BAB III Kurikulum Pendidikan Islam
C. Peran Iman, Agama dan Logika dalam Sistem
Sebenarnya masih banyak mata pelajaran-mata pelajaran yang berlatar belakang perbedaan kepentingan dan fungsi aksiologi ini.
Apalagi bila pengetahuan tersebut dilacak sampai ke akar bentukan terbaru. Akan semakin tampak berbagai jenis mata pelajaran yang tumbuh dan berkembang karena perbedaan kepentingan dan fungsi aksiologi ini.
C. Peran Iman, Agama dan Logika dalam Sistem Kependidikan
bersikap ikhlas dalam mengerjakan semua kebaikan, percaya akan adanya qadha' dan qadar, selalu berusaha berserah diri, berlindung dan memohon gampunan pada-Nya, serta selalu berusaha ridha menerimanya (kenyataan) sebagai suatu ketetapan yang diberikan Allah kepada setiap manusia.70
Di dalam sistem kependidikan İslam ada batas-batas di mana segala sesuatu itü tidak bisa diperoleh hanya dengan proses rekayasa pendidikan seperti yang dikenal selama ini, tetapi melalui sentuhan- sentuhan dunia metafisika dan alam gaib. Sentuhan-sentuhan berbentuk "komunikasi mindrawi” dan "kontak batin” yang tidak bisa dimengerti dan dinalar dengan rasio dan logika akal sehat.
Wilayah-wilayah kerja semacam itü adalah wilayah kerja pendidikan Kiakeimanan. Wilayah kerja pendidikan yang "tidak biasa” dan "tidak lazim” dimengerti manusia pada umumnya. Hanya orang-orang yang pernah 'mengalami' atau 'merasakamya' saja yang dapat mengerti tentang hal-hal semacam itu.
Kedua, agama. Agama dalam pengertian umum berarti corak atau gaya hidup. Dari sudut pandang ini, agama menjadi salah satu bagian dari corak kebudayaan atau karakter khas peradaban suatu umat manusia. Sebagai abagian dari budaya dan kebudayaan, maka agama bisajuga diartikan sebagai hasil cipta-rasa dan karya manusia.
Sedangkan agama dalam pengertian khusus berarti keyakinan atau kepercayaan seseorang pada keberadaan dunia metafisika, gaib cunatau supranatural. Konteks agama dalam pengertian kedua, umumnya mengandung unsur-unsur seperti:
1. Keyakinan dan kepercayaan akan adanya dunia ghaib ilahiyyah (ketuhanan) dan metafisika laimya.
70 H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), Cet. ke- 5, him. 108.
2. Memiliki kitab suci yang memuat ajaran tauhid (pengakuan ke- Esa-an Tuhan) atau syariat ibadah dan amalan yang harus dilakukan oleh setiap penganutnya.
3. Mempercayai adanya Nabi atau Rasul tertentu sebagai salah satu tokoh yang wajib dianut dan diikuti.
Islam dalam sudut pandang ilmu pengetahuan juga mencakup dua unsur tersebut. Islam sebagai salah satu bentuk Tauhid dan Islam sebagai salah satu bentuk hasil cipta, rasa dan karsa masnusia. Islam sebagai agama tauhid jelas dan tegas mewajibkan setiap penganutnya untuk beribadah dan menyembah Allah Swt.71 Sebagai Tuhamya manusia 72 tampa terkecuali.
Sedangkan Islam sebagai salah satu bentuk dari hasil cipta rasa dan karsa manusia menganut corak dan gaya hidup yang penuh dengan nilai-nilai luhur. Salah satunya adalah kewajiban pokok untuk selalu menutup aurat. Aurat adalah hal tabu (memalukan) yang tidak boleh dilihat oleh yang bukan muhrim (orang yang berhak atau dibolehkan agama).
Ajaran ini bersumber dari ayat al-Qur’an surah an-Nuur (24) ayat 30-31:
71 Q.S. Adz-Dzariyaat (51) ayat 56 :” dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”
72 Q.S. an-Naas (114) ayat 3: “Tuhannya manusia”
Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:
"Hendaklah mereka menahan pandangamya, dan memelihara kemaluamya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangamya, dan kemaluamya, danjanganlah mereka menampakkan perhiasamya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, danjanganlah menampakkan perhiasamya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau Saudara- saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanitawanita Islam, atau budak-budakyang mereka miliki, ataupelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.
Syariat Islam untuk menutup aurat dari sudut pandang ilmu budaya dan peradaban manusia merupakan salah satu nilai lebih dan
paling menonjol dimiliki Islam dibandingkan ajaran agama-agama Iain. Ajaran agama Iain hampir dikatakan tidak ada
Oleh sebab itu, salah besar bila ada sebagian dari umat Islam berpikir untuk mengasimilasi budaya menutup aurat ini dengan budaya nudist (budaya telajang) yang sekarang marak tumbuh dan berkembang di hampir seluruh penjuru dunia. Budaya nudist adalah budaya binatang. Budaya berpakaian menutup aurat ini pula yang menjadi salah satu pembeda utama dan mendasar antara penganut Islam dengan penganut agama Iain.
Konversi corak budaya ke-lslam-an semacam ini dalam dunia kependidikan Islam sangat besar.
Setiap lembaga pendidikan yang mencantumkan Islam sebagai Iambang ideologinya wajib menerapkan ketentuan pokok menutup aurat ini, tanpa terkecuali. Dan budaya menutup aurat itu bukan setengah-setengah, tetapi harus dilakukan sepenuhnya secara mutlak.
Berlaku bagi tiap individu. Baik laki-laki maupun perempuan.
Filosofi ini pula yang menjadi dasar argumentasi paling kuat mengapa agama penting bagi setiap individu. Manusia yang tidak beragama cenderung melepaskan identitas ”kemanusiaan”-nya dengan tanpa busana atau pakaian sempurna menutup aurat. Tingkatamya menurun sampai pada derajat kebinatangan.
Baju atau pakaian merupakan salah satu tanda sekaligus ukuran kepribadian dan akhlak seorang Muslim. Semakin baik dan sopan berpakaian dalam arti menutup aurat dengan benar sesuai akidah agama, maka semakin tinggi pula derajat kemuliaan akhlak yang dimiliki. Agama benar-benar berfungsi sebagai ”baju” dalam konteks kemuliaan akhlak. Baju yang melindungi setiap mukmin dari kejahatan dan perbuatan tercela Iahir-batin.
Produk budaya dari sistem kependidikan Islam semacam ini seharusnya tampak dari penampilan mereka dalam berpakaian sehari- hari. Standar dan ukuramya adalah ”selama” dan ”setelah” mereka lulus, bukan hanya sesaat atau karena memenuhi kriteria persyaratan formal kelembagaan. Ini juga menjadi salah satu bagian dari visi dan
misi konkret lembaga pendidikan Islam. Sulit, tetapi bukan berarti tidak mungkin!
Ketiga, logika. Logika adalah cara berpikir. Logika disebut juga sebagai rasio atau nalar. Logika menjadi dasar dari semua bentuk cara berpikir yang dilakukan manusia. Baik itu cara berpikir empiris dan konkret, maupun cara berpikir imajinatif dan abstrak. Keduanya tetap bisa disebut sebagai bagian dari logika karena melibatkan kemampuan berpikir yang dimiliki manusia.
Al-Qur'an dan As-Sumah sendiri juga banyak mengandung unsurunsur logika, terutama pada ayat-ayat atau Sumah Rasul yang masuk kategori “Muhkam”. Versi struktur ilmu masuk kategori pengetahuan konkreta. Tetapi ini juga tidak menutup kemungkinan pada ayat-ayat atau Sumah Rasul yang “Mutasyabih” atau bersifat samar dan abstrak. Ayat atau Sumah Rasul tersebut masuk kategori hasil bentukan logika manakala telah ditafsirkan atau diinterpretasikan ke dalam bentuk yang lain.
Logika juga menjadi salah satu sumber hukum utama dalam Islam yang dikenal dengan sebutan ijtihad. Ijtihad selalu menggunakan ra'yu yang merupakan bahasa arab dari akal atau logika.
Bila di dalam sistem kependidikan Islam sebelumnya telah dijelaskan bahwa iman itu berfungsi sebagai ”ruh” yang membuat manusia itu menjadi hidup dan berarti, sedangkan agama itü ibarat
"baju” yang melindungi mereka dari kejahatan dan perbuatan tercela, maka bagi setiap Muslim dan mukmin yang memiliki 'logika kuat' ibarat "tentara yang membawa senjata lengkap siap tempur". Tidak ada lagi yang mampu mencegahnya dari kemenangan terhadap orang- orang kafir selain 'takdir' Allah Swt.73
73 Q.S Hud (ı ı) ayat 106-107 : “Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menayik napas (dengan meyintih).Mereka kekal di dalamnya selama ada langİt dan bumİ*, kecualijika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana teyhadap apa yang Dia kehendaki. *alam akhiratjuga mempunyai langit dan bumİ tersendiri.”
Demikian pentingnya logika bagi setiap mukmin dan Muslim, sampai-sampai Allah Swt. berfirman:
QS Asy-Syu'araa' (26) ayat 151-152:
Artinya : “Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas. Yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan.”
Manusia diperintahkan untuk menggunakan akalnya dalam menilai dan melaksanakan suatu perintah. Apalagi jika perintah tersebut maşuk kategorim perbuatan tercela atau mengandung unsur kejahatan seperti: merusak, melukai, membunuh, menghancurkan, atau tipu daya untuk menjajah.
Konversi corak pemikiran semacam ini dalam sistem kependidikan Islam adalah pentingnya menerapkan pola dan cara baru dalam mendidik menggunakan nalar yang logis dan nyata.74 Artinya, segala sesuatu itu harus dipertimbangkan kesesuaiamya dalam dataran teoretis, namun juga harus dapat dibuktikan kebenaramya dalam dataran empiris. Bukan sekadar telaah teori konseptual semata atau kebenaran ilmiah yang melampaui batas kaidah nilai dalam etika.
Kurikulum pendidikan İslam yang mampu menyerap dan menjiwai peran dan fungsi dari iman, agama dan logika, bisa dipastikan memiliki landasan rangka bangun konstruksi keilmuan yang kuat dan kokoh. Konsep semacam ini 'tidak' dimiliki Oleh pendidikan pada umumnya.
74 Jasa Ungguh Muliawan, Epistemologi Pendidikan, op.cit., hlm. 39
BAB IV
MANAJEMEN SARANA PRASARANA
A. Definisi Manajemen Sarana Prasarana
ntuk memenuhi kebutuhan manajemen sarana prasarana, kita perlu memahami terlebih dahulu konsep dasar sarana dan prasarana. Secara sederhana dalam Jaja Jahari, sarana didefiniskan sebagai perangkat, peralatan, bahan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan seperti gedung, bangku, kursi, papan tulis maupun alat lainya. Sedangkan prasarana didefiniskan sebagai perangkat, peralatan, bahan, perabot yang secara tidak langsung digunakan dalam proses pendidikan seperti lapang sepak bola, taman bunga, pagar dan lain sebagainya. 75
Keberadaan sarana pendidikan mutlak dibutuhkan dalam proses pendidikan, sehingga termasuk dalam komponen-komponen yang harus dipenuhi dalam melaksanakan proses pendidikan. Tampa sarana pendidikan, peoses pendidikan akan mengalami kesulitan yang sangat serius, bahkan bisa menggagalkan pendidikan. Suatu kejadian yang mesti dihindari oleh semua pihak yang terlibat dalam pendidikan.
Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dalam proses belajar-mengajar, seperti gedung, ruang kelas, mejad kursi dan sebagainya seperti yang diterangkan pada penjelasan awal tadi.
Manajemen sarana prasarana pendidikan bertugas mengatur serta menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi pada proses pendidikan agar dapat memeberikan kontribusi pada proses pendidikan secara optimal dan berarti. Kegiatan pengelolaan ini meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan,
75 Jaja Jahari dan Amirulloh Syarbini, Manajemen Madrasah:Teori, Strategi dan Implementasi (Bandung: Alfabeta, 2013), hlm. 65
U
pengawasan, penyimpanan, inventarisasi, penghapusan, serta penataan76
Sarana dan prasarana pendidikan dalam lembaga pendidikan Islam sebaiknya dikelola dengan sebaik mungkin sesuai dengan ketentuan- ketentuan berikut ini.
1. Lengkap, siap dipakai setiap saat, kuat dan awet.
2. Rapi, indah, bersih, anggun, dan asri sehingga menyejukan pandangan dan perasaan siapapun yang memasuki kompleks lembaga pendidikan Islam.
3. Kreatif, inovatif, responsif, dan variatif sehingga dapat merangsang timbulnya imajinasi peserta didik.
4. Memiliki jangkauan waktu penggunaan yang Panjang melalui perencanaan yang matang untuk menghindari kecenderungan bongkar-pasang bangunan.
5. Memiliki tempat khusus untuk beribadah maupun pelaksanaan kegiatan sosio-religius seperti mushala atau masjid.
Keputusan penerapan ketentuan-ketentuan di atas akan berbeda sesuai dengan perbedaan jenjang pendidikan. Misalnya, pelaksanaan ketentuan harus kreatif, inovatif responsij dan variatif akan berbeda antara lembaga madrasah ibtidaiyah dengan madrasah aliyah.
Penataan pada madrasah ibtidaiyah saja bisa berbeda beda antara semua kelas. Ada yang seluruh meja di depan papan tulis seperti yang terjadi selama ini, ada kelas yang penataan mejanya berbentuk oval, separuh oval, beberapa meja bulat, dan sebagainya. Akan tetapi, untuk madrasah aliyah tidak perlu sevariatif itu.
Penataan lingkungan dalam kompleks lembaga pendidikan Islam seharusnya rapi, indah, bersih, anggun, dan asri. Keadaan ini setidaknya menjadikan peserta didik merasa betah berada di lembaga pendidikan, baik sewaktu proses pembelajaran berlangsung di kela waktu istirahat, maupun ketika sekedar berkunjung ke sekolah.
76 E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, : Konsep, Strategi, dan Implementasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 49-50
Bahkan, tamu-tamu dari luar juga diharapkan merasakan hal yang sama. Kenyataan di lapangan menunjukkan kebanyakan lembaga pendidikan Islam kurang memerhatikan kerapian, kebersihan, keindahan, keanggunan, dan keasrian, terutama di lingkungan pesantren. Namun, ada pula sejumlah kecil pesantren seperti Pesantren An-Nur, Bululawang, Malang yang telah dapat mengelola lingkungan kompleks pesantren dengan sangat baik. Taman-tamamya ditata apik, dilengkapi dengan semacam kebun binatang mini. Nabi pernah bersabda:77
Sesungguhnya Allah itu Indah, Dia menyukai keindahan.
Gedung-gedung yang dibangun harus melalui perencanaan yang matang sehingga minimal dapat digunakan dalam waktu 25 tahun.
Gedung harus kuat, awet, dan posisinya tepat sehingga tidak sampai dibongkar kemudian didirikan gedung baru di tempat yang sama dalam waktu yang relatif cepat, karena hal itu adalah pemborosan.
Sebaiknya, gedung itu dibangun bertingkat yang berarti menghemat tanah serta terkesan kokoh. Bentuk gedung pun sebaiknya juga indah dan memiliki gaya arsitektur yang khas sehingga membuat orang yang memandang merasa tertarik.
Di samping itu, suatu keharusan juga untuk membangun masjid atau setidaknya mushala. Bangunan ibadah tersebut bukan sekadar simbol lembaga pendidikan Islam, tetapi memang merupakan kebutuhan riil untuk beribadah ketika pegawai dan peserta didik berada di sekolah. Masjid atau mushala itu juga bisa dimanfaatkan sebagai laboratorium ibadah. Misalnya cara berwudhu atau praktik shalat yang benar, keduanya bisa dilaksanakan di tempat tersebut.
Lebih dari itu, masjid atau mushala diupayakan ikut mewarnai perilaku Islami warga sekolah sehari-harinya, yaitu dengan
77 Hadis riwayat Muslim dan at-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud dari Ibnu Umamah al-Bahy sedang al-Hakim dari Ibnu Umar. Lihat Ibnu Hamzah al-Hasaniy, al-Bayan wa al-Ta’rif fi Asbab Wurud al-Hadits, (ttp: al-Maktabah al-Ilmiah, 19983)
mengoptimalkan kegiatan keagamaan maupun kegiatan ilmiah yang ditempatkan di masjid atau mushala.
Pada dasarnya, yang terpenting bagi bangunan fisik bukanlah kemegahamya, tetapi optimalisasi fungsinya. Bafadal menyatakan bahwa penampilan fisik sekolah yang mendukung upaya peningkatan mutu pendidikan tidak mengutamakan penampilan yang megah, tetapi lebih mengutamakan keberfungsian fisik sekolah tersebut.78 Hanya saja, jika bangunan fisik itu dapat difungsikan secara maksimal dan kondisi bangunamya juga megah tentu akan lebih baik lagi dan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Dalam pengadaan alat-alat dan media pengajaran seharusnya yang dibeli adalah alat-alat dan media pengajaran yang berkualitas tinggi meskipun harganya cukup mahal. Sebab, alat dan media tersebut bisa dua kali atau tiga kali lipat lebih awet dibanding alat-alat dan media pengajaran yang berkualitas rendah. Jadi, jika dikalkulasikan sebenarnya peralatan yang bermutu tinggi lebih efisien dan efektif daripada peralatan yang berkualitas rendah. Hanya saja problemnya, ketika membeli peralatan yang bermutu tersebut kondisi keuangan lembaga kadang tidak mencukupi sehingga perlu clicarikan tambahan uang.
Bagi lembaga pendidikan Islam yang memiliki areal tanah yang luas tentunya akan memberi keuntungan tersendiri. Lembaga tersebut bisa mengondisikan Jingkungan di dalam kompleksnya secara leluasa untuk halaman, taman, kebun, maupun jalan raya. Adanya bangunan yang bertingkat akan makin serasi dipandang jika halamamya luas.
Keadaan ini bisa diperindah jika dibangun taman-taman di sekitar lembaga pendidikan Islam tersebut. Kebun bisa dipakai untuk menanam aneka tanaman percobaan untuk praktik pelajaran biologi.
Di samping itu, juga perlu disediakan bahan dari sebagian kebun itu untuk pengadaan apotek hidup. Selanjutnya, jalan menuju sekolah bila
78 Ibrahim Bafadal, Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar dari Sentralisasi Menuju Desentralisasi, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003), hlm. 23
diperlebar supaya bisa menambah kesan positif. Lahan yang luas itu perlu juga dimanfaatkan untuk pembangunan zona olahraga. Segala jenis olahraga di sekolah dipusatkan di tempat tersebut: ada lapangan sepakbola, bola voli, tenis lapangan, tenis meja, bola basket, wall climbing, catur, sepak takraw, kolam renang, dan sebagainya sehingga tersedia banyak pilihan.
Penataan sarana dan prasarana seperti yang diharapkan tersebut jarang sekali terjadi dalam lembaga pendidikan Islam, apalagi merawat budaya penataan ini. Budaya di kalangan umał Islam memang kurang menguntungkan untuk program perawatan tersebut sebab mereka masih lebih bersemangat mewujudkan sesuatu daripada merawatnya, apalagi mengembangkamya. Hal ini membutuhkan perhatian juga bagi manajer lembaga pendidikan Islam untuk mentradisikan perawatan tersebut di dałam lembaga yang dipimpimya.
Program perawatan ini bisa disebut program perawatan preventif yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kinerja, memperpanjang usia pakaiy menurunkan biaya perbaikan, dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan prasarana sekolah, melestarikan kerapian dan keindahan, serta menghindarkan dari kehilangan atau setidaknya meminimalisasi kehilangan.
Program perawatan ini dapat ditempuh melalui langkah-langkah berikut ini.
1. Membentuk tim pelaksana perawatan preventif di sekolah.
2. Membuat daftar sarana dan prasarana, termasuk seluruh perawatan yang ada di sekolah.
3. Menyiapkan jadwal tahunan kegiatan perawatan untuk setiap perawatan dan fasilitas sekolah.
4. Menyiapkan lembar evaluasi untuk menilai hasil kerja perawatan pada masing-masing bagian di sekolah.
5. Memberi penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja peralatan sekolah dałam rangka meningkatkan kesadaran dałam merawat sarana dan prasarana sekolah.
Adapun program perawatan preventif di sekolah tersebut dapat dilaksanakan dengan cara berikut ini.
1. Memberikan arahan kepada tim pelaksana perawatan preventif dan mengkaji ulang program yang telah dilaksanakan secara teratur.
2. Mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi tempat sarana prasarana, untuk mengevaluasi aktivitas pelaksanaamya berdasarkan jadwal yang telah dilaksanakan.
3. Menyebarkan informasi tentang program perawatan preventif untuk seluruh warga sekolah terutama guru dan siswa.
4. Membuat progranl lomba perawatan terhadap sarana dan fasilitas sekolah untuk memotivasi warga sekolah.
Demikianlah, paparan tentang sarana dan prasarana, terutama yang difungsikan menjadi sarana sebagai komponen dasar dalam proses pendidikan melengkapi komponen personalia, kesiswaan, kurikulum, dan keuangan. Sarana dan prasarana tersebut ternyata memiliki kedudukan yang penting dalam manajemen pendidikan Islam. Para siswa/mahasiswz santri, guru/ustadz, tamu-tamu yang hadir, orantua wali bisa tertarik pada suatu lembaga pendidikan Islam, jika ada pesona tertentu yang direfleksikan dari pengaturan sarana dan prasarana yang serba rapi, bersih, indah, anggun, dan asri.
Bagaimanapun sekolah/madrasah/pesantren yang memiliki sarana lengkap, rapi, dan bersih kemudian ditunjang oleh penataan prasarana yang indah, anggun, dan asri akan memiliki pengaruh yang positif sehingga mereka tertarik, dan betah berada di dalam kompleks lembaga tersebut. Keadaan ini di samping sebagai bagian dari urusan kelengkapan, juga—yang tidak kalah penting—termasuk urusan estetika atau keindahan yang melibatkan aspek perasaan seseorang untuk menilai dan merasakamya. Terkadang aspek perasaan ini sulit sekali dijelaskan, meskipun mudah dirasakan dan dihayati.
Oleh karena itu, sarana dan prasarana pendidikan Islam seharusnya diupayakan semaksimal mungkin agar lembaga pendidikan Islam memiliki daya tarik yang khas. Jika terjadi
demikian, maka posisi tawar lembaga tersebut terhadap masyarakat sekitar sangatlah tinggi. Hal ini sangat mungkin terjadi jika sarana prasarana ini mendapat perhatian besar dari manajer pendidikan Islam mulai dari tahap perencanaan hingga perawatan.
B. Mendambah Madrasah Bersih dan Indah
Judul ini penulis kutip dalam Jejen Musfah yang mana menemukan kenyataan pahit tentang kondisi madrasah yang kumuh dan kotor. Sampah berserakan tak sedap dipandang, air menggenang di toilet, dan jalanan becek saat hujan. Jangan membayangkan hal indah dan hijau lingkungan madrasah. Jika faktanya seperti ini, bukan berarti pimpinan dan guru madrasah tidak paham tentang ajaran agama tentang kebersihan dan kesehatan. Apa sebenarnya yang terjadi dengan pimpinan madrasah?
Islam mengajarkan bersih dan indah melalui wudhu, shalat, puasa, zakat, dan sedekah. Pesan ini mengajarkan madrasah tampil terdepan dalam hal kebersihan, hijau, dan indah. Tak perlu penegasan melalui instrumen akreditasi dan lain sebagainya, seperti khotbat Jumat dan upacara bendera, karena kebersihan merupakan kebutuhan dasar manusia yang dampaknya langsung terasa. Dalam fisik yang sehat terdapat akal yang sehat.79
Dampak lingkungan madrasah kotor yaitu belajar mengajar tidak nyaman, timbulnya ragam penyakit, lingkungan tidak indah dipandang dan tidak nyaman, dan mengurangi daya tarik orangtua kemadrasahkan atau memondokkan anak-anaknya. Kesan masyarakatumum bahwa madrasah itu kotor dan kumuh tidak salah. Memangdemikian kenyataamya.
Sudah saatnya madrasah berubah. Ragam langkah pemecahan masalah harus segera dicanangkan, dengan kepala madrasah sebagai penggerak dan pengontrolnya. Kepala madrasah orang pertama yang bertanggung jawab terhadap kebersihan dan keindahan lingkungan madrasah. Guru, staf, dan siswa sangat tergantung kepada
79 Jejeng Musfah, Manajemen Pendidikan: Teori, Kebijakan, dan Praktik (Jakarta: Kencana, 2015), hlm. 230