• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV LINGKUNGAN KERJA

4.1 Lingkungan Kerja Fisik

Lingkungan kerja fisik yang akan dibahas pada bab ini terdiri dari kebisingan, pencahayaan, getaran mekanis, dan radiasi.

Kebisingan. Definisi kebisingan oleh beberapa ahli mengatakan, antara lain: a) Bising adalah suara yang timbul dari getaran – getaran yang tidak teratur (Dennis), b) Bising adalah suara yang kompleks yang mempunyai sedikit ataupun tidak mempunyai periodik, bentuk gelombang tak dapat diikuti atau diproduksi lagi dalam waktu tertentu , c)Bising adalah suara yang tidak mempunyai kualitas musik, d) Bising adalah suara yang tidak dikehendaki kehadirannya oleh yang mendengar dan mengganggu, dan e) Kebisingan didengar sebagai rangsangan-rangsangan pada telinga oleh getran-getaran melalui media elastis, dan manakala bunyi-bunyi tersebut tidak dikehendaki, maka dinyatakan sebagai kebisingan.

Suara dapat dihasilkan bila suatu sumber bunyi menggerakkan udara sekitarnya dalam gerakan gelombang. Gerakan akan menyebar ke partikel-partikel udara yang jauh dari sumber bunyi. Bunyi merambat di udara dengan kecepatan 340 m/detik. Kecepatan merambat dalam cairan dan zat padat lebih besar dibandingkan dengan di udara. Sebagai gambaran 1500 m/detik di dalam air, dan 5000 m/detik di dalam baja.

Kebisingan menurut KEP.MENAKAER NOMOR:KEP- 51/MEN/1999 adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Ada dua hal yang menentukan kualitas suatu bunyi, yaitu frekuensi dan intensitasnya. Frekuensi dari gelombang bunyi dinyatakan dalam banyaknya geteran perdetik, dan diukur dalam satuan Hertz (Hz). Bunyi dapat ditemukan dalam range frequensi yang besar. Bunyi yang dapat didengar oleh manusia antara 16 Hz sampai 20.000 Hz. Biasanya suatu kebisingan terdiri dari campuran sejumlah gelombang-gelombang sederhana dari beraneka frekuensi. Nada dari kebisingan ditentukan oleh frekuensi-frekuensi yang ada.

Intensitas atau arus energi persatuan luas biasanya dinyatakan dalam suatu logaritmis yang disebut desibel (dB) dengan memperbandingkannya dengan kekuatan dasar 0,0002 dyne/cm2 yaitu kekuatan dari bunyi dengan frekuensi 1.000 Hz yang tepat dapat didengar oleh telinga normal, dalam rumus:

dB = 2010 log po

p

p = tegangan suaru yang bersangkutan.

Po = tegangan suara standard (o,0002 dyne/cm2)

Klasifikasi kebisingan menurut sumbernya kebisingan dapat dibedakan menjadi beberapa: a)Kebisingan tetap (steady noise), b)Kebisingan dengan frekuensi terputus (discrete frequency noise), c) Broad band noise, d) Kebisingan tidak tetap (unsteady noise), e) Kebisingan fluktuatif (fluctuatif noise), dan e) Intermitten noise.

Kebisingan tetap (steady noise) adalah kebisingan dengan frekuensi tetapini. Kebisingan dengan frekuensi terputus adalah kebisingan berupa nada-nada murni pada frequency yang beragam. Contohnya suara mesin, suara kipas dan sebagainya,. Kebisingan dengan frequensi terputus dan broad band noise sama-sama dogolongkan sebagai kebisingan tetap (steady noise). Perbedaannya adalah broad band noise terjadi pada frekuensi yang lebih bervariasi. Kebisingan fluktuatif (fluctuatif noise), kebisingan yang selalu berubah-ubah menurut rentang waktu tertentu.

Intermitten noise, sesuai dengan terjemahannya, intermitten noise adalah kebisingan yang terputus-putus dan besarnya dapat berubah-ubah, contohnya kebisingan lalu lintas. Impulsive Noise, kebisingan impulsif dihasilkan oleh suara-suara berintensitas tinggi (memekakkan telinga) dan dalam waktu yang relatif singkat,misalnya suara ledakan senjata api dan alat-alat sejenisnya.

Pengukuran batas pajanan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan cara sederhana dan cara langsung.

Dengan cara sederhana, dengan sebuah Sound Level Meter biasa diukur tingkat tekanan bunyi dB (A) selama 10 menit untuk tiap pengukuran. Pembacaan dilakukan setiap 5 detik. Sedangkan cara langsung dengan sebuah integrating Sound Level Meter yang mempunyai fasilitas pengukuran LTMS, yaitu Leq dengan waktu ukur setiap 5 detik, dilakukan pengukuran selama 10 menit.

Kebisingan dapat menyebabkan efek baik efek terhadap pendengaran (auditory effect )maupun bukan pendengaran (non auditory

effect). Pada karyawan efek kebisingan bisa diakibatkan oleh salah satu atau keduanya.

Pengaruh kebisingan pada pekerja bisa terjadi secara langsung (akut) dan terjadi dalam jangkapanjang (kronis). Efek kebisingan pada fungsi pendengaran bisa dikategorikan menjadi 3, yaitu 1) trauma akustik, 2) temporary threshold shift, 3)Permanent threshold shift.

Trauma akustik. Trauma aksutik adalah hilangnya pendengaran yang umumya karena pengaruh exposure tunggal atau beberapa exposure dari kebisingan dengan intensitas yang sangat tinggi dalam waktu yang singkat seperti ledakan.

Ketulian sementara. Ketulian sementara/temporary threshold shift (ketulian sementara) yaitu bila memasuki ruangan yang sangat bising, maka pendengaran akan berkurang dan pulih kembali sekitar 3 – 7 x 24 jam.

Ketulian menetap. Ketulian menetap atau permanen threshold shift (ketulian menetap) yaitu hilang pendengaran secara perlahan-lahan, oleh karena kerusakan sensorneural sebagai akibat pemaparan kebisingan yang lama dengan intensitas tinggi

Sedangkan pengaruh kebisingan bukan pada pendengaran bisa berupa gangguan kenyamanan bekerja, gangguan konstrasi dan perhatian, gangguan emosional, gangguan tidur, gangguan komunikasi, kelelahan (fatigue). Gangguan pada non pendengaran pada akhirnya dapat menyebabkan produktivitas yang menurun, perubahan moral kerja yang buruk, tingginya ketidakhadiran bekerja atau mengalami sakit, kesalahan dalam menginterpretasi perintah, kecenderungan mengalami kecelakaan.

Selain akibat buruk yang terjadi, dampak lain dari kebisingan (extrauditory effects)bisa berupa gangguan pencernaan (nausea =mual), keadaan tubuh terasa lemas atau rasa tidak enak (Malaisea), dan sakit kepala (Headache).

Tabel 4.1. Nilai Ambang Batas Kebisingan

No Waktu Pemajaman Intensitas Kebisingan dBA

1 8 Jam 85

2 4 Jam 88

3 2 Jam 91

4 1 Jam 94

5 30 menit 97

6 15 Menit 100

7 7,5 Menit 103

8 3,75 Menit 106

9 1,88 Menit 109

10 0,94 Menit 112

11 28,12 detik 115

12 14,06 Detik 118

13 7,03Detik 121

14 3,52 Detik 124

15 1,76 Detik 127

16 0,88 Detik 130

17 0,44 Detik 133

18 0,22 Detik 136

19 0,11 Detik 139

Sumber : KEP MENAKER NOMOR : KEP-51/MEN/1999

Pencahayaan. Pencahayaan atau cahaya adalah gelombang elektromagnetik yang sensitif terhadap mata manusia. Definisi lainnya cahaya adalah energi yang merambat seperti gelombang elektromagnetik.

Pada saat melihat atau mengamati suatu benda kita menggunakan mata, mata dapat melihat karena menerima rangsangan yang berasal dari cahaya atau sinar yang dating dari benda tersebut, baik yang di pancarkan langsung maupun yang dipantulkan dari sumber penerangan (cahaya) yang mengenai benda- benda tersebut.

Cahaya yang dapat dilihat oleh mata adalah radiasi spektrum elektromagnetik yang terletak diantara segmen- segmen infra merah dan ultra violet. Cahaya mempunyai gelombang sebesar (106 s/d 10-7) cm dan frekwensi sebesar ( 3 x 10-14 s/d 3 x 1015 ) elektron volt sehingga dapat menimbulkan ionisasi pada atom- atom atau molekul- molekul.

Berdasarkan sumbernya, cahaya dibedakan menjadi dua, yaitu pencahayaan alami, dan pencahyaan buatan. Pencahayaan alami, yang berasal dari sinar mata hari (bulan pada malam hari). Pencahayaan buatan yang berasal dari lampu pijar, lampu minyak tanah, lampu fluorscent dan lilin yang menyala.

Sedangkan berdasarkan, jenisnya pencahayaan adalah pencahayaan lokal dan pencahaayn umum. Pencahayaan local (khusus) adalah cahaya yang dipancarkan langsung dari sumber kepermukaan bidang tempat kerja tenaga kerja melakukan aktivitasnya. Pencahayaan general (umum) adalah rata-rata intensitas pencahayaan yang terdapat dalam lingkungan tempat kerja terutama tempat yang dilalui oleh tenaga kerja. Selain intensitas cahaya, perlu diukur pula nilai pantulan (nilai

reflektan). Pantulan cahaya bila tidak tepat akan menyebabkan pandangan menjadi kabur dan dapat menyebabkan kecelakaan kerja.

Untuk medapatkan pencahayaan yang optimal diperlukan pengukuran. Tujuan dalam pengukuran pencahayaan adalah untuk mengetahui 1) Intensitas pencahayaan bersumber dari pencahayaan alami, 2) Intensitas pencahayaan umum., 3) Pencahayaan khusus., 4) Nilai pantulan (reflectan) dinding, 5) Nilai pantulan (reflectan) lantai.

Standar Pengukuran dan batas pajanan. Evaluasi pengukuran berdasarkan Peraturan Menteri Perburuhan No. 07 Tahun 1964 Tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan Dalam Tempat Kerja, sebagai berikut:

Tabel 4.2 Intensitas Pencahayaan di Tempat Kerja

Tempat kerja Intensitas

Penerangan darurat 5 lux.

Halaman dan jalan perusahaan lux.

20 lux Pekerjaan membedakan benda

kasar

50 lux Pekerjaan membedakan benda

kecil sepintas lalu

100 lux Pekerjaan membedakan barang

kecil agak teliti

200 lux Pekerjaan membedakan yang

teliti dari barang kecil dan halus

300 lux Pekerjaan membedakan barang

halus dengan konstras sedang dan dalam waktu lama

500 lux – 1.000 lux

pekerjaan membedakan barang sangat halus dengan kontras yang sangat kurang dan dalam waktu lama

1.000 lux.

Sumber: Peraturan Menteri Perburuhan No. 07 Tahun 1964 Tabel 4.3 Nilai Pantulan/refletctan

Jenis permukaan Nilai Pantulan (%)

Langit-langit 80-90

Dinding 40-60

Lantai 20-40

Peralatan 25-45

Mesinb dan perlengkapan 30-50

Sumber: Peraturan Menteri Perburuhan No. 07 Tahun 1964

Getaran Mekanis. Getaran adalah gerakan bolak balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Pemaparan getaran terhadap pekerja merupakan efek dari peralatan mekanik yang digunakan tersebut memberikan dampak yang beraneka ragam sesuai dengan jenis, posisi dan frekwensi dan lama paparan getaran pada tenaga kerja.Pemaparan getaran mekanis terhadap pekerja terdapat pada pekerja pertanian (traktor, grinder pada pemisahan gabah padi dan chain saw), transportasi dan pekerjaan umum (trailer, jack hammer untuk memahat tanah dan memotong aspal, truk), industri (mesin-mesin, gerinda, dan gergaji).

Secara garis besar getaran dibagi menjadi tiga jenis, yaitu 1) Getaran vulkanis (geologis) getaran yang timbul akibat gejala alam berupa letusan gunung berapi dan pergerakan permukaan kulit bumi., 2) Getaran mekanis adalah getaran yang ditimbulkan karena pengoperasian peralatan mekanis, 3) Getaran kejut atau getaran yang terjadi seketika karena terhempas atau terjatuh dari ketinggian. Diantara ketiga jenis getaran di atas, getaran di tempat kerja merupakan jenis getaran mekanis. Getaran mekanis dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu: 1) Getaran pada seluruh tubuh (whole body vibration. Getaran jenis ini adalah pajanan getaran yang bersumber dari mesin dan ditransmisikan ke seluruh tubuh pekerja.

Pekerjaan dengan potensi bahaya getaran seluruh tubuh misalnya pengemudi, masinis dan 2)Getaran pada sebagian tubuh (segmented vibration). Getaran jenis ini adalah pajanan getaran yang bersumber dari mnesin, namun hanya ditransmisikan di sebagian tubuh, misalnya lengan.

Oleh karena itu jenis getaran ini dinamakan juga hand and armss vibration. Pekerjaan dengan potensi bahaya getaran setempat adalah pekerja perata jalan, penggergaji, 3) Getaran pada mesin.

Segmented vibration. Di Indonesia ambang batas getaran yang ada adalah pajanan getaran dengan jenis segmented vibration,yaitu diatur pada SNI yaitu 4m/dt 2. Segmented vibration diukur pada bagian tubuh yang mengalami getaran. Sedangkan jenis getaran whole body vibration dan getaran pada mesin masih mengikuti standar internasional.

Whole Body Vibration (Whole Body Vibration (WBV atau getaran pada seluruh tubuh. Pengukuran getaran pada seluruh tubuh. Pengukuran dilakukan pada bagian yang menopang ubuh tenaga kerja. Bila tenaga kerja duduk pada alas duduknya dan sandarnnya, bila tenaga kerja berdiri pada lantainya atau bagian bawah mesin. Standar : berdasarkan ISO 2631,

dibagi menjadi 3 kategori, yaitu : mengganggu kenyamanan, meningkatkan kelelahan, mengganggu kesehatan (batas pemaparan).

Getaran mesin. Pengukuran getaran pada mesin dilakukan terhadap mesin yang terpajan getaran, yaitu pada dasar mesin. Satuan getaran pada mesin adalah m/s2 atau mm/s2. RMS efektif. Berdasarkan ISO 2372, getaran pada mesin dibagi menjadi 4 kategori yaitu : a) Baik (good), b) Dapat diterapkan (acceptable), c)Masih diijinkan (still permisible), d)Berbahaya (dangerous).

Mesin dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu :a)Grup K (small machine) yaitu mesin dengan daya kecil (<15 Kwt), b) Grup M (medium machines) yaitu mesin dengan daya sedang (15 -75 Kwt), dan Grup G (large Machines) mesin dengan daya berat (75 Kwt).

Iklim Kerja. Iklim kerja panas merupakan meteorologi dari lingkungan kerja, sangat erat kaitannya dengan suhu udara, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan panas radiasi. Untuk mengetahui pengaruh panas lingkungan kerja pada suhu tubuh maka dilakukan metoda pengkuran sederhana yang mencakup pengaruh faktor lingkungan (suhu udara, kelembaban, gerakan aliran udara dan radiasi), yang dinyatakan dalam bentuk skala atau indeks.

Pengukuran dan batas pajanan indeks perhitungan tekanan panas berupa pengukuran a) Heat stressiIndex (HSI)/ ITP, b)Predicted Four Hour Rate (P4HR), dan c) Wet Bulb Globe Temperature Index (Index WBGT) atau Indeks Suhu Bola Basah (ISBB). Peralatan yang digunakan untuk mengukur adalah thermometer suhu basah (thermometer Fahrenheit dan labu Erlenmeyer), Psycrometer Arsman, Termometer globe (termometer fahrenheit dan bola hitam/globe).

Untuk perhitungan ini menggunakan rumus ISBB (in door) = 0,7 tnwb + 0,3 tg ISBB (out door) = 0,7 tnwb + 0,2 tg + 0,1 ta

Standar pajanan iklim kerja dan beban kerja diatur dalam Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor : Kep-51/MEN/1999 seperti pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.4 Pajanan Iklim Kerja dan Beban Kerja

Pengaturan Waktu Kerja Setiap jam Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB)

OC Beban Kerja

Waktu Kerja Waktu Istrahat Ringan Sedang Berat Beban kerja terus

menerus (8 jam/hari) 75%

50%

25%

-

25% istrahat 50% istrahat 75% istrahat

30,0

28,0 29,4 32,2

26,7

28,0 29,4 31,1

25,0

25,9 27,9 30,0 Sumber: Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor : Kep-

51/MEN/1999

Radiasi. Radiasi dibedakan menjadi dua macam energi elektromagnetik yaitu: a) Radiasi mengion (ionozing radiation) dan b) Radiasi Non Ionisasi.

Radiasi mengion (Ionizing Radiation). Ionisasi adalah proses saat sebuah atom atau molekul keholangan atau memperoleh elektron sehingga terbetuk partikel-partikelyang bermuatan listrik. Partikel-partikel yang bermuatan ini dikenal sebagai ion-ion. Bersamaan dengan proses ionisasi akan terjadi pemindahan energi ke material dimana ion-ion akan terbentuk.

Radiasi Non Ionisasi (Non Ionizing Radiation). Radiasi Non Ionisasi terbagi menjadi : a)Radiasi ultraviolet, b) Radiasi inframerah, c) Radiasi cahaya tampak, d) Radiasi gelombang mikro, dan e) Radiasi LASER.

Radiasi ultraviolet. Ultraviolet mempunyai panjang gelombang 160 – 40 nm. Secara alami radiasi ini dapat ditemukan pada cahaya matahari. Dua pertiga dari ultraviolet yang secara biologis adalah aktif terdapat antara jam 10.00 hingga 14.00. Radiasi ini akan lebih banyak ditemukan pada daerah dimana tekanan udara atmosfirnya rendah (daerah pegunungan). Selain itu radiasi ultraviolet dari cahaya matahari yang mengenai bumi akan disebarkan ke semua arah. Banyaknya radiasi yang disebarkan kurang lebih 50 %, sehingga topi-topi atau payung-payung hanya dapat mereduksi intensitas radiasi paling banyak sebesar 50 %.

Sebagai sumber radiasi buatan adalah lampu-lampu merkuri bertekanan rendah dan tinggi, lampu pembunuh hama (germicidal lamps) dan pada pengelasan terutama las listrik.

Radiasi infra merah. Panjang gelombang inframerah berkisar 750nm – 1mm. Sumber radiasi ini adalah matahari, semua benda yang berpijar atau logam yang dipanaskan, lampu-lampu pijar/ filament, tungku- tungku/ dapur pijar, bunga api yang dihasilkan pada pengelasan listrik dan lain-lain. Energi yang terkandung dalam inframerah ini adalah rendah sehingga tidak menyebabkan ionisasi pada jaringan tubuh.

Radiasi Cahaya Tampak (Visible Light ). Visible light adalah sebagai suatu bagian dari spektrum magnetik mempunyai gelombang 400 – 760 nm. Energi ini tidak berbahaya bagi mata karena mata akan mendeteksinya sehingga bila terpapar cahaya yang sangat kuat secara refleks pupil akan menyempit dan kelopak mata akan menutup sehingga pemaparan radiasi yang berlebihan akan dapat dicegah.

Radiasi Gelombang Mikro. Gelombang mikro/ microwave adalah suatu gelombang elektromagnetik yang mencakup suatu kisaran panjang gelombang yang luas (1 mm sampai 1 m) dan frekuensi radiasi ini berkisar antara 300 Mhz sampai 300 Ghz. Sumber gelombang mikro ini

antara lain rdar, televisi, berbagai peralatan medis (microwave diathermy), rumah tangga (microwave oven), peralatan navigasi, telekomunikasi dan lain-lain.

Laser. Laser merupakan singkatan dari Light Amplification by Stimulating Emission of Radiation. Laser merupakan suatu alat untuk mengkonsentrasikan visible light yang memiliki panjang gelombang yang bermacam-macam dan yang memancarkan cahaya ke segala arah sehingga terbentuk cahaya yang mempunyai panjang gelombang yang sama, melintas dalam udara menurut satu arah, cahaya yang dipancarkan adalah sempit dan monomkromatik sehingga sinar laser ini dikenal sebagai coherent light.

Dokumen terkait