• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH LATIHAN KESEIMBANGAN UNTUK MENGURANGI RISIKO JATUH PADA LANSIA (LITERATURE REVIEW)

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH LATIHAN KESEIMBANGAN UNTUK MENGURANGI RISIKO JATUH PADA LANSIA (LITERATURE REVIEW)"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH LATIHAN KESEIMBANGAN UNTUK MENGURANGI RISIKO JATUH PADA LANSIA

(LITERATURE REVIEW)

SKRIPSI Oleh

SHERLY ANJELINA 021811040

PROGRAM STUDI D-IV FISIOTERAPI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS BINAWAN

JAKARTA 2022

(2)

PENGARUH LATIHAN KESEIMBANGAN UNTUK MENGURANGI RISIKO JATUH PADA LANSIA

(LITERATURE REVIEW)

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Terapan Fisioterapi

Oleh

Nama : SHERLY ANJELINA NPM :021811040

PROGRAM STUDI D-IV FISIOTERAPI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS BINAWAN

JAKARTA 2022

(3)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

i

(4)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

ii

(5)
(6)
(7)

© Hak Cipta Milik Universitas Binawan Tahun 2015 Hak Cipta Dilindungi Undang- Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh skripsi ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan Universitas Binawan.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh skripsi ini dalam bentuk apa pun tanpa izin Universitas Binawan.

(8)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama Lengkap : Sherly Anjelina Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 24 April 2000

Alamat : Jalan Kamboja No.56 RT 01/ RW 01

Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur

No. Hp : 081218173331

Email : [email protected]

Riwayat Pendidikan

2005 – 2006 : TK Al-Badriyah

2006 – 2012 : SDN Kebon Pala 01 Pagi 2012 – 2015 : SMPN 275 Jakarta 2015 – 2018 : SMA Angkasa 2 Jakarta

2018 – 2022 : D4 Fisioterapi Universitas Binawan

(9)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan Karunia – Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini yang berjudul “Analisa Pengaruh Latihan Keseimbangan Untuk Mengurangi Risiko Jatuh Pada Lansia”. Selama proses penyusunan proposal ini, penulis banyak menerima dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Sehingga proposal ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. Ir. Illah Sailah, MS selaku Rektor Universitas Binawan.

2. Mia Srimiati, S.GZ, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi.

3. Noraeni Arsyad, SST.Ft., M.Pd selaku Ka. Prodi Fisioterapi.

4. Drs. Slamet Sumarno., M.Fis selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktu dan memberikan ilmu kepada penulis.

5. dr. Zeth Boroh., Sp. KO selaku Dosen Pembimbing II dan sekaligus Pembimbing Akademik.

6. Kedua orang tua yang telah membesarkan, mendoakan, serta memberikan dorongan, semangat kepada penulis.

7. Kepada teman – teman Fisioterapi Angkatan 2018 yang telah mensupport dari awal perkuliahan hingga saat ini.

8. Semua pihak yang tidak bisa di sebutkan satu per satu, yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan lindungan-Nya.

(10)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

viii

PENGARUH LATIHAN KESEIMBANGAN UNTUK MENGURANGI RISIKO JATUH PADA LANSIA (LITERATURE REVIEW)

ABSTRAK

Latar Belakang : Jatuh dapat terjadi secara sadar maupun tidak sadar yang dapat menyebabkan seseorang tertunduk dilantai, mendadak terbaring, bahkan dapat menyebabkan seseorang menjadi luka hingga hilang ingatan. Seiring dengan bertambahnya usia, insiden jatuh dilaporkan sangat tinggi pada lansia dengan usia di atas 60 tahun. Faktor yang menyebabkan lansia mudah jatuh diantaranya riwayat jatuh sebelumnya, usia, obat – obatan, gangguan mobilitas, pola jalan, gangguan kognitif, visual, masalah pada ekstremitas bawah, alas kaki, dan lingkungan sekitar.

Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh latihan keseimbangan dalam mengurangi risiko jatuh pada lansia.

Metode : Dua puluh tiga literature yang menggunakan desain studi Randomized Controlled Trial (RCT) dan Quasy Eksperimental Study, menggunakan pengukuran The Time Up and Go Test, Falls Efficacy Scale International (FES – I), Berg Balance Scale, Functional Reach Test, dan Ontario Modified Stratify, .dengan tahun publikasi 10 tahun terakhir (2011 – 2021), latihan keseimbangan, dan mengurangi risiko jatuh pada lansia. Kriteria eksklusi yaitu tidak ada kaitannya dengan pertanyaan dan tujuan penelitian, selain intervensi latihan keseimbangan, tidak dapat mengurangi risiko jatuh, selain desain studi Randomized Controlled Trial (RCT) dan Quasy Eksperimental Study.

Hasil : Berdasarkan dua puluh tiga literature yang terpilih, menunjukkan bahwa latihan keseimbangan terbukti efektif untuk mengurangi risiko jatuh pada lansia, dengan frekuensi 2 – 3x/minggu, dengan durasi 15 – 45 menit.

Kesimpulan : Berdasarkan dua puluh tiga literature yang didapatkan, literature terbanyak yaitu pada tahun ≥ 2018. Desain studi yang terbanyak didapatkan yaitu Randomized Controlled Trial (RCT). Pengukuran yang terbanyak yaitu menggunakan The Time Up and Go Test.

Kata Kunci : Latihan Keseimbangan, risiko jatuh, lansia

(11)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

ix

THE EFFECT OF BALANCE EXERCISE TO REDUCE THE RISK OF FALLS IN THE ELDERLY (LITERATURE REVIEW)

ABSTRACT

Background : Falls can occur consciously or unconsciously which can cause a person to fall on the floor, suddenly lie down, and even cause someone to be injured and lose memory. Along with increasing age, the incidence of falls is reported to be very high in the elderly to fall easily include a history of previous falls, age, medications, impaired mobility, walking patterns, cognitive, visual, disturbances, problems with the lower extremities, footwear, and the surrounding environment.

Objecvtives : To determine the effect of balance exercise in reducing the risk of falls in the elderly.

Methods : Twenty three literatures using Randomized Controlled Trial (RCT) and Quasy Experimental study designs, using measurement of The Time Up and Go Test (TUG), Falls Efficacy Scale International (FES – I), Berg Balance Scale, Functional Reach Test, and Ontario Modified Stratify with 10 years of publication (2011 – 2021), balance xercise, and reducing the risk of falls in the elderly. The exclusion criteria were that it had nothing to do with the research questions and pbjectives, apart from the Randomized Controlled Trial (RCT) and Quasy Experimental Study design.

Results : Based on twenty three selected literatures, it shows that balance exercise are proven to be effective in reducing the risk of falling in the elderly, with a frequency of 2-3x/week, with a duration of 15 – 45 minutes.

Conclusion : based on twenty three literatures obtained, the most literature was in ≥ 2018. The study design that was obtained the most was Randomized Controlled Trial (RCT). The most measurement is using The Time Up and Go Test.

Keywords : Balance Exercise, risk of fall, elderly

(12)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

x DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined.

PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT ... Error! Bookmark not defined.

PERNYATAAN ORISINALITAS... ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA TULIS ... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK... viii

ABSTRACT... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR BAGAN ... xv

DAFTAR SINGKATAN ... xvi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Pertanyaan Penelitian... 3

D. Tujuan Penelitian ... 3

E. Manfaat Penelitian ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

A. Lanjut Usia (Lansia) ... 5

1. Pengertian Lansia ... 5

2. Insiden dan Prevalensi Lansia ... 6

3. Patologi Pada Lansia ... 7

B. Jatuh ... 11

1. Pengertian Jatuh... 11

2. Klasifikasi Jatuh ... 11

3. Insiden dan Prevalensi Jatuh Pada Lansia ... 12

4. Etiologi Jatuh Pada Lansia ... 12

5. Faktor Risiko Jatuh ... 13

(13)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

6 .Upaya Pencegahan dan Penanganan Jatuh Pada Lansia ... 14

7. Problematika berdasarkan Internasional Classification of Functioning, Disability And Health (ICF) pada Lansia... 14

8. Komplikasi Jatuh ... 15

C. Latihan Keseimbangan ... 16

1. Pengertian Latihan Keseimbangan ... 16

2. Latihan Keseimbangan Terhadap Keseimbangan Tubuh ... 16

3. Komponen Pengontrol Keseimbangan ... 17

4. Manfaat Latihan Keseimbangan Pada Lansia ... 19

5. Indikasi Latihan Keseimbangan ... 20

D. Dosis Latihan Keseimbangan Pada Lansia ... 20

E. Gerakan Latihan Keseimbangan ... 21

F. Alat Ukur Risiko Jatuh ... 26

1. The Time Up and Go Test (TUG) ... 26

2. Ontario Modified Stratify ... 28

3. Falls Efficacy Scale International (FES – I) ... 30

4. Berg Balance Scale (BBS) ... 32

5. Functional Reach Test (FRT) ... 37

G. Kerangka Konsep ... 38

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

A. Desain Penelitian ... 40

B. Strategi Pencarian Literature ... 40

1. Database Pencarian ... 40

2. Kata Kunci ... 41

C. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 42

D. Analisa Data ... 43

E. Etika Penelitian ... 43

G. Hasil yang diharapkan ... 43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 44

A. Hasil Pencarian ... 44

B. Karakteristik Studi ... 44

C. Intervensi ... 44

D. Outcome / Pengukuran ... 44

E. PRISMA Flowchart ... 45

F. Pembahasan ... 53

(14)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 56

A. Kesimpulan ... 56

B. Saran ... 56

Daftar Pustaka ... 58

LAMPIRAN ... 63

(15)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 One Leg Balance ... 22

Gambar 2. 2 Tandem Walking ... 22

Gambar 2. 3 Tandem Standing ... 23

Gambar 2. 4 Sideways Walking... 24

Gambar 2. 5 Sit to Stand ... 24

Gambar 2. 6 Calf Raise ... 25

Gambar 2. 7 Plantar Flexi ... 25

Gambar 2. 8 The Time Up and Go Test ... 28

Gambar 2. 9 Functional Reach Test ... 38

(16)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Klasifikasi Lansia (WHO, 2013) ... 5

Tabel 2. 2 Klasifikasi Lansia (Depkes RI, 2013) ... 6

Tabel 2. 3 Kategori Umur (Depkes RI, 2009) ... 6

Tabel 2. 4 Interpretasi TUG Usia 50 – 59 Tahun ... 26

Tabel 2. 5 Interpretasi TUG Usia 60 – 74 Tahun ... 27

Tabel 2. 6 Interpretasi TUG Usia 75 – 89 Tahun ... 27

Tabel 2. 7 Ontario Modified Stratify ... 29

Tabel 2. 8 Falls Efficacy Scale International (FES – I) ... 32

Tabel 2. 9 Berg Balance Scale ... 37

(17)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

xv

DAFTAR BAGAN

Bagan 2. 1 Kerangka Konsep... 39 Bagan 2. 2 Diagram flow literature review ... 45

(18)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

xvi

DAFTAR SINGKATAN

Lansia : Lanjut usia

WHO : World Health Organization TUG : The Time Up and Go Test

FES – I : Falls Efficacy Scale International BBS : Berg Balance Scale

FRT : Functional Reach Test RCT : Randomized Controlled Trial

(19)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

1 BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penuaan adalah hilangnya kapasitas jaringan secara bertahap untuk menyembuhkan dirinya sendiri dan mempertahankan fungsi normal, membuatnya tidak mampu bertahan dari infeksi dan memperbaiki kerusakan.

Tubuh mencapai yang terbaik antara usia 20 hingga 30 tahun. Setelah mencapai puncaknya, fungsi tubuh akan tetap stabil untuk sementara waktu dan kemudian memburuk secara progresif seiring bertambahnya usia.

Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dianggap lansia. Kelompok usia lanjut usia telah mencapai akhir siklus hidupnya. Populasi ini tergolong tua dan akan mengalami proses menua (WHO, 2013).

Hingga saat ini, jumlah lansia di dunia telah mencapai 500 juta orang dengan usia rata-rata 60 tahun. Menurut WHO, pada tahun 2025, jumlah lansia di dunia akan mencapai 1,2 miliar dan terus meningkat menjadi 2 miliar pada tahun 2050. WHO memperkirakan 75% populasi lansia akan berada di negara berkembang pada tahun 2025, dan setengahnya akan berada di Asia. Sejak tahun 2015, Asia dan Indonesia telah memasuki era penuaan penduduk (aging population), ketika jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas (penduduk lansia) melebihi 7%.

Penurunan keseimbangan, penurunan kekuatan otot pada tungkai bawah, cara berjalan yang lemah, penglihatan menurun, pendengaran menurun, dan risiko jatuh adalah masalah yang mempengaruhi lansia. Jatuh adalah kejadian yang menyebabkan seseorang berbaring di lantai atau di tempat yang rendah, baik disengaja maupun tidak disengaja (Weinberg, J et al, 2011). Usia dapat meningkatkan tingkat jatuh hingga 60%. Lebih dari 33%

orang dewasa di atas 65 tahun jatuh setidaknya sekali setiap tahun, dan 50%

dari mereka jatuh berulang. Penurunan keseimbangan dan gangguan kognitif yang berkaitan dengan usia adalah variabel intrinsik yang berkontribusi

(20)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan terhadap risiko jatuh. Penurunan yang dialami lansia akan menimbulkan bahaya seperti hilangnya rasa percaya diri dalam melakukan tugas sehari-hari dan kemungkinan terjatuh. Latihan keseimbangan adalah latihan fisik yang dilakukan untuk meningkatkan stabilitas tubuh dengan memperkuat kekuatan otot ekstremitas bawah. Latihan keseimbangan sangat penting untuk lansia karena membantu menjaga keseimbangan tubuh dan mencegah jatuh. Tujuan dari latihan keseimbangan untuk lansia adalah untuk meningkatkan kapasitas mereka untuk menghindari konsekuensi dari gangguan mereka. Otak, otot, dan tulang bekerja sama untuk menjaga keseimbangan tubuh agar tidak jatuh dan menjaga keseimbangan (Nurul, Mujiadi, 2019).

Memberikan latihan keseimbangan pada lansia, dapat menurunkan kemungkinan mereka jatuh. Latihan keseimbangan dapat dilakukan tiga kali setiap minggu selama 12 minggu (Gschwind et al, 2013).

Dengan menurunkan faktor risiko jatuh dan meningkatkan aktivitas fisik pada lansia, latihan keseimbangan bermanfaat dalam menghindari jatuh pada lansia (Mittaz et al, 2019).

Lansia dapat menurunkan kemungkinan jatuh dengan latihan keseimbangan. Latihan keseimbangan dapat dilakukan dua kali dalam seminggu (Mujiadi, Nurul Mawaddah, 2019).

Latihan keseimbangan dapat meminimalkan kemungkinan jatuh pada lansia yang menerima intervensi 3 minggu. Latihan keseimbangan adalah rangkaian gerakan yang dirancang untuk meningkatkan keseimbangan statis dan dinamis pada lansia (Maria Widagdo, Rambat Sambudi, 2021).

B. Rumusan Masalah

Jatuh merupakan masalah kesehatan utama yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pada lansia. Pada lansia dengan usia > 64 tahun, sekitar 28 – 35% jatuh setiap tahun dan frekuensi jatuh akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi lansia untuk jatuh antara lain riwayat jatuh, usia, obat – obatan, gangguan mobilitas, pola jalan, gangguan kognitif, gangguan penglihatan, masalah pada ekstremitas

(21)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan bawah, lingkungan (cahaya, lantai, permukaan yang tidak rata), dan alas kaki.

Salah satu upaya untuk mengurangi risiko jatuh pada lansia yaitu dengan diberikan latihan keseimbangan. Dengan diberikan latihan keseimbangan dapat meningkatkan keseimbangan tubuh, mengurangi jatuh, dan meningkatkan kekuatan pada esktremitas bawah

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana manfaat intervensi latihan keseimbangan dalam mengurangi risiko jatuh pada lansia ?

2. Apakah dampak intervensi latihan keseimbangan terhadap mengurangi risiko jatuh pada lansia ?

D. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk menganalisa pengaruh latihan keseimbangan dalam mengurangi risiko jatuh pada lansia.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk menganalisa pengaruh latihan keseimbangan dalam mengurangi risiko jatuh pada lansia berdasarkan metode pengukuran.

b. Untuk menganalisa pengaruh latihan keseimbangan dalam mengurangi risiko jatuh pada lansia berdasarkan jenis latihan keseimbangan.

E. Manfaat Penelitian 1. Bagi akademis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh latihan keseimbangan untuk mengurangi risiko jatuh pada lansia.

2. Bagi masyarakat

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada masyarakat mengenai latihan keseimbangan pada lansia.

3. Bagi peneliti

(22)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Penelitian ini diharapkan mampu menambah informasi mengenai latihan keseimbangan pada lansia dan untuk mengetahui pengaruh latihan keseimbangan untuk mengurangi risiko jatuh pada lansia.

(23)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Lanjut Usia (Lansia) 1. Pengertian Lansia

Lansia adalah mereka yang berusia 60 tahun atau lebih (WHO, 2013).

Lansia mengacu pada pria atau wanita berusia 60 tahun atau lebih yang masih aktif bekerja atau tidak dapat mencari nafkah dan karenanya bergantung pada orang lain untuk mendapatkan bantuan (Tamher, 2009).

Lansia adalah seseorang yang berusia di atas 60 tahun yang tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya sendiri (Ratnawati, 2017).

a. Klasifikasi Lansia

Klasifikasi lansia adalah sebagai berikut (WHO, 2013) :

Klasifikasi Lansia Usia

Usia pertengahan (middle age) 45 – 54 tahun Lansia (elderly) 55 – 65 tahun Lansia muda (young old) 66 – 74 tahun Lansia tua (old) 75 – 90 tahun Lansia sangat tua (very old) > 90 tahun

Tabel 2. 1 Klasifikasi Lansia (WHO, 2013)

Klasifikasi lansia terdiri dari (Depkes RI, 2013) :

Klasifikasi Lansia Usia

Pra lansia 45 – 59 tahun

Lansia ≥ 60 tahun

Lansia risiko tinggi ≥ 60 tahun Disertai gangguan pada

kesehatan

(24)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Lansia potensial Lansia yang masih mampu

melakukan pekerjaan yang dapat menghasilkan barang dan jasa Lansia tidak potensial Lansia yang tidak berdaya

mencari nafkah, sehingga kehidupannya bergantung pada

orang lain Tabel 2. 2 Klasifikasi Lansia (Depkes RI, 2013)

Kategori umur adalah sebagai berikut (Depkes RI, 2009) :

Masa Usia

Balita 0 – 5 tahun

Kanak - kanak 5 – 11 tahun

Remaja awal 12 – 16 tahun

Remaja akhir 17 – 25 tahun

Dewasa awal 26 – 35 tahun

Dewasa akhir 36 – 45 tahun

Lansia awal 46 – 55 tahun

Lansia akhir 56 – 65 tahun

Manula > 65 tahun

Tabel 2. 3 Kategori Umur (Depkes RI, 2009)

2. Insiden dan Prevalensi Lansia

Baik di negara-negara industri dan negara berkembang, populasi lansia bertambah dengan cepat. Hal ini disebabkan oleh penurunan tingkat kelahiran dan kematian, serta peningkatan harapan hidup (life expectancy), yang mengubah struktur penduduk secara keseluruhan.

Menurut Kementerian Kesehatan (2019), Indonesia memasuki masa penuaan penduduk yang ditandai dengan peningkatan rata-rata usia harapan hidup dan peningkatan jumlah lansia. Di Indonesia, penduduk lansia meningkat dari 18 juta orang (7,56%) pada tahun 2010 menjadi 25,9 juta orang (9,7%) pada tahun 2019 dan diproyeksikan mencapai 48,2 juta orang (15,77%) pada tahun 2035. Peningkatan populasi lansia di masa mendatang mungkin akan terjadi baik efek menguntungkan maupun efek buruk. Jika populasi lansia yang sehat, produktif, dan aktif, ini akan memiliki efek yang menguntungkan. Namun, peningkatan jumlah lansia

(25)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan dengan masalah kesehatan akan berdampak buruk bagi masyarakat (Kementerian Kesehatan, 2017).

Kesehatan fisik, mental, dan sosial yang memungkinkan seseorang menjalani kehidupan yang bermanfaat secara sosial dan ekonomi. (Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009).

3. Patologi Pada Lansia

Proses penuaan tidak dapat dicegah dan pasti akan dialami oleh setiap orang. Proses penuaan adalah melambatnya metabolisme seseorang.

Kapasitas fisik seseorang menurun seiring bertambahnya usia, menyebabkan mereka menghadapi kemunduran dalam aspek biologis, fisiologis, lingkungan, psikologis, perilaku, dan sosial.

Proses penuaan pada lansia dapat dipengaruhi oleh berbagai aspek diantaranya perbaikan gizi, sanitasi, pelayanan kesehatan, hingga peningkatan pendidikan dan status sosial ekonomi yang menjadi lebih baik.

a. Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia

Proses penuaan terjadi secara degeneratif yang akan membuat perubahan pada manusia seiring bertambahnya usia, dan proses ini akan terjadi seiring dengan bertambahnya usia. Menurut Ajar (2017), perubahan berikut terjadi pada lansia:

1) Perubahan Fisik a) Sel

Perubahan struktur sel, termasuk pengurangan jumlah sel, peningkatan ukuran rata-rata sel, pengurangan proporsi protein yang ditemukan di otak, otot, ginjal, dan hati, pengurangan jumlah total sel otak, dan gangguan pada mekanisme yang bertanggung jawab untuk perbaikan sel-sel otak yang rusak.

b) Sistem Persyarafan

(26)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Perubahan fisik pada sistem persyarafan yaitu respon menjadi lambat dan hubungan antar saraf berkurang, berat otak berkurang sebesar 10 - 20%, saraf sensorik menyempit yang menyebabkan penurunan respon penglihatan dan pendengaran, mengecilnya saraf penciuman dan perasa, lebih sensitive terhadap suhu, kurang tahan terhadap dingin, kurang sensitif terhadap sentuhan.

c) Sistem Penglihatan

Perubahan fisik dalam sistem visual termasuk penurunan ketajaman dan kekuatan visual, penggelapan lensa, yang dapat menyebabkan katarak, sklerosis pada pupil, dan penurunan kemampuan untuk membedakan warna.

d) Sistem Pendengaran

Perubahan fisik pada sistem pendengaran, yaitu penurunan gangguan pendengaran, terutama yang berkaitan dengan suara bernada tinggi, suara tidak jelas, dan kesulitan memahami kata- kata. Di atas usia 65 tahun, otosklerosis yang disebabkan oleh penyusutan membran timpani mempengaruhi sebanyak 50%.

e) Sistem Kardiovaskuler

Perubahan dalam sistem kardiovaskular, seperti kapasitas jantung berkurang hingga 1% setiap tahun, menyebabkan katup jantung menjadi tebal dan kaku, mengakibatkan hilangnya sensitivitas dan fleksibilitas dalam arteri darah. Terjadi penurunan efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, seperti pada saat transisi dari posisi tidur ke duduk atau berdiri, sehingga terjadi penurunan tekanan darah menjadi 65 mmHg dan peningkatan tekanan darah akibat peningkatan pembuluh darah perifer.

f) Sistem Respirasi

Perubahan fisik pada sistem pernapasan yaitu hilangnya kelenturan pada paru-paru menyebabkan peningkatan kapasitas

(27)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan residu, yang dapat mengakibatkan pernapasan lebih berat, penurunan kapasitas pernapasan maksimal, dan penurunan kedalaman pernapasan. Selain itu, kapasitas batuk berkurang (aktivitas silia lebih rendah), kadar O2 arteri turun menjadi 75 mmHg, sementara kadar CO2 arteri tetap stabil.

g) Sistem Gastrointestinal

Perubahan pada sistem gastrointestinal, antara lain kehilangan gigi, berkurangnya kepekaan terhadap sensasi pengecap, pelebaran esofagus, nafsu makan menurun, asam lambung menurun, peristaltik melemah, konstipasi, dan penurunan fungsi absorpsi.

h) Sistem Urinaria

Perubahan fisik pada sistem kemih meliputi penurunan kekuatan otot dan kapasitas kandung kemih hingga 200 mg, peningkatan frekuensi urin, dan, pada wanita, atrofi vulva, selaput lendir kering, berkurangnya fleksibilitas jaringan, dan atrofi vulva. penurunan frekuensi seks sekunder.

i) Sistem Endokrin

Perubahan pada sistem endokrin meliputi penurunan sintesis sebagian besar hormon (ACTH, TSH, FSH, dan LH) dan penurunan pelepasan hormon seks termasuk estrogen, progesteron, dan testosteron.

j) Sistem Kulit

Kerutan yang dihasilkan oleh hilangnya keratinisasi dan hilangnya jaringan adiposa, hilangnya elastisitas karena berkurangnya cairan dan pembuluh darah, kuku menjadi keras dan rapuh, kelenjar keringat berkurang dalam jumlah dan fungsinya, dan perubahan struktur selubung sel epidermis.

k) Sitem Muskuloskeletal

Perubahan sistem muskuloskeletal antara lain tulang menjadi rapuh, tulang kehilangan cairan, kifosis, penipisan dan

(28)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan pemendekan tulang, persendian kaku dan membesar, tendon mengecil dan mengalami sklerosis, atrofi serabut otot menyebabkan gerakan menjadi lamban, dan otot mudah kram dan gemetar.

2) Perubahan Psikososial a) Kesepian

Ketika pasangan atau teman dekat meninggal, lansia dapat menderita kesepian, terutama jika kesehatan mereka memburuk, seperti penyakit fisik yang serius, mobilitas terbatas, atau masalah sensorik, terutama gangguan pendengaran.

b) Duka cita (Bereavement)

Duka cita adalah respons alami terhadap kehilangan orang yang dicintai, apakah itu pasangan, teman dekat, atau bahkan hewan peliharaan. Hambatan emosional yang halus dari lansia dapat dengan mudah dilanggar oleh kesedihan. Hal ini dapat menyebabkan berbagai kesulitan fisik serta masalah kesehatan.

c) Depresi

Depresi yang berlangsung lama dapat menyebabkan perasaan hampa, diikuti oleh keinginan untuk menangis, dan akhirnya depresi. Stres lingkungan dan kapasitas adaptasi yang berkurang adalah dua pemicu potensial lain dari depresi.

d) Gangguan cemas

Gangguan kecemasan diklasifikasikan sebagai fobia, gangguan panik, gangguan kecemasan, gangguan stres pasca trauma, dan gangguan obsesif-kompulsif. Gangguan ini merupakan kelanjutan dari masa dewasa dan berhubungan dengan penyakit medis, depresi, efek samping farmakologis, atau gejala penghentian obat secara mendadak.

e) Parafrenia

(29)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Lansia sering mencurigai tetangga mereka mencuri barang- barang mereka atau berencana untuk membunuh mereka karena semacam skizofrenia yang ditandai dengan kecurigaan.

Biasanya mempengaruhi lansia yang menarik diri dari kegiatan sosial.

f) Sindroma Diogenes

Penyakit yang dikenal sebagai sindrom Diogenes ditandai dengan timbulnya perilaku yang sangat meresahkan pada lansia. Sama kotor dan menjijikkan seperti kamar atau tempat tinggal di mana lansia bermain dengan urin dan kotoran mereka.

Bahkan setelah dibersihkan, masalah dapat muncul kembali.

B. Jatuh

1. Pengertian Jatuh

Jatuh adalah kejadian yang disengaja atau tidak disengaja yang dapat menyebabkan seseorang jatuh ke tanah atau ke lokasi yang rendah (Weinberg, J et al, 2011). Jatuh dapat terjadi secara sadar atau tidak sengaja, dan kejadian ini menyebabkan seseorang jatuh ke lantai, tiba-tiba rebahan, sehingga mengakibatkan hilang ingatan dan cedera (Kusumawaty, 2018).

Risiko jatuh adalah kemungkinan jatuh yang lebih besar, yang dapat mengakibatkan cedera tubuh. Lansia rentan jatuh karena beberapa bahaya yang dapat dikategorikan menjadi dua kategori yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik meliputi penyakit muskuloskeletal, sedangkan faktor ekstrinsik berasal dari lingkungan (Utami, 2017).

2. Klasifikasi Jatuh

Menurut Morse (2009) dalam Wilson, 1998), jatuh dapat diklasifikasikan menjadi beberapa, yaitu :

a. Accidental Falls

(30)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Penyebab utama accidental falls adalah lingkungan yang berbahaya, seperti penerangan yang tidak memadai, lantai yang licin, dan permukaan lantai yang tidak rata. Kecelakaan jatuh juga dapat disebabkan oleh kurangnya sarana dan prasarana rumah sakit, seperti lantai toilet yang licin, tidak tersedianya alat bantu jalan pasien (pegangan tangan), dan tempat tidur yang tinggi.

b. Anticipated physiological falls

Anticipated physiological falls adalah kejadian jatuh yang disebabkan oleh kondisi medis pasien. Sekitar 78% dari jatuh adalah hasil dari faktor fisiologis diprediksi. Meningkatkan kekuatan otot pada tungkai bawah dan meningkatkan keseimbangan berjalan adalah tindakan pencegahan. Lansia rentan jatuh ketika pasien membutuhkan bantuan berjalan karena kelemahan otot ekstremitas bawah, pasien pasca operasi, atau cedera pada tungkai bawah. Faktor-faktor yang memicu terjadinya jatuh seperti riwayat jatuh, cara berjalan yang buruk, dan kurangnya rasa aman saat menuju ke kamar kecil tanpa kehadiran keluarga atau staf medis.

3. Insiden dan Prevalensi Jatuh Pada Lansia

Jatuh merupakan 49,4% dari semua cedera yang diderita oleh orang berusia di atas 55 tahun di Indonesia, dan 67,1% dari semua cedera yang diderita oleh orang yang berusia di atas 65 tahun di negara ini. Ketika seseorang berusia di atas 75 tahun, risiko jatuh meningkat menjadi 35%, naik dari 25% saat berusia 70 tahun (Stanley dan Patricia, 2012).

4. Etiologi Jatuh Pada Lansia

Penyebab jatuh pada lansia dapat berupa penurunan penglihatan dan pendengaran, kondisi medis yang serius, rasa takut jatuh, riwayat jatuh, dan disorientasi lingkungan. Penurunan keseimbangan dan penurunan kekuatan otot ekstremitas bawah, yang ditandai dengan kelemahan fisik dan gaya

(31)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan berjalan yang lemah, gangguan pada ekstremitas bawah (kaki), penggunaan alas kaki yang tidak nyaman, penurunan penglihatan dan pendengaran, kondisi medis yang serius, dan masalah medis juga dapat menyebabkan jatuh (Willians, Perry, & Watkins, 2010).

Jatuh dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti (R. J. Mitchell et al., 2014) :

a. Lingkungan, seperti pencahayaan yang kurang, karpet yang terlipat, dan kamar mandi tanpa adanya pegangan tangan;

b. Penggunaan obat-obatan, seperti antidepresan, obat tidur, dan obat hipnotik;

c. Kondisi kesehatan seseorang; dan

d. Kurangnya kebutuhan nutrisi yang dapat menyebabkan kelemahan fisik.

5. Faktor Risiko Jatuh

Faktor risiko jatuh dibagi menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik, yaitu (Julimar, 2018) :

a. Faktor Intrinsik

Unsur intrinsik atau psikologis adalah faktor yang berasal dari individu. Riwayat jatuh berhubungan erat dengan peningkatan risiko jatuh karena faktor intrinsik. Mereka yang lebih tua dari 65 dan lebih muda dari 2 tahun memiliki peluang lebih besar untuk jatuh, memiliki komorbiditas tambahan, memasang jalur intravena, dan menggunakan bantuan berjalan (misalnya, pasien tergantung pada furnitur, menggunakan tongkat / alat bantu jalan / kruk, atau tidak menggunakan alat bantu jalan). Namun, istirahat di tempat tidur diperlukan, kapasitas berjalan pasien berkurang (karena gangguan yang membuatnya tidak dapat bergerak), kondisi mental, kurangnya mobilitas fisik (misalnya, berjalan membutuhkan bantuan orang lain), dan penglihatan terganggu.

b. Faktor Ekstrinsik

(32)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Faktor ekstrinsik adalah elemen lingkungan yang meningkatkan kemungkinan jatuh. Lingkungan merupakan salah satu unsur yang dapat mempengaruhi risiko jatuh, yang juga meliputi:

1) Pencahayaan yang kurang.

2) Lantai yang licin.

3) Kondisi lantai yang tidak rata.

4) Sarana yang tidak memadai.

6. Upaya Pencegahan dan Penanganan Jatuh Pada Lansia

Mencegah dan mengobati jatuh merupakan tindakan awal yang harus ditangani. Langkah-langkah berikut digunakan untuk mencegah dan mengobati jatuh pada lansia :

a. Memberikan edukasi kepada keluarga atau masyarakat melalui kegiatan pendidikan kesehatan dengan tujuan mengidentifikasi faktor risiko jatuh dan mengevaluasi keseimbangan dan gaya berjalan.

b. Latihan Keseimbangan

Dengan melakukan latihan keseimbangan, dimungkinkan untuk meningkatkan stabilitas tubuh, membangun kekuatan otot pada tungkai bawah, dan menjaga tubuh agar tidak jatuh.

c. Memperbaiki kondisi lingkungan yang tidak aman.

Dengan memperbaiki keadaan lingkungan yang berbahaya, bertujuan untuk mengurangi tingkat jatuh di antara lansia dengan menciptakan suasana yang aman bagi lansia.

7. Problematika berdasarkan Internasional Classification of Functioning, Disability And Health (ICF) pada Lansia

a. Body Structure and Function Impairments

Body Structure and Function Impairments adalah masalah atau gangguan pada struktur dan fungsi tubuh (WHO, 2001).

Adapun body structure and function impairments pada lansia yaitu :

(33)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan 1) Menurunnya keseimbangan pada lansia.

2) Menurunnya penglihatan pada lansia.

3) Menurunnya pendengaran pada lansia.

4) Menurunnya kekuatan otot ekstremitas bawah pada lansia.

b. Activity Limitations

Activity Limitations adalah kesulitan yang dialami oleh seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari (WHO, 2001).

Adapun activity limitations pada lansia yaitu : 1) Kesulitan saat naik turun tangga

2) Kesulitan saat duduk ke berdiri

3) Kesulitan saat berjalan di permukaan yang tidak rata 4) Kesulitan saat menunduk ke berdiri

c. Participation Restrictions

Participation Restrictions adalah masalah yang dialami oleh seseorang dalam melibatkan diri pada situasi kehidupan (WHO, 2001). Adapun participation restriction pada lansia yaitu :

1) Ketidakpercayaan diri dalam melakukan aktivitas sehari – hari.

2) Kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari – hari.

3) Meningkatnya risiko jatuh.

8. Komplikasi Jatuh a. Cedera

Cedera menyebabkan kerusakan jaringan lunak yang menyebabkan ketidaknyamanan, seperti robek atau tarikan jaringan otot, robeknya arteri atau vena, dan patah tulang di panggul, tulang paha, dan humerus, misalnya.

b. Disabilitas

Disabilitas menyebabkan mobilitas berkurang karena terapi fisik dan jatuh, mengakibatkan hilangnya kepercayaan diri dan gerakan terbatas.

c. Kematian

(34)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan C. Latihan Keseimbangan

1. Pengertian Latihan Keseimbangan

Latihan keseimbangan adalah suatu kegiatan yang berupaya meningkatkan kekuatan otot tungkai bawah dan sistem vestibular serta keseimbangan tubuh (Jowir, 2012). Latihan keseimbangan adalah serangkaian latihan peregangan dan penguatan yang dirancang untuk meningkatkan keseimbangan statis dan dinamis (Kloos & Heiss dalam Masitoh, 2013).

Keseimbangan adalah kapasitas untuk mempertahankan stabilitas postural sebelum, selama, dan setelah gerakan, dan sebagai reaksi terhadap gangguan eksternal, dengan kecepatan dan efisiensi. Keseimbangan diperlukan untuk menjaga posisi dan stabilitas saat bepergian dari satu lokasi ke lokasi lain. Keseimbangan akan mengganggu tugas rutin jika anda mengabaikannya. Ada dua jenis keseimbangan yaitu keseimbangan statis dan keseimbangan dinamis. Keseimbangan statis adalah kemampuan untuk menahan postur tanpa gerakan, seperti saat duduk atau berdiri. Tidak seperti keseimbangan statis, keseimbangan dinamis mencakup kontrol tubuh saat tubuh bergerak, seperti dari posisi duduk ke posisi berdiri (Supriyano, 2015).

2. Latihan Keseimbangan Terhadap Keseimbangan Tubuh

Reseptor sensorik perifer dari sistem okular, vestibular, dan proprioseptif memberikan informasi kepada lansia tentang posisi tubuh relatif terhadap keadaan lingkungan sekitarnya, yang diperlukan untuk menjaga keseimbangan tubuh. Reseptor vestibular memiliki dampak terbesar dalam menjaga keseimbangan, diikuti oleh reseptor okular dan proprioseptif.

Lingkungan sekitar lansia stabil atau tidak stabil. Keadaan-keadaan yang dapat menghasilkan kondisi lingkungan yang tidak stabil, seperti

(35)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan pergerakan barang yang cepat, permukaan lantai yang bergerak, permukaan pasir, dan busa, termasuk pergerakan objek yang cepat, permukaan lantai yang bergerak, permukaan pasir, dan sebagainya.

Lingkungan yang tidak stabil ini memerlukan lebih banyak kontrol postural untuk lansia.

Latihan keseimbangan adalah rangkaian gerakan yang dilakukan untuk meningkatkan keseimbangan postural dinamis dan statis (Kloss & Heiss, 2007 seperti dikutip dalam Masitoh, 2013) untuk membantu otak dalam merespon perubahan sinyal (kalibrasi ulang) agar otak dapat beradaptasi secara otomatis yang dikenal sebagai central compensation (Kaesler dalam Masitoh, 2013).

3. Komponen Pengontrol Keseimbangan

Keseimbangan menggambarkan dinamika postur tubuh untuk mencegah gerak yang tidak stabil. Keseimbangan terpengaruh dari panca indra yang terdapat pada tubuh manusia. Hasil dari keseimbangan adalah stabilisasi. Stabilisasi integrasi sensoris sebagai istilah melibatkan seperti visual, vestibular, dan somatosensoris (tactile & proprioceptive).

Stabilisasi adalah titik awal yang penting untuk setiap gerak dan manipulasi (Všetečková, 2017).

a. Visual

Visual adalah kontributor penting untuk keseimbangan karena memberikan informasi tentang lingkungan, posisi, arah, dan jarak gerakan seseorang, serta kecepatan di mana mereka bergerak. Karena banyak dari refleks postural sistem vestibular juga dapat diaktifkan oleh rangsangan atau penglihatan, refleks ini dapat membantu mengkompensasi beberapa fungsi vestibular yang telah hilang. Di sisi lain, sebagian besar lansia mengalami penurunan penglihatan, yang menyebabkan mereka kurang mendeteksi informasi atau informasi yang terdistorsi. Sebagai konsekuensi langsung dari ini, ketajaman visual seseorang memburuk. Memiliki korelasi positif dengan jumlah

(36)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan lansia yang jatuh. Seiring bertambahnya usia, seseorang sering kehilangan kemampuan keseimbangan pada mata yang akan membantu agar tetap fokus pada titik utama untuk mempertahankan serta sebagai monitor tubuh selama melakukan gerak statik atau dinamik (Všetečková, 2017).

b. Vestibular

Sistem vestibular adalah sistem reseptor yang terletak di telinga bagian dalam dan memberikan informasi mengenai gerakan kepala dan gerakan mata. Informasi ini disediakan oleh sistem vestibular. Hal ini dimungkinkan untuk melihat arah dan kecepatan gerakan kepala berkat sistem vestibular, yang digabungkan dengan sistem visual dan pendengaran. Nukleus vestibular diberi informasi dari formasi (fusi retikuler), otak kecil, dan labirin reseptor. Nukleus vestibular mengirimkan outputnya ke sumsum tulang belakang, yang kemudian mengirimkannya ke neuron motorik. Terutama, nukleus vestibular mengirimkan outputnya ke neuron motorik yang mempersarafi otot proksimal, gabungan otot di leher, dan otot punggung (otot postural).

Karena seberapa cepat reaksinya, sistem vestibular mampu membantu dalam pemeliharaan keseimbangan tubuh dengan mengerahkan kontrol atas otot-otot postural (Watson & Black, 2008). Vertigo dan kelainan keseimbangan lainnya dapat disebabkan oleh masalah fungsi vestibular. (Všetečková, 2017).

Mampu mengatur gerakan mata, terutama saat menatap benda- benda yang bergerak, berkat refleks yang disebut refleks vestibulo- okular. Setelah itu, informasi tersebut dikirim ke nukleus vestibular, yang terletak di batang otak, melalui saraf kranial VIII (Asosiasi gangguan vestibular). Neuron vestibular berkurang baik dalam jumlah dan ukuran serat saraf dengan penuaan, dimulai pada usia sekitar 40 tahun. Orang di atas usia 70 tahun, mungkin telah kehilangan 40% dari sel sensorik dalam sistem vestibular. Dengan penuaan yang lebih lanjut,

(37)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan sensitivitas reseptor perifer sistem vestibular berkurang (Všetečková, 2017).

c. Senmatosensoris

Sistem ini sangat penting untuk keseimbangan dan kontrol motor, menyediakan informasi yang berkaitan dengan kontak tubuh dan posisi. Ini termasuk reseptor kulit yang memberikan informasi tentang sentuhan, getaran dan reseptor otot yang memberikan informasi tentang posisi tungkai dan tubuh. Reseptor otot juga memberi sinyal perubahan posisi tungkai dan tubuh. Kontrol gerakan bergantung pada informasi yang konstan dan akurat dari sistem somatosensori. Reseptor kulit memberi sinyal ketika rangsangan mekanis diterapkan ke permukaan tubuh. Jadi ketika kulit dikontakkan dan terjadi perubahan tekanan pada kulit, impuls saraf diarahkan ke pusat. Individu normal sering mengalami hilangnya reseptor ini ketika mereka duduk dalam posisi yang sama dalam waktu yang lama, membatasi suplai darah ke tungkai bawah. Sensasi kulit mulai kurang sensitif karena penuaan.

(Všetečková, 2017).

Sistem somatosensori adalah sistem sensorik yang menghasilkan sensasi seperti sentuhan, suhu, proprioception (posisi tubuh), dan nosiseptif. Ini terdiri dari reseptor dan pusat pemrosesan (nyeri). Kolom dorsal sumsum tulang belakang bertanggung jawab untuk transmisi informasi proprioseptif ke otak. Namun, sebagian dari input proprioseptif berjalan ke korteks serebral melalui lemniskus medial dan talamus. Cerebellum menerima sebagian besar input proprioseptif. (Všetečková, 2017).

4. Manfaat Latihan Keseimbangan Pada Lansia

Mempertahankan stabilitas postur seseorang sebelum, selama, dan setelah gerakan serta sebagai reaksi terhadap gangguan eksternal merupakan komponen penting dari keseimbangan. Ini mengacu pada kapasitas untuk bereaksi dengan cepat dan efektif untuk melakukannya.

(38)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Ketika berpindah dari satu postur ke postur lainnya, keseimbangan diperlukan untuk menjaga posisi dan stabilitas seseorang (Supriyono, 2015).

Keseimbangan, kecepatan, dan koordinasi adalah tiga hal yang paling penting untuk difokuskan pada lansia, tetapi aspek lain juga penting.

Lansia harus berlatih keseimbangan karena membantu mereka menjaga keseimbangan ketika lansia sedang bergerak atau diam.

Latihan keseimbangan sangat penting bagi lansia karena membantu menjaga kestabilan tubuh, yang membantu mencegah jatuh. Mereka juga membantu lansia menjadi mandiri, yang memungkinkan mereka untuk memaksimalkan kemampuan mereka dan menghindari efek yang terjadi sebagai akibat dari ketidakmampuan mereka untuk melakukan hal-hal tertentu. Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dan menghindari jatuh tergantung pada upaya koordinasi otak, otot, dan rangka (Nurkuncoro, 2015).

5. Indikasi Latihan Keseimbangan

Menurut Kisner dan Colby (2012), indikasi dalam melakukan latihan keseimbangan diantaranya :

a. Seseorang yang mengalami bed rest dalam waktu yang lama.

b. Seseorang yang mengalami penurunan keseimbangan statis atau dinamis.

c. Seseorang yang mengalami penurunan kewaspadaan dan reflek.

d. Memiliki masalah muskuloskeletal yaitu penurunan kekuatan, mobilitas sendi, kelenturan dan postur yang buruk.

D. Dosis Latihan Keseimbangan Pada Lansia

Dalam melakukan latihan keseimbangan pada lansia dibutuhkan dosis yang tepat agar tidak terjadi efek berlebih yang tidak baik bagi tubuh. Adapun dosis latihan keseimbangan pada lansia diantaranya yaitu :

(39)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan 1. Frekuensi Latihan

Frekuensi latihan adalah jumlah tatap muka latihan yang dilakukan dalam satu minggu. Dalam melakukan latihan keseimbangan, dapat dilakukan sebanyak 2 – 3x/minggu.

2. Intensitas Latihan

Intensitas latihan adalah jumlah kekuatan fisik, yang dinyatakan sebagai presentase maksimum yang digunakan tubuh dalam melakukan suatu aktivitas. Dalam melakukan latihan keseimbangan menggunakan intensitas latihan rendah.

3. Waktu Latihan

Waktu latihan adalah ukuran yang menunjukkan lamanya waktu latihan. Dalam melakukan latihan keseimbangan dapat dilakukan selama 30 menit.

4. Tipe Latihan

Tipe latihan yang dilakukan yaitu latihan keseimbangan.

E. Gerakan Latihan Keseimbangan a. One Leg Balance

Latihan ini dilakukan dengan cara :

- Mengangkat kaki untuk berdiri dengan satu kaki.

- Kemudian kaki yang lainnya tetap menumpu pada lantai.

- Ulangi pada kaki yang lainnya.

- Gunakan kursi yang kokoh untuk menopang tubuh sesuai kebutuhan.

(40)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Gambar 2. 1 One Leg Balance

Sumber : (Exercise for Older Adults)

b. Tandem Walking (Heel - to - Toe) Latihan ini dilakukan dengan cara :

- Berdiri dengan tegak lurus, pandangan ke depan dan lengan di samping tubuh.

- Berjalan pada satu garis lurus dengan melangkahkan kaki kanan kedepan dan letakkan didepan kaki kiri hingga ibu jari kaki kiri menyentuh tumit kanan.

- Lakukan gerakan yang sama pada kaki kiri.

Gambar 2. 2 Tandem Walking Sumber : (Exercise for Older People)

(41)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan c. Tandem Standing

Latihan ini dilakukan dengan cara :

- Posisikan satu kaki tepat di depan kaki yang lainnya dengan menyentuh tumit ke ujung kaki dan tahan.

- Ulangi pada kaki yang lainnya.

- Gunakan kursi yang kokoh untuk menopang tubuh sesuai kebutuhan.

Gambar 2. 3 Tandem Standing Sumber : (Exercise for Older Adults)

d. Sideways Walking

Latihan ini dilakukan dengan cara :

- Berdiri dengan tegak, pandangan ke depan, dan kaki rapat.

- Kemudian melangkahkan kaki ke samping secara perlahan.

- Gerakkan satu kaki ke samping terlebih dahulu.

- Lalu posisikan kedua kaki rapat.

(42)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Gambar 2. 4 Sideways Walking

Sumber : (Exercise for Older People)

e. Sit to Stand

Latihan ini dilakukan dengan cara :

- Duduk pada tepi kursi, kaki dibuka selebar bahu, kemudian condongkan tubuh sedikit ke depan.

- Berdiri secara perlahan dan tetap menatap ke depan.

- Kemudian berdiri tegak dan duduk secara perlahan.

Gambar 2. 5 Sit to Stand Sumber : (Exercise for Older People)

f. Calf Raise

Latihan ini dilakukan dengan cara :

- Posisikan tangan pada kursi untuk mejaga stabilitas.

- Kemudian angkat kedua tumit secara lambat.

(43)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Gambar 2. 6 Calf Raise

Sumber : (Exercise for Older People)

g. Plantar Flexi

Latihan ini dilakkukan dengan cara :

- Posisikan kaki kanan seperti pada gambar di bawah ini.

- Kemudian lakukan gerakan seperti ini pada kaki kiri.

Gambar 2. 7 Plantar Flexi

Sumber : (Exercise for Older People)

(44)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan F. Alat Ukur Risiko Jatuh

1. The Time Up and Go Test (TUG)

The time up and go test adalah metode yang digunakan untuk pemeriksaan keseimbangan, menilai mobilitas, dan risiko jatuh.. Selain itu, keseimbangan tubuh, kekuatan kaki dan goyangan tubuh penting diobservasi selama prosedur berlangsung. Media yang harus disediakan yaitu kursi, stopwatch, alat ukur jarak (meteran), dan penanda untuk membuat garis batas. Pasien dapat menggunakan alas kaki yang biasa digunakan, sedangkan pemeriksa wajib menyediakan sebuah kursi dan membuat sebuah pola garis batas yang berjarak 5 meter dari tempat duduk pasien. Prosedur untuk melakukan time up and go test yaitu pasien duduk pada sebuah kursi, jika pemeriksa mengatakan “mulai” maka pasien akan berdiri dari tempat duduk, berjalan ke garis yang sudah ditandai (berjarak 5 meter dari kursi), dan setelah tiba di garis tersebut maka pasien akan berbalik dan berjalan kembali ke tempat duduk semula lalu duduk seperti semula. Waktu mulai dihitung menggunakan stopwatch saat pemeriksa mengucapkan “mulai” dan berhenti ketika pasien duduk kembali (Emma Barry, 2014).

Menurut Emma Barry, BMC Geriatrics 2014, the time up and go test dikategorikan menjadi tiga kelompok sesuai kriteria usia diantaranya : a. Usia 50 – 59 Tahun

TUG score (sec) Functional Mobility Skill

< 10 Menunjukkan kemandirian

10 – < 20 Menunjukkan risiko jatuh ringan 20 – 30 Menunjukkan risiko jatuh sedang

> 30 Menunjukkan risiko jatuh tinggi Tabel 2. 4 Interpretasi TUG Usia 50 – 59 Tahun

(45)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan b. Usia 60 – 74 Tahun

TUG score (sec) Functional Mobility Skill

< 12 Menunjukkan kemandirian

< 20 Menunjukkan risiko jatuh ringan 20 - 30 Menunjukkan risiko jatuh sedang

> 30 Menunjukkan risiko jatuh tinggi Tabel 2. 5 Interpretasi TUG Usia 60 – 74 Tahun

c. Usia 75 – 89 Tahun

TUG score (sec) Functional Mobility Skill

< 20 Independen saat melakukan transfer dasar

> 30 Bergantung pada seseorang untuk menjemput atau butuh bantuan untuk masuk/keluar kamar mandi, tidak bisa

sendiri

Tabel 2. 6 Interpretasi TUG Usia 75 – 89 Tahun

5 m

(46)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Gambar 2. 8 The Time Up and Go Test

2. Ontario Modified Stratify

Ontario Modified Stratify nama lain dari Sydney Scoring. Ontario Modified Stratify digunakan untuk menilai risiko jatuh pada lansia yang berhubungan dengan kejadian jatuh seperti riwayat jatuh, status mental, penglihatan, toileting, perpindahan dari kursi roda ke tempat tidur, dan skor mobilitas.

Interpretasi dari Ontario Modified Stratify, yaitu : 0 – 5 : risiko rendah

6 – 16 : risiko sedang 17 – 30 : risiko tinggi

No. Parameter Skrining Jawaban Keterangan Nilai 1. Riwayat

Jatuh

Apakah pasien datang ke rumah sakit karena jatuh ?

Ya/Tidak Salah satu jawaban Ya

= 6 Jika tidak, apakah pasien

mengalami jatuh dalam 2 bulan terakhir ?

Ya/Tidak

2. Status Mental

Apakah pasien delirium ? (Tidak dapat membuat keputusan, pola pikir tidak terorganisir, gangguan daya

ingat)

Ya/Tidak Salah satu jawaban Ya

= 14

Apakah pasien disorientasi (Salah menyebutkan waktu,

tempat, atau orang)

Ya/Tidak

Apakah pasien mengalami agitasi ? (Ketakutan, gelisah,

dan cemas)

Ya/Tidak

(47)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan 3. Penglihatan Apakah pasien memakai

kacamata ?

Ya/Tidak Salah satu jawaban Ya

= 1 Apakah pasien mengeluh

adanya penglihatan buram ?

Ya/Tidak

Apakah pasien mempunyai glaucoma/katarak/degenerasi

makula ?

Ya/Tidak

4. Kebiasaan berkemih

Apakah terdapat perubahan perilaku berkemih ? (Frekuensi, urgensi, inkontinensia, nocturia)

Ya/Tidak Jawaban Ya

= 2

5. Transfer (dari tempat tidur ke kursi dan kembali lagi ke tempat tidur)

Mandiri (boleh memakai alat bantu jalan)

0 Jumlah nilai transfer dan mobilitas yaitu : - Jika nilai total 0 -3, maka skor 0.

- Jika nilai total 4 – 6, maka skor 7.

- Memerlukan sedikit bantuan

(1 orang) atau dalam pengawasan

1

Memerlukan bantuan yang nyata (2 orang)

2

Tidak dapat duduk dengan seimbang, perlu bantuan

total

3

6. Mobilitas Mandiri (boleh menggunakan alat bantu

jalan)

0

Berjalan dengan bantuan 1 orang (verbal/fisik)

1

Menggunakan kursi roda 2

Immobilisasi 3

Total

Tabel 2. 7 Ontario Modified Stratify

(48)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan 3. Falls Efficacy Scale International (FES – I)

Falls Efficacy Scale International (FES – I) merupakan alat ukur untuk mengukur kekhawatiran mengenai jatuh selama melakukan aktivitas sehari – hari. Falls Efficacy Scale International (FES – I) terdiri dari 16 item. Falls Efficacy Scale International (FES – I) memiliki skor minimum 16 yang merupakan tidak khawatir jatuh dan skor maksimum 64 yang merupakan kekhawatiran berat terhadap jatuh (Hamzeh Baharlouei et al, 2013).

No. Aktivitas 1

Tidak percaya

diri

2 Kurang percaya

diri

3 Percaya

diri

4 Sangat percaya

diri 1. Membersihkan

rumah (seperti menyapu dan menyedot debu) 2. Berpakaian 3. Menyiapkan

makanan secara sederhana

4. Mandi 5. Pergi ke toko 6. Menggunakan

kursi atau tidak menggunakan kursi

7. Naik atau turun tangga

(49)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan 8. Berjalan di

lingkungan sekitar

9. Meraih sesuatu di lantai

10. Mampu menjawab

telepon sebelum berhenti

berdering

11. Berjalan di permukaan yang licin

12. Mengunjungi teman atau saudara

13. Berjalan di tempat yang ramai

14. Berjalan di permukaan yang tidak rata (seperti jalan berbatu) 15. Berjalan naik

atau turun

16. Pergi ke acara sosial (seperti ibadah,

pertemuan keluarga)

(50)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Total skor di

awal program Total skor di akhir program

Tabel 2. 8 Falls Efficacy Scale International (FES – I)

4. Berg Balance Scale (BBS)

Berg Balance Scale berfungsi untuk mengukur keseimbangan dan kemampuan lansia dengan gangguan fungsi keseimbangan secara objektif melalui penilaian kinerja dari aktivitas fungsional seperti duduk, berdiri, dan berpindah tempat. Berg Balance Scale terdiri dari 14 perintah dengan setiap item terdiri dari lima point yang menggunakan skala ordinal 0 – 4, dengan 0 mengindikasikan level fungsi yang lebih rendah, dan 4 level fungsi lebih tinggi (Djohan et al, 2016).

Tujuan dari Berg Balance Scale yaitu untuk mengukur keseimbangan pada lansia dengan gangguan fungsi keseimbangan, menentukan risiko jatuh pada lansia (rendah, sedang, atau tinggi), dan menilai kemampuan klien dalam memelihara posisi.

Alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan Berg Balance Scale yaitu penggaris atau meteran, dua buah kursi (dengan dan tanpa penyangga), form pengkajian berg balance scale, stopwatch, footstool.

Interpretasi dari Berg Balance Scale yaitu : 21 - 28 = Resiko jatuh rendah

11 - 20 = Resiko jatuh menengah 0 - 10 = Resiko jatuh tinggi

No. Item keseimbangan Skor (0 - 4)

1. Duduk ke berdiri 4 : Mampu tanpa menggunakan tangan dan berdiri stabil

(51)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan 3 : Mampu berdiri stabil tetapi menggunakan support tangan

2 : Mampu berdiri dengan support tangan setelah beberapa kali mencoba 1 : Membutuhkan bantuan minimal untuk berdiri stabil

0 : Membutuhkan bantuan sedang sampai maksimal untuk dapat berdiri 2. Berdiri tidak

disanggah

4 : Mampu berdiri dengan aman selama 2 menit

3 : Mampu berdiri selama 2 menit dengan pengawasan

2 : Mampu berdiri selama 30 detik tanpa penyangga

1 : Butuh beberapa kali mencoba untuk berdiri 30 detik tanpa penyangga 0 : Tidak mampu berdiri 30 detik tanpa bantuan

3. Duduk tidak disanggah tetapi kaki tersanggah pada lantai

atau stool

4 : Mampu duduk dengan aman selama 2 menit

3 : Mampu duduk selama 2 menit dibawah pengawasan

2 Mampu duduk selama 30 detik 1 : Mampu duduk selama 10 detik 0 : Tidak mampu duduk tidak disanggah selama 10 detik

4. Berdiri ke duduk 4 : Duduk aman dengan bantuan tangan minimal

3 : Mengontrol gerakan duduk dengan tangan

(52)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan 2 : Mengontrol gerakan duduk dengan paha belakang menopang dikursi 1 : Duduk mandiri tetapi dengan gerakan duduk tidak terkontrol

0 : Membutuhkan bantuan untuk duduk 5. Transfer 4 : Mampu berpindah dengan aman dan

menggunakan tangan minimal

3 : Mampu berpindah dengan aman dan menggunakan tangan

2 : Dapat berpindah dengan aba-aba atau dibawah pengawasan

1 : Membutuhkan satu orang untuk membantu

0 : Membutuhkan lebih dari satu orang untuk membantu

6. Berdiri tidak tersangga dengan mata tertutup

4 : Mampu berdiri dengan aman selama 10 detik

3 : Mampu berdiri 10 detik dengan pengawasan

2 : Mampu berdiri selama 3 detik 1 : Tidak mampu menutup mata selama 3 detik

0 : Butuh bantuan untuk menjaga agar tidak jatuh

7 Berdiri tidak disangga dengan kaki rapat

4 : Mampu menempatkan kaki secara mandiri dan berdiri selama 1 menit 3 : Mampu menempatkan kaki secara mandiri dan berdiri selama 1 menit dibawah pengawasan

2 : Mampu menempatkan kaki secara mandiri dan berdiri selama 30 detik

(53)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan

1: Membutuhkan bantuan

memposisikan kedua kaki, mampu berdiri 15 detik

0: Membutuhkan bantuan

memposisikan kedua kaki, tidak mampu berdiri 15 detik

8. Meraih kedepan dengan lengan lurus

secara penuh

4 : Dapat meraih secara meyakinkan

>25 cm (10 inchi)

3 : Dapat meraih >12.5 cm (5 inches) dengan aman

2 : Dapat meraih >5 cm (2 inchi) dengan aman

1 : Dapat meraih tetapi dengan pengawasan

0 : Kehilangan keseimbangan ketika mencoba

9. Mengambil objek dari lantai dari posisi

berdiri

4 : Mampu mengambil dengan aman dan mudah

3 : Mampu mengambil, tetapi butuh pengawasan

2 : Tidak mampu mengambil tetapi mendekati sepatu 2-5cm (1-2 inchi) dengan seimbang dan mandiri

1 : Tidak mampu mengambil, mencoba beberapa kali dengan pengawasan 0 : Tidak mampu mengambil, dan butuh bantuan agar tidak jatuh

10. Berbalik untuk melihat ke belakang

4 : Melihat kebelakang kiri dan kanan dengan pergeseran yang baik

(54)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan 3 : Melihat kebelakang pada salah satu sisi dengan baik, dan sisi lainnya kurang

2 : Hanya mampu melihat kesamping dengan seimbang

1 : Membutuhkan pengawasan untuk berbalik

0 : Membutuhkan bantuan untuk tetap seimbang dan tidak jatuh

11. Berbalik 360º 4 : Mampu berputar 360 derajat selama 4 detik dengan aman

3 : Mampu berputar 360 derajat dengan aman pada satu sisi selama 4 detik atau kurang

2 : Mampu berputar 360 derajat dengan aman tetapi perlahan

1 : Membutuhkan pengawasan dan panduan

0 : Membutuhkan bantuan untuk berbalik

12. Menempatkan kaki bergantian ke stool dalam posisi berdiri

tanpa penyangga

4 : Mampu berdiri mandiri dan aman, 8 langkah selama 20 detik

3 : Mampu berdiri mandiri dan aman, 8 langkah selama >20 detik

2 : Mampu melakukan 4 langkah tanpa alat bantu dengan pengawasan

1 : Mampu melakukan >2 langkah, membutuhkan bantuan minimal

0 : Membutuhkan bantuan untuk tidak jatuh

(55)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan 13. Berdiri dengan satu

kaki di depan kaki lainnya

4 : Mampu menempatkan dengan mudah, mandiri dan bertahan 30 detik 3 : Mampu menempatkan secara mandiri selama 30 detik

2 : Mampu menempatkan dengan jarak langkah kecil, mandiri selama 30 detik 1 : Membutuhkan bantuan untuk menempatkan tetapi bertahan 15 detik 0 : Kehilangan keseimbangan ketikan penempatan dan berdiri

14. Berdiri dengan satu kaki

4 : Mampu berdiri dan bertahan >10 detik

3 : Mampu berdiri dan bertahan 5-10 detik

2 : Mampu berdiri dan bertahan = atau

>3 detik

1 : Mencoba untuk berdiri dan tidak mampu 3 detik, tetapi mandiri

0 : Tidak mampu, dan membutuhkan bantuan agar tidak jatuh

Skor total (Maximum = 56) Tabel 2. 9 Berg Balance Scale

5. Functional Reach Test (FRT)

Functional Reach Test adalah alat untuk mengukur jarak maksimal seseorang dapat mencapai maju melampaui lengan panjang sambil mempertahankan kaki di tanam dalam posisi berdiri.

Prosedur dalam melakukan pengukuran Functional Reach Test yaitu : a) Tandai garis di lantai

b) Jelaskan kepada peserta tentang prosedur test .

(56)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan c) Pasien di intruksikan untuk berdiri disamping, tetapi tidak menyentuh dinding dan posisi lengan yang lebih dekat ke dinding pada 900 dari fleksi bahu dengan kepalan tangan tertutup atau seperti tinju.

d) Posisi tungkai kanan dan kiri sejajar dengan bahu, pandangan lurus ke depan.

e) Tempatkan garis horizontal berupa kayu atau mid-line di dinding dengan aman dan tepat.

f) 1 orang pendamping mengamati pergerakan tangan dan 1 orang pendamping bertugas mencatat posisi awal di kepala metacarpal ke-3 pada garis horizontal tersebut.

g) Score Functional Reach Test < 18,5 cm menandakan bahwa pasien tersebut mempunyai risiko jatuh. 29 cm menandakan bahwa pasien tersebut keseimbangannya bagus.

Gambar 2. 9 Functional Reach Test

G. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah adalah gambaran keterkaitan antara variabel- variabel yang akan diamati dan dinilai dalam penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2012). Adapun kerangka konsep pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

(57)

Program Studi Fisioterapi Universitas Binawan Bagan 2. 1 Kerangka Konsep

Populasi/Problem/Pasien Lansia

Intervensi Latihan Keseimbangan

Comparison -

Outcome Mengurangi

risiko jatuh

Gambar

Tabel 2. 1 Klasifikasi Lansia (WHO, 2013)
Tabel 2. 3 Kategori Umur (Depkes RI, 2009)
Gambar 2. 2 Tandem Walking  Sumber : (Exercise for Older People)
Gambar 2. 3 Tandem Standing  Sumber : (Exercise for Older Adults)
+6

Referensi

Dokumen terkait

Dari latar belakang inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Latihan Keseimbangan Dinamis Terhadap Pola Jalan pada Lansia di Posyandu

Otago Home Exercise Programme adalah program latihan untuk lansia yang didesain khusus untuk mengurangi kejadian jatuh, dengan cara meningkatkan kekuatan anggota

Hasil penelitian: uji statistic kelompok perlakuan menggunakan Paired Sample T-Test didapatkan hasil p= 0,001, berarti ada pengaruh latihan keseimbangan terhadap

PEMBERIAN OTAGO HOME EXERCISE PROGRAMME LEBIH BAIK DALAM MENGURANGI RISIKO JATUH DARIPADA BALANCE STRATEGY EXERCISE PADA LANSIA..

Terdapat pengaruh yang signifikan dari latihan keseimbangan di paralel bar secara rutin terhadap peningkatan rerata skor risiko jatuh pada pasien stroke non hemoragik

Berdasarkan hasil penelitian setelah dilakukan kembali pemeriksaan atau postest pada lansia yang mengalami risiko jatuh menunjukkan adanya perubahan pada lansia yang mengalami

Berdasarkan hasil Uji Paired Sample T-Test, menunjukkan bahwa dari kelompok kontrol tidak ada pengaruh tanpa diberikan latihan keseimbangan terhadap penurunan

METODE Dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat PKM ini, metode yang digunakan adalah berupa pemeriksaan risiko jatuh dan pelatihan latihan keseimbangan pada lanjut usia yang