Bab 4. Aplikasi Model King dalam Perilaku Perawatan Diri
4.5. Konsep model keperawatan King’s Theory of Goal
tentang ada 3 sistem interaksi terbuka, termasuk: sistem personal, sistem interpersonal dan sistem sosial yang merupakan system terbuka (King, 1989). Model Kings Theory of Goal Attainment merupakan salah satu teori yang berfokus pada kesehatan dan keperawatan yang telah banyak digunakan para ilmuwan keperawatan untuk diterapkan atau diimplementasikan dalam praktik keperawatan, pendidikan keperawatan, dan penelitian keperawatan. Model King’s Kings Theory of Goal Attainment akan memandu praktik keperawatan dalam konteks hubungan perawat- klien untuk mengidentifikasi persepsi pasien tentang penyakitnya.
Hal ini juga dapat digunakan untuk menilai tindakan terhadap pasien rawat inap dan reaksi antara perawat, pasien, tenaga kesehatan lain, reaksi asosiatif, interaksi, dan transaksi perawat dengan pasien. Persepsi perawat dan pasien mempengaruhi proses interaksi dan pengambilan keputusan kesehatan, perbedaan persepsi perawat dan pasien mempengaruhi konsep sehat sakit mereka (Alligood, 2010; King, 1981).
Menurut King’s theory pasien berhak untuk mengetahui tentang perkembangan kondisi kesehatan yang mereka alami, sebagai pasien mereka berhak menerima atau menolak setiap tindakan pelayanan keperawatan yang diberikan. Mereka harus diberi kesempatan untuk berperan serta dalam mengambil keputusan tentang kelangsungan hidup dan keterlibatan mereka dalam
pemberian layanan kesehatan. Profesional kesehatan baik dokter, farmasi, perawatdan tim kesehatan lainnya memiliki tanggung jawab untuk memberi informasi yang akurat dan membantu individu atau pasien membuat keputusan yang tepat terhadap kesehatan mereka. Perawat juga bertanggung jawab untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan tentang persepsi pasien tentang kesehatannya, kebiasaan yang dilakukan berdasarkan nilai-nilai budaya harus menjadi pertimbangan tersendiri dalam pemberian layanan kesehatan, sehingga capaian tujuan dan sasaran kesehatan dengan pasien dapat menjadi kongruen atau sejalan (King, l981, hal 143).
Makna dalam teori King bahwa intervensi keperawatan yang diberikan harus kongruen atau sejalan, yaitu persepsi keduanya sama dan saling mendukung. Perawat dan doktser atau tim kesehatan lainnya dapat memberikan pemahaman dan kesadaran diri sehingga akan merubah perilaku dalam melakukan perawatan terhadap dirinya, yaitu: kepatuhan dalam menjalankan pengobatan, tidak lupa dalam melakukan kontrol KGD secara rutin, menjalankan rangkaian program aturan diit, mengikuti latihan senam diabetes, dan melakukan perawatan atau dikenal spa kaki.
Berikut ini merupakan gambaran tahapan proses dan penerapan Model Keperawatan King’s Theory of Goal Attainment terhadap prilaku dalam melakukan perawatan diri pasien penyandang diabetes melitus di unit pelayanan primer.
Gambar 4. Model Keperawatan King’s Theory of Goal Attainment Program Perilaku Perawatan Diri Pasien Diabetes
Program Perilaku Perawatan Diri Pasien Diabetes
1. Perception 2. Communication 3. Interaction 4. Decision making 5. Transaction
1. Medication Adherence 2. Blood Sugar Control 3. Diet Program 4. Exercise 5. Foot Care
Peningkatan Pengetahuan dan Perilaku Perawatan Diri Peningkatan Kemandirian dan Kualitas Hidup Pasien DM
61 Gambar 5. Model Keperawatan Kings Theory of Goal Attainment
Dalam Memahami Pengetahuan Diabetes dan Prilaku Perawatan Diri Pasien Diabetes
Komunikasi Interaksi
Pengambilan Keputusan
Transaksi Transaksi Transaksi
Transaksi
Persepsi Perawat
Persepsi Pasien
Pengantar dan Eksplorasi pengalaman pasien dengan diabetes melitus menggunakan “Tools”
Model King’s Theory of Goal Attainment:
Perception Communication Interaction Decision making Transaction
Strategi Intervensi melalui Program Edukasi untuk Meningkatkan : pengetahuan, perubahan perilaku, dan kemandirian perawatan diri pasien diabetes melitus berbasis Model Keperawatan King’s theory of goal attainment.
Pengobatan : Medication Adherence Kontrol/KGD : Blood Sugar Control Program Diit : Diet Program Olah Raga : Exercise Perawatan Kaki : Foot Care
Hasil Capaian Perubahan persepsi negative menjadi persepsi positive Peningkatan pegetahuan Peningkatan perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus Hasil Capaian
Perubahan persepsi negative menjadi persepsi positive Peningkatan pegetahuan Peningkatan perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus Hasil Capaian
Perubahan persepsi negative menjadi persepsi positive Peningkatan pegetahuan Peningkatan perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus Hasil Capaian
Perubahan persepsi negative menjadi persepsi positive Peningkatan pegetahuan Peningkatan perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus Hasil Capaian
Perubahan persepsi negative menjadi persepsi positive Peningkatan pegetahuan Peningkatan perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus Hasil Capaian
Perubahan persepsi negative menjadi persepsi positive Peningkatan pegetahuan Peningkatan perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus Hasil Capaian
Perubahan persepsi negative menjadi persepsi positive Peningkatan pegetahuan Peningkatan perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus Hasil Capaian
Perubahan persepsi negative menjadi persepsi positive Peningkatan pegetahuan Peningkatan perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus Hasil Capaian
Perubahan persepsi negative menjadi persepsi positive Peningkatan pegetahuan Peningkatan perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus
Respon pasien ttg penyakit DM yang
dialami
Tujuan didiskusikan bersama &
melakukan kesepakatan thd rencana tindakan intervensi dlm
perawatan diri DM
Kemandirian perawatan diri &
kualitas hidup Hasil Capaian
Perubahan persepsi negative menjadi persepsi positive Peningkatan pegetahuan Peningkatan perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus
Sumber:
Model Keperawatan Kings Theory of Goal Attainment dalam Memahami Pengetahuan Diabetes dan Prilaku Perawatan Diri Pasien Diabetes tersebut merupakan model yang digunakan dalam penelitian terdahulu oleh Evi Karota dan Lufthiani (Talenta USU, 2018).
4.6. Promosi Kesehatan dan Pencegahan Penyakit: Atasi Diabetes Sejak Dini
Pelaksanaan promosi kesehatan komunitas menggunakan “Model Keperawatan Kings Theory of Goal Attainment” dilakukan dalam upaya meningkatkan dan mengoptimalkan pelayanan keperawatan terhadap penderita diabetes melitus melalui program promosi kesehatan dengan penyampaian informasi yang lengkap dan proses edukasi yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran tentang penyakit diabetes melitus dan kemandirian mereka dalam perawatan diri sebagai solusi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat.
Promosi kesehatan merupakan salah satu intervensi keperawatan yang dilakukan terhadap klien dalam upaya pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Perawat memiliki kapasitas dan kompetensi untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kesehatan klien baik secara fisik maupun psikososial-spiritual, dimana kegiatan ini dapat dilakukan di rumah klien, klinik kesehatan, klinik praktik mandiri perawat atau di pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam pelaksanannya, program promosi kesehatan perawat melakukan komunikasi dan memberikan informasi melalui proses edukasi (pendidikan kesehatan) agar mereka memiliki keterampilan atau kompetensi diri dalam prilaku perawatan diri secara mandiri. Keluarga diharapkan dapat berperan dan berkontribusi untuk mendukung kemandirian klien dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya secara konsisten dan berkesinambungan. Melakukan proses edukasi yang berkualitas terhadap klien merupakan salah satu aspek penting dalam mengimplementasikan peran perawat sebagai pendidik disemua setting tatanan pelayanan kesehatan yang didalamnya terintegrasi pelayanan keperawatan.
Dalam beberapa studi menunjukkan bahwa melalui proses edukasi dengan mengkreasi suatu metode tertentu dan langkah-langkah yang tepat sesuai dengan kebutuhan dapat memberikan perubahan pada tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang terkait
dengan upaya peningkatan derajat kesehatannya. Perawat mempersiapakan penyampaian informasi yang bermakna, sistematis, dan spesifik untuk memberi masukan yang berkualitas bagi pemahaman klien tentang aspek penting penanganan resiko dan masalah kesehatannya, sehingga didasari pada pengetahuan yang baik akan memberikan awareness atau kesadaran untuk melakukan perubahan perilaku tentang kesehatannya. Klien harus bersikap proaktif untuk menyampaikan semua informasi terkait kondisi kesehatannya diagnosa, prognosis penyakit, dan terapi yang sudah dilakukan membantu mereka mengambil keputusan dan melakukan gaya hidup sehat. Peran perawat aspek penting dalam edukasi, dimana teaching and learning adalah faktor penting yang tidak terpisahkan (mengajar & belajar). Mengajar atau memberikan pembelajaran melalui proses belajar merupakan upaya peningkatan pengetahuan, merubah sikap dan mengadopsi tindakan tertentu yang baru sehingga dia memiliki kompetensi. Belajar adalah cara untuk memperoleh sesuatu sesuai dengan tujuan, dalam hal ini mendapatkan pengetahuan baru, sikap, perilaku, dan kompetensi. Perawat sebagai pendidik bertanggungjawab dalam memberikan pengajaran melalui penyampaian informasi kepada klien, keluarganya berdasarkan kebutuhan. Perawat melakukan klarifikasi informasi kesehatan yang diberikan dokter, tim pelayanan kesehatan dan care provider untuk mengidentifikasi masalah yang dialami. Pada situasi yang lain, klien dan keluarganya juga dapat bertanya dan berdiskusi dengan perawat, dokter, dan tim kesehatan terkait dengan informasi dan masalah kesehatannya. Misalnya dalam hal terapi yang diberikan, adanya jenis pengobatan medis yang baru, dan hal lainnya yang memerlukan edukasi dan penyampaian informasi agar sesuai dengan kebutuhan klien dan tercapaianya tujuan pengobatan.
Dalam proses edukasi kepada klien dan keluarganya, perawat perlu mempertimbangkan nilai-nilai, asumsi, pandangan dan tanggungjawab mereka dalam pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatannya. Selanjutnya, proses pengajaran juga merupakan bagian dari komunikasi antara klien dan keluarga dengan tim pelayanan kesehatan, komunikasi yang dibangun dapat dilakukan secara langsung melalui edukasi, diskusi, konseling
ataupun secara tidak langsung melalui media cetak dan telephon.
Proses edukasi yang efektif akan memberikan dampak terhadap interpersonal komunikasi yang baik, sehingga dalam penyampaikan informasi kesehatan antara klien, keluarga, dan tim pelayanan kesehatan akan belajar bersama dan proses ini akan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perilaku berdasarkan proses mengajar dan belajar.
4.6.1. Pengertian Diabetes Melitus
Penyakit diabetes melitus (DM) atau penyakit kencing manis adalah golongan penyakit kronis menahun yang disertai dengan timbulnya gejala-gejala utama diabetes dan dari hasil pemeriksaan laboratorium darah terjadi peningkatan kadar gula darah (KGD) melebihi batas normal akibat adanya gangguan fungsi pada sistem metabolism tubuh, dimana fungsi organ pankreas tidak lagi mampu menghasilkan hormon insulin sesuai dengan kebutuhan tubuh.
4.6.2. Penyebab Diabetes Melitus
Diabetes tipe 1: Terjadinya gangguan dan gagalnya sel pankreas untuk menghasilkan hormon insulin yang berfungsi membawa glukosa yang berasal dari dalam sel darah ke dalam sel tubuh lainnya. Tanpa adanya hormone insulin tersebut, sel-sel tubuh akan mengolah lemak dan otot menjadi energi sehingga menyebabkan turunnya berat badan dan secara terus-menerus menjalani pengobatan dengan pengobatan suntikan insulin.
Diabetes tipe 2: Pankreas mengalami gangguan untuk menghasilkan hormon insulin yang dilepas kedalam aliran darah, sehingga kadar gula darah menjadi tidak terkontrol dan terjadi peningkatan kadar gula darah. Sel tubuh tidak dapat menggunakan glukosa dengan baik akibat retensi insulin yang disebabkan oleh faktor resiko berupa kegemukan, genetika, dan faktor-faktor lain yang menyebabkan retensi insulin.
4.6.3. Tanda dan Gejala Penyakit Diabetes
Berikut ini merupakan beberapa gambaran tanda dan gejala klinis penyakit diabetes melitus tipe 2 yang umum terjadi dan dialami oleh penderita diabetes, yaitu:
- Sering merasa haus - Sering merasa lapar - Perasaan lesu, lemah - Mengalami kelelahan - Sering buang air kecil - Penglihatan mata kabur
- Tidak ada temuan ketoasidosis - Nafas menimbulkan bau aceton - Terjadi peningkatan berat badan - Biasanya kegemukan atau obesitas - Kesemutan daerah ekstremitas bawah - Gatal-gatal pada kulit dan kulit kering - Kadang-kadang timbul mual dan muntah
4.6.4. Faktor Risiko dan Komplikasi Diabetes Melitus
Terdapat beberapa faktor resiko dapat terjadi pada penderita diabetes melitus, yang diketahui tanda dan gejalanya sejak dini, tetapi tidak jarang pasien mengalami gejala tersebut kemudian.
- Kebiasaan mengkonsumsi jenis makanan memperberat fungsi pankreas
- Gaya hidup sehat buruk dan mengalami masalah kegemukan (obesitas)
- Mengkonsumsi obat-obatan beresiko merusak pankreas - Adanya riwayat penyakit keturunan dari keluarga - Adanya resiko penyakit penyerta lainnya
- Timbulnya penyakit hipertensi - Usia lebih dari 45 tahun
Komplikasi Penyakit Diabetes Melitus
Komplikasi penyakit yang dialami penderita diabetes melitus dapat terjadi sebagai dampak dari microvascular, beberapa kasus dan gambaran gejala klinis penyakit diabetes melitus tipe 2:
- Penyakit stroke
- Disfungsi seksual - Gangguan pencernaaan - Gangguan gusi dan mulut - Gangguan penyakit ginjal - Gangguan sistem pernapasan - Luka sulit sembuh dan berulang - Resiko infeksi dan potensi amputasi
- Penglihatan kabur dan kerusakan retina mata - Gangguan pembuluh darah dan penyakit jantung
4.6.5. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tujuan Pengelolaan Diabetes Melitus
- Mengurangi keluhan tanda dan gejala diabetes melitus - Mempertahankan rasa nyaman penderita diabetes melitus - Mengurangi kekambuhan dan berulangnya gejala penyakit
diabetes
- Mencegah dan menghambat terjadi resiko komplikasi micro dan makro angiopati
a. Pengaturan Diit Diabetes Melitus
Pengaturan diit diabetes dilakukan melalui pengaturan intake makanan yang mengandung karbohidrat agar sesuai kebutuhan kalori tubuh penderita diabetes setiap harinya, pengaturan jenis dan jumlah makanan, serta waktu makan untuk membantu mengontrol dan mencegah peningkatan kadar gula dalam darah.
Penatalaksanaan pola makan yang tepat dan pemberian makanan dalam porsi kecil tapi sering secara teratur sesuai dengan anjuran ahli gizi / tim kesehatan adalah sangat penting dalam pemberian nutrisi diabetes. Pemberian diit penderita diabetes rendah karbohidrat atau gula merupakan upaya untuk pengendalian kadar gula darah, walaupun asupan makanan yang mengandung glukosa harus diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan tubuh sesuai takaran yang ditentukan. Beberapa jenis makanan yang disarankan pada pasien diabetes adalah mengkonsusmsi buah-buahan dan sayuran. Jenis makanan yang tidak diperbolehkan adalah alkohol, mie, pasta, makanan cepat saji, roti, sereal, nasi putih, dll.
Tabel 5. Jenis makanan anjuran penderita diabetes
Saran Pemberian Uraian Jenis Makanan Anjuran Minyak goreng sehat Minyak goreng khusus diabetes,
rendah kolesterol Mengurangi konsumsi
makanan cepat saji dan beralkohol
Mengurangi makanan cepat saji:
burger, ayam goreng, daging, minuman softdrink, minuman beralkohol, makanan mengandung alkohol (cake), keju (dibatasi).
Konsumsi makanan mengandung protein frekuensi 2-3 kali/hari
Minuman susu rendah lemak, susu kedelai, yoghurt, kacang, tofu, tahu, tempe, daging, ayam, telur ayam, ikan laut, ikan air tawar, dll.
Pemberian buah-buahan dengan frekuensi 2-4 kali/hari
Buah: nenas, pisang, kiwi, advokad, anggur, melon, apel, belimbing, buah naga, pir, bengkuang, jeruk, semangka, lemon, papaya, buah delima, dll.
Pemberian sayur-sayuran dengan frekuensi 2-4 kali/hari
Sayuran: buncis, oyong, kaylan, wortel, bayam, brokoli, kangkung, timun, tomat, kol, lobak, labu siam, terong, sawi putih, sawi hijau, bawang bombai, jamur, dll.
Konsumsi makanan rendah lemak dan kalori 6x penyajian sehari
Roti gandum, nasi putih atau nasi merah, kentang, sereal, kacang merah, labu kuning, jenis ubi-ubian, dll.
Gambar 6. Upaya Pencegahan Diabetes Melitus
Penanganan lanjutan pencegahan komplikasi pasien Diabetes
Pemeriksaan Kadar Gula Darah (KGD) rutin selama 3 bulan, dapat dilakukan secara mandiri dengan menggunakan alat pribadi atau lakukan pemeriksaan KDG ke klinik terdekat.
Pemeriksaan Tekanan Darah dilakukan secara berkala dirumah atau pemeriksaan ke klinik.
Pemeriksaan Kadar Kolesterol Darah dilakukan secara rutin, dapat dilakukan secara mendiri dengan alat pemeriksaan pribadi atau periksa ke klinik terdekat.
b. Aktifitas Olah Raga Fisik
Melakukan olah raga secara teratur dan berkesinambungan merupakan aspek penting dalam pencegahan dan perawatan diri secara mandiri terhadap penderita diabetes tipe 2 agar organ tubuh tetap memiliki fungsi dengan baik. Olahraga dapat meningkatkan sensitivitas insulin dalam pengontrolan glikemik dan olah raga secara teratur akan membantu mempercepat proses penurunan berat badan. Tentunya hal ini harus dikombinasikan dengan kepatuhan terhadap program diit yang tepat sesuai dengan kebutuhandan kondisi tubuh penderita diabetes. Ada beberapa jenis olah raga yang dianjurkan yaitu: jenis olah raga yang tidak beresiko terjadinya cedera, berirama dan teratur, jenis olahraga kebugaran berupa senam, bersepeda santai, dan secara khusus adalah latihan ketahanan untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. Olah raga praktis berjalan dapat dilakukan selama 30-60 menit perhari dengan frekuensi 3-4 kali per minggu. Disarankan
agar dalam berolah raga hendaknya disesuaikan dengan usia klien dan kondisi fisik mereka. Bagi penderita diabetes yang sudah teridentifikasi mengalami gangguan kesehatan atau penyakit komplikasi, seperti: jantung koroner, hipertensi dan penyakit penyerta lainnya harus melakukan konsultasi terlebih dulu dengan dokter untuk menentukan jenis dan kapasitas olah raga yang aman untuk dilakukannya.
c. Pengobatan Diabetes Melitus
Penderita diabetes umumnya mendapat terapi obat-obatan dalam jangka panjang dan bahkan ada yang mengajalani terapi obat seumur hidup, klien minum obat diabetes secara rutin dan teratur sesuai program terapi dokter, obat-obatan yang diberikan dapat berupa obat oral ataupun terapi insulin dengan suntikan. Obat oral berupa tablet diminum secara teratur yang diberikan untuk merangsang fungsi kerja pankreas agar menghasilkan insulin dan untuk meminimalkan resistensi insulin tersebut. Tujuan pemberian obat-obatan menurunkan kadar gula dalam darah agar normal dan KGD terkontrol. Penderita diabetes melakukan kontrol secara rutin untuk pemantauan terhadap kepatuhan program terapi dalam konsumsi obat-obatan yang diberikan biasanya untuk penggunaan selama satu bulan dan kemudian kontrol kembali. Secara khusus menjadi perhatian penderita diabetes adalah mengidentifikasi kondisi penyakit penyerta mendapat terapi lebih dari satu jenis obat-obatan. Obat tersebut dapat berpengaruh terhadap pengontrolan diabetik yang menjadi penyebab terjadinya hiperglikemia atau hipoglikemia karena menghambat sekresi atau kerja insulin, missal: steroid, diuresis, beta bloker, dll.
d. Pemeriksaan Kadar Gula Darah
Penderita diabetes melitus diharuskan untuk melakukan pemeriksaan kadar gula darah secara rutin agar dapat memantau kondisi perkembangan penyakit diabetes. Pemeriksaaan kadar gula darah dapat dilakukan dengan pemeriksaan ke laboratorium klinik atau pelayanan kesehatan atau dilakukan secara mandiri dirumah menggunakan alat glucometer. Hasil pemeriksaan berguna dalam menentukan tindakan medis terhadap penderita sehingga dengan
cepat dapat dilakukan penanganan sesuai kondisinya. Penderita juga dapat mengkonsultasikan hasilnya kepada dokter, perawat, kesehatan lainnya di klinik kesehatan atau pelayanan kesehatan.
Tabel 6. Kenali Hasil Test Kadar Glukosa Darah (KGD)
Kriteria Diagnostik Kadar Gula Darah (KGD) dalam mg/dl Uraian Bukan DM Pra DM Diabetes
Puasa < 100 110-125 >126 Sewaktu < 110 110-199 >200 Tabel 7. Hasil Test Kadar Glukosa Darah (KGD)
Jenis Pemeriksaan Pengendalian Diabetes Melitus Glukosa Darah
(mg/dl)
Baik Sedang Buruk
Puasa 80-109 110-125 >126
2 Jam 80-144 145-179 >180
4.6.6. Perawatan Kaki Diabetes Melitus
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penderita diabetes melitus adalah perawatan kaki, adapun tujuan perawatan kaki adalah untuk mencegah terjadinya Ulkus Diabetic yang umum terjadi pada klien. Dampak penyakit yang diderita oleh penderita diabetes akan mengalami penurunan kemampuan tubuh dalam proses penyembuhan luka. Hal ini terjadi akibat gangguan mikroangiopati yang mengalami kerusakan pembuluh darah perifer dibagian ekstremitas bawah (tungkai kaki) sehingga terjadi penurunan sirkulasi darah dan terdapat gangguan neuropati yaitu terjadi kerusakan jaringan syaraf sehingga mengalami gangguan fungsi. Gangguan mikroangiopati dapat terlihat dari kondisi pada permukaan kulit kaki tampak pucat dan teraba dingin, rambut pada kulit kaki tidak lagi tumbuh, kulit kering bersisik dan pecah-pecah.
Gangguan neuroangiopati yang sering terjadi adalah kesemutan atau kebas-kebas pada kaki, timbul pengerasan kulit telapak kaki atau kalus, terjadi penurunan atau kehilangan sensasi nyeri pada permukaan kulit. Kondisi lain yang beresiko perlu diwaspadai dengan melakukan identifikasi dan pengkajian awal terhadap
kemungkinan adanya infeksi pada area kaki karena peradangan dan ulserasi sampai terjadinya gangren sebagai akibat gangguan fungsi pembuluh darah perifer dan saraf. Berkaitan dengan kondisi tersebut, juga dilakukan tindakan pemantauan kadar glukosa dalam darah, pengaturan nutrisi diit penderita diabetes, dan terapi obat- obatan. Pemeriksaan kaki pada kuku dan kulit disekitarnya dilakukan secara berkala, melakukan perawatan dan pemeliharaan kebersihan kaki diabetes secara rutin, hindari faktor-faktor resiko yang menimbulkan terjadinya trauma pada kaki, dan apabila teridentifikasi ada luka atau ganggren segera lakukan pengobatan dan anjurkan klien untuk melakukan kunjungan ke klinik atau praktik dokter, perawat terdekat atau pelayanan kesehatan unit layanan primer.
Persiapan alat untuk perawatan kaki Bahan Habis Pakai
1. Sarung tangan 2. Hand rub 3. Kassa 4. Sabun cair 5. Baby oil 6. Sikat kaki
7. Handuk kecil 8. Tissue gulung 9. Garam spa (kaki) 10. Waskom
11. Kantong plastik
12. Air hangat dalam wadah
a. Perawatan Kuku
Perawatan kuku pada penderita diabetes dilakukan secara rutin untuk memelihara kesehatan kuku dan kulit disekitar kuku, serta dilakukan untuk mencegah terjadinya penebalan pada kulit disekitar kuku yang berpotensi menimbulkan masalah. Perawatan kuku dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan kuku setiap hari dan perawatan juga dilakukan setiap hari setelah mandi, dengan beberapa langkah-langkah berikut ini:
1) Bersihkan kaki dan kuku menggunakan sabun atau washlap dan keringkan dengan tissue atau handuk yang tipis dan lembut.
2) Dalam membersihkan kuku, bila diperlukan dapat digunakan kikir khusus kuku untuk membersihkan pinggiran kuku yang
kotor dan harus dilakukan dengan hati hati jangan sampai melukai dan mengenai permukaan kulit disekitar kuku.
3) Kondisi kuku perlu diperhatian, bila ditemukan kuku teraba keras, terdapat kalus dan disertai dengan kotoran yang menebal, maka rendam kaki terlebih dahulu dengan air hangat selama 5-10 menit.
4) Kemudian bersihkan kuku secara perlahan dengan menggunakan sikat yang lunak/lembut agar kotoran terlepas dan kuku mudah dipotong.
5) Selanjutnya bersihkan kuku dengan menggunakan air bersih dan keringkan dengan handuk kecil yang lembut agar kuku tidak keras
6) Berikan lotion atau baby oil sesuai kebutuhan untuk menjaga kelembaban kulit tetap terpelihara dan mencegah kulit kering (pada kondisi khusus), hal ini dilakukan setiap hari.
7) Hindari pemberian lotion pada sela-sela jari kaki.
8) Sebaiknya pemotongan kuku dilakukan 1-2 kali dalam seminggu dengan cara menggunting kuku dimulai dari sudut kuku kearah tengah dan ke sudut lainnya mengikuti bentuk kuku yang normal dan lakukan dengan hati-hati.
9) Lakukan pemotongan kuku dengan cara posisi rata atau datar dan jangan potong kuku terlalu pendek agar tidak menimbulkan luka pada jaringan kulit disekitar kuku.
10) Dalam perawatan kuku, hindari penggunaan silet, benda tajam untuk memotong kuku atau membersihkan kalus pada kuku.
b. Perawatan Kulit
Perawatan kulit adalah hal yang harus dilakukan secara rutin untuk mencuci dan membersihkan kaki dengan lembut agar terhindar dari infeksi kulit karena kotoran. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam perawatan kulit adalah:
1) Bersihkan kaki dengan air bersih, atau rendam kaki dengan air biasa atau air hangat kuku tambahkan garam spa khusus untuk kaki.
2) Gosok telapak kaki dengan sikat lembut atau batu apung (sesuai alat yang tersedia), bersihkan kaki dengan air dan