BAB VI Lembaga Pendidikan Islam
D. Manajemen Perguruan Tinggi Islam
Upaya tokoh-tokoh Islam untuk memberdayakan umat Islam di Indonesia dalam jalur pendidikan juga diwujudkan dengan mendirikan perguruan tinggi Islam sebagai sebuah lembaga lanjutan. Upaya ini disempurnakan secara berkesinambungan mulai dari awal hingga
sekarang dengan berbagai terobosan yang bersifat politis, kultural, sosial, Inaupun birokratik.191
Secara kualitatif, upaya tersebut dapat dinilai berhasil karena belakangan ini telah bermunculan berbagai perguruan tinggi yang berlabel Islam. Perguruan tinggi tersebut mulai dari yang berlokasi di ibu kota (Jakarta) hingga di wilayah kecamatan yang tersebar di berbagai penjuru pulau Jawa. Bahkan, ada pula dalam satu kecamatan, terdapat tiga perguruan tinggi Islam seperti yang terjadi di kecamatan Pacitan, Lamongan. Akan tetapi, secara kualitatif, perguruan tinggi tersebut masih jauh dari harapan yang ideal sehingga hal ini membutuhkan penanganan yang lebih propesional dan serius untuk meningkatkan mutunya.
1. Polarisasi PTAI dan Problematikanya
Dari segi tanggung jawab pengelolaan, Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) terpolarisasi menjadi dua, yaitu Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dan Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS). PTAIN dikelola dan didanai hampir sepenuhnya Oleh pemerintah/negara, sedangkan PTAIS dikelola dan didanai hampir sepenuhnya Oleh masyarakat.
Dari segi ruang lingkup program studi yang ditawarkan, PTAIN terpolarisasi menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Universitas Islam Negeri (UIN). Begitu pula PTAIS yang terpolarisasi menjadi sekolah tinggi, institut, atau universitas dengan menggunakan nama Islam maupun tokoh Muslim. Di samping itu, PTAIS sebenarnya juga mencakup ma'had ‘aly (pesantren luhur atau pesantren setingkat perguruan tinggi) yang menggunakan nama ma'had ‘aly maupun nama IAIN, seperti Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning (STIKK) di pesantren An- Nur Bululawang, Malang.192
191 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm. 100
192 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm 101
Pada umumnya, PTAIN lebih maju dari PTAIS karena PTAIN memperoleh pendanaan yang lebih memadai, manajemen yang lebih profesional, kontrol yang lebih ketat, serta dukungan masyarakat yang lebih kuat dan luas. Namun, secara khusus, dalam kasus-kasus tertentu, mungkin saja ada perguruan tinggi agama Islam swasta yang lebih berkualitas daripada perguruan tinggi agama Islam negeri.
Perbedaan kualitas itu tidak hanya terjadi di kalangan perguruan tinggi Islam, tetapi kecenderungan yang sama juga telah lama terjadi di kalangan perguruan tinggi umum. Karena itu, kesan yang terbangun di Indonesia adalah perguruan tinggi negeri, baik yang berlabel Islam maupun umum, lebih berkualitas daripada perguruan tinggi swasta.
Pengembangan PTAIN menghadapi kendala politis, kultural, sosial, dan psikologis. Kendala politis itu terjadi misalnya menyangkut pengembangan kelembagaan seperti Yang terjadi pada zaman Orde Baru. Pada masa rezim Soeharto sangat sulit mengubah IAIN menjadi UIN karena tidak didukung oleh good will, political will, maupun political power dari pemerintah. Perubahan IAIN menjadi UIN baru bisa terjadi pada 2002.
Akan tetapi, seling berjalannya waktu ketika orde baru berganti menjadi reformasi, perguruan tinggi Islam kini mengalami perkembangan dari tahun ke-tahun, hal ini bisa dilihat berdasarkan data terakhir dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Direktorat Pendidikan Tinggi Islam dengan Rekapitulasi PTAIN dan PTAIS hingga saat ini sebaga berikut193
1. Rekapitulasi PTAIN dengan UIN berjumlah 11, IAIN berjumlah 26 dan STAIN berjumlah 20. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar dibawah ini.
193 Kementerian Agama RI, Rekapitulasi Seluuh PTAI , (Diktis.kemenag.go.id/bansos/cari_nspt.php)
Gambar Rekapituasi Seluruh PTAIN
2. Rekapitulasi PTAIS diantaranya FAI/Universitas berjumlah 100, Institut berjumlah 56, dan Sekolah Tinggi berjumlah 607, untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.194
Gambar Rekapitulasi Seluruh PTAIS
194 Kementerian Agama RI, Rekapitulasi Seluuh PTAI , (Diktis.kemenag.go.id/bansos/cari_nspt.php)
20
11 26
SATIN UIN IAIN
100
607 56
FAI/Universitas Sekolah Tinggi Institut
Dengan berdasarkan data yang ada di atas, hal ini disimpulkan bahwa, pekembangan PTAIN dan PTAIS di Indonesia telah mengalami kemajuan selepas lengsernya massa Orde Baru.
2. Solusi Penataan PTAI
Problem-problem serius yang dihadapi oleh PTAI harus segera diatasi. Pihak yang paling bertanggung jawab adalah para pimpinan perguruan tinggi agama Islam tersebut karena mereka merupakan pengendali, meskipun problem-problem itu bisa saja terjadi karena ulah orang lain. Kemudian, seluruh civitas akademika harus merespons dengan kompak untuk mendukung pimpinan dalam mengadakan pembenahan.
Perguruan tinggi Islam harus segera melakukan pembenahan dalam berbagai aspek, baik yang berhubungan dengan perangkat keras maupun perangkat lunak dalam rangka menghadapi tantangan masa depan.195 Kata kuncinya hanya satu, yaitu angrem (menunggui) kampus yang berlaku bagi para pimpinan dan civitas akademikanya.
Jangan harap anak ayam akan menetas dengan baik jika induk ayam tidak mau mengerami dengan sungguh- sungguh.196 Sebab, membangun perguruan tinggi merupakan upaya membangun manusia profesional-intelektual supaya mereka mampu bergaul di tengah- tengah komunitas global secara dinamis, kreatif, dan inovatif.197
Tipologi manusia profesional-intelektual tersebut membutuhkan pelatihan, pendidikan, pengalaman, dan keahlian yang diproses dalam waktu yang relatif panjang. Karena, di samping terdapat unsur penanaman pengetahuan juga pembiasaan dalam kehidupan sehari- hari. Unsur penanaman mungkin dapat dicapai dalam waktu yang cepat, tetapi pembiasaan membutuhkan proses yang berkesinambungan, sehingga diperlukan penguatan-penguatan akademis.
195 Fadjar, Visi..., hlm. 176
196 Fadjar, Holistika..., hlm. 43
197 Fadjar Holistika,,., hlm. 44
Untuk penguatan akademis itu, Fadjar melihat ada beberapa pemikiran praktis yang perlu diperhatikan berikut ini.
a. Pemeliharaan dan peningkatan stabilitas kelembagaan. Dengan demikian, citra sebagai lembaga keilmuan melalui berbagai model dialog, komunikasi timbal-balik, keterbukaan, dan kebebasan yang bertanggung jawab tetap terjaga.
b. Pemeliharaan serta peningkatan sistem akademik dan kemahasiswaan. Dengan demikian, perguruan tinggi Islam dapat menjadi lembaga pendidikan tinggi yang menjunjung pelaksanaan manajemen belajar-mengajar yang mantap, dengan melalui pembenahan serta pemenuhan berbagai sarana dan prasarana.
c. Menciptakan suatu model belajar privat (tambahan), yaitu "student da)'" (misalnya setiap Sabtu) sebagai model pengembangan daya kreasi dan apresiasi kehidupan kampus.
d. Pembentukan lembaga studi/kajian, seperti pusat studi Islam, pusat penelitian, dan pusat pembibitan.
e. Pemberian keleluasaan pada tiap-tiap fakultas/jurusan untuk mengembangkan dan meningkatkan kegiatan kuliah łamu dan latihan-latihan keahlian dałam berbagai bidang, seperti bahasa, perpajakan, perbankan, dan sebagainya.198
Selanjutnya, dałam menghadapi kendala politis yang bersifat eksternal (dari pemerintah) yang terkait dengan pengembangan kelembagaan dapat diselesaikan melalui cara berikut.
a. Lobi-lobi dari pejabat yang dimulai dari tingkat Dirjen Pendidikan Islam, Sekretaris Jenderal, bahkan Menteri Agama.
b. Menggalang dukungan dari DPR melalui hearing terutama dengan komisi VIII
c. Menunjukkan kesiapan konsep, fisik, dan mekanisme kerja.
d. Menunjukkan keseriusan dan komitmen yang tinggi untuk mengembangkan lembaga menjadi lebih besar.
198 Fadjar, isi..., hlm. 178-179
Bagi kendala politis yang besifat internal, dapat diselesaikan dengan cara, yaitu cara kuratif dan preventative. Cara kuaratif dapat dilaksanakan dengan cara:199
a. Membawa para dosen kedalam suasana akademik;
b. Memperkuat tradisi akademik; dan
c. Mengkreasi kesibukan-kesibukan akademik yang melibatkan mereka, sehingga mereka tidak sempat “bermain politik”.
Sementara itu, cara preventif diberlakukan dengan:
a. Melakukan penyaringan atau seleksi kepada calon dosen yang benar-benar mencerminkan sosok akademisi;
b. Menghindarkan diri dari calon dosen/karyawan yang cenderung terlalu fokus pada bisnis pribadi dan politik kepentingan;
c. Membuat surat perjanjian yang harus ditandatangangani calon pegawai untuk tidak terlibat dalam politik kepentingan, politik aliran, politik organisasi, dan politik praktis di dalam kampus.
Dalam menghadapi kendala kultural, pimpinan perguruan tinggi Islam bisa menempuh beberapa cara berikut ini.
a. Mengharuskan para bawahamya untuk mengadakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengontrolan secara ketat.
b. Menggerakkan bawahan pada orientasi kreasi dan kekaryaan.
c. Menggerakkan terwujudnya reading-writing society pada civitas akademika.
d. Menanamkan semangat berprestasi unggul.
e. Membudayakan kritik konstruktif-argumentatif.
f. Mentradisikan penelitian dan penulisan karya ilmiah.
g. Mendorong keberanian untuk mempublikasikan hasil-hasil karya ilmiah ke ruang publik.
199 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm 108
Untuk mengatasi kendala sosial atau masyarakat, pemimpin perguruan tinggi Islam baik negeri maupun swasta sebaiknya melakukan hal-hal berikut.200
a. Penyebaran informasi secara memadai kepada masyarakat luas, terutama melalui radio kampus.
b. Membangun opini/kesan (image building) tentang berbagai kelebihan perguruan tinggi Islam.
c. Menggiring masyarakat agar memiliki persepsi yang benar terhadap perguruan tinggi Islam sesuai dengan realitas yang ada.
d. Mengundang masyarakat ke kampus opada even-even tertentu.
e. Melibatkan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan tertentu.
f. Mengajak masyarakat untuk memasukkan putra-putrinya ke perguruan tinggi Islam
Adapun dalam mengatasi kendala psikologis, pimpinan perguruan tinggi Islam seharusnya melakukan hal berikut.201
a. Menanamkan pendidikan berbasis kesadaran di kampus.
b. Mengondisikan lingkungan pembelajaran yang aman dan menyenangkan.
c. Melaksanakan proses pembelajaran secara ketat.
d. Menggunakan pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran yang akseleratif.
e. Memiliki perhatian khusus pada mahasiswa yang potensinya lemah melalui penambahan pembelajaran dan strategi khusus.
f. Melakukan evaluasi secara objektif, ketat, dan menyeluruh (holistik).
Selanjutnya, dirasa perlu juga melakukan pengelolaan secara spesifik terkait dengan masing-masing jenis perguruan tinggi Islam yang dalam beberapa hal memiliki perbedaan karakter.
200 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm 109
201 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm 110
3. Penataan IAIN dan STAIN
Dari segi ruang lingkup keilmuan, mestinya IAIN lebih luas daripada STAIN, tetapi pada pelaksanaamya tidak jauh berbeda.
Hanya saja, IAIN membuka lima fakultas utama, yaitu fakultas syariah, ushuluddin, adab, tarbiyah, dan dakwah. Sementara itu, STAIN rata-rata hanya membuka tiga macam fakultas yang kemudian disebut dengan istilah jurusan. Embrio kelahiran STAIN berasal dari fakultas cabang IAIN sehingga ada kesamaan kajian dan sejarah.
Untuk itu, pembahasan pada bagian ini lebih difokuskan pada IAIN dan dimaksudkan juga mencakup STAIN.
IAIN diharapkan mampu memberikan respons dan jawaban Islami terhadap tantangan-tantangan zaman. IAIN hendaknya dapat memberikan warna dan pengaruh keislaman kepada masyarakat Islam secara keseluruhan. Hal ini dapat dan disebut sebagai ekspektasi sosial kepada IAIN. Pada saat yang sama, IAIN juga diharapkan mampu mengembangkan dirinya menjadi pusat studi dan pengembangan Islam. Ini merupakan ekspektasi akademik kepada IAIN. Dengan demikian, IAIN memikul dua harapan: social expectations dan academic expectations.202
Namun, dua ekspektasi ini terkadang berbenturan dalam perjalanan IAIN. Ketika ekspektasi sosial menjadi dominan, maka IAIN tampak sebagai lembaga dakwah yang berfungsi menyiarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Namun, saat ekspektasi akademik menjadi dominan, maka IAIN terasa sebagai lembaga ilmiah yang senantiasa berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan terutama ilmu pengetahuan Islam. Sekarang ini, harus ditentukan penegasan ekspektasi yang akan menjadi konsentrasi IAIN guna memperjelas langkah-langkah berikutnya.
Sebagai perguruan tinggi agama Islam, IAIN bertanggung jawab dalam usaha mengembangkan ilmu-ilmu agama, dan bukan mengembangkan dan menetapkan dogma-dogma agama, meskipun
202 Azra, Pendidikan..., hlm. 161
secara tidak langsung hal ini tidak terhindarkan dan sebagai ciri esensial yang melekat pada ilmu-ilmu agama Islam.203 Di kalangan IAIN sendiri harus dibangun kesadaran bahwa mengantarkan IAIN menjadi lembaga akademis merupakan hal yang lebih penting daripada mempertahankan itu, IAIN sebagai lembaga keagamaan atau dakwah.204
Ketika IAIN menegaskan identitasnya lebih sebagai lembaga akademik daripada lembaga dakwah, ada konse dan kuensi- konsekuensi logis yang harus diwujudkan IAIN dalam serangkaian langkah dan kegiatamya. IAIN harus berkonsentrasi untuk menjadikan dirinya pusat kajian keislaman, pusat pengembangan ilmu-ilmu keislaman, dan pusat penemuan ilmu-ilmu keislaman. Dengan begitu, kegiatan menulis, menelaah, mengkritis, merumuskan teori, membangun teori alternative, menggali, meneliti, dan menyajikan tawaran konsep menjadi kegiatan utama yang menempati garda terdepan.
IAIN sangat mungkin memainkan peran yang signifikan dalam pembangunan dan pembaruan sistem pendidikan Islam di Indonesia.
Bahkan, IAIN telah membuka ruang wawasan pemaknaan dan penafsiran atas Islam secara luas dan kontekstual.205
Secara rinci, Fuad Jabali dan Jamhari menyatakan tiga peran IAIN sebagai lembaga pendidikan Islam:
a. IAIN merupakan salah satu jalur terbesar bagi mobilitas pendidikan kaum santri;
b. IAIN memberikan perspektif modern dan liberal dalam kajian- kajian keislaman; dan
c. Alumni IAIN banyak yang menjadi guru atau kiai di pesantren.206
203 Mastuhu, Memberdayakan..., hlm. 147
204 Fuad Jabali dan Jamhari (Peny.), IAIN: Modernisasi Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Logos Wacana 11mu, 2002), hlm. 93
205 Fuad Jabali dan Jamhari (Peny.), IAIN: Modernisasi Islam di Indonesia, hlm. 108
206 Rahim, Arah.., hlm. 175
Perubahan-perubahan yang terjadi belakangan ini merupakan akibat langsung dari era informasi yang menembus berbagai belahan bumi dan menuntut sikap responsif. Perubahan ini pada giliramya mengharuskan IAIN untuk bekerja lebih keras Iagi guna mempertegas kapasitasnya sebagai perguruan tinggi Islam negeri yang potensial dalam mengantarkan mahasiswa dan alumninya untuk memasuki dunia global dengan keahlian yang telah dipersiapkan melalui pendidikan, pengajaran, pelatihan, penelitian, dan pengkajian di IAIN.
Berkaitan dengan perubahan itu, IAIN sebagai lembaga pendidikan tinggi perlu mengambil langkah-langkah strategis agar dapat melakukan antisipasi.207 Umat Islam mengharapkan dan lahirnya para pemikir, pemimpin, dan ulama terkemuka dari IAIN.
Untuk itu, IAIN harus mampu menciptakan iklim yang produktif supaya tercipta suasana yang memungkinkan me- tumbuh dan berkembangnya ide-ide segar berkenaan dengan pengamalan dan aktualisasi ajaran-ajaran Islam. IAIN dituntut pula memberikan bekal intelektual dan kepemimpinan yang teruji dengan integritas pribadi dan akhlak yang mulia sehingga dapat menjadi teladan bagi masyarakat.208 Ini berarti, IAIN mempunyai tugas sebagai wadah yang mempersiapkan tumbuhnya penafsir-penafsir Islam yang nantinya dapat dikomunikasikan kepada masyarakat luas.209
Azyumardi Azra mengajukan beberapa rekomendasi untuk pengembangan IAIN ke depan, yaitu sebagai berikut.
a.
Reformulasi tujuan IAINSebaiknya IAIN lebih memfungsikan diri sebagai pusat penelitian dan pengembangan pembaruan pemikiran Islam.
b.
Restrukturisasi kurikulum
207 Azra, Pendidikan., hlm. 161-162
208 Azra, Pendidikan, hlm. 162
209 Azra, Pendidikan., hlm. 167-168
Perlu dilakukan pengembangan pengusaan dibidang-bidang Islamic studies dengan prinsip-prinsip dari kerangka teori ilmu- ilmu umum.
c.
Simplikasi beban perkuliahanIdealnya beban mahsiswa setiap semester tidak lebih dari lima mata kuliah.
d.
DekompartementalisasiSebaiknya tidak ada pembagian kefakultasan dan jurusan dalam dua tahun pertama agar penguasaan mahasiswa terhadap Islam lebih komprehensif dan integral.
e.
Liberalisasi sistem SKSMahasiswa supaya diberi kebebasan memilih program dan dosen sesuai dengan kecenderungamya masing-masing.210
Di samping itu, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan prioritas untuk menjadikan IAIN sebagai perguruan tinggi Islam yang benar- benar berkualitas, yaitu sebagai berikut.
a. Memperkuat trio jantung perguruan tinggi, yaitu dosen, perpustakaan, dan laboratorium. Ini artinya pendidikan, pelatihan, pelaksanaan lokakarya, pengalaman, dan penelitian dosen harus senantiasa ditingkatkan; referensi perpustakaan terutama yang berbahasa asing harus juga ditingkatkan; dan laboratorium diupayakan bisa menjangkau/memfasilitasi masing-masing rumpun mata kuliah.
b. Sistem pembelajaramya berorientasikan pada pendalaman informasi keilmuan dengan multitinjauan dan multiperspektif sehingga menggunakan metode kritik dan perbandingan (manhaj naqdî dan muqâranî).
c. Upaya pengembangan keilmuan ditempuh melalui pendekatan epistemologi. Suatu pendekatan yang bergerak meluas, mengembang, menggali, dan menemukan rumus atau teori baru.
210 Azra, Pendidikan., hlm. 167-168
d. Memperkuat tradisi penelitian, penulisan karya ilmiah, dan publikasi ke ruang publik.
e. Memperkuat penguasaan bahasa-bahasa internasional, terutama bahasa Arab dan Inggris.
f. Membangun jaringan dengan berbagai perguruan tinggi yang maju, baik di dalam maupun di luar negeri untuk bekerja sama meningkatkan kualitas pendidikan.
4. Penataan UIN
Universitas Islam Negeri (UIN) merupakan wujud perkembangan paling signifikan dari serangkaian perjuangan kelembagaan PTAIN, setidaknya sampai sekarang ini. Sebab, perubahan dari IAIN, atau apalagi STAIN, menjadi UIN memiliki implikasi yang luas, baik menyangkut posisi kelembagaan, peluang pembukaan program studi, persaingan akademik, maupun penghapusan dikotomi ilmu agama dan ilmu umum.211
Azyumardi Azra, misalnya, dalam sambutan rektor pada Prospektu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyatakan:
Perubahan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada dasarnya bertujuan untuk mendorong usaha reintegrasi epistemologi keilmuan yang pada giliramya menghilangkan dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Hal ini penting dalam rangka memberikan landasan moral Islam terhadap perkembangan iptek dan sekaligus mengartikulasikan ajaran Islam secara proposional di dalam kehidupan masyarakat.212
Di samping itu, ada dasar pemikiran yang menjadi alasan berdirinya UIN sebagai sebuah pengembangan kelembagaan yang kehadiramya telah lama ditunggu-tunggu. Abuddin Nata menjelaskan
211 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,,hlm 115
212 Azyumardi Azra, "Sambutan Rektor", Prospektus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta "Wawasan 2010" Leading Toward Research University, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), hlm. ii
bahwa setidaknya ada lima alasan yang melatar belakangi perlunya konservasi IAIN menjadi UIN, yaitu sebagai berikut.
a. Ada perubahan jenis pendidikan pada madrasah Aliyah.
b. Ada dikotomi antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum.
c. Perubahan IAIN menjadi UIN akan memberikan peluang yang lebih luas bagi para lulusamya untuk dapat memasuki lapangan kerja yang luas.
d. Perubahan IAIN menjadi UIN diperlukan dalam rangka memberikan peluang kepada lulusan IAIN untuk melakukan mobilitas vertikal, yakni kesempatan dan peran untuk memasuki medan gerak yang lebih luas.
e. Perubahan IAIN menjadi UIN sejalan dengan tuntutan umat Islam, yang selain menghendaki adanya pelayanan penyelenggaraan pendidikan yang profesional dan berkualitas tinggi juga dapat menawarkan banyak pilihan.213
Berdasarkan alasan-alasan tersebut, keberadaan UIN bagi umat Islam Indonesia merupakan suatu keniscayaan. Artinya, suatu keharusan untuk diwujudkan dengan pengesahan pemerintah karena sudah sangat terlambat. Tokoh-tokoh muslim, terutama yang memiliki perhatian kepada perguruan tinggi Islam, telah lama menggagas berdirinya UIN. Hanya saja selalu terbentur oleh kebijakan politik pemerintah Orde Baru yang sangat tertutup dan diskriminatif.
Kehadiran UIN harus dipandang sebagai buah dari perjuangan yang panjang dan harus disambut dengan respons yang positif- konstruktif. Setelah perjuangan itu berhasil, langkah berikutnya adalah mengembangkan UIN supaya benar-benar menjadi perguruan tinggi yang berkualitas, menjadi rujukan umat Islam Indonesia, memiliki kewibawaan akademik, menghasilkan berbagai tawaran ilmiah, dan memiliki pengaruh dalam skala internasional.
213 Abudin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2003), hlm. 64-69
Pengembangan UIN ke depan harus berorientasi pada dunia dan akhirat sehingga mampu mewujudkan lembaga pendidikan tinggi yang dianggap membangun khaira ummah.214 Penyelenggaraan UIN memerlukan sistem pengelolaan yang lebih baik, terpadu, dan berkesinambungan, bukan saja untuk memenuhi tuntutan masyarakat dan bangsa yang sekarang menginginkan reformasi di segala bidang, tetapi juga harus dapat memerhatikan persaingan dengan kemajuan yang dihadapi oleh bangsa-bangsa lain terkait dengan era globalisasi dan era pasar bebas (AFTA, WTO, dan APEC) menjelang tahun 2020 nanti.215
Selain itu, untuk mencapai pendidikan transformative diperlukan modal pemimpin yang piawai mengelola manajemen universitas dengan baik, bertindak dan berbicara kepada seluruh anggota civitas akademika secara komunikatif, mampu bersikap kritis terhadap kendala-kendala yang meng hambat kemajuan universitas, serta mampu mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi berbagai masalah.216 Hal ini membutuhkan figur pemimpin yang benar-benar profesional untuk mewujudkan kelangsungan dan kemajuan universitas Islam.
Sebagai universitas yang baru saja lahir, keberadaan UIN tentu saja masih diliputi berbagai kekurangan dan kelemahan. Maka, para pitupinan UIN harus sesegera mungkin mengidentifikasi problem atau
214 Qodry Azizy, "Pengembangan UIN dan Integrasi Ilmu Agama", dalam M. Zaenuddin dan Muhammas In'am Esha (Eds) Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespons Dinamika Masyarakat Global, (Yogyakarta:
Aditya Media Yogyakarta bekerja sama dengan UIN Press, 2004), hlm. 4
215 Husni Rahim, "UIN dan Tantangan Meretas Dikotomi Keilmuan", dalam M. Zaenuddin dan Muhammad In'am Esha (Eds) Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespons Dinamika Masyarakat Global, (Yogyakarta: Aditya Media Yogyakarta Bekerja sama dengan UIN Press, 2004), hlm. 66
216 Mudji Rahardjo, "Universitas Islam Negeri (UIN) Malang di Tengah Perubahan Sosial", dalam M. Zaenuddin dan Muhammad In'am Esha (eds) Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespons Dinamika Masyarakat Global, (Yogyakarta: Aditya Media Yogyakarta bekerja sama dengan UIN Press, 2004), hlm. 138
kelemahan yang dihadapi UIN untuk kemudian dicarikan jalan keluarnya. Setidaknya, mereka bisa membuat skala prioritas secara berjenjang sehingga bisa terlihat aspek-aspek apa saja yang perlu segera mendapat penanganan dan aspek-aspek apa saja yang penanganamya bisa menyusul kemudian. Kategorisasi prioritas ini didasarkan pada tingkat kebutuhan UIN sendiri sebagai universitas yang baru sama sekali.
Terkait dengan skala prioritas pengelolaan itu, Rahim menawarkan tiga bidang penataan yang utama sebagai berikut.
a. Penataan kelembagaan, Hal ini dilakukan dengan mengkaji ulang posisi fakultas, program studi, dan konsentrasi dari berbagai fakultas agama untuk melihat kaitamya dengan visi UIN dan relevansinya dengan kebutuhan masyarakat.
b. Penataan bidang akademik. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu dan relevansi UIN menghadapi tantangan masa depan.
c. Penataan bidang administrasi. Hal ini untuk mengadakan deregulasi dan pemberdayaan unit-unit pelayanan yang h ada di UIN.217
Adapun A. Qodry Azizy menawarkan empat macam cara dalam mengembangkan UIN ke depan, yaitu sebagai berikut.
a. Komitmen moralitas
The UIN shall be a moral institution. Ini yang harus ditunjukkan.
b. Sistem dan iklim
Harus ada kedisiplinan, menghargai waktu, bekerja keras, sanksi tegas, dan juga reward.
c. Budaya dosen dan mahasiswa
Dosen harus berprestasi, termasuk dalam pengembangan seni dan budaya, sedang mahasiswa harus bisa menggalakkan diskusi.
Perilaku keseharian sejalan dengan Islam. Gaya berpakaian, jenis aktivitas, dan sebagainya harus mengarah kepada amaliah Islam.
d. Staf dan jajaran pimpinan
217 Rahim, "UIN..,", hlm. 65-66