• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 3. King’s Conceptual Framework and King’s Theory of

3.6. Penggunaan Teori Pencapaian Tujuan dalam Proses

Imogene King dalam beberapa artikel jurnal keperawatan telah mempublikasikan tentang penerapan teorinya dalam proses keperawatan. King (1996) dalam artikelnya yang diterbitkan Nursing Science Quarterly dengan judul King’s Theory of Goal Attainmentin in Practice menjelaskan bahwa teori tersebut dapat dimplementasikan kedalam konsep proses keperawatan yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Teori pencapaian tujuan oleh King dapat digunakan dalam proses keperawatan terutama dalam penilaian konsep persepsi, transaksi, interaksi dan konsep lainnya yang mendukung pemberian asuhan keperawatan.

Perawat dapat menggunakan teori pencapaian tujuan dalam praktik keperawatan, pendidikan keperawatan, penelitian keperawatan, administrasi keperawatan dan situasi lainnya. King menjelaskan tentang penerapan teori ini ke dalam proses keperawatan melalui tahapan pemberian asuhan keperawatan, meliputi: pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan

evaluasi, serta pendokumentasian asuhan keperawatan. King menyusun sistem pendokumentasian asuhan keperawatan dengan menggunakan metode GONR (Goal-Oriented Nursing Record).

Tabel 4. Proses Keperawatan: Teori dan Metode

Nursing Process as Method* Nursing Process as Theory**

A system of interrelated action A system of interrelated concepts

Assess Perception of nurse and client

Diagnose Communication of nurse and client

Interaction of nurse and client

Plan Decission making about goals by nurse

and client (when possible) Agree to means to attain goals

Implement Transaction made between nurse & client Evaluate Goal(s) attained, and if not, why not

*Yura, H. & Walsh, M. (1983). The nursing processes. Newwark CT: Appleton-Century

**King, I.M. (1981). A theory for nursing: Systems, concepts, process. New York:Wiley

***King, I. M. (1992). King’s Theory of goal attainment. Nursing Science Quarterly, 5 (1), 19 – 26, Spring.

Gambar 3. Tahapan proses keperawatan berdasarkan Teori King

Assessment Diagnosis Planning Implementation Nurse

Client

Evaluation

Evaluation

Sumber:

A conceptual framework for nursing: dynamic interacting system from Imogene King A theory for nursing: systems, concepts, process. New York: John Wiley & Sons,1981

RINGKASAN

Kerangka konseptual King menjelaskan tentang pandangan yang komprehensif dari tiga sistem yang saling berinterelasi dan berinteraksi secara dinamis, termasuk: Sistem Individu, Sistem Interpersonal, dan Sistem Sosial yang merupakan Grand Theory.

Teori sistem umum didefinisikan sebagai suatu unsur kompleks dalam interaksi, dalam proses perubahan teorinya yang didasarkan pada kerangka konseptual (King’s Conceptual Framework), King telah mengembangkan teori yang merupakan middle range theory tersebut menjadi teori pencapaian tujuan (Theory of Goal Attainment). Dari pengembangan teori King dipergunakan sebagai dasar pengembangan model praktik keperawatan, menjadi pedoman dalam melaksanakan praktik keperawatan dan manajemen asuhan keperawatan, pendidikan serta penelitian keperawatan. Dalam teorinya, King mendeskripsikan berdasarkan empat konsep sentral atau empat paradigma dalam ilmu keperawatan (meta paradigm), yaitu:

manusia, kesehatan, lingkungan, dan keperawatan. Asumsi dasar dalam kerangka konsep teori King berfokus pada kehidupan manusia beorientasi pada suatu bidang keilmuan yang berhubungan dengan manusia. Asumsi dasar secara keseluruhan fokus pada manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan mengarah pada suatu keadaan sehat-sakit individu, yang memiliki kemampuan sesuai dengan fungsi dan peran sosial dilingkungannya. Asumsi khusus tentang manusia dideskripsikan individu sebagai makhluk sosial yang memiliki kehidupan, berpikir rasional, bereaksi, memahami, mengendalikan, tujuan, berorientasi aksi, dan memiliki orientasi waktu. Asumsi secara spesifik terkait dengan persepsi perawat-klien mempengaruhi proses interaksi, kebutuhan tujuan, dan nilai perawat-klien mempengaruhi proses interaksi, dimana individu memiliki hak untuk mengetahui tentang dirinya dan berpartisipasi dalam keputusan yang mempengaruhi kehidupan, kesehatan mereka.

Berdasarkan model konsep dan teori keperawatan yang dikemukakan oleh King bahwa konsep keperawatan adalah sebagai suatu proses yang memiliki unsur aksi, reaksi, interaksi dan transaksi antara perawat, klien dan keluarga yang saling

bertukar informasi tentang persepsi mereka dalam suatu kondisi keperawatan dan sebagai proses interaksi yang humanis antara perawat dengan klien yang masing-masing merasakan pada situasi dan kondisi berbeda, dan melalui komunikasi yang efektif mereka membuat kesepakatan dalam menentukan tujuan, mengeksplorasi dan menyetujui pencapaian tujuan (goals).

SOAL LATIHAN

Jawablah pertanyaan dibawah ini:

1. Buatlah uraian secara singkat tentang kerangka konseptual menurut teori King (King’sconceptual Framework).

2. Jelaskan pengembangan Teori Pencapaian Tujuan King (King’s Theory of Goal Attainment) yang dilakukan dan perubahan atau perbedaannya dengan kerangka konsep King’s Conceptual Framework.

3. Sebutkan komponen kerangka konsep teori King (King’sconceptual Framework) berdasarkan 3 aspek dinamika sistem menurut Imogene M. King?

4. Sebutkan komponen Teori Pencapaian Tujuan (King’s Theory of Goal Attainment). menurut Imogene M. King?

5. Tulis dan uraikan definisi tentang 9 komponen teori pencapaian tujuan yang dikemukan Imogene M. King dalam teori pencapaian tujuan (King’s Theory of Goal Attainment).

Capaian Pembelajaran:

Setelah membaca Bab ini, mahasiswa mampu mengaplikasikan konsep, paradigma keperawatan berdasarkan Teori Pencapaian Tujuan King (King’s Theory of Goal Attainment) pada perawatan diri pasien dengan diabetes melitus, meliputi: penatalaksanaan klien dengan diabetes melitus, peningkatan perilaku mandiri perawatan diri pasien diabetes melitus, dengan menggunakan Konsep Model Keperawatan Kings Theory of Goal Attainment

Deskripsi Singkat

Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit degeneratif yang umum disertai dengan kondisi kronis dan membutuhkan perawatan jangka panjang, namun demikian tingkat kepatuhan dan disiplin klien dalam melakukan perawatan diri masih dinilai rendah. Secara khususnya terkait dengan perilaku klien dalam menjalani program diit, pengetahuan dan sikap negative tentang penyakit diabetes, lingkungan sosial yang tidak mendukung, hilangnya potensi diri, tidak termotivasi untuk sembuh karena stress dan depresi akibat penyakit kronis yang dipersepsikan tidak akan sembuh, serta belum optimalnya dukungan pelayanan medis/perawatan mandiri terhadap pasien diabetes melitus. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan upaya peningkatan pelayanan keperawatan klien diabetes, yaitu: menggunakan “Model Keperawatan Kings Theory of Goal Attainment” agar mereka memiliki pengetahuan tentang

diabetes dan peningkatan prilaku perawatan diri di Unit Layanan Primer dalam meningkatkan kemandirian klien sebagai solusi peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

4.1. Latar Belakang

Indonesia berada pada urutan keempat dari jumlah penderita diabetes setelah negara Amerika Serikat, RRC, negara India, dimana penyakit ini adalah penyebab terjadinya kematian urutan ketiga di seluruh Indonesia dengan jumlah 6,7%. Penyakit Diabetes dikenal sebagai penyakit penyebab kematian yang tertinggi dunia.

The WHO (2010) melaporkan bahwa penyandang Diabetes berada pada peringkat ke-enam penyebab kematian dunia. Penderita DM di seluruh dunia dari tahun ketahun terus meningkat dan perkiraan ada 350 juta jiwa didunia, dan perkiraan > 80% penyebab kematian akibat diabetes dialami oleh negara miskin dan negara yang sedang berkembang. Laporan badan dunia kesehatan WHO mengemukakan data kematian yang diakibatkan diabetes, diperkirakan akan mengalami peningkatan 2 kali lipat pada tahun 2005-2030. Perkiraan angka kejadian penyakit diabetes mellitus di Indonesia terus mengalami peningkatan seiring adanya perubahan pola kehidupan masyarakat, khusunya di perkotaan yang beresiko penyakit diabetes mellitus.

Pada era sekarang ini, kemajuan IPTEKS dan Modernisasi kehidupan berdampak pada perubahan pola hidup yang merubah kebiasaan seseorang terhadap kebiasaan mengkonsumsi jenis makanan cepat saji, tinggi karbohidrat dan gaya hidup yang tidak diimbangi dengan olahraga teratur berdampak terhadap resiko penyakit diabetes melitus. Hal ini perlu dilakukan sebagai upaya pencegahan dan meminimalkan resiko penyakit diabetes. Penyakit diabetes merupakan suatu kondisi tubuh mengalami perubahan atau penurunan fungsi produksi insulin sehingga kebutuhan tubuh tidak terpenuhi dan mengakibatkan terjadinya peningkatan gula darah diatas kadar yang normal. Kegagalan insulin sebagai transportasi gula darah kedalam sel mengakibatkan tidak

tersuplainya asupan makanan untuk sel-sel tubuh, hal inilah yang akan memicu semakin buruknya keadaan penderita diabetes mellitus. Pasien penyandang diabetes mengalami peningkatan gula darah seseorang yang dikenal dengan istilah hiperglikemia ditandai gejala Trias DM yang merupakan respon peningkatan KGD berupa: Poliuria, Polidipsia, Polifagia. Selain itu gejala yang sering timbul adalah penglihatan kabur, dan penurunan kekebalan tubuh.

Untuk itu penatalaksanaan pada klien DM ini yang umum dilakukan adalah Program pemberian obat-obatan secara teratur, pemantauan diet, dan pengaturan aktivitas olahraga dan istirahat.

Keseimbangan dan kepatuhan untuk menjalankan ketiganya secara seimbang dan proporsional menjadi sangat penting. Keadaan penderita diabetes yang tidak ditangani dengan tuntas dan tepat akan membawa resiko tinggi terjadinya komplikasi seperti terjadi kebutaan, masalah jantung, gangguan gagal ginjal, bahkan stroke, serta kematian jaringan tubuh dan amputasi. Penatalaksanaan pada klien diabetes mellitus ini yang umum dilakukan adalah program pemberian obat-obatan secara teratur, pemantauan diet, dan pengaturan aktivitas olahraga dan istirahat. Keseimbangan dan kepatuhan untuk menjalankan ketiganya secara seimbang dan proporsional menjadi sangat penting. Dalam menjalankan program tersebut, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah tingkat kepatuhan terhadap program diit, hal ini menjadi sulit mengingat bahwa secara fisiologis, klien akan selalu merasa haus, lapar dan ingin mengkonsumsi makanan yang mengandung glukosa sesering mungkin padahal mereka harus mematuhi program diit dengan kadar rendah gula atau rendah karbohidrat. Kondisi yang tidak terkontrol tersebut akan berdampak buruk terhadap resiko peningkatan kadar gula darah klien. Penderita diabetes mellitus harus dapat membiasakan diri mengkonsumsi jenis makanan dalam porsi yang tepat sesuai jadwal, yaitu 3 kali jenis makanan utama, dan 2-3 kali makanan selingan dengan interval waktu 2-4 jam.

Penelitian terdahulu menjelaskan bahwa penderita diabetes mellitus seringkali mengalami gangguan tidur termasuk sering terbangun dari tidur dimalam hari dengan beberapa alasan, yaitu:

buang air kecil, gatal-gatal karena kulit kering yang, rasa lapar, dan kadang-kadang perut kembung. Kondisi klien diabetes mellitus

yang mengalami gangguan tidur mengakibatkan kualitas tidur yang buruk, sehingga akan berakibat pada peningkatan kadar gula darah.

Hal inilah yang menjadi alasan bahwa sangat penting mempertahankan dan meningkatkan kualitas tidur yang baik pada klien dengan diabetes mellitus agar mereka senantiasa dapat meminimalkan resiko terjadi peningkatan kadar gula darah akibat dari tidur yang kurang. Bila hal tersebut tidak dicegah, maka dalam kurun waktu beberapa tahun kedepan angka penderita diabetes melitus diperkirakan akan terus mengalami pertambahan jumlah dan peningkatan resiko terkena diabetes. Diabetes merupakan penyakit degeneratif dengan kondisi kronis membutuhkan perawatan jangka panjang. Karenanya sering menimbulkan masalah psikososial yang berkontribusi terhadap penurunan motivasi berobat dan melakukan perawatan diri. Bila tidak dilakukan penanganan dengan baik dapat berdampak terhadap komplikasi akibat penyakit diabetes melitus yang lebih serius.

Ketika kadar glukosa darah tidak dapat dikontrol akan beresiko menjadi penyebab utama komplikasi baik secara microvascular yaitu: retinopathy, katarak, neuropathy. Sedangkan komplikasi macrovascular adalah; miocard infarck (MI), angina pectoris (AP), hipertensi menahun, nephropathy ada korelasi yang signifikan antara pengendalian diabetes terhadap kadar glukosa dalam darah.

Komplikasi akut diabetes dapat terjadi berupa tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia karena gaya hidup yang tidak sehat, ketidak patuhan dan perilaku perawatan diri penderita diabetes yang buruk. Kontrol teratur, informasi, pengetahuan tentang penyakit diabetes, dan kemandirian perawatan diri merupakan peran penting penderita diabetes dalam upaya pencegahan penyakit tingkat sekunder. Kedisiplinan dan kepatuhan pengobatan, program perencanaan diit, dan tindakan latihan senam diabetes dapat menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan.

Perubahan perilaku perawatan diri penderita diabetes akan meminimalkan resiko terjadinya kekambuhan dan kondisi kronis yang memburuk. Melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara teratur sangat efektif untuk mengkontrol keadaan gula darah.

Secara umum, pasien diabetes memiliki persepsi dan pengalaman

serta perilaku yang berbeda tentang penyakitnya, dan juga tingkat kepatuhan mereka terkait dengan perilaku merawat dirinya.

Beberapa hal umum mempengaruhi untuk perawatan diri penderita diabetes khusunya dalam menjalani program diit adalah; informasi salah, pengetahuan kurang dan sikap negative tentang penyakit diabetes, lingkungan sosial tidak mendukung program perawatan diri, hilangnya potensi diri dan motivasi rendah karena stress dengan kondisi kronis, serta belum optimalnya dukungan yang diberikan oleh tim medis dan tim kesehatan di unit layanan.

Menurut King (1997) persepsi, interaksi, dan komunikasi dapat merubah persepsi dan prilaku sehat pasien. Persepsi pasien bahwa kondisinya normal yang tidak memerlukan penanganan khusus, meyakini kondisinya baik karena tidak ada gejala sakit, tidak tahu tentang penyakitnya dan jarang berobat ke pelayanan kesehatan.

Hal ini memicu pasien mengabaikan penyakit dan meningkatkan resiko komplikasi. Sikap pasien beralasan karena kurang pengetahuan, tidak pernah dikomunikasikan oleh perawat dan tenaga kesehatan bahwa penyakit diabetes berdampak negatif.

Pasien tidak mendapat informasi akurat saat pengobatan ke puskesmas/klinik, perawat tidak memiliki kesempatan berinteraksi dan berdiskusi dengan pasien tentang penyakitnya. Perbedaan persepsi dan gap komunikasi perawat dan pasien menimbulkan respon prilaku berbeda sehingga pasien tidak memiliki kemampuan merawat diri melalui upaya pencegahan. Prilaku perawatan diri belum optimal, padahal bila pasien memiliki kekuatan sumber daya ini dan menyadari tentang pentingnya menjalankan program diit, melakukan pemantauan Kadar Gula Darah, olahraga dan kontrol ke dokter atau pelayanan kesehatan, maka penderita diabetes mellitus akan memiliki derajat kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik. Perilaku perawatan diri adalah tindakan atau aktivitas yang dilakukan individu atas kesadaran sendiri sehingga memiliki kemandirian dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatannya.

Menurut teori King (1997) bahwa persepsi, komunikasi, interaksi, pengambilan keputusan, dan transaksi, melalui pemberian asuhan keperawatan akan menguatkan kemampuan kemandirian perilaku perawatan diri klien. Studi terdahulu menjelaskan melalui komunikasi efektif, interaksi antara tenaga kesehatan ataupun

perawat dengan klien dan keluarganya secara dua arah, pemberian informasi yang akurat, dan memberikan motivasi yang positive yang dikombinasikan dengan perencanaan pengobatan dan perawatan penyakit diabetes akan meningkatkan kepatuhan pasien akan kesehatannya. Pengobatan yang terkontrol dan pemeriksaan kadar gula darah secara teratur dapat mencegah resiko terjadinya komplikasi, dalam hal ini edukasi terhadap klien akan meningkatkan kemandirian mereka terus terjaga. Persepsi yang sama antara perawat dengan klien dan keluarganya mempengaruhi proses interaksi dan transaksi keduanya, klien memiliki hak atas pengetahuan tentang kesehatan mereka dan mereka berhak menerima atau menolak tindakan pengobatan dan perawatan kesehatan yang diberikan. Mereka berhak ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan penting terkait dengan kelangsungan hidup dan pelayanan keperawatan yang harus mereka jalani.

Para profesional kesehatan khususnya perawat memiliki tanggung jawab untuk melakukan interaksi, berkomunikasi dan berbagi informasi tentang kesehatan mereka untuk membantu klien dalam pengambilan keputusan yang tepat tentang kesehatan mereka.

Profesional kesehatan memiliki tanggung jawab untuk mengumpulkan informasi yang relevan tentang persepsi pasien akan penyakit yang diderita sehingga tujuan dan sasaran pasien berjalan secara sinergi. Pelayanan primer termasuk puskesmas, klinik kesehatan, dan praktik mandiri perawat yang ada di komunitas sebagai pemberi layanan jasa kesehatan kepada seluruh masyarakat sangat efektif dalam memberikan pertolongan dan pendampingan dalam pengobatan dan perawatan sesuai standar pelayanan kesehatan. Selain membina dan pendampingan peran serta pasien dan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya juga memberikan pelayanan kesehatan dan keperawatan secara komprehensif kepada masyarakat di wilayah kerja binaannya dalam beragai kegiatan upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, dengan tidak mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif. Oleh karena itu pelayanan primer puskesmas, klinik, dan praktek mandiri perawat diharapkan dapat menjadi tempat untuk memperbaiki dan meningkatkan prilaku perawatan diri dan

kemandirian pasien, keluarga, dan masyarakat khususnya penyakit diabetes melitus yang membutuhkan perawatan jangka panjang.

Penyandang diabetes merupakan penyakit degeneratif yang mengalami kondisi kronis yang memerlukan penatalaksanaan kesehatan dan perawatan jangka panjang, namun tingkat kepatuhan dan disiplin pasien dalam perawatan diri masih rendah. Khususnya perilaku perawatan diri untuk menjalani program diit, pengetahuan dan sikap buruk tentang penyakit diabetes, lingkungan sosial tidak mendukung, hilangnya potensi diri dan tidak termotivasi untuk sembuh karena stress dan depresi akibat penyakit kronis.

4.2. Masalah Umum Diabetes

Diabetes melitus merupakan penyakit degeneratif yang memerlukan pengobatan dan perawatan jangka panjang, namun tingkat kepatuhan dan disiplin pasien dalam perawatan diri ditemukan masih rendah (17%-74%). Khususnya perilaku mereka dalam melakukan perawatan diri termasuk untuk menjalani program diit, pengetahuan dan sikap negative tentang penyakit diabetes yang diderita, lingkungan sosial yang tidak mendukung, hilangnya potensi diri dan tidak termotivasi untuk sembuh karena stress dan depresi akibat penyakit kronis yang dipersepsikan tidak akan sembuh, serta belum optimalnya dukungan pelayanan medis dan perawatan mandiri diabetes.

4.3. Tujuan

Meningkatkan pelayanan keperawatan terhadap penderita diabetes melitus dengan menggunakan “Model Keperawatan Kings Theory of Goal Attainment agar mereka memiliki informasi yang baik, pemahaman tentang diabetes serta perubahan prilaku dalam upaya meningkatkan kemandirian mereka sebagai solusi peningkatan mutu pelayanan kesehatan terhadap masyarakat.

4.4. Prilaku Perawatan Diri Diabetes

Penderita diabetes memerlukan perawatan jangka panjang, karenanya sering menimbulkan masalah fisik maupun psikososial

yang berkontribusi terhadap penurunan keinginan untuk berobat dan melakukan perawatan diri. Komplikasi lanjut penyakit diabetes dalam jangka Panjang sangat berbahaya dengan gejala klinis yang tersembunyi (Hiding Symptomp) yang tidak disadari keberadaannya oleh penderita. Diketahui bahwa pasien diabetes dapat mengalami masalah di semua fungsi organ tubuh baik secara mikrovaskular maupun makrovaskuler yang diakibatkan oleh peningkatan KGD yang tidak dapat dikontrol dengan baik.

Tindakan pengendalian penyakit diabetes harus dilakukan sedini mungkin untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya komplikasi serius yang dapat meluas menjadi sangat penting, khususnya bagaimana terjaganya nilai KGD dalam batas.

Namun demikian, mempertahankan KGD normal bukanlah hal mudah bagi penderita diabetes. Kesulitan tersebut dapat disebabkan karena mereka tidak disiplin dan tidak patuh menjalankan program diit yang sudah direncanakan, tidak mengikuti aturan sesuai porsi jumlah asupan kalori. Diagnosis dan kondisi klinis penderita diabetes melitus ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan nilai glukosa darah. Klien perlu mengetahui bagaimana cara untuk melakukan kontrol secara rutin pemeriksaan glukosa dengan pengambilan sampel darah plasma dari vena.

Selain itu, pemantauan terhadap pemberian obat-obatan dilakukan dengan metode pemeriksaan glukosa dari sampel darah kapiler dengan alat glukometer. Kontrol kadar glukosa darah yang tidak teratur mengakibatkan pasien mengalami resiko hiperglikemia pada waktu yang panjang, sehingga memicu terjadinya komplikasi serius pada fungsi organ, baik secara mikro maupun makrovaskuler, diantaranya: masalah jantung, kerusakan ginjal, penyakit vaskuler perifer, kerusakan pada sistem saraf, kebutaan.

Komplikasi yang sering timbul pada penyandang diabetes mengakibatkan terjadinya gangguan fisik dan masalah psikososial.

Selain itu, tatalaksana program diit pasien diabetes sangat penting agar mereka membiasakan konsumsi makanan sehat yang disesuaikan dengan pola makan, jenis makanan berdasarkan kebutuhan kalori tubuh dan zat gizi masing-masing individu.

Penderita diabetes harus diberikan edukasi dan informasi tentang

pentingnya mengatur menu makanan, waktu pemberian makan, jenis dan jumlah kalori dalam makanan. Hal ini terutama dilakukan terhadap pasien yang mendapatkan terapi jenis obat-obatan yang meningkatkan sekresi insulin untuk mengurangi resiko peningkatan atau penurunan KGD. Resiko terjadinya komplikasi terhadap penderita diabetes melitus menjadi hal yang sangat penting dan harus diketahui oleh pasien, keluarga dan masyarakat agar mereka dapat mempertahankan kondisi kesehatannya dalam jangka panjang serta upaya pencapaian kualitas hidup yang lebih baik.

Terjadinya hiperglikemia akan mengakibatkan kondisi memburuk, kerusakan jaringan dan sistem pada organ tubuh terutama pada sistem syaraf dan pembuluh darah. Akibat yang ditimbulkan dari sakit diabetes diantaranya: peningkatan risiko kerurakan pembuluh darah jantung, hipertensi sampai dengan resiko stroke, masalah kerusakan pada syaraf di area kaki, meningkatknya ulkus pada kaki, rentan terhadap infeksi dan bahkan keharusan amputasi kaki.

Selain itu retinopati diabetikum juga menjadi masalah penyebab utama kebutaan yang terjadi akibat kerusakan pembuluh darah kecil retina. Penyakit DM juga merupakan penyebab utama gangguan gagal ginjal, dan risiko kematian penderita diabetes dua kali lebih besar bila dibandingkandengan bukan penderita diabetes.

Penelitian sebelumnya dilakukan Ouyang, et.al. (2015) melaporkan bahwa kepatuhan pasien dengan diabetes melitus berkisar antara 17% sampai 74%, tingkat kepatuhan yang dinilai adalah pada aspek perilaku perawatan diri dimana faktor informasi dan pemahaman tentang penyakitnya serta kondisi lingkungan mempengaruhi tingkat kepatuhan penderita diabetes tersebut yaitu pengetahuan dan sikap tentang diet, olah raga, penyakit diabetes, dan self-efficacy. Pada penelitian tersebut tidak dilaporkan adanya masalah psikologis sebagai faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan klien. Selain itu juga dikemukakan bahwa faktor penguat dari pada tingkat kepatuhan pasien diabetes melitus adalah adanya dukungan dari tenaga professional dari dokter, perawat, medis lainnya dan dukungan sosial khusunya dari lingkungan dan keluarga penderita. Untuk itu upaya yang diperlukan adalah mendorong tim pelayanan kesehatan agar memberikan informasi

dan edukasi secara terprogram tentang perawatan diri yang baik terhadap penderita diabetes agar mereka memiliki perilaku dan kemampuan merawat diri secara madiri. Dalam hal ini, perilaku perawatan diri merupakan tindakan yang dilakukan klien sebagai individu atas kesadaran sendiri sehingga mereka mampu dan memiliki kompetensi diri dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatannya. Kekuatan yang diberikan untuk meningkatkan peran serta klien dan dukungan keluarga secara optimal dapat dieksplorasi melalui berbagai upaya.

4.5. Konsep model keperawatan kings theory of goal attainment Kerangka konseptual King memberikan pandangan komprehensif tentang ada 3 sistem interaksi terbuka, termasuk: sistem personal, sistem interpersonal dan sistem sosial yang merupakan system terbuka (King, 1989). Model Kings Theory of Goal Attainment merupakan salah satu teori yang berfokus pada kesehatan dan keperawatan yang telah banyak digunakan para ilmuwan keperawatan untuk diterapkan atau diimplementasikan dalam praktik keperawatan, pendidikan keperawatan, dan penelitian keperawatan. Model King’s Kings Theory of Goal Attainment akan memandu praktik keperawatan dalam konteks hubungan perawat- klien untuk mengidentifikasi persepsi pasien tentang penyakitnya.

Hal ini juga dapat digunakan untuk menilai tindakan terhadap pasien rawat inap dan reaksi antara perawat, pasien, tenaga kesehatan lain, reaksi asosiatif, interaksi, dan transaksi perawat dengan pasien. Persepsi perawat dan pasien mempengaruhi proses interaksi dan pengambilan keputusan kesehatan, perbedaan persepsi perawat dan pasien mempengaruhi konsep sehat sakit mereka (Alligood, 2010; King, 1981).

Menurut King’s theory pasien berhak untuk mengetahui tentang perkembangan kondisi kesehatan yang mereka alami, sebagai pasien mereka berhak menerima atau menolak setiap tindakan pelayanan keperawatan yang diberikan. Mereka harus diberi kesempatan untuk berperan serta dalam mengambil keputusan tentang kelangsungan hidup dan keterlibatan mereka dalam