• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Manajemen Pendidikan Islam

N/A
N/A
Sdit Al Muchtari Cimande

Academic year: 2024

Membagikan " Buku Manajemen Pendidikan Islam"

Copied!
172
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Manajemen Pendidikan Islam

Penulis :

Dr. Hj. Siti Asiah Tjabolo, M.M

Penerbit

Pustaka Cendekia.

ISBN: 978-602-52650-1-3 Editor

Alfian Erwinsyah, M.Pd

Redaksi

Email [email protected] Cetakan Mei 2018

Alamat Penerbit :

Senoboyo, sleman Yogyakarta

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit.

(3)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah Swt, karena rahmat dan karunia-Nyalah sehingga penulis menyelesaikan tulisan sederhana ini menjadi sebuah buku yang berjudul Manajemen Pendidikan Islam.

Penulis menyadari bahwa, buku Manajemen Pendidikan Islam ini, di sana sini masih banyak kekurangan namun penulis berharap dengan buku ini dapat membantu para mahasiswa, atau pembaca dalam memahami Manajemen Pendidikan Islam, khusnya dalam lingkup Perguruan Tinggi Islam baik negeri maupun Swasta.

Buku Manajemen Pendidikan Islam ini bisa diwujudkan dengan ispirasi yang ada dalam buku Manajemen Pendidikan Islam sebelumnya yang ditulis oleh Prof. Dr. Mujamil Qomar. Dengan demikian, penulis ingin menambah literatur-literatur yang sudah ada khusunya literatur yang berkaitan dengan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, di mana penulis sebagai salah satu dosen di lingkuang IAIN Sultan Amai Gorontalo terlebih khusus Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, maka penulis harus menulis buku manajemen pendidikan Islam.

Semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang mengelola dan memberdayakan sumber daya-sumber daya organisasi kearah yang efektif dan efisien, sehingga tujuan akhir organisasi dapat tercapai secara maksimal

(4)

Kritik dan saran dengan lapang dada penulis terima sebagai suatu masukan dalam penyempurnaan buku ini, kepada semua pihak yang telah banyak membantu, penulis hanturkan banyak terimakasih.

Semoga Allah Swt selalu memberikan rahmatnya kepada kita semua.

Amin Ya Robbal Alamin.

Gorontalo, April 2018

Penulis

(5)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ... iii

BAB I Pendidikan Islam ... 1

A. Pengada Pendidikan Islam ... 1

B. Mengada Pendidikan Islam ... 2

C. Pengertian Pendidikan Islam dari Segi Bahasa ... 3

D. Pengertian Pendidikan Islam dari Segi Istilah ... 13

BAB II Seputar Manajemen Pendidikan Islam ... 17

A. Manajemen Pendidikan Islam dan Implikasinya ... 17

B. Karakteritik Manajemen Pendidikan Islam ... 21

C. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pendidikan Islam ... 34

D. Mekanisme Membangun Konsep Manajemen Pendidikan Islam ... 38

BAB III Kurikulum Pendidikan Islam ... 41

A. Pengertian kurikulum ... 41

B. Persoalan Kurikulum dalam Pendidikan Islam ... 43

C. Peran Iman, Agama dan Logika dalam Sistem Kependidikan Islam ... 51

BAB IV Manajemen Sarana Prasarana ... 58

A. Definisi Manajemen Sarana Prasarana ... 58

B. Menambah Madrasah Bersih dan Indah ... 64

(6)

BAB V Pembiayaan Pendidikan Islam ... 67

A. Pengertian dan Sejarah Pembiyaan Pendidikan ... 67

B. Dasar dan Sumber Biaya Pendidikan Islam ... 70

C. Prinsip-prinsip Pengelolaan Dana Pendidikan dalam Islam ... 78

D. Manajemen Keuangan Pendidikan Islam ... 78

BAB VI Lembaga Pendidikan Islam ... 86

A. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam ... 86

B. Manajemen Pesantren ... 100

C. Manajemen Madrasah ... 121

D. Manajemen Perguruan Tinggi Islam ... 139

Daftar Pustaka... 158

(7)

BAB I

PENDIDIKAN ISLAM

A. Pengada Pendidikan Islam

engada Pendidikan adalah penyebab Pendidikan itu menjadi

“ada”. Adanya Pendidikan Islam sebagai suatu sistem ilmu pengetahuan berbeda dengan keberadaan Pendidikan itu sendiri sebagai suatu lembaga kependidikan. Tetapi, baik Pendidikan (Islam) sebagai suatu ilmu pengetahuan maupun Pendidikan (Islam) sebagai salah satu bentuk dari realitas lembaga kependidikan berasal dari satu sumber.

Sumber tesebut adalah manusia. Sebagai suatu sistem ilmu pengetahuan, konsep Pendidikan (Islam) tercipta sebagaimana manusia menciptakanya. Tanpa adanya manusia, tidak ada pengetahuan yang bias disebut ilmu Pendidikan (Islam). Ilmu adalah bentukan dari manusia.1

Itu berarti “pengada” Pendidikan (Islam) sebagai suatu sistem ilmu pengetahuan maupun lembaga kependidikamya tetap saja berasal dari sumber yang sama, yaitu manusia. Manusia yang “memusatkan perhatian” atau “menciptakan” suatu sistem ilmu dana tau kelembagaan Pendidikan berlatar belakang Islam.

Sebagaimana diketahui, Islam adalah salah satu nama agama besar yang ada di dunia. Islam sebagai suatu agama disebarluaskan oleh seorang Nabi sekaligus Rasul yang bernama Muhammad Saw. Islam lahir pada sekitaran tahun 610 Masehi bertepatan pada turumya wahyu pertama dalam kitab suci agama Islam, kitab suci agama Islam disebut al-Qur’an, sedangkan sumber hukum ajaran Islam ini diyakini terdiri

1 Jasa Ungguh Muliawan, Epistemologi Pendidikan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University, 2008), hlm.67

P

(8)

dari tiga sumber pokok, yoitu al-Qur’an, as-Sumah/Hadis (Sabda Rasul) dan Ijtihad (Akal).

Dari sini sejalas bahwa Pendidikan Islam secara kelembagaan maupun keilmuan berhubungan dengan tiga yang paling utama dalam agama Islam. Pembuktian lebih lanjut terkait dasar-dasar keberadaan ontology pendidikan Islam masuk wilayah konsep ‘mengada’-nya.

B. Mengada Pendidikan Islam

Mengada (entitas) Pendidikan Islam adalah sesuatu yang melekat dalam diri Pendidikan Islam yang menyababkan menjadi “ada”.

Mengada Pendidikan Islam ini dibedakan menjadi dalam dua bentuk.

Kedua bentuk mengada Pendidikan Islam tersebut adalah:2 1. Teori-teori Pendidikan ‘Murni’ Islam

2. Keberadaan lembaga Pendidikan Islam

Islam di samping sebagai suatu sistem ajaran keagamaan juga merupakan salah satu bentuk sistem kependidikan. Banyak teori-teori Pendidikan yang murni berasal dalam ajaran Islam itu sendiri. Disebut

‘murni’ karena benar-benar berasal dari dalam sistem ajaran agama Islam, khususnya al-Qur’an, as-Sumah, dan Ijtihad. Bukan serapan atau bentukan dari sumber lain. Bukan pula copy-an, tiruan, atau imitasi dari teori-teori Pendidikan yang lain. Contohnya dalam QS.

Al-Alaq (96) ayat 5 yaitu

Artinya : Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

QS. Yunus (10) ayat 101

2 Jasa Ungguh Muliawan, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm.3

(9)

Artinya : Katakanlah : “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Kedua ayat ini murni berasal dari dalam al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam. Keduanya mengindikasikan adanya hubungan yang kuat antara manusia dengan pendidikan. Teori pendidikan lain yang ‘murni’ berasal dari dalam agama Islam masih banyak, antara lain:

Hadis Nabi3

Muliakanlah anak-anak dan baguskanlah pendidikan mereka”,(HR. Ibnu Majah).

Sedangkan untuk teori pendidikan lain yang berasal dari Ijtihad juga tidak kalah banyaknya. Bahkan bisa dibilang paling banyak dan konkret dibandingkan kedua sumber hukum tersebut.

Banyak ahli-ahli pendidikan dan ilmuwan yang dilahirkan Islam.

Sejarah telah mencatat nama-nama besar seperti Ibnu Sina, Al Farabi, Ibnu Kholdun, Al Ghazali, dan seterusnya. Mereka adalah tokoh- tokoh ilmuwan yang dilahirkan dari sistem kependidikan Islam.

Sebagian diantara mereka juga menggeluti dunia pendidikan, dan sebagian yang lain memberi kontribusi ilmu kependidikan yang tidak sedikit.

C. Pengertian Pendidikan Islam dari Segi Bahasa

Selama ini buku-buku pendidikan Islam telah memperkenalkan paling kurang tiga kata yang berhubungan dengan pendidikan Islam, yaitu al-tarbiyah, al-ta’lim, dan al-ta’dib. Jika ditelusuri ayat-ayat al- Qur’an dan matan as-Sumah secara mendalam dan komprehensif sesungguhnya selain tiga kata tersebut masih terdapat kata al-tazkiyah.

Deskripsi selengkapnya terhadap kata-kata tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.

3 Abu Tauhid, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Sekretariat Ketua Jurusan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1990), hlm. 3

(10)

1. Al-Tarbiyah

Dalam Mu’jam al-Lughah al-Arabiyah al-Mu’ashirah (A Dictionary of Modern Written Arabic), karangan Hans Wehr, kata at- tarbiyah diartikan sebagai : education (Pendidikan), upbringing (Pengembangan), teaching (Pengajaran), instruction (Perintah), pedagogy (Pembinaan kepribadian), breeding (memberi makan), raising (of animals) (menumbuhkan).4 Kata tarbiyah berasal dari kata rabba, yarubbu, rabban, yang berarti mengasuh, memimpin, mengasuh (anak).5 Penjelasan atas kata al-tarbiyah ini lebih lanjut dapat dikemukakan sebagai berikut.

Pertama, tarbiyah berasal dari kata rabba, yarbu tarbiyatan yang memiliki makna tambah (zad) dan berkembang (numu). Pengertian ini misalnya terdapat dalam surat ar-Rum (30) ayat 39, yang artinya:

Dan susuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.

Berdasarkan pada ayat tersebut, maka al-tarbiyah dapat berarti proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual.

Kedua, rabba, yurbi, tarbiyatan, yang memiliki makna tumbuh (nasyaa) dan menjadi besar atau dewasa. Dengan mengacu pada kata yang kedua ini, makna tarbiyah berarti usaha menumbuhkan dan mendewasakan peserta didik baik secara fisik, sosial, maupun spiritual.

Ketiga, rabba, yarubbu tarbiyatan, yang mengandung kata memperbaiki (ashlaha), menguasai urusan, memelihara dan merawat, memperindah, memberi makna, mengasuh, memiliki, mengatur, dan menjaga kelestarian maupun eksistensinya. Dengan menggunakan

4 Hans Wehr, Mu’jam al-Lughah al-Arabiyah al-Mu’asharah (A Dictionary of Modern Written Arabic) (Ed), J. Milton Cowan, (Beirut: Librarie Du Liban &

London: Macdonald & Evans LTD, 1974), hlm. 324.

5 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, tp.th.), hlm. 136

(11)

kata yang ketiga ini, makna tarbiyah berarti usaha memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki, dan mengatur kehidupan peserta didik, agar dapat survive lebih baik dalam kehidupamya.6

Jika ketiga kata tersebut dibandingkan atau diintergrasikan antara satu dengan laimya, terlihat bahwa ketiga kata tersebut saling menunjang dan saling melengkapi. Namun jika dilihat dari segi penggunaamya, tampak istilah yang tiga lebih banyak digunakan.

Selanjutnya jika ketiga kata tersebut diintegrasikan, maka akan diperoleh pengertian, bahwa al-tarbiyah berarti proses menumbuhkan dan mengembangkan potensi (fisik, intelektual, sosial, estetika, dan spiritual). Yang terdapat pada peserta didik, sehingga dapat tumbuh dan terbina dengan optimal, melalui cara memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki, dan mengaturnya secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan. Dengan demikian, pada kata al-tarbiyah tersebut mengandung cakupan tujuan pendidian, yaitu menumbuhkan dan mengembangkan potensi; dan proses pendidikan, yaitu memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki, dan mengaturnya.

2. Al-Ta’lim

Kata al-ta’lim yang jamaknya ta’lim, menurut Hans Wehr dapat berarti information (pemberitahuan tentang suatu), advice (nasihat), instruction (perintah), derection (pengarahan), teaching (pengajaran), training (pelatihan), schooling (pembelajaran), educational (pendidikan), dan apprenticeship (pekerjaan sebagai magang, masa belajar suatu keahlian). 7

Selanjutnya, Mahmud Yunus dengan singkat mengartikan al- Ta’lim adalah hal yang berkaitan dengan mengajar dan melatih.8 sementara itu, Muhammad Rassyid Ridha mengartikan al-Ta’lim

6 Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:

Prenada Media, 2006), cet. Ke-1, hlm. 10-11

7 Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, Op. cit., hlm 636;

lihat John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT.

Gramedia dan Ithaca and London : Cornell University Press, 2003), cet. Ke-27, hlm.

35

8 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Op. cit, hlm. 278

(12)

sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tampa adanya Batasan dan ketentuan tertentu.9 Sementara itu, H.M. Quraisy Shihab, ketika mengartikan kata yuallimu sebagaimana terdapat pada surat al-Jumu’ah (62) ayat 2, dengan arti mengajar yang intinya tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika.10

Penggunaan kata al-ta’lim lebih lanjut dapat dijumpai di dalam al- Qur’an dan as-Sumah, dalam al-Qur’an, kaya al-ta’lim digunakan oleh Allah untuk mengajar nama-nama yang ada di alam jagat raya kepada Nabi Adam a.s. (QS. Al-Baqarah (2) ayat 31), mengajar manusia tentang al-Qur’an dan al-bayan (QS. Ar-Rahman (55) ayat 2), mengajarakan al-kitab, al-hikmah, Taurat dan Injil (QS. Al-Maidah (5) ayat 110), mengajarkan al-ta’wil mimpi (QS. Yusuf (12) ayat 101), mengajarkan sesuatu yang belum diketahui manusia (QS. Al- Baqarah (2) ayat 239), mengajarakan tentang masalah sihir (QS.

Thaha (20) ayat 71), mengajarkan ilmu laduni (QS. Al-Kahfi (18) ayat 65), mengajarkan cara membuat baju besi untuk melindungi tubuh dari bahaya (QS. al-Anbiya’ (21) ayat 80), mengajarkan tentang wahyu dari Allah (QS. at-Tahrim (66) ayat 5), dengan demikian, kata al-ta’lim dalam al-Qur’an menunjukkan sebuah proses pengajaran, yaitu menyampaikan sesuatu berupa ilmu pengetahuan, hikmah, kandungan kitab suci, wahyu, sesuatu yang belum diketahui manusia, keterampilan membuat alat pelindung, ilmu laduni, (ilmu yang langsung dari Tuhan), nama-nama atau simbol-simbol dan rumus- rumus yang berkaitan dengan alam jagat raya, dan bahkan ilmu tentang sihir. Ilmu-ilmu baik yang disampaikan melalui proses al- ta’lim tersebut dilakukan oleh Allah Swt, malaikat, dan para Nabi.

Sedangkan ilmu pengetahuan yang berbahaya diajarkan oleh setan.

9 Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Juz 1, (Kairo: Dar al-Manar, 1373 H), hlm. 262

10 H.M. Quraisy Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996) cet. Ke-12, hlm. 172

(13)

Kata al-ta’lim atau asal katanya, yaitu ‘allam, yu’allimu, ta’liman dijumpai dalam hadis sebagai berikut.

“pengetahuan adalah kehidupan Islam dan pilar iman, dan barang siapa yang mengerjakan ilmu Allah akan menyempurnakan pahala baginya, dan barangsiapa yang mengajarkan ilmu dan ia mengamalkan ilmu yang diajarkamya itu, maka Allah akan mengajarkan kepadanya sesuatu yang ia belum ketahui.” (HR. Abu Syaikh).11

Didalam hadis tersebut kata ta’lim dihubungkan dengan mengajarkan ilmu kepada orang lain seseorang, dan orang yang menajarkan ilmu tersebut akan mendapatkan pahala dari Tuhan.

Selanjutnya jika ia bukan hanya mengajarkan ilmu tersebut, melainkan mengamalkamya, maka ia selain mendapatkan pahala, juga akan mendapat pengetahuan dari Allah tentang sesuatu yang belum diketahuinya yang membentuknya dapat berupa ilmu laduni sebagaimana hadis di atas, atau dapat berupa tambahan ilmu yang dihasilkan dari praktik mengamalkan ilmu tersebut. Seorang tenaga profesional dan praktisi yang tiap hari bergelut dengan pekerjaan, biasanya semakin ditantang inovasi dan kreativitasnya untuk memecahkan berbagai masalah yang tidak sepenuhnya dapat dikembalikan kepada sejumlah teori yang telah dipelajarinya dibangku kuliah. Untuk mengatasi berbagai masalah tersebut ia terpaksa melakukan inovasi dan sintesis-sintesis baru yang selanjutnya dapat mengembangkan teori atau konsep yang telah ada. Hal ini dapat mengembangkan teori atau konsep yang telah ada. Hal ini dapat diartikan sebagai bertambahnya ilmu sebagai akibat dari pengamalan ilmu tersebut.

Kata al-ta’lim dalam arti pengajaran yang merupakan bagian dari pendidikan banyak digunakan untuk kegiatan pendidikan yang bersifat nonformal, seperti majelis taklim yang saat ini sangat berkembang dan

11 Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi Bek, Mukhtar al-Ahadis al-Nabawiyyah wa al-Hikam al-Muhammadiyah, (Mesir: Mthaba’ah Hijaziy bi al-Qahirah, 1367 H/1948 M), hlm. 30

(14)

variasi, yaitu ada majelis taklim yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu di kampung, ada majelis taklim dikalangan masyarakat elite, di kantoran, hotel dan tempat kajian keagamaan, dari segi materinya ada secara khusus membahas sebuah kitab tertentu, ada kajian tema-tema tertentu, ada kajian tentang tafsir, hadis, fikih, dan sebaginya, dan ada pula yang diselenggarakan kepada tuan guru. Waktunya ditentukan, misalnya setiap minggu, atau setiap sebulan sekali, sedangkan berbagai aturan lain berlaku secara konvensional dan fleksibel. Kata al-ta’lim dalam arti pendidikan sesungguhnya merupakan kata yang paling lebih dahulu digunakan daripada kata at-tarbiyah. Kegiatan pendidikan dan pengajaran yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw di rumah Al-Arqam (Dar al-Arqam) di Mekkah, dapat disebut sebagai majelis al-ta’lim. Demikian pula kegiatan pendidikan Islam di Indonesia yang dilaksanakan oleh para da’i di rumah, musalah, masjid, surau, langgar, atau tempat tertentu, pada mulanya merupakan kegiatan al-ta’lim. Kegiatan al-ta’lim hingga saat ini masih terus berlangsung di seluruh Indonesia. Menurut data dari Badan Kontak Majelis Ta’lim (BKMT) di Jakarta saja, saat ini terdapat lebih dari 5.000 majelis ta’lim

3. Al-Ta’dib

Kata al-Ta’dib berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta’diban yang dapat berarti education (pendidikan), discipline (disiplin, patuh, dan tunduk pada aturan), punishment (peringatan atau hukuman), dan chastisement (hukuman-penyucian).12 Kata al-ta’dib berasal dari kata adab yang berarti beradab, bersopan santun, 13 tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika.14

Kata al-ta’dib dalam arti pendidikan, sebagaimana disinggung di atas, ialah kata yang dipilih oleh al-Naquib al-Attas. Dalam hubungan

12 Hans Whers, A Dictionary of Modern Arabic Written, Loc. Cit., hlm.10;

lihat John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Loc. cit., hlm.

109

13 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Op, cit., hlm. 36

14 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Op, cit,. hlm.

20

(15)

ini, ia mengartikan al-ta’dib sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat- tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan. Melalui kata al-ta’dib ini Al-Attas ingin mejadikan pendidikan sebagai sarana transformasi nilai-nilai akhlak mulia yang bersumber pada ajaran agama ke dalam diri manusia, serta menjadi dasar bagi terjadinya proses Islamisasi ilmu pengetahuan.

Islamisasi ilmu pengetahuan ini menurutnya perlu dilakukan dalam rangka membendung pengaruh materialism, sekularisme, dan dikotomisme ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh barat.

4. Al-Tahdzib

Kata al-tahdzib secara harfiah berarti pendidikan akhlak, atau menyucikan diri dari perbuatan akhlak yang buruk, berarti pula terdidik atau terpelihara dengan baik, dan berarti pula yang beradab sopan.15 lebih lanjut Hans Whehr mengatakan, al-tahdzib adalah expurgation (menghilangkan bagian-bagian atau kata-kata yang tidak patut dari buku, surat, dan sebagainya), emendation (perbaikan atau perubahan), correction (perbaikan), rectification (pembetulan), revision (perbaikan), training (latihan), instruction (perintah mengerjakan sesuatu), education (pendidikan), upbringing (asuhan, didikan), culture (budaya), dan refinement (kehalusan budi bahasa, perbaikan, kemurnian).16

Dari berbagai pengertian tersebut, tampak bahwa secara keseluruhan kata Hans al-tahzib terkait dengan perbaikan mental spiritual, moral dan akhlak, yaitu memperbaiki mental anak seseorang yang tidak sejalan dengan ajaran atau norma; memperbaiki perilakunya agar menjadi baik dan terhormat serta memperbaiki akhlak dan budi pekertinya agar menjadi berakhlak mulia. Berbagai kegiatan tersebut termasuk bidang kegiatan pendidikan. Itulah sebabnya, kata al-tahzib juga berarti pendidikan.

15 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Op, cit., hlm. 481

16 Hans Whers, A Dictionary of Modern Arabic Written, Loc. Cit., hlm.1024

(16)

5. Al-Wa’dz atau Al-Mau’idzah

Al-Wa’dz berasal dari kata wa’aza yang berarti to preach (mengajar), conscience (kata hati, suara hati, hati nurani), to admonish (memperingatkan atau mengingatkan), exhort (mendesak), dan to warm (memperingatkan).17

Dengan berbagai variasi, kata al-wa’dz dalam al-Qur’an diulang sebanyak 28 kali. Misalnya pada surat Luqman (31) ayat 13

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, jangalah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang sangat besar.”

Dan, surat Yunus (10) ayat 57,:

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya telah dating kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit- penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Dengan demikian, inti al-wa’dz atau al-mau’idzah adalah pendidikan dengan cara memberikan penyadaran dan pencerahan batin, agar timbul kesadaran untuk berubah menjadi orang yang baik.

6. Al-Riyadhah

Al-Riyadhah berasal dari kata raudha, yang mengandung arti to tame (menjinakkan), domesticate (menjinakkan), to break in

17 Hans Whers, A Dictionary of Modern Arabic Written, Loc. Cit., hlm.1082

(17)

(mendobrak atau membongkar), train (latihan), to train (melatih), ciach (melatih), to facify (menanamkan atau menentramkan), placate (mendamaikan, menentramkan), to practice (memperagakan), exercise (melatih), regulate (mengatur), to seek to make tractable (menemukan untuk membuat mudah dikerjakan), dan try to bring round (mencoba membawa keliling).18 Dalam pendidikan, kata al-riyadhah diartikan mendidik jiwa anak dengan akhlak mulia.19

Kata al-riyadhah selanjutnya banyak digunakan dikalangan para ahli taSawuf dan diartikan agak berbeda dengan arti yang digunakan para ahli pendidikan. Di kalangan para ahli taSawuf al-riyadhah diartikan latihan spiritual rohaniah dengan cara khalwat dan uzlah (menyepi dan menyendiri) disertai dengan perasaan batin yang takwa (melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya), al- wara’ (membentengi diri dari perbuatan yang haram dan syubhat), al- zuhud (tidak terpedaya dengan kemewahan duniawai), al-sumtu (tidak berkata-kata yang tidak ada hubungamya dengan Tuhan), al-khauf (rasa takut yang dalam pada Allah Swt), al-raja’ (penuh harap), al- hazn (rasa prihatin dan khawatir tidak diridhai Allah Swt), al-ju’wa tark al-syahwat (menahan lapar dan meninggalkan keinginan nafsu syahwat), al-khusyu wa al-tawadlu (penuh konsentrasi dan rendah hati), mukhala fa al-naf (menentang keinginan nafsu), al-qona’ah (mencukupkan dengan yang diberikan Allah Swt), al-tawakkal (menyerahkan diri pada Allah Swt), al-syukr (berterima kasih atas karunia yang diberikan Allah Swt), al-yaqin (percaya penuh dengan janji Allah Swt), al-shabr (tahan terhadap ujian dan cobaan), al-

18 Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, Op. cit., hlm 367;

lihat John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Op, cit., hlm.

599

19 Karim al-Bastani, dkk, al-Munjid fi Lughah wa A’lam, (Beirut: Dar al- Masyriq, 1875), hlm. 287

(18)

muraqabah (selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt), dan sebagainya, hingga mencapai empat puluh Sembilan tahapan.20

Didalam al-Qur’an dan as-Sumah kata al-riyadhah secara eksplisit tidak dijumpai, namun inti dan hakikat al-riyadhah dalam arti mendidik atau melatih mental spiritual agar senantiasa mematuhi ajaran Allah Swt amat banyak dijumpai. Al-Qur’an dan as-Sumah sangat menekankan agar seseorang senantiasa bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah Swt, meninggalkan keinginan hawa nafsu, bersyukur, bertawakal, sabar, yakin, tawadlu, dan sebagainya.

7. Al-Tazkiyah

Al-tazkiyah berasal dari kata zakka-yuzakki-tazkiyatan yang berarti purification (pemurnian atau pembersihan), chastening (kesucian dan kemurnian), pronouncement of (pengumuman atau pernyataan), integrity or credibility (ketulusan hati, kejujuran atau dapat dipercaya), attestation of a witness (pengesahan atas kesaksian), honorable record (catatan yang dapat dipercaya dan dihormati).21

Di dalam al-Qur’an, kaya al-tazkiyah antara lain dapat dijumpai pada surat al-Jumu’ah ayat 2, yaitu:

Artinya: “Dia-lah yang menutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rosul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah as-Sumah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

Kata yuzakkihim (menyucikan mereka) pada ayat tersebut, menurut H.M. Quraish Shihab, dapat diidentikan dengan mendidik, sedangkan mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik

20 Abi al-Qasim Abd. al-Karim bin Hawazan al-Qusyarir al-Naisabury, al- Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilm al-Tasawwuf, (Mesir: Dar al-Khair, tp. th.), hlm. 475- 476

21 Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, Op. cit., hlm 380;

lihat John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Op, cit., hlm.

471

(19)

dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika.22

Kata al-tazkiyah atau yuzakki telah digunakan oleh para ahli dalam hubungamya dengan menyucikan atau membersikan jiwa seseorang dari sifat-sifat yang buruk (al-takhalli), dan mengisinya dengan akhlak yang baik (al-tahalli), sehingga melahirkan manusia yang memiliki kepribadian dan akhlak yang terpuji. Dalam hubungan ini, Ibnu Sina dan al-Ghazali menggunakan istilah tazkiyah al-nafs (menyucikan diri) dalam arti membersihkan rohani dari sifat-sifat yang tercela. 23

Dari penjelasan tersebut terlihat, bahwa kata al-tazkiyah ternyata juga digunakan untuk arti pendidikan yang bersifat pembinaan mental spiritual dan akhlak mulia.

D. Pengertian Pendidikan dari Segi Istilah

Istilah atau terminologi pada dasaranya merupakan kesepakatan yang dibuat para ahli dalam bidangnya masing-masing terhadap pegertian tentang sesuatu. Dengan demikian, dalam istilah tersebut terdapat visi, misi, tujuan yang diinginkan oleh yang merumuskamya, sesuai dengan latar belakang pendidikan, keahlian, kecenderungan, kepentingan, kesenangan, dan lain sebagainya. Banyaknya factor yang ikut mempengaruhi dalam merumuskan suatu istilah, maka istilah tentang sesuatu itu pun akan beragam. Memahami berbagai istilah yang beragam itu akan terasa mudah apabila, seseorang memiliki pemahaman yang agak memadai tentang seorang ahli yang merumuskan istilah tersebut.

Sejalan dengan pemikiran tersebut, pada bagian ini pembaca akan diajak melihat dan mendalami berbagai pengertian pendidikan dari segi istilah, yakni dari segi yang diinginkan oleh para ahli, setelah itu

22 H.M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Op. cit,. hlm. 172

23 Ibn Sina, Al-Isyarat wa al-Tanbihat, (Mesir: Dar al-Ma’arif, tp.th), hlm.

189; Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Jilid III, (Beirut: Dar al-Fikr, tp.th), hlm.136- 137

(20)

akan dilakukan analisis untuk menentukan latar belakang yang mendasari rumusan istilah pendidian tersebut.

Pertama, menurut Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, pendidikan adalah :

Proses pengubah tingkah laku individu, pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.24

Kedua, menurut Hasan Langgulung, pendidikan adalah:

Suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak-kanak atau orang yang sedang dididik.25

Ketiga, menurut Ahmad Fuad Al-Ahwaniy:

Nidzam ijtima’iy yan-ba’u min falsafah kulli umat, wa huwa al- ladzi yathbiqu hadzihi al-falsafah au yabrizuha ila-wujud (Pendidikan adalah pranata yang bersifat sosial yang tumbuh dari pandang hidup tiap masyarakat. Pendidikan senantiasa sejalan dengan pandangan falsafah hidup masyarakat tersebut, atau pendidikan itu pada hakikatnya mengaktualisasikan falsafah dalam kehidupan nyata.)26

Keempat, menurut Ali Khalil Abul A’inain :

Pendidikan adalah program yang bersifat kemasyarakatan, dan oleh karena itu, setiap falsafah yang dianut oleh suatu masyarakat berbeda dengan falsafah yang dianut oleh masyarakat lain sesuai dengan karakternya, serta kekuatan peradaban yang memengaruhinya yang dihubungkan dengan upaya menegakkan spiritual dan falsafah yang dipilih dan sisetujui untuk memperoleh kenyamanan hidupnya.

Makna dari ungkapan tersebut ialah bahwa tujuan pendidikan diambil dari tujuan masyarakat, dan perumusan operasionalnya ditunjukkan

24 Muhammad al-Toumy al-Syaibani, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah, (terj), Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 399

25 Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1986), cet. ke-1, hlm. 32.

26 Ahmad Fuad al-Ahwaniy, al-Tarbiyah fi al-Islam, (Mesir: Dar al-Ma’arif, tp.th), hlm. 3

(21)

untuk mencapai tujuan tersebut, dan disekitar tujuan pendidikan tersebut terdapat atmosfer falsafah hidupnya. Dari keadaan yang demikian itu, maka falsafah pendidikan yang terdapat masyarakat laimya, yang disebabkan perbedaan sudut pandang masyarakat, serta pandangan hidup yang berhubungan dengan sudut pandang tersebut.27

Dari keempat rumusan tentang pendidikan tersebut dapat dikemukakan beberpa catatan sebagai berikutu:

Pertama, seluruh rumusan pendidikan selalu memiliki objek atau sasaran yang sama, yaitu manusia. Hal ini dapat diketahui, dengan melihat tugas utama pendidikan yaitu meningkatkan sumber daya manusia.

Kedua, seluruh rumusan pendidikan selalu menempatkan pendidikan sebagai sarana yang strategis untuk melahirkan manusia yang tebina seluruh potensi dirinya (fisik, psikis, akal, spiritual, fitrah, talenta, dan sosial) sehingga dapat melaksanakan fungsi pengabdiamya dalam rangka beribadah kepada Allah Swt serta tercapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Ketiga, seluruh rumusan pendidikan tersebut selalu dilihat dari kebutuhan masyarakat dan budaya. Pendidikan adalah sarana yang paling strategis untuk menanamkan nilai-nilai, ajaran, keterampilan, pengalaman, dan sebagainya yang datang dari luar ke dalam diri peserta didik. Hal ini dapat menunjukkan masih kuatnya pengaruh ideologi pendidikan normative perenialis. Ideologi progresivisme yang menempatkan pendidikan hanya sebagai fasilitator yang melayani kebutuhan manusia tampaknya belum diterima di kalangan para ahli pendidikan Islam pada umumnya. Pendidikan yang seharusnya lebih memerhatikan, memprogramkan atau melayani kebutuhan peserta didik, sebagaimana dianut oleh ideologi pendidikan progresivisme tampaknya belum menjadi pilihan pendidikan Islam.

27 Ali Khalil Abul A’inain, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah fi al-Qur’an al-Karim, (Beirut: Dar al-Fikr al-Arabiy, 1980), cet. ke-1 hlm. 37

(22)

Keempat, sesuai dengan karakteristik ajaran Islam yang mengedepankan prinsip keseimbangan, seharusnya pendidikan Islam dirancang berdasarkan prinsip yang memadukan antara kepentingan masyarakat dan kepentingan individu. Kepentingan masyarakat yang tekait dengan pelestarian nilai, ajaran, dan norma yang berlaku di masyarakat seharusnya diperhatikan oleh pendidikan dalam rangka menjaga terciptanya keharmonisan dan stabilitas dalam kehidupan.

Demikian pula kepentingan individu yang terkait dengan penyaluran bakat, minat, hobi, dan berbagai potensi laimya yang dimiliki manusia, seharusnya juga diperhatikan. Dengan demikian, terjadi keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat.

(23)

BAB II

SEPUTAR MAJAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

A. Manajemen Pendidikan Islam dan Implikasinya

anajemen pendidikan Islam adalah suatu proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami dengan cara menyiasati sumber-sumber belajar dan hal- hal lain yang terkait untuk mencapai tujuan pendidikan Islam secara efektif dan efisien.

Makna definitive ini selanjutnya memiliki implikasi-implikasi yang saling terkait dan membentuk satu kesatuan sistem dalam manajemen pendidikan Islam. Berikut ini penjabaramya.28

Pertama, proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami. Aspek ini menghendaki adanya muatan-muatan nilai Islam dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Misalnya, pendekatan pada penghargaan, maslahat, kualitas, kemajuan, dan pemberdayaan. Selanjutnya, upaya pengelolaan itu diupayakan bersandar pada pesan-pesan Al-Qur’an dan hadis agar selalu dapat menjaga sifat Islami.

Kedua, terhadap lembaga pendidikan Islam, hal ini menunjukkan objek dari manajemen ini yang secara khusus diarahkan untuk menangani lembaga pendidikan Islam dengan segala keunikamya.

Maka, manajemen ini bias memaparkan cara-cara pengelolaan pesantren, madrasah, perguruan tinggi Islam dan sebagainya.

Ketiga, proses pengelolaan lembaga pendidikan Islam secara Islami menghendaki adanya sifat inklusif dan eksklusif. Frase secara Islami menunjukkan sikap inklusif, yang berarti kaidah-kaidah manajemerial yang dirumuskan dalam buku ini bisa dipakai untuk

28 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, (Malang: PT.

Gelora Aksara Pratama, 2007), hlm. 10

M

(24)

pengelolaan pendidikan selain pendidikan Islam selama ada kesesuaian sifat dan misinya. Dan sebaliknya, kaidah-kaidan manajemen pendidikan secara umum bisa juga dipakai dalam mengelola pendidikan Islam selama sesuai dengan nilai-nilai Islam, realita, dan kultur yang dihadapi lembaga pendidikan Islam.

Sementara itu, frase lembaga pendidikan Islam menunjukkan keadaan eksklusif karena menjadi objek langsung dari kajian ini, hanya terfokus pada lembaga pendidikan Islam. Sedangkan, lembaga pendidikan laimya telah dibahas secara detail dalam buku-buku manajemen pendidikan.29

Keempat, dengan secara menyiasati. Frase ini mengandung strategi yang menjadi salah satu pembeda antara administrasi dengan manajemen. Manajemen penuh siasat atau strategi yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Demikian pula dengan manajemen pendidikan Islam yang senantiasa diwujudkan melalui strategi tertentu. Adakalanya strategi tersebut sesuai dengan strategi dalam mengelola lembaga pendidikan umum, tetapi bisa jadi beberda sekali lantaran adanya situasi khusus yang dihadapi lembaga pendidikan Islam.

Kelima, sumber-sumber belajar dan hal-hal lain yang terkait.

Sumber belajar di sini memiliki cakupan yang cukup luas, yaitu (1) Manusia, yang meliputi guru/ustadz/dosen, siswa/santri/ mahasiswa, para pegawai, dan para pengurus yayasan; (2) Bahan, yang meliputi perpustakaan, buku paket ajar, dan sebagainya; (3) Lingkungan, merupakan segala hal yang mengarah pada masyarakat; dan (4) Alat dan peralatan, seperti laboratorium; dan (5) Aktivitas. Adapun hal-hal lain yang terkait bisa berupa keadaan sosio-politik, sosio-kultural, sosio-ekonomi, maupun sosio-religius yang dihadapi lembaga pendidikan Islam.30

29 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam…hlm. 11

30 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam…hlm. 12

(25)

Keenam, tujuan pendidikan Islam. Hal ini merupakan arah dari seluruh kegiatan pengelolaan lembaga pendidikan Islam sehingga tujuan ini sangat memengaruhi komponen-komponen laimya, bahkan mengendalikamya.

Ketujuh, efektif dan efesien. Maksudnya, berhasil guna dan berdaya guna. Artinya, manajemen yang berhasil mencapai tujuan dengan penghematan tenaga, waktu, dan biaya. Efektif dan efisien ini merupakan penjelasan terhadap komponen-komponen sebelumnya sekaligus mengandung makna penyempurnaan dalam proses pencapaian tujuan pendidikan Islam.

Ditinjau dari perspektif sistem filsafat, rumusan definitive manajemen pendidikan Islam tersebut telah mencakup sisi ontology, epistimologi, dan aksiologi. Ontology sebagai objek pengelolaan, dalam hal ini berupa lembaga pendidikan Islam, sumber-sumber belajar, dan hal-hal yang tekait; epistimologi sebagai “cara atau metode” pengelolaan, dalam hal ini berupa proses pengelolaan dan cara menyiasati; sedangkan aksiologi sebagai hasil pengelolaan berupa pencapaian tujuan pendidikan Islam. Adapun istilah efektif dan efisien merupakan keterangan yang menjelaskan aksiologi dan epistimologi. Efektif menekankan pada aksiologi sedangkan efisien menitikberatkan pada epistimologi.

Komponen-komponen definisi tersebut dalam kerangka otologi, epistimologi, dan aksiologi dapat dipetakan melalui table berikut.31

Subsistem Filsafat

Komponen-

komponen keterangan Ontology 1.Lembaga

pendidikan Islam 2.Sumber-sumber

belajar

3.Hal-hal lain yang

1. Objek pengelolaan makro

2. Objek pengelolaan meso

3. Objek pengelolaan

31 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam, Op. cit., hlm.

13

(26)

Subsistem Filsafat

Komponen-

komponen keterangan

terkait mikro

Epistimologi 1. Proses pengelolaan secara Islami 2. Cara menyiasati

1.Cara pengelolaan makro

2.Cara pengelolaan mikro

Aksiologi Pencapaian tujuan pendidikan Islam

Hasil pengelolaan Gabungan

Aksiologi dan Epistimologi

Efektif dan efisien Menjelaskan keadaan

aksiologi dan

epistimologi: efektif menekankan pada hasil (aksiologi) sedangkan efisien menekankan pad acara (epistemologi).

Dengan demikian, jelaslah pemetaan masing-masing komponen pada subsistem filsafat. Komponen-komponen yang termasuk ontology memberi kejelasan objek pengelolaan, meskipun dalam hal ini obyeknya berupa fisik, bukamya metafisik karena manajemen merupakan wilayah terapan. Komponen-komponen yang termasuk epistimologi memberi kejelasan pad cara pengelolaan, sedangkan komponen yang temasuk aksiologi memberi kejelasan pada hasil pengelolaan.

Jadi, melalui penerapan tersebut diharapkan telah jelas semuanya.

Objek pengelolaamya jelas, cara pengelolanya jelas, dana rah hasil pengelolaan juga jelas sehingga membantu mempermudah para manajer untuk melakukan aktivitasnya.

Lalu, dari sini muncul pertanyaan: apa perbedaan manajemen pendidikan Islam dengna manjemen laimya,? Memang secara general sama. Artinya, ada banyak atau bahkan mayoritas kaidah-kaidah manajerial yang dapat digunakan oleh kedua jenis manajemen tersebut, bahka oleh seluruh manajemen. Namun, secara spesifik terdapat kekhususan-kekhususan yang membutuhkan penanganan

(27)

yang special pula. Dede Rosyada menyatakan, “Inti manajemen dalam bidang apa pun sama, hanya saja variable yang dihadapinya bisa berbeda, tergantung pada bidang apa manajemen tersebut digunakan dan dikembangkan.”32 Perbedaan variabel ini membawa perbedaan kultur yang kemudian memunculkan berbagai perbedaan.

Komponen-komponen yang tergolong dalam ontology dan aksiologi yang menunjukkan perbedaan objek pengelolaan dan orientasi hasil pengelolaan memiliki pengaruh pad acara pengelolaan walaupun tidak berbeda seluruhnya. Hal ini menunjukkan adanya kaitan erat antara ontology, epistimologi, dan aksiologi (objek pengelolaan, cara pengelolaan, dan hasil pengelolaan).

Gambaran tentang manajemen pendidikan Islam ini akan lebih jelas lagi ketika karakteristik dipaparkan sebagai ciri-ciri yang dimilikinya, dan ini dapat membedakan secara jelas dengan manajemen pendidikan pada umumnya.

B. Karakteristik Manajemen Pendidikan Islam

Manajemen pendidikan Islam memiliki objek bahasan yang cukup kompleks.b berbagai objek bahasa tersebut dapat dijadikan bahan yang kemudian diintegrasikan untuk mewujudkan manajemen pendidikan yang berciri khas Islam.

Istilah Islam dapat dimaknai sebagai Islam wahyu atau Islam budaya. Islam wahyu meliputi Al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi, baik hadis Nabawi maupun hadis Qudsi. Sementara itu, Islam budaya meliputi ungkapan sahabat Nabi, pemahaman ulama. Pemahaman cendikiawan Muslim dan budaya umat Islam. Kata Islam yang menjadi identitas manajemen pendidikan ini dimaksudkan dapat mencakup makna keduanya, yakni Islam wahyu dan Islam budaya.

Oleh karena itu, pembahasan manajemen pendidikan Islam senantiasa melibatkan wahyu dan budaya kaum muslimin, ditambah

32 Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media, 2004), hlm. 236

(28)

kaidah-kaidah manajemen pendidikan secara umum. Maka, pembahasan ini akan mempertimbangkan bahan-bahan sebagai berikut.33

1. Teks-teks wahyu baik Al-Qur’an maupun hadis yang berkaitan dengan manajemen pendidikan.

2. Perkataan-perkataan (aqwal) para sahabat Nabi maupun ulama dan cedikiawan muslim yang terkait dengan manajemen pendidikan.

3. Realitas perkembangan lembaga pendidikan Islam

4. Kultur komunitas (pimpinan dan pegawai) lembaga pendidikan Islam.

5. Ketentuan kaidah-kaidah manajemen pendidikan Islam

Bahan nomor 1 sampai 4 merefleksikan ciri khas Islam pada bangunan manajemen pendidikan Islam, sedangan bahan nomor 5 merupakan tambahan yang bersifat umum dan karenanya dapat digunakan untuk membantu merumuskan bangunan manajemen pendidikan Islam. Tentunya setelah diseleksi berdasarkan nilai-nilai Islam tersebut merupakan refleksi wahyu, sedangkan realitas tersebut sebagai refleksi budaya atau kultur.

Teks-teks wahyu sebagai sandaran teologis; perkataan-perkataan para sahabat Nabi, ulama, dan cendekiawan muslim sebagai sandaran rasional; realitas perkembangan lembaga pendidikan Islam serta kultur komunitas (pimpinan dan pegawai) lembaga pendidikan Islam sebagai sandaran epiris; sedangkan ketentuan kaidah-kaidah manajemen pendidikan sebagai sandaran teoretis. Jadi, bangunan manajemen pendidikan Islam ini diletakkan di atas empat sandaran, yaitu sandaran teologis, rasional, empiris dan teoritis.34

Sandaran teologis menimbulkan keyakinan adanya kebenaran pesan-pesan wahyu karena berasal dari Tuhan, sandaran rasional menimbulkan keyakinan kebenaran berdasarkan pertimbangan akal- pikiran. Sandaran empiris menimbulkan keyakinan adanya kebenaran

33 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,, hlm. 15

34 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,, hlm. 17

(29)

berdasarkan data-data riil dan akurat, sedangkan sandaran teoritis menimbulkan keyakinan adanya kebenaran berdasarkan akal pikiran dan data sekaligus serta telah dipraktikkan berkali-kali dalam pengelolaan pendidikan.

Selanjutnya, penerapan manajemen pendidikan Islam dalam pengelolaan lembaga pendidikan juga menghadapi berbagai kendala/hambatan, baik yang bersifat politis, ekonomi-finansial, intelektual, maupun dakwah. Hambatan-hambatan tersebut dapat dirinci sebagai berikut.35 al-Jumu’ah ayat 2

1. Ideologi, politik, dan tekanan (pressure) kelompok-kelompok kepentingan.

Dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam terutama yang berstatus negeri, acap kali terjadi pertentangan ideologi antarorganisasi sosial keagamaan utamanya, misalnya antara Muhammadiyah dan NU, atau antar organisasi kemahasiswaan, terutama antara HMI dengan PMII, HMI dengan IMM, atau IMM dengan PMII. Latar belakang pertentangan-pertetang ini, akhirnya politik kepentingan memasuki arena lembaga pendidikan dengan memberikan tekanan-tekanan tertentu.

Mantan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama, Yahya Umar, perna mencoba mengamati dan menyelami kehidupan kampus UIN, IAIN maupun STAIN di seluruh Indonesia. Pengamatan tersebut akhirnya menghasilkan suatu kesimpulan yang singkat tetapi penuh makna, bahwa dikalangan PTAIN tidak ada civitas akademika, sebaliknya yang ada justru civitas politika. Kesimpulan ini tampaknya memang benar karena nuansa politik di kalangan dosen, mahasiswa, bahkan karyawan sangat dominan, mengalahkan nuansa akademik. Oleh karenanya, kegiatan di lingkungan kampus lebih mengarah pada gerakan- gerakan politik daripada pemberdayaan intelektual.

35 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,, hlm. 17

(30)

Nuansa politik tersebut semakin terasa saat menjelang dan pascapemilihan rektor, dekan, maupun ketua lembaga. Akibatnya, pertikaian antardosen, antarkaryawan dan antar mahasiswa terus berlangsung. Hal ini tentu saja menghambat kerja manajer (rektor, dekan, atau ketua lembaga) dalam melaksanakan dan menyukseskan program-programnya. Dosen dan karyawan pun tidak bisa bekerja secara maksimal akibat pertentangan itu. Dan, biasanya, paling cepat pertikaian itu berjalan dua tahun; setahun pascapemilihan dan setahun menjelang pemilihan lagi. Jadi, dalam satu periode kepemimpinan rektor, dekan, atau ketua lembaga yang selama empat tahun itu mereka bisa bekerja secara normal paling lama hanya dua tahun.

Dalam dua tahun itu pun, masing-masing aktvis memiliki agenda dan kepentingan sendiri-sendiri yang berusaha melalukan intervensi terhadap keputusan-keputusan pimpinan. Sufyarman melaporkan, “Kelompok kepentingan hadir dalam percaturan pembuatan kebijaksanaan untuk memperjuangkan kepentingamya dalam kebijaksanaan dalam skala sempit dan spesifik,”36 Akibatnya, pimpinan tidak bersikap luas, mandiri, dan profesional.

Tindakan pimpinan dalam mengambil keputusan seringkali dibayan-bayangi intervensi kepentingan kelompoknya. Hal ini dilakukan pimpinan bai katas kesadaran sendiri maupun tekanan dari orang-orang di sekelilingnya yang satu ideologi, aliran, maupun kelompok.

Masi ada fenomena yang lebih parah lagi. Ternyata ukuran atau parameter keberhasilan pimpinan bagi kalangan aktivis organisasi bukan terletak pada kesesuaian antara pelaksanaan program dengan perencanaamya. Akan tetapi, lebih pada seberapa besar pimpinan tersebut dapat meberi keuntungan bagi organisasinya sehingga profesionalisme tidak dibutuhkan lagi.

36 Sufyarman, Kapita Selekta Manajemen Pendidikan Islam (Bandung:

Alfabeta, 2003), hlm. 75

(31)

Tentu saja, fenomena ini sangat mengancam kemajuan lembaga pendidikan Islam. Lembaga pendidikan hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan dan pengaruh.

Politik dalam rangka memperjuangkan ideologi organisasi tersebut sempat merambah juga para lulusamya. Para alumni dari sekolah-sekolah Islam lebih diproyeksikan menjadi pengikut setia suatu organisasi tertentu dari pada menjadi orang pandai. A. Malik Fadjar memberikan contoh, ada individu dari kalangan Muhammadiyah maupun NU yang tidak risau menyaksikan lemahnya daya saing mutu lulusan sekolah Muhammadiyah maupun NU dibandingkan dengan sekolah lain. Namun, mereka begitu khawatir jika lulusan dari sekolah Muhammadiyah tidak menjadi Muhammadiyah dan lulusan dari sekolah NU tidak menjadi NU.37

Dengan demikian, menguatnya ideologi dari organisasi menyebabkan kecenderungan ini juga memasuki wilayah pendidikan. Alhasil, proses pendidikan yang semestinya diniatkan untuk membangun sumber daya manusia peserta didik agar pandai, berakhlak, dan terampil pada akhirnya jurstru bergeser karena mereka dibentuk untuk menjadi anak-anak yang militant dan fanatik dalam mengikuti organisasi sosial keagamaan. Kasus ini telah melenceng jauh dari substansi misi pendidikan Islam.

Berbagai kasus ideologi, politik, organisasi, dan tekanan- tekanan kelompok kepentingan tersebut sangat mewarnai lembaga pendidikan Islam negeri sehingga membuat lembaga pendidikan Islam negeri berbeda dengan lembaga pendidikan umum. Jika dilihat dari segi problem dihadapi dan konsekuensinya, dibutuhkan strategi khusus untuk mengatasi dan menyelesaikan masalah ini.

Lembaga pendidikan Islam swasta biasanya di dominasi satu kelompok organisasi sosial keagamaan tertentu, seperti NU atau

37 A. Malik Fadjar, Visi Pembaharuan Pendidikan Islam, (Jakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penyusunan Naskah Indonesia (LP3NI), 1998), hlm.

19

(32)

Muhammadiyah, sehingga tidak terjadi pertentangan antara keduanya. Namun, dominasi dari organisasi yang mengendalikan itu, yaitu dengan program ke-NU-an dan ke-Muhammadiyah-an, tidak jarang mengorbankan pemberdayaan SDM para peserta didiknya, pengajar, dan para karyawamya. Sebab, pembebanan yang diberikan kepada siswa bertambah besar, sedangkan beban misi organisasi itu tidak ada kaitan apa-apa dengan kesinambungan pe lajaran yang ditempuh siswa di lembaga pendidikan berikutnya, kecuali jika mereka melanjutkan kelembaga pendidikan Islam yang bernaung di bawah organisasi sosial keagamaan yang sama. Kalau saja pelajaran ke-NU-an dan ke-Muhammadiyah-an diganti untuk memperkuat kemampuan siswa menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris tentu hasilnya lebih riil karena lebih berkesinambungan dan selalu dibutuhkan.

2. Kondisi sosio-Ekonomik Masyarakat dan Animo-Finansial Lembaga.

Masyarakat santri di Indonesia secara sosio-ekonomik rata-rata berada dalam kategori kelas menengah ke bawah. Ekonomi orang tua siswa lemah, ekonomi karyawan, pengajar, dan bahkan pimpinamya juga lemah. Ini merupakan kendala serius bagi lembaga pendidikan Islam untuk memacu kemajuan yang signifikan.

Bagaimana seorang kepala madrasah misalnya, dituntut mengelola madrasahnya secara profesional semen tara kondisi ekonomi keluarganya amburadul? Bagaimana guru-guru madrasah bisa dituntut serius melakukan inovasi strategi, pendekatan, metode, dan desain pembelajaran dengan baik sementara kebutuhan dasar sehari-hari saja tidak terpenuhi? Padahal, guru merupakan ujung tombak pendidikan. Menurut E. Mulyasa, "Guru meru pakan pemeran utama proses pendidikan yang sangat

(33)

menentukan tercapai-tidaknya tujuan pendidikan."38 Oleh karenanya, guru merupakan jiwa dari sekolah.39 Demikian juga karyawan, mereka sulit untuk bekerja serius ketika dibelit oleh persoalan ekonomi. Sedangkan kelemahan ekonomi orangtua murid senantiasa berdampak langsung terhadap minimnya kesejahteraan pegawai, apalagi untuk pengembangan fisik.

Ekonomi orangtua siswa yang lemah menyebabkan pendapatan keuangan pada lembaga pendidikan Islam sangat minim, sebab mayoritas kehidupan lembaga pendidikan hanya swasta hanya mengandalkan keuangan dari SPP, sumbangan uang gedung, dan iuran lamya yang kesemuanya berasal dari orangtua siswa atau mahasiswa. Ketergantungan sumber keuangan yang hanya berasal dari siswa atau mahasiswa ini tergolong sumber keuangan yang lemah sekali. Sebab, mestinya sebuah lembaga pendidikan didukung sumber dana yang lebih kuat, misalnya donatur tetap, pengusaha, pengembangan bisnis, dan lain-lain 3. Komposisi Status Kelembagaan dan Diskriminasi Kebijakan

Pemerintah

Mayoritas lembaga pendidikan Islam berstatus swasta dananya bersumber dari usaha swadaya masyarakat santri yang kondisi ekonominya tergolong dalam level kelas menengah ke bawah.

Komposisi ini paling jelas terlihat pada tingkat madrasah ibtidaiyah, terutama jika dibandingkan dengan sekolah dasar. Data statistik 2005/2006 yang menggambarkan jumlah sekolah di Indonesia menyebutkan terdapat 21.042 (93,1%) madrasah ibtidaiyah swasta, sedangkan madrasah ibtidaiyah negeri hanya berjumlah 1.568 (6,9%). Keadaan ini berbanding terbalik jika dibandingkan dengan sekolah dasar. Sebab sekolah dasar negeri mencapai jumlah 137.673 (92,87%), sedangkan sekolah dasar

38 E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 50

39 E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hlm 90

(34)

swasta hanya berjumlah 10.569 (7,13%). Pada tingkat tsanawiyah, yang berstatus negeri hanya berjumlah 1.264 (10,19%), sedangkan yang swasta mencapai 11.234 (89,9%). Hal ini berbanding jauh dengan SMP yang berstatus negeri mencapai 12.951 (54,30%) sedangkan swasta hanya 10.902 (45,70%). Demikian juga pada madrasah aliyah negeri hanya 642 (13,1%) sedangkan swasta mencapai 4.276 (86,9%). Sementara itu SMA negeri masih mencapai 3.940 (42,29%), sedangkan SMA swasta berjumlah 5.377 (57,71%).40

Perbedaan ini memiliki implikasi yang besar sekali terhadap keadaan keuangan lembaga. Bagi madrasah ibtidaiyah, mengingat 93,1% di antaranya berstatus swasta itu, selalu berhadapan dengan masalah keuangan. Minimnya keuangan madrasah ibtidaiyah ini menyebabkan posisi lembaga pendidikan tersebut selalu terbelakang dan sulit maju. Sebab, untuk memajukan madrasah, seperti juga memajukan lembaga pendidikan laimya, sangat membutuhkan dana yang memadai. Semua peningkatan komponen lembaga pendidikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan pembiayaan ini menentukan apakah madrasah ini segera bisa ditingkatkan atau dibiarkan dalam keadaan yang memprihatinkan.

Dalam waktu yang bersamaan dengan kondisi tersebut, kebijakan pemerintah tidak pernah berpihak pada lembaga pendidikan Islam swasta. Kepedulian dan keberpihakan pemerintah hanya terarah pada lembaga pendidikan negeri sehingga beban madrasah, khususnya madrasah ibtidaiyah, semakin berat. Diskriminasi kebijakan pemerintah pada madrasah yang mayoritas berstatus swasta tersebut telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun hingga sekarang ini.

Diskriminasi kebijakan pemerintah terhadap lembaga pendidikan Islam ternyata bukan hanya terjadi pada lembaga pendidikan Islam swasta, tetapi juga pada lembaga pendidikan

40 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,, hlm. 22

(35)

lslam negeri. Pada zaman Orde Baru. anggaran untuk empat belas IAIN di seluruh Indonesia sama dengan anggaran satu IKIP negeri. Sekarang, zaman sudah berganti menjadi Orde Reformasi, tetapi sayang kebijakan pemerintah tentang keseimbangan anggaran itu belum juga tereformasi. Anggaran untuk lembaga pendidikan Islam masih tetap jauh di bawah lembaga pendidikan umum, meskipun ada sedikit peningkatan. Hal ini berdampak negatif terhadap seluruh komponen lembaga pendidikan Islam, baik pada guru/dosen, siswa/ mahasiswa, maupun fasilitas yang dibutuhkan untuk memajukan lembaga pendidikan Islam.

4. Keadaan potensi Intelektual siswa/Mahasiswa

Di samping secara ekonomi siswa/mahasiswa dalam lembaga pendidikan Islam berada dalam kategori kelas menengah ke bawah, secara intelektual, potensi mereka juga lemah. Rata-rata siswa/mahasiswa mendaftar di berbagai lembaga pendidikan Islam karena merasa tidak mungkin diterima di lembaga pendidikan umum yang maju dan terutama yang berstatus negeri. Sebagian dari mereka yang telah gagal masuk di lembaga pendidikan umum negeri kemudian memilih lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam menjadi tempat pelarian siswa/mahasiswa yang gagal masuk lembaga pendidikan umum negeri, atau karena menyadari kemampuamya rendah dan mungkin amat rendah sehingga sengaja tidak pernah mendaftar di lembaga pendidikan umum negeri.41

Keadaan ini menunjukkan adanya unsur keterpaksaan; daripada tidak sekolah/kuliah masih lebih baik memasuki lembaga pendidikan Islam. Kalaulah bukan keterpaksaan. setidaknya lembaga pendidikan Islam tetap bukan pilihan siswa/mahasiswa. Kondisi psikologis ini tentunya tidak dapat memberikan pengaruh positif untuk membangkitkan gairah belajar guna mengejar penguasaan

41 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,, hlm. 25

(36)

pengetahuan, baik yang difasilitasi lembaga maupun atas inisiatit sendiri.

Pada bagian lain, lembaga pendidikan Islam tidak mampu melakukan seleksi penerimaan siswa atau mahasiswa baru secara ketat dan kompetitif. Karena, selisih antara kuota yang direncanakan dengan jumlah calon siswa atau mahasiswa yang mendaftar tidak berbeda banyak. Bahkan, tidak jarang jumlah siswa/mahasiswa pendaftar lebih sedikit daripada kuota yang direncanakan sehingga tidak ada persaingan sama sekali. Keadaan ini membuat pimpinan lembaga pendidikan Islam berada dalam posisi yang serba sulit (dilema). Jika tidak ada seleksi, berarti siswa/mahasiswa yang diterima bisa jadi berasal dari kalangan yang rendah secara intelektual.

Akan tetapi, jika diseleksi secara ketat, hanya diperoleh siswa /mahasiswa dalam jumlah yang amat sedikit, yang akan menimbulkan masalah untuk meningkatkan potensi keuangan lembaga.42

Kondisi potensi intelektual siswa/mahasiswa yang cukup parah ini kemudian diperburuk dengan banyaknya beban mata pelajaran/mata kuliah. Beban yang dihadapi siswa madrasah lebih berat dari siswa sekolah umum karena pelajaramya ditambah dengan rumpun mata pelajaran agama (Al-Quran. hadis, akidah akhlak, fikih, tarikh, dan Bahasa Arab). Demikian juga yang dialami oleh mahasiswa perguruan tinggi Islam, beban mereka lebih berat daripada mahasiswa perguruan tinggi umum.

Kenyataan yang serba memberatkan ini potensi intelektual siswa/mahasiswa yang begitu lemah disatu sisi, dan beban pelajaran/perkuliahan yang lebih berat pada sisi lain dirasakan oleh pimpinan beserta jajaran staf pengajar di lembaga pendidikan Islam sebagai tugas berat, bahkan "mahaberat” yang terpaksa harus diemban. Sementara itu, standar mutu lulusan yang dituntut dari lembaga pendidikan Islam sangat tinggi. Keadaan ini benar-benar timpang. Tidak ada keseimbangan antara cita-cita yang ingin diraih,

42 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen,,, hlm. 25

(37)

beban, dan modal kemampuan yang dimiliki peserta didik. Pimpinan lembaga mana pun tentu juga merasakan kesulitan jika menghadapi kondisi seperti ini.

Kondisi ini sangat berbeda dengan lembaga pendidikan umum negeri. Siswa/mahasiswa yang memasuki lembaga tersebut berasal dari kalangan garis depan (siswa/mahasiswa yang mencapai ranking papan atas) di sekolah asalnya. Semakin maju suatu sekolah atau perguruan tinggi, semakin ketat seleksi bagi siswa/mahasiswa yang akan diterima. Sampai hari ini, belum ada keberanian lembaga pendidikan yang maju untuk menerima siswa/mahasiswa yang kemampuamya rendah sebagai kelas percobaan, satu kelas saja misalnya. Kemudian, mereka digembleng dengan guru/dosen yang profesional, sarana prasarana yang lengkap, strategi pembelajaran yang bagus, dan situasi pembelajaran yang menggairahkan untuk mewujudkan perubahan pada siswa mahasiswa tersebut.

Sekolah/perguruan tinggi yang maju cenderung hanya memilih siswa/mahasiswa yang istimewa, yang tentu kemudian menjadi lulusan yang baik. Inilah model pendidikan kapitalis yang harus menghadapi pertanyaan yang sangat mendasar: Apakah mutu lulusan yang dihasilkan dengan baik itu lantaran rekayasa lembaga atau justru lantaran potensi sebelumnya yang tersebut, memang sudah pandai?

Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan potensi siswa/mahasiswa lembaga pendidikan Islam yang lemah, sementara tuntutan pelajaran lebih berat daripada siswa/mahasiswa lembaga pendidikan umum, maka perlu segera diusahakan model pendidikan emansipatoris. Yaitu, pendidikan yang berusaha mengubah secara signifikan kemampuan siswa/mahasiswa yang lemah menjadi siswa/mahasiswa yang pandai dan mampu bersaing dengan siswa/mahasiswa dari lembaga laimya. Inilah model pendidikan yang sejati karena mampu membawa perubahan positif, konstruktif, bahkan progresif.

5. Keberadaan Motif Dakwah Pada pendirian Lembaga Pendidikan Islam.

(38)

Keberadaan lembaga pendidikan Islam kebanyakan berangkat dari bawah, berawal dari inisiatif tokoh-tokoh agama yang kemudian didukung oleh masyarakat sekitar Mereka mendirikan lembaga pendidikan tersebut dengan motif dakwah, upaya sosialisasi, dan penanaman ajaran-ajaran Islam ke tengah-tengah masyarakat.43

Dengan adanya motif dakwah tersebut, timbullah konsekuensi- konsekuensi yang menjadi akibat. Misalnya, lembaga tersebut didirikan secara asal-asalan dan tanpa melalui perencanaan matang untuk memenuhi berbagai komponen pendukungnya. Layaknya gerakan dakwah yang senantiasa berangkat dari bawah, dengan menggunakan pendekatan pahala dan konsep lillahi ta’ala sehingga terkadang mengabaikan kesejahteraan pegawai dan menerima semua pendaftar tanpa seleksi. Hal ini didasari dengan pemikiran bahwa mengapa harus menolak siswa/ mahasiswa yang mau belajar? Sikap menolak orang yang mau belajar itu tidak baik.

Motif dakwah dalam pendirian lembaga pendidikan Islam ini membawa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah memiliki kekuatan besar untuk bersatu dan hidup (survive) meskipun jumlah siswanya han sedikit. Tidak ada kata menyerah dalam meneruskan keberadaan lembaga pendidikan. Sementara itu, segi negatifnya terkadang menimbulkan kondisi serba tidak teratur, serba tidak terencana, serba tidak terancang, serba tidak kompetitif, dan serba mengalami kemunduran.

Motif dakwah ini pada akhirnya dapat mengurangi bobot kajian ilmiah. Melalui motif ini, lembaga pendidikan Islam dianggap sebagai lembaga keagamaan. Anggapan ini menuntut sikap pemihakan, idealitas, bahkan pembelaan yang bercorak apologis. M. Amin Abdullah menyatakan bahwa studi Islam di IAIN dan PTAIS secara umum agaknya masih lebih banyak terbebani misi keagamaan yang bersifat memihak, romantis, dan apologis, sehingga kadar muatan analitis, kritis, metodologis, dan historis empiris, terutama dalam

43 Prof. Dr. Mujamil Qomar, Manajemen Pendidikan Islam,,, hlm. 27

Gambar

Gambar Rekapituasi Seluruh PTAIN

Referensi

Dokumen terkait

Tawazun : menyeimbangkan antara pendidikan ruhiyah dan madiyah, individu dan sosial, kebahagiaan dunia dan akhirat, idialis dan pragmatis; berdasar pada ajaran

Implikasinya, untuk mewujudkan ke- hidupan yang berbahagia lahir batin di dunia dan akhirat memerlukan transformasi budaya, khususnya melalui prioritas utama pendidikan sepanjang

Menurut Al-Ghazali, bahwa ilmu pengetahuan itu dasar dari segala kebahagiaan di dunia sekarang maupun di dunia yang akan datang (akhirat). Sementara itu kebahagiaan

Menurut Al-Ghazali, bahwa ilmu pengetahuan itu dasar dari segala kebahagiaan di dunia sekarang maupun di dunia yang akan datang (akhirat). Sementara itu kebahagiaan

1. Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan di akhirat. Keterampilan bckerja dalam masyarakat. Rumusan tujuan pendidikan Islam sebagaimana tersebut di atas semakin

Dalam pandangan al-Qur’an, ada tiga tujuan pendidikan akhlak, yaitu untuk mewujudkan rasa kasih sayang antar manusia, untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat,

Pendidikan Islam bertujuan untuk menyempurnakan peserta didik menjadi manusia yang dapat hidup bahagia dunia maupun di akhirat dan untuk dapat menyempurnakan

Untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat manusia harus melalui bebrapa tahapan salah satunya pendidikan dan pengajaran untuk memperoleh pengetahuan (ilmu) yang