• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Latihan Keseimbangan

1. Pengertian Latihan Keseimbangan

Latihan keseimbangan adalah suatu kegiatan yang berupaya meningkatkan kekuatan otot tungkai bawah dan sistem vestibular serta keseimbangan tubuh (Jowir, 2012). Latihan keseimbangan adalah serangkaian latihan peregangan dan penguatan yang dirancang untuk meningkatkan keseimbangan statis dan dinamis (Kloos & Heiss dalam Masitoh, 2013).

Keseimbangan adalah kapasitas untuk mempertahankan stabilitas postural sebelum, selama, dan setelah gerakan, dan sebagai reaksi terhadap gangguan eksternal, dengan kecepatan dan efisiensi. Keseimbangan diperlukan untuk menjaga posisi dan stabilitas saat bepergian dari satu lokasi ke lokasi lain. Keseimbangan akan mengganggu tugas rutin jika anda mengabaikannya. Ada dua jenis keseimbangan yaitu keseimbangan statis dan keseimbangan dinamis. Keseimbangan statis adalah kemampuan untuk menahan postur tanpa gerakan, seperti saat duduk atau berdiri. Tidak seperti keseimbangan statis, keseimbangan dinamis mencakup kontrol tubuh saat tubuh bergerak, seperti dari posisi duduk ke posisi berdiri (Supriyano, 2015).

2. Latihan Keseimbangan Terhadap Keseimbangan Tubuh

Reseptor sensorik perifer dari sistem okular, vestibular, dan proprioseptif memberikan informasi kepada lansia tentang posisi tubuh relatif terhadap keadaan lingkungan sekitarnya, yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan tubuh. Reseptor vestibular memiliki dampak terbesar dalam menjaga keseimbangan, diikuti oleh reseptor okular dan proprioseptif.

Lingkungan sekitar lansia stabil atau tidak stabil. Keadaan-keadaan yang dapat menghasilkan kondisi lingkungan yang tidak stabil, seperti

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan pergerakan barang yang cepat, permukaan lantai yang bergerak, permukaan pasir, dan busa, termasuk pergerakan objek yang cepat, permukaan lantai yang bergerak, permukaan pasir, dan sebagainya.

Lingkungan yang tidak stabil ini memerlukan lebih banyak kontrol postural untuk lansia.

Latihan keseimbangan adalah rangkaian gerakan yang dilakukan untuk meningkatkan keseimbangan postural dinamis dan statis (Kloss & Heiss, 2007 seperti dikutip dalam Masitoh, 2013) untuk membantu otak dalam merespon perubahan sinyal (kalibrasi ulang) agar otak dapat beradaptasi secara otomatis yang dikenal sebagai central compensation (Kaesler dalam Masitoh, 2013).

3. Komponen Pengontrol Keseimbangan

Keseimbangan menggambarkan dinamika postur tubuh untuk mencegah gerak yang tidak stabil. Keseimbangan terpengaruh dari panca indra yang terdapat pada tubuh manusia. Hasil dari keseimbangan adalah stabilisasi. Stabilisasi integrasi sensoris sebagai istilah melibatkan seperti visual, vestibular, dan somatosensoris (tactile & proprioceptive).

Stabilisasi adalah titik awal yang penting untuk setiap gerak dan manipulasi (Všetečková, 2017).

a. Visual

Visual adalah kontributor penting untuk keseimbangan karena memberikan informasi tentang lingkungan, posisi, arah, dan jarak gerakan seseorang, serta kecepatan di mana mereka bergerak. Karena banyak dari refleks postural sistem vestibular juga dapat diaktifkan oleh rangsangan atau penglihatan, refleks ini dapat membantu mengkompensasi beberapa fungsi vestibular yang telah hilang. Di sisi lain, sebagian besar lansia mengalami penurunan penglihatan, yang menyebabkan mereka kurang mendeteksi informasi atau informasi yang terdistorsi. Sebagai konsekuensi langsung dari ini, ketajaman visual seseorang memburuk. Memiliki korelasi positif dengan jumlah

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan lansia yang jatuh. Seiring bertambahnya usia, seseorang sering kehilangan kemampuan keseimbangan pada mata yang akan membantu agar tetap fokus pada titik utama untuk mempertahankan serta sebagai monitor tubuh selama melakukan gerak statik atau dinamik (Všetečková, 2017).

b. Vestibular

Sistem vestibular adalah sistem reseptor yang terletak di telinga bagian dalam dan memberikan informasi mengenai gerakan kepala dan gerakan mata. Informasi ini disediakan oleh sistem vestibular. Hal ini dimungkinkan untuk melihat arah dan kecepatan gerakan kepala berkat sistem vestibular, yang digabungkan dengan sistem visual dan pendengaran. Nukleus vestibular diberi informasi dari formasi (fusi retikuler), otak kecil, dan labirin reseptor. Nukleus vestibular mengirimkan outputnya ke sumsum tulang belakang, yang kemudian mengirimkannya ke neuron motorik. Terutama, nukleus vestibular mengirimkan outputnya ke neuron motorik yang mempersarafi otot proksimal, gabungan otot di leher, dan otot punggung (otot postural).

Karena seberapa cepat reaksinya, sistem vestibular mampu membantu dalam pemeliharaan keseimbangan tubuh dengan mengerahkan kontrol atas otot-otot postural (Watson & Black, 2008). Vertigo dan kelainan keseimbangan lainnya dapat disebabkan oleh masalah fungsi vestibular. (Všetečková, 2017).

Mampu mengatur gerakan mata, terutama saat menatap benda- benda yang bergerak, berkat refleks yang disebut refleks vestibulo- okular. Setelah itu, informasi tersebut dikirim ke nukleus vestibular, yang terletak di batang otak, melalui saraf kranial VIII (Asosiasi gangguan vestibular). Neuron vestibular berkurang baik dalam jumlah dan ukuran serat saraf dengan penuaan, dimulai pada usia sekitar 40 tahun. Orang di atas usia 70 tahun, mungkin telah kehilangan 40% dari sel sensorik dalam sistem vestibular. Dengan penuaan yang lebih lanjut,

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan sensitivitas reseptor perifer sistem vestibular berkurang (Všetečková, 2017).

c. Senmatosensoris

Sistem ini sangat penting untuk keseimbangan dan kontrol motor, menyediakan informasi yang berkaitan dengan kontak tubuh dan posisi. Ini termasuk reseptor kulit yang memberikan informasi tentang sentuhan, getaran dan reseptor otot yang memberikan informasi tentang posisi tungkai dan tubuh. Reseptor otot juga memberi sinyal perubahan posisi tungkai dan tubuh. Kontrol gerakan bergantung pada informasi yang konstan dan akurat dari sistem somatosensori. Reseptor kulit memberi sinyal ketika rangsangan mekanis diterapkan ke permukaan tubuh. Jadi ketika kulit dikontakkan dan terjadi perubahan tekanan pada kulit, impuls saraf diarahkan ke pusat. Individu normal sering mengalami hilangnya reseptor ini ketika mereka duduk dalam posisi yang sama dalam waktu yang lama, membatasi suplai darah ke tungkai bawah. Sensasi kulit mulai kurang sensitif karena penuaan.

(Všetečková, 2017).

Sistem somatosensori adalah sistem sensorik yang menghasilkan sensasi seperti sentuhan, suhu, proprioception (posisi tubuh), dan nosiseptif. Ini terdiri dari reseptor dan pusat pemrosesan (nyeri). Kolom dorsal sumsum tulang belakang bertanggung jawab untuk transmisi informasi proprioseptif ke otak. Namun, sebagian dari input proprioseptif berjalan ke korteks serebral melalui lemniskus medial dan talamus. Cerebellum menerima sebagian besar input proprioseptif. (Všetečková, 2017).

4. Manfaat Latihan Keseimbangan Pada Lansia

Mempertahankan stabilitas postur seseorang sebelum, selama, dan setelah gerakan serta sebagai reaksi terhadap gangguan eksternal merupakan komponen penting dari keseimbangan. Ini mengacu pada kapasitas untuk bereaksi dengan cepat dan efektif untuk melakukannya.

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Ketika berpindah dari satu postur ke postur lainnya, keseimbangan diperlukan untuk menjaga posisi dan stabilitas seseorang (Supriyono, 2015).

Keseimbangan, kecepatan, dan koordinasi adalah tiga hal yang paling penting untuk difokuskan pada lansia, tetapi aspek lain juga penting.

Lansia harus berlatih keseimbangan karena membantu mereka menjaga keseimbangan ketika lansia sedang bergerak atau diam.

Latihan keseimbangan sangat penting bagi lansia karena membantu menjaga kestabilan tubuh, yang membantu mencegah jatuh. Mereka juga membantu lansia menjadi mandiri, yang memungkinkan mereka untuk memaksimalkan kemampuan mereka dan menghindari efek yang terjadi sebagai akibat dari ketidakmampuan mereka untuk melakukan hal-hal tertentu. Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dan menghindari jatuh tergantung pada upaya koordinasi otak, otot, dan rangka (Nurkuncoro, 2015).

5. Indikasi Latihan Keseimbangan

Menurut Kisner dan Colby (2012), indikasi dalam melakukan latihan keseimbangan diantaranya :

a. Seseorang yang mengalami bed rest dalam waktu yang lama.

b. Seseorang yang mengalami penurunan keseimbangan statis atau dinamis.

c. Seseorang yang mengalami penurunan kewaspadaan dan reflek.

d. Memiliki masalah muskuloskeletal yaitu penurunan kekuatan, mobilitas sendi, kelenturan dan postur yang buruk.

Dokumen terkait