• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V FISIOLOGI KERJA

5.3 Homeostatis

Homeosatatis adalah suatu perasaaan atau kondisi yang merujuk pada keadaan keseimbangan, tetap atau ekuilibrium. Mempertahankan lingkungan internal yang stabil membutuhkan monitoring dan pengaturan yang tetap terhadap respon perubahan dari luar. Pengaturan sistem fisiologis di dalam tubuh ini dinamakan homeostatis. Homeostatis terdiri dari tiga mekanisme, yaitu: 1)receptor, 2)pusat pengendali, 3)effektor.

Receptor menerima informasi tentang perubahan sesuatu di lingkungan.

Pusat pengendali bertugas menerima dan memproses informasi dari

receptor. Terakhir, effektor merespon komando pusat pengendali untuk melawan maupun memperbaiki stimulus. Oleh karena lingkungan dalam dan luar tubuh selalu berubah secara konstant dan memerlukan pengaturan untuk bisa bertahan, homeostatis bisa dikatakan sebagai suatu keseimbangan dinamis atau dynamic equilibrium.

Variasi mekanisme homesotatis memelihara lingkungan internal dengan batas-batas yang dapat diterima. Artinya homeostatis akan mempertahankan melalui serangkaian mekanisme pengendalian, dengan kata lain bila mekanisme ini tidak bisa akan timbul penyakit. Ketika sel tubuh tidak berfungsi, keseimbangan homestatis menjadi kacau, pada akhirnya akan sakit dan malfungsi sel. Kondisi sakit, atau malfungsi sel dana diakibatkan oleh dua cara utama. Pertama, defisiensi. Defisiensi adalah keadaan sel tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Kedua, toksisitas.

Toksisitas yaitu sel diracuni oleh sesuatu yang tidak dibutuhkan oleh sel.

Saat homeostatis mengkacaukan sel, ada beberapa pola untuk mengoreksi atau memperbaiki masalah ini. Dalam mekanisme pengendalian ini, terdapat pengaruh faktor luar yang utamanya berasal dari pola hidup dan pajanan lingkungan yang dapat memberikan pengaruh terhadap kemampuan tubuh untuk bertahan tetap sehat.

Gizi. Apabila asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh kurang, maka fungsi sel akan lemah, dan memungkinkan untuk terjadinya penyakit. Contoh, seorang wanita yang sedang menstruasi dengan asupan diet zat besi yang kurang akan menyebabkan anemia. Kekurangan hemoglobin, molekul yang membutuhkan besi akan menghasilkan kemampuan angkut oksigen kurang. Gejalanya misalnya lelah, namun apabilan anemia sudah parah maka akan meningkatkan denyut jantung, jantung berdebar dan berkeringat hingga jantung gagal berdetak. Pada pekerja wanita, anemia merupakan masalah yang harus mendapatkan perhatian.

Toxin. Toksin adalah suatu zat yang mengganggu funsi sel, menyebabkan malfungsi sel. Racun dapat masuk melalui berbagai macam cara melalui kiulit, pencernaan dan pernafasan. Sumber racun berasal dari insektisida, industri, lingkungan kerja lainnya. Pada intinya semua zat adalah racun. Hal yang membedakan apakah suatu zat itu racun atau bukan adalah dosis.

Psikologi. Kesehatan psikis dan mental tidap dapat dipisahkan.

Emosi dan pikiran dapat menyebabkan perubahan kimia, misalnya stres.

Fisik. Pertahanan fisik penting untuk sel dan tubuh. Istirahat cukup, paparan sinar matahari yang cukup, dan olah raga yang memadai adalah contoh mekanisme fisik yang mempengaruhi homeostatis. Waktu

tidur yang kurang akan menyebabkan gangguan seperti irama jantung yang tidak teratur, kelelahan, kecemasan dan pusing. Pekerja dengan shift kerja malam hari harus lebih memperhatikan adanya kemungkinan waktu istirahat yang tidak cukup.

Genetik/ reproduksi. Gen, adakalanya berubah oleh karena faktor eksternal lingkungan, namun perubahan gen oleh eksternal lingkungan bisa sedikit dikendalikan untuk mengurangi terjadinya penyakit. Awalnya, penyakit disebabkan gen mengalami mutasi. Contoh kanker dapat disebabkan adanya mutasi gen karena paparan radiasi.

Medis. Melalui kedokteran modern, tubuh diberikan anti bodi untuk melawan infeksi atau kemoterapi untuk mengobati sel kanker. Bila dosis yang diberikan salah, homeostatis dapat memperbaikinya. Trial and error pengobatan medis dapat berpotensi bahaya.

Homeostatis Tubuh. Masing-masing organ berkontribusi terhadap homeostatis organ lainnya. Tidak ada sistem dalam tubuh yang bekerja sendiri, semua saling kerjasama. Saling bargantung satu dengan lainnya. Gangguan yang dialami oleh organ yang satu memiliki konsekuensi pada beberapa sistem tubuh. Kontribusi berbagai sistem tubuh terhadap homeostatis berdasarkan sistem tubuh yaitu sistem saraf, sistem endokrin, sistem skeletal, sistem otot, sistem kardiovaskuler, sistem limfatik, pernafasan, sistem pencernaan, sistem urinari, dan sistem reproduksi.

Sistem saraf. Sistem saraf, dengan sistem endokrin, berfungsi sebagai pusat pengendali kerja tubuh di bawah sadar. Contoh, kelenjar hipotalamus di otak, adalah pengatur suhu. Hipotalamus juag merangsang kelenjar pituaitary untuk melepaskan berbagai hormon yang digunakan untuk mengendalikan metabolisme dan perkembangan tubuh. Bagian saraf simpatik dan parasimpatik pada sistem saraf berfungsi merangsang atau mengendaliakn berbagai respon (misalnya denyut jantung, irama pernafasan, dan sebagainya) pada level yang seimbang. Saraf ini juga mengendalikan kontraksi otot dan gerakan tubuh. Sistem saraf juga mengatur sistem lainnya, misalnya pernafasan (mengendalikan saat menarik dan menghembuskan nafas), sistem kardiovaskuler (mengendalikan irama jantung dan tekanan darah), organ endokrin (menyebabkan sekresi ADH dan oksitosin), sistem pencernaan (mengatur pergerakan saluran pencernaan dan sekeresi), dan sistem pembuangan (membantu pengaturan tekanan darah di ginjal dan juga mencegah perdarahan). Sistem saraf juga terlibat dalam perilaku dan fungsi seksual.

Sistem endokrin. Sistem endokrin terdiri dari kelenjar hormon dalam aliran darah. Masing-masing hormon mempunyai pengaruh satu

dengan lainnya sesuai dengan organ sasaran. Pada jalan ini, sistem endorin mengatur metabolisme dan perkembangan tubuh sel dan sistem tubuh.

Lebih khusus, sistem endokrin memiliki hormon seks yang mengaktifkan kelenjar sebacea, terlibat dalam perkembangan kelenjar susu, merubah aliran darah dan melepaskan lemak dari jaringan adiposa dan MSH dapat merangsang melanosit di kulit. Pertumbuhan tulang diatur oleh beberapa hormon, sistem endokrin membantu menggerakkan kalsitonin dan kalsium.

Pada otot, sistem hormon mengatur metabolisme otot, produksi energi dan pertumbuhan. Pada sistem hormon hormon mempengaruhi metabolisme neural, mengatur aliran/ keseimbangan elektrolit dan membantu hormon reproduksi yang memperngaruhi perkembangan CNS dan perilaku. Pada sistem kardiovaskuler diperlukan hormon yang mengatur produksi RBC’s, yang menaikkan dan menurunkan tekanan darah.

Sistem skeletal. Sistem kerangka berfungsi sebagai cadangan mineral penting. Contoh, bila kadar kalisum atau magnesium darah kurang dan mineral tidak tersedia cukup dalam makanan, akan diambil dari tulang.

Dengan kata lain, sistem skeletal menyediakan kalsium yang dibutuhkan untuk kontraksi otot. Limfosit dan sel lainnya yang berkaitan dengan respon kekebalan diproduksi dan disimpan dalam sumsum tulang. Sistem skeletal dalam melindungi sistem saraf, organ endokrin, dada dan daerah pelvis seluruhnay merupakan organ penting.

Sistem otot. Sistem otot memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam menjadi temperatur tubuh melalui produksi panas. Sistem otot juga berperan dalam keseimbangan penyimpanan energi seperti glikogen.

Dalam sistem saraf, sistem otot membantu memantau posisi tubuh. Otot juga membantu melindungi kelenjar endokrin dan organ pencernaan. Otot juga mengendalikan kontraksi selama kegiatan seksual. Otot juga merupakan alat dalam menggerakkan darah melalui vena.

Sistem kardiovaskuler. Sistem kardiovasuler, berperan dalam pemeliharaan sistem tubuh lainnya dengan mengangkut hormon dan zat gizi, membawa keluar produk sisa, menyediakan semua kebutuhan sel dengan menyulai oksigen dan memindahkan karbondioksida. Homestatis akan terganggu bila sistem kardivaskuler tidak berfungsi dengan benar.

Kulit, tulang, otot, sistem saraf, sistem endokrin, sistem limpa, peru, sistem pencernaan menggunakan sistem kardiovaskuler sebagai jalan untuk mendistribusikan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh tubuh.

Sistem limfatik. Sistem ini memiliki tiga peran. Pertama, memelihara volume darah dan jaringan. Kelebihan cairan yang melewati kapiler saat berada di bawah tekanan akan meyebabkan pembengkakan.

Kedua, sistem limfa menyerap asam lemak dan trigliserida dari pencernaan

lemak, sehingga komponen makanan tidak masuk secara langsung ke dalam aliran darah. Ketiga, sistem limfa terlibat dalam pertahanan tubuh dalam melawan masuknya mikroba dan respon kekebalan. Sistem ini membantu pemeliharaan misalnya memperbaiki tulang dan otot setelah ada cidera. Sistem pertahanan lainnya, membantu pemeliharaan pH urin untuk melawan infeksi dalam sistem urin. Tonsil tubuh membantu pertahanan untuk melawan infeksi dan racun yang diserap melalui makanan dari saluran pencernaan.

Sistem pernafasan. Sistem pernafasan bekerja bersama dengan sistem kardiovaskuler untuk menyediakan oksigen bagi sel dan setiap sistem untuk metabolisme seluler. Sistem pernafasan juga mengganti karbondioksida. Ketika CO2 sebagai zat utama yang diangkut di dalam plasma sebagai ion bikarbonat, bertindak sebagai buffer kimia, sistem pernafasan juga membantu menjaga kadar pH darah tepat,merupakan bukti pentingnya homeostatis. Sebagai hasil hiperventilasi, jumlah CO2

berkurang di pembuluh darah. Ini menyebabkan pH darah meningkat. Bila kadar asam darah meningkat sekitar 7,45 pernafasan bersifat alkali.

Dengan kata lain, bila terlalu banyak CO2 menyebabkan pH menurun sampai 7,35 maka pernafasan akan asam. Sistem pernafasan juga membnatu sistem limfa dengan menjebak penyebab penyakit dan melindungi jaringan yang lebih dalam.

Sistem pencernaan. Tanpa asupan energi dan nutrisi yang teratur dari sistem pencernaan seluruh sistem dalam tubuh akan menderita. Sistem pencernaan menyerap zat organik, vitamin, ion dan air yang diperlukan oleh selurug tubuh. Di kulit, sistem pencernaan menyediakan lemak untuk disimpan dalam lapisan subkutan. Dengan catatan bahwa makanan melalui tiga tahap pemrosesan dalam tubuh:dicerna, diserap dan dibatasi. Apabila salah satu dati ketiga tahap tidak bekerja, maka akan terjadi masalah.

Teknik mencerna makanan dapat berlangsung secara kimiawi, gerakan, menelan, menyerap dan membatasi. Dalam menjaga kesehatan dan efisiensi sistem pencernaan, harus diingat komponen yang terlibat.

Sistem urinari. Sisa racun nitrogen berkumpul sebagai protein dan asam nukleat yang dipecah dan digunakan untuk tujuan lainnya.

Sistem urin ini membersihkan tubuh dari sisa tadi. Sistem urin juga secara langsung terlibat dalam memelihara volume darah (secara tidak langsung tekanan darah) secara tepat dan kosnetrasi ion di dalam darah. Salah satu kontribusinya adalah ginjal memproduski hormon (erythropoeitein) yang merangsang produksi sel darah merah. Ginjal juga berperan penting dalam memelihara kadar air dalam tubuh dan komposisi garam secara tepat dalam cairan ekstraseluler.

Sistem reproduksi. Sistem reproduksi ini unik, sistem ini memiliki peran yang kecil dalam homeostatis. Dibandingakan dengan homeostatis, sistem ini lebih berperan dalam memelihara kelangsungan organisme. Hormon seks mempengaruhi sistem tubuh lainnya, ketidaseimbangan hormon akan berpengaruh terhadap terjadinya gangguan (misalnya wanita yang memiliki gangguan ovarium lebih berisiko menderita osteoporosis).

Dokumen terkait