BAB III JUAL BELI LUKISAN DIGITAL
D. Lukisan Digital Gambar Manusia sebagai Objek Jual beli
c. Barang
Berkaitan dengan barang/objek yang diperjualbelikan dalam hal ini adalah lukisan digital bergambar manusia. Barang itu ada dan dapat diserahkan setelah selesai dibuat. Barang itu adalah lukisan gambar manusia yang dituangkan dalam bentuk digital. Lukisan ini diperoleh dari hasil memodifikasi atau meng-edit foto manusia dengan menggunakan perangkat lunak pada komputer. Pembeli biasanya menyebutkan kriteria lukisan digital yang diinginkannya, baik jenis, ukuran cetak, jumlah barang yang ingin dibuat, dan lain-lain.
57
pengertian semacam ini tidak terdapat pada gambar yang diambil dengan alat tustel.92
Adapun lukisan digital merupakan proses lebih lanjut yang berasal dari foto yang semula diperbolehkan, kemudian mengalami proses edit sehingga menghasilkan sesuatu yang baru atau dengan kata lain melukis atau menggambar ulang dengan menggunakan komputer. Dengan demikian apakah lukisan digital bergambar manusia dalam hal ini adalah merupakan salah satu bentuk gambar yang dilarang dalam hadis-hadis Rasulullah SAW?
Arti dasar menggambar (tashwiir) dalam bahasa Arab adalah membuat, menyusun, dan membedakan; di antara contohnya adalah lafal “al-mushawwir”
yang merupakan salah satu Asmaul Husna. Artinya, Allah-lah yang telah menciptakan seluruh makhluk ini dan menyusunnya, yaitu dengan memberikan kepada setiap makhluk bentuk khusus dan profil yang membuat masing-masing mereka berbeda dari yang lain, bagaimana pun beraneka macam dan banyaknya jumlahnya.93 Di antara ayat Al-Quran yang memuat lafal ini adalah firman-Nya:
92Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram dalam Islam, (Surabaya: Bina Ilmu, 2000), h.
154.
93Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu 4, diterjemahkan oleh Abdul Hayyie al-Kattani, dari judul asli Fiqih Islam Wa Adillatuhu, (Jakarta: Gema Insani, 2011), h. 227.
Artinya: Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.94
Dengan kodrat-Nya, dijadikan-Nya manusia bermacam-macam bentuk setelah melalui proses demi proses, sejak dari sel mani yang menerobos ke dinding rahim, kemudian menjadi sesuatu yang melekat pada dinding rahim, dan dari sesuatu yang melekat itu menjadi segumpal daging yang melekat, akhirnya berbentuk manusia dan lahirlah ia ke dunia (al-Mu’minun/23: 12-14).
Semuanya itu dijadikan Allah sesuai dengan sunah (hukum) dan ilmu-Nya.95 Dari ayat di atas jelaslah bahwa hanya Allah SWT yang mampu menciptakan makhluk-makhluknya, baik manusia, hewan, maupun tumbuh- tumbuhan. Dia yang membentuk tubuh manusia hingga lahir ke dunia menurut proses yang Dia kehendaki. Tidak ada manusia manapun di muka bumi yang mampu menciptakan makhluk sebagaimana Allah SWT menciptakan makhluk.
Berkaitan dengan makhluk bernyawa, berikut ini merupakan contoh- contoh hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tentang pelarangan terhadap lukisan atau gambar makhluk bernyawa. Hadits riwayat Imam Muslim, ketika seorang lelaki pembuat gambar-gambar datang bertanya kepada Ibnu Abbas dan meminta fatwa mengenai gambar, maka Ibnu Abbas berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
94Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Surabaya: Karya Agung, 2006), h. 62.
95Departemen Agama RI, Al-Qur’an an Tafsirnya, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), h.
455.
59
َر وُص ِ لُكِب ُهَل ُلَعَْ ِر اَّنلا ِفِ ٍر وًّوَصُ ُلُك َمَّنَهَج ِفِ ُهُب ِ ذَعُ َ ف اًسْ َ ن اَهَرَّوَص ٍة
96
Artinya: “Setiap pembuat gambar (tempatnya) di neraka. Allah akan menjadikan baginya, dengan setiap gambar yang dibuatnya, sosok yang akan menyiksanya di neraka Jahannam.”
Al-Qadhi mengatakan tentang riwayat Ibnu Abbas , “Maknanya, bahwa gambar yang dibuatnya itu mengadzab pembuatnya setelah Allah menjadikannya memiliki ruh. Ba’ pada kalimat بِلِّ كُ بِ bermakna يبِف [yakni لَّ كُ يبِف (pada setiap)]” Lebih jauh ia mengatakan, “Kemungkinan juga Allah menjadikan padanya sosok sejumlah gambarnya yang mengadzab pembuat gambarnya itu. Jadi ba’-nya di sini bermakna lam as-sabab (lam yang menunjukkan sebab).97
Hadits lain yang berbicara mengenai larangan menggambar adalah dari Abu Hurairah ketika ia memasuki rumah Marwan, maka ia berkata, Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
ًقْلَخ ُقُلَْيَ َبَهَذ ْنَِّمِ ُمَلْظَأ ْنَ َو اوُ ُلْخَيِل ْوَأ ً َّبَ اوُ ُلْخَيِل ْوَأ ًةَّرَذ اوُ ُلْخَيْلَ ف ىِ ْلَخَك
ًةَيِْعَش
98
Artinya: “Siapa lagi orang yang lebih zhalim daripada orang yang mencoba membuat ciptaan seperti ciptaan-Ku? Cobalah jika bisa mereka membuat atom, atau menciptakan biji-bijian, ataupun menciptakan jelai.”
Allah mengungkapkan firman-Nya dalam hadits qudsi di sini dengan kata-kata “dzahaba yakhluqu kakhalqi” (dia bekerja untuk membuat seperti
96Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, (Dar al-Fikr, 1981), Juz 14, h. 93.
97Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim (14), diterjemahkan oleh Amir Hamzah, dari judul asli Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2011), h. 190.
98Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Shahih Muslim., h. 94.
ciptaan-Ku). Ini menunjukkan adanya kesengajaan untuk menandingi dan menentang kekhususan Allah dalam ciptaan dan keindahannya.99
َّلَص َِّبَِّنلا َل اَق ْمُهْ نَع ُ َيِضَر َ َ ْلَ ِبَِأ ْنَع َلََمْلا ُلُخ ْدَت َ َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُ
ُ َكِع
ُرْ يِو اَصَت َ َو بْلَك ِهْيِف اً ْ يَ ب
Artinya: Dari Abu Talhah RA, dia berkata, Nabi SAW bersabda,
“Malaikat tidak masuk ke rumah yang ada anjing dan tashaawir”.
Dari ketiga hadits di atas dapat dilihat bahwa gambar merupakan hal yang terlarang dan diharamkan untuk dibuat. Para pembuat gambar diancam dengan ancaman yang keras yaitu akan di siksa di neraka Jahannam oleh setiap gambar yang dibuatnya. Kemudian perbuatan menggambar yang dalam hal ini adalah menggambar makhluk bernyawa (manusia dan hewan) dianggap sebagai perbuatan yang zhalim. Di samping ketiga hadits tersebut masih banyak lagi hadits yang membahas masalah gambar yang kesemuanya mengecam keras menggambar makhluk bernyawa.
Imam Nawawi berpendapat bahwa menggambar makhluk bernyawa adalah sangat diharamkan, dan ini termasuk perbuatan berdosa besar, karena pelakunya diancam dengan ancaman keras yang disebutkan di dalam hadits, baik ia membuatnya dengan sesuatu yang dihinakan ataupun yang lainnya, jadi membuatnya dengan apapun adalah haram, karena perbuatan ini berarti menyerupai ciptaan Allah Ta’ala, baik gambar itu dibuat pada pakaian, hamparan, dinar, dirham (uang logam), uang kertas, bejana (wadah), dinding
99Yusuf Qardhawi, Halal dan., h. 144.
61
ataupun lainnya. Adapun membuat gambar pepohonan, pelana unta dan sebagainya yang bukan makhluk hidup (bernyawa) maka tidak haram.100
Senada dengan Imam Nawawi, Sayyid Sabiq dalam kitabnya yang berjudul Fiqih Sunnah, mengatakan bahwa hadits-hadits yang sahih dengan jelas menyebutkan larangan membuat patung dan menggambar sesuatu yang memiliki ruh, baik manusia maupun binatang. Adapun sesuatu yang tidak memiliki ruh, seperti pohon, bunga, dan sejenisnya, maka boleh digambar.101
Sedangkan Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya yang berjudul Halal dan Haram dalam Islam menjelaskan kedudukan hukum gambar atau lukisan makhluk bernyawa. Ia mengatakan bahwa hukum menggambar atau melukis makhluk bernyawa tersebut harus melihat gambar itu sendiri untuk tujuan apa, dimana dia itu diletakkan, bagaimana diperbuatnya, dan apa tujuan pelukisnya itu.102
Lebih lanjut Yusuf al-Qardhawi menjelaskan kalau lukisan seni itu berbentuk sesuatu yang disembah selain Allah, seperti gambar al-Masih bagi orang-orang Kristen atau sapi bagi orang-orang Hindu dan sebagainya, maka bagi si pelukisnya untuk tujuan-tujuan di atas, tidak lain dia adalah menyiarkan kekufuran dan kesesatan.103
Begitu pula dengan orang yang menggantungkan gambar tersebut untuk dikuduskan. Perbuatan seperti ini tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim, kecuali kalau agama Islam itu dibuang di belakang punggungnya. Yang lebih
100Ibid., h. 179.
101Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, diterjemahkan oleh Abu Syauqina dan Abu Aulia Rahma, dari judul asli Fiqhus Sunnah, (Tinta Abadi Gemilang, 2013), jilid 5, h. 417.
102Yusuf Qardhawi, Halal dan., h. 142.
103Ibid., h. 143.
mendekati persoalan ini ialah orang yang melukis sesuatu yang tidak biasa disembah, tetapi dengan maksud untuk menandingi ciptaan Allah. Dia beranggapan bahwa dia dapat membuat dan menciptakan model terbaru seperti ciptaan Allah. Orang yang melukis dengan tujuan seperti itu jelas telah keluar dari agama tauhid.104
Sebagian Salafus Saleh berkata, “Sebetulnya yang dilarang Rasulullah SAW. hanyalah gambar yang memiliki bayangan, sehingga dibolehkan memiliki gambar-gambar yang tidak memiliki bayangan.”105 Selanjutnya, para ulama sepakat melarang gambar yang memiliki bayangan dan mewajibkan untuk mengubahnya. Qadhi Iyadh berkata, “Kecuali yang berkenaan dengan permainan boneka untuk anak-anak perempuan; dalam hal ini terdapat keringanan.106 Ibnu Hajar dalam kitabnya, Fathul Baarii juga menukilkan pendapat Ibnul Arabi dalam masalah ini dengan berkata, “Kesimpulan dalam hal kepemilikan gambar adalah bahwa jika gambar tersebut memiliki tubuh, maka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama.107 Namun jika berupa garis-garis, maka terdapat empat pendapat:
1. Pendapat yang membolehkan secara mutlak berdasarkan hadits, “...kecuali yang berupa garis-garis pada kain.”
2. Pendapat yang melarang secara mutlak.
3. Apabila gambar tersebut berpostur lengkap dan berfisik, maka diharamkan.
Sebaliknya jika kepalanya terpotong atau organ-organnya saling tercerai
104Ibid.
105Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam., h. 231.
106Ibid.
107Ibid., h. 231-232.
63
berai maka dibolehkan. Menurut Ibnu Hajar, pendapat inilah yang lebih tepat.
4. Apabila gambar tersebut diletakkan di tempat yang rendah/hina dibolehkan, namun jika tidak maka tidak boleh.108
Berdasarkan pendapat para ulama tersebut, mereka sepakat bahwa gambar yang memiliki bayangan adalah haram. Maksud daripada gambar yang memiliki bayangan disini tidak lain adalah patung, bukan lukisan. Sebab, gambar pada dasarnya dibedakan menjadi dua, yaitu gambar dua dimensi (lukisan) dan gambar tiga dimensi (patung). Sehingga secara umum para ulama sepakat mengharamkan setiap patung dan lukisan daripada makhluk bernyawa.
Lukisan digital yang dibuat dan diperjualbelikan di kalangan masyarakat saat ini adalah lukisan digital bergambar manusia. Lukisan ini dibuat dengan menggunakan software pada komputer yang mana kegiatan ini sering dikenal dengan istilah digital painting. Melihat dan menelaah dari proses bagaimana lukisan ini dibuat, maka hal ini berbeda dengan kegiatan menggambar yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits-hadits beliau.
Dengan menggunakan pendekatan bahasa, arti kata “menggambar”
(tashwiir) dalam bahasa Arab adalah membuat, menyusun, dan membedakan.
Menggambar yang juga dapat diartikan sebagai mengadakan gambar yang semula tidak ada dan belum dibuat sebelumnya yang bisa menandingi (makhluk) ciptaan Allah, pengertian semacam ini tidak melingkupi apa yang dimaksud lukisan digital di sini.
108Ibid.
Adapun dalam istilah Arab, ada beberapa kata yang berhubungan dengan makna dari gambar, antara lain ةروص dan لاثمت . Lafaz shurah dalam Bahasa Arab berasal dari bentuk mufrod روص yang mana terdapat pada nama Allah رلِّوصملا yang berarti Dia-lah Dzat yang membentuk dan menyusun segala sesuatu yang ada kemudian memberikan kepada setiap ciptaan-Nya bentuk yang khusus dan pribadi yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya.109 Kata ةروص cenderung diartikan sebagai gambar, lukisan. Sedangkan kata لاثمت cenderung diartikan sebagai patung. Baik menelaah makna shurah maupun timtsal, keduanya tidak mencakupi makna lukisan digital sebagaimana dimaksud di sini, sebab lukisan digital di sini pada hakikatnya bukanlah sebuah lukisan melainkan foto yang di-edit.
Pengertian melukis sendiri adalah sesuatu yang dibuat melalui goresan tangan pelukis dalam berbagai media (seperti kertas, kain, atau kanvas); hasil seni visual pada bidang datar (dua dimensi).110 Sementara lukisan digital bukanlah sebuah lukisan yang secara murni berasal dari goresan tangan manusia untuk menciptakan sebuah gambar, melainkan hanya modifikasi dari foto gambar manusia dengan menggunakan berbagai tool di sebuah aplikasi perangkat lunak.
Pembuat lukisan digital tidak melukis sebagaimana pelukis menggerakkan kuasnya untuk menciptakan gambar dari tangannya sendiri tetapi tidak lebih dari sekedar meng-edit foto dan mengubahnya menjadi
109Jamaluddin Abi al-Fadhl Muhammad bin Mukarom Ibd Mandhur al-Anshari, Lisan Al-Arab, (Beirut: Dar al-Kitab al-Ilmiyah), h. 441.
110Abdul Azis Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Bachtiar Baru Van Hoeve, 1996), h. 1016.
65
bentuk-bentuk yang beraneka ragam. Sehingga, penyebutan istilah lukisan digital di kalangan masyarakat kurang tepat sebab ia tidak mencakup sebagaimana pengertian sebuah lukisan yang masuk kedalam karya seni lukis melainkan lebih tepat disebut sebagai edit-an foto.
Tujuan penjual menjual lukisan ini adalah untuk mencari rezeki dengan memanfaatkan kemampuannya di bidang seni meng-edit di dalam komputer dan menjadikannya sebagai mata pencaharian atau penghasilan. Sedangkan tujuan pembeli memesan dibuatkan lukisan digital bermacam-macam. Ada yang memesan untuk dijadikan kado/hadiah ulang tahun (birthday), hari jadi (anniversary), hari kelulusan wisuda (graduation), maupun untuk dimiliki sendiri. Artinya, tujuan penjual membuat dan menjual lukisan digital adalah bukan untuk menandingi ciptaan Allah dan tujuan pembeli membeli lukisan digital bukan untuk diagung-agungkan, disakralkan, apalagi untuk disembah.
Sehingga memperjualbelikan lukisan digital tidak dikhawatirkan akan menyebarkan praktek kesyirikan yang keluar dari akidah.
Lukisan digital bergambar manusia yang diperjualbelikan adalah bentuk daripada gambar yang tidak memiliki bayangan yang dalam hal ini dibolehkan oleh sebagian Salafus Saleh. Terlebih lagi yang dilukis biasanya hanyalah gambar wajah manusia saja atau setengah badan manusia, sehingga hal ini tidaklah sama dengan arti menciptakan sebagaimana Allah menciptakan makhluknya. Bentuk yang demikian diperbolehkan sebagaimana pendapat Ibnu Hajar.
Tujuan pembelian lukisan digital nantinya adalah hanya akan dijadikan sebatas pajangan di dinding, di atas meja kerja, ataupun di atas meja belajar.
Artinya, masyarakat tidak memilikinya dan memajangnya di rumah untuk disembah, seperti gambar Isa al-Masih bagi umat Kristen dan tidak pula untuk diagung-agungkan. Sehingga perbuatan ini jauh dari praktek syirik atau menyekutukan Allah. Lukisan digital ini juga tidak dibuat untuk niatan menandingi ciptaan Allah melainkan hanya memanfaatkan foto yang sebenarnya dari wajah manusia yang kemudian dimodifikasi.
E. Tinjauan Hukum Islam terhadap Transaksi Lukisan Digital Gambar