KONSEP DASAR KESEHATAN MENTAL
B. Ruang Lingkup Kesehatan Mental
1) Masa bayi dan kanak-kanak
Pada perkembangan manusia, kondisi ketergantungan total bayi beralih secara berangsur menjadi keadaan independensi, yakni kesanggupan mandiri secara relatif. Hal ini merupakan suatu keadaan yang kita dapati pada orang dewasa. Kalau kita
READING
COPY
perhatikan keadaan dan perkembangan bayi, kita akan melihat bahwa dalam tempo enam bulan pertama kehidupannya, bayi menjalin hubungan semakin erat dengan lingkungannya. Bersamaan dengan itu, berkembang juga motoriknya (otot-ototnya). Dari enam sampai dua belas bulan, hubungan yang dijalin dengan lingkungannya menjadi lebih kompleks. Dengan perkembangan motoriknya, bayi mulai memegang-megang berbagai benda yang ada di sekitarnya.
Reaksi afektif (reaksi perasaan) terutama terhadap orang lain menjadi semakin kompleks juga, bayi juga semakin lama semakin memerhatikan tubuhnya sendiri, dengan bahasa “menampilkan diri”
sebagai prabahasa awal.
Dalam masa berikutnya, kira-kira antara satu sampai tiga tahun, perkembangan anak ditandai oleh adanya suatu kemajuan pesat.
Saat anak mulai dapat berjalan, kemampuan motoriknya tumbuh kembang cepat, prabahasa menjadi bahasa, kegiatan intelektual mulai menampilkan diri. Hal ini bertalian dengan mulai keluarnya naluri ingin menyatakan diri, dan mulai merasakan berbagai frustrasi yang disebabkan lingkungan.
Masa berikutnya lagi ialah kira-kira antara tiga sampai lima tahun, anak mengkonsolidasikan kemajuan-kemajuan yang sudah dicapainya. Ia berusaha mengenali objek-objek yang ada disekitarnya, dan menghayati kepribadiannya sendiri. Lambat laun anak menjalani proses sosialisasi. Mula-mula ia belajar bagaimana menjalin hubungan dengan orang lain di lingkungan keluarganya sendiri. Proses ini khususnya menonjol saat anak masuk sekolah dan terjun ke dalam masyarakat kecil (teman-teman sekolah).
Perkembangan ini berlangsung terus sampai usia akil balig atau pubertas. Pada saat itu, terjadilah berbagai perubahan yang sangat besar, yang berkaitan dengan munculnya dorongan seksual seperti yang kita jumpai pada orang dewasa.
Psikoanalisis mengembangkan teori Libido atau teori Energi Seksual yang diakitkannya dengan perkembangan kepribadian. Teori ini mengemukakan bahwa seksualitas, yakni segala sesuatu yang menyangkut kehidupan seksual, sudah ada benihnya pada anak. Tentu coraknya tidak sama dengan yang kita jumpai pada orang dewasa.
Psikoanalisis mengemukakan bahwa seksualitas anak berkembang melalui pentahapan yang garis besarnya sama dengan tahap-tahap yang sudah dibahas lebih dahulu. Perkembangan ini disebut dalam
READING
COPY
psikoanalisis sebagi perkembangan psikoseksual, penahapannya diberi nama-nama fase oral (tahap mulut), fase anal (tahap dubur) dan fase falik (fase alat kelamin laki-laki), disebut juga fase pregenital.
Pembagian ini sesuai dengan pusat perhatian anak (bayi) yang mula-mula ditujukan pada fungsi mulut saat menyusui, kemudian fungsi dubur yang mengatur buang air besar, lalu alat kelamin yang sekaligus juga berfungsi untuk buang air kecil.
Sehabis fase falik, kemudian dilanjutkan dengan fase laten.
Dalam fase ini seakan-akan tidak terjadi suatu apapun pada diri si anak, tetapi justru semasa fase laten yang berlangsung sampai usia akil balig ini, muncullah apa yang disebut dalam psikoanalisis sebagai kompleks oedipus. Ini merupakan situasi tertentu yang muncul dalam hubungan antara anak dan orang tuanya. Nama Oedipus diambil dari cerita rakyat Yunani. Berdasarkan cerita yang berkembang, Ia merupakan seorang raja yang membunuh ayahnya, kemudian menikah dengan ibunya. Di pulau Jawa, analogi cerita mitologi seperti ini ialah cerita Sangkuriang. Freud menggunakan cerita tersebut untuk menggambarkan bahwa dalam proses tumbuh kembang seorang laki-laki, suatu saat akan timbul semacam konflik mental. Dalam hati si anak timbul semacam rasa cemburu, karena perhatian ibu kepada dirinya harus ia bagi dengan ayahnya.
Muncul dalam dirinya suatu hostilitas (rasa bermusuhan), yang tentunya menimbulkan semacam konflik mental, karena ia juga masih mencintai dan mengagumi ayahnya. Konflik oedipus ini tidak berlangsung seterusnya, tetapi biasanya ada peneyelesaian melalui suatu proses yang dikenal dengan istilah identifikasi. Maknanya ialah menjadikan dirinya “sama” seperti ayahnya. Dengan cara seperti itu, maka segala perhatian, cinta kasih dan kekaguman ibu terhadap ayah, otomatis juga jatuh padanya, karena ia sudah
“sama seperti ayahnya”.
Perkembangan psikoseksual pada laki-laki dan anak gadis secara garis besar adalah sama. Hanya penyelesaian konflik terjadi dengan orang tua yang jenis kelaminnya sama. Kompleks oedipus ini memerlukan penyelesaian yang memuaskan, supaya kepribadian dan seksualitas seseorang dapat tumbuh kembang dengan wajar dan harmonis.
Teori psikoanalisis mengaitkan perkembangan kepribadian dengan adanya berbagai tahap tadi. Kalau seseorang mengalami
READING
COPY
kesulitan menjalani berbagai fase psikoseksual, ada kemungkinan kepribadian tidak berkembang sebagaimana mestinya, hingga dapat terjadi gangguan kesehatan mental pada usia yang lebih lanjut.
Selain itu, dikemukakan bahwa semakin dini terjadi gangguan, semakin berakar akibatnya. Gangguan semasa fase oral dan anal umumnya berakibat lebih serius daripada gangguan yang terjadi semasa berikutnya.
Hubungan antara perkembangan kepribadian dan seksualitas menurut teori psikoanalisis kurang lebih sebagai berikut: “Kalau anak menyusui, buang air besar atau kecil, maka rangsangan yang terjadi pada selaput lendir dan kulit sekitar mulut, dubur dan alat kelamin akan dihayati oleh anak sebagai sesuatu yang menyenangkan atau enak. Perangsangan itu sendiri merupakan suatu kebutuhan bagi anak yang perlu dipenuhi. Berbagai daerah tubuh (mulut, dubur, alat kelamin) yang penting bagi perkembangan psikososial disebut juga zona atau daerah erogen. Pada saat seseorang memasuki akil balig, perangsangan berbagai zona tadi tidak hanya penting untuk menunjang fungsi vital saja (seperti makan, minum dan buang air), tetapi juga menunjang fungsi seksual. Misalnya mencium yang dapat menimbulkan nafsu berahi seperti yang dijumpai pada orang dewasa, apalagi perangsangan pada daerah kelamin yang dapat menyebabkan terjadinya puncak penghayatan rangsangan seksual, yakni ejakulasi air mani pada pria dan orgasmus pada wanita.
Psikonalisis mengutarakan bahwa antara perkembangan kepribadian dan perkembangan seksualitas terdapat hubungan yang erat.
Psikoanalisis menyatukannya dalam satu istilah ialah psikoseksual.
Banyak kritik yang dilontarkan terhadap teori psikoanalisis, khususnya teori yang terlalu menyoroti segi seksual, sehingga terkadang disebut panseksualistis. Memang benar bahwa perkembangan kepribadian ada kaitannya dengan perkembangan seksual, tetapi masih banyak faktor lain yang tidak kurang pentingnya dan yang turut mempengaruhi perkembangan kepribadian. Sebenarnya Freud bukan tidak menyadari hal tersebut, karena perkembangan kepribadian memiliki banyak segi, namun ia hanya sanggup menggarap segi seksualitasnya, karena hal itulah yang menurut pengamatannya menonjol pada para pasien yang diperiksanya. Lingkungan pasiennya ialah masyarakat german, sehingga hal ini membatasi ruang lingkup pengamatannya.
READING
COPY
Salah satu kritik dilontarkan oleh Karen Horney (1939) seorang penganut aliran psikoanalisis juga, tetapi ia menyoroti peranan lingkungan kebudayaan. Ia keberatan memberi peranan yang begitu besar dan dianggapnya berat sebelah pada seksualitas. Kompleks oedipus misalnya, bukan suatu fenomena atau peristiwa yang sifatnya universal, yang berlaku umum bagi semua masyarakat di seluruh dunia. Keadaan oedipal hanya didapati pada situasi yang analog, yakni yang serupa dengan corak kehidupan kekeluargaan yang dijumpai di negara Barat, tempat Freud mengembangkan teorinya. Pada masyarakat yang corak kebudayaan lain, seperti yang masih mengenal keluarga besar atau keluarga poligam, dinamika dalam perkembangan kepribadian belum tentu sama. Keadaan yang berlainan ini banyak dijumpai di negara kita, kecuali di kota-kota besar, yakni semakin banyak mengenal corak keluarga seperti yang dijumpai di negara-negara Barat.