kronis.