• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usia lanjut

Dalam dokumen PDF Copy Reading Copy Reading (Halaman 62-66)

KONSEP DASAR KESEHATAN MENTAL

B. Ruang Lingkup Kesehatan Mental

4) Usia lanjut

Pada masa usia lanjut, tugas formil sudah selesai. Meletakkan pekerjaan dan mengundurkan diri dari masyarakat ramai merupakan salah satu ciri fase ini. Banyak teman dan kenalan sudah “berangkat”, tidak jarang rasa kesepian merupakan salah satu keluhan utama orang-orang yang sudah lanjut usia. Tetapi tidak selalu lanjut usia ini bersifat negatif. Dalam fase inilah manusia merenungkan masalah hakikat hidup dengan lebih intensif, dan mencoba mendekatkan diri pada yang Mahakuasa. Dalam hal inilah manusia belajar menerima, bahwa kehidupan di dunia ini tidak abadi, dan ia mempersiapkan diri dengan tenang untuk meninggalkan dunia yang fana ini.

Sebagai ringkasan, dapat dikatakan bahwa manusia dalam perkembangannya melampaui berbagai fase. Untuk pembinaan dan pemeliharaan kesehatan mental, setiap tahap tadi (usia bayi sampai usia lanjut) perlu dijalani dengan memuaskan. Kalau terjadi hambatan atau kegagalan dalam menyelesaikan tugas perkembangan dalam salah satu fase, maka dapat terjadi gangguan kesehatan mental dalam fase berikutnya.

d. Pengertian deprivasi dan frustrasi

Kalau keutuhan seseorang tidak dipenuhi dalam waktu yang relaif lama, kita katakan bahwa ia mengalami deprivasi. Kalau seorang anak tidak mendapatkan cinta kasih orang tuanya dalam waktu yang relatif lama, maka ia mengalami deprivasi kasih sayang.

Seseorang yang mengalami hal tersebut biasanya berusaha untuk mengatasinya. Dalam usaha tersebut ia memanfaatkan pengalaman

READING

COPY

yang lalu. Namun terkadang usaha itu terbentur pada kesulitan dan terhalang, sehingga terjadilah frustrasi. Frustrasi berpangkal pada kelemahan kepribadian dan masalah yang bersumber pada keadaan lingkungan. Suatu sumber khusus yang banyak berkaitan dengan kesehatan mental ialah konflik mental.

Frustrasi dapat berkesudahan secara positif atau negatif. Manusia biasanya belajar dari pengalaman. Dinataranya ia belajar bagaimana menanggulangi berbagai macam kesulitan dan hamabatan yang menyebabkan frustrasi. Orang yang berhasil mengembangkan cara- cara penanggulangan yang memadai akan menjadi lebih yakin pada dirinya sendiri. Kalau kemudian ia dihadapkan pada kesulitan yang serupa, ia sudah menjadi ulet, karena ia sudah memiliki seperangkat cara penanggulangan yang cukup memadai. Sebaliknya kalau seseorang mengalami frustrasi berat yang sulit sekali ditanggulangi, seperti pada konflik mental yang tidak teratasi, maka ia cenderung menjadi kaku dalam cara menanggulangi kesulitan tersebut. Hal ini disebabkan ia kurang atau tidak dapat mengambil manfaat dari pengalamannya. Karena ia gagal, ia tidak dapat belajar dari pengalamannya, dan bukannya menjadi tambah ulet, tetapi menjadi kaku. Kekakuan yang terjadi dalam dirinya merupakan penghalang baginya untuk mengembangkan cara-cara penanggulangan yang lebih memadai. Kita katakan bahwa orang yang seperti itu adalah mengalami fiksasi dalam perkembangannya. Ia menjadi kurang ulet dan tidak fleksibel dalam menghadapi kesulitan dan halangan. Ia lebih mudah dihinggapi frustrasi daripada menjadi orang yang ulet.

e. Pengertian anxietas, agresi, dan depresi

Frustrasi menyebabkan munculnya anxietas (rasa cemas).

Kecemasan merupakan tanda bahaya yang menyatakan diri dengan suatu penghayatan yang khas dan sulit digambarkan. Gejala anxietas ini ada yang bersifat psikis seperti rasa takut, khawatir dan gelisah, ada juga yang bersifat jasmaniah seperti jantung yang berdebar, keluar keringat dingin, mulut kering, tekanan darah meninggi dan susah tidur. Anxietas adalah gejala yang paling sering kita jumpai pada gangguan kesehatan mental.

Sebenarnya frustrasi tidak langsung menyebabkan munculnya anxietas, melainkan didahului dengan agresi dan amarah. Kalau agersi dan tindakan agresif tidak berhasil menyingkirkan hambatan

READING

COPY

dan kesulitan, maka muncullah anxietas, terutama kalau seseorang sudah belajar dari pengalaman, bahwa agresi itu merugikan dirinya (misalnya dimarahi atau dihukum). Akhirnya ia takut gagal dan takut akan akibat kegagalan. Kalau keadaan sudah berkembang seperti itu, maka anxietas dapat muncul tanpa didahului agresi.

Agresi yang tidak berhasil mengalami kesulitan, berbalik menjadi depresi. Depresi adalah keadaan yang ditandai hilangnya gairah dan semangat, terkadang disertai rasa sedih (tetapi tidak selalu).

Kita lihat bahwa bila depresi terangkat dengan obat misalnya, agresi semula akan muncul kembali. Perlu juga diperhatikan bahwa anxietas, agresi, dan depresi seringkali berjalan bersama. Hal ini disebabkan karena antara beraneka fenomena tersebut memiliki hubungan yang sangat erat.

Depresi yang disebabkan oleh agresi yang berbalik, harus dibedakan dari kesedihan yang disebabkan kehilangan sesuatu, atau seseorang yang sangat dicintai atau disukai. Hal ini jelas kita lihat, misalnya pada peristiwa duka cita (grief) yang disebabkan karena kematian seseorang yang dekat di hati, seperti kekasih, atau orang tua. Pembedaan kedua peristiwa tadi penting sekali, karena penampilannya sering mirip, tetapi dinamikanya berlainan. Duka cita termasuk peristiwa yang kita kenal dengan istilah krisis, dan biasanya berkesudahan dengan sendirinya dalam waktu 4 sampai 6 minggu. Karena itu duka cita sebaiknya jangan dicoba dihilangkan dengan obat, karena kalau ekspresi atau pernyataan duka cita ditekan-tekan, ada kemungkinan proses duka cita tidak selesai sebagaimana mestinya dan menjadi berkepanjangan, bahkan dapat menjurus pada munculnya gangguan kesehatan mental kemudiannya (Lin Deman, 1944).

C. Kesimpulan

Kesehatan mental secara definitif harus diikatkan dalam makna kesehatan secara umum, karena akan berkaitan dengan kondisi jasmani dan sosial. Keadaan sehat mental dapat dimaknai secara utuh berupa kondisi yang prima dan berfungsi secara optimal.

Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa orang yang sehat secara mental memiliki kondisi yang baik, tidak mengalami berbagai

READING

COPY

bentuk gangguan atau masalah, baik dari aspek kejiwaan maupun aspek sosial. Aspek sosial sangat penting dan menentukan, karena orang yang sehat mental dapat terlihat dalam relasinya dengan lingkungan sosial, dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Komponen penting dalam kesehatan mental adalah kepribadian.

Kepribadian ini menentukan bagaimana seseorang berpikir, bersikap dan bertingkah laku. Kepribadian berkembang melalui proses perkembangan, sehingga kepribadian merupakan hasil interaksi dengan lingkungan. Dalam ilmu kesehatan jiwa, penjelasan mengenai kepribadian merujuk kepada teori kepribadian yang dikembangkan oleh Sigmund Freud. Teorinya yang terkenal mengenai kepribadian disebut dengan psikoanalisa. Teori ini dikembangkan berdasarkan pengalamannya sebagai ahli psikoterapi dalam menghadapi pasien- pasiennya.

Dalam kaitannya dengan lingkungan sosial, orang yang memiliki mental sehat adalah orang yang mencapai tingkat kesejahteraan sosial yang baik. Mereka adalah orang yang adjustif (dapat menyesuaikan diri) dengan lingkungannya. Dengan demikian, sehat tidaknya seseorang dapat dilihat dalam kehidupan sosialnya.

D. Pertanyaan untuk Latihan dan Refleksi

1. Jelaskan beberapa definisi dari kesehatan mental!

2. Jelaskan keterkaitan antara kesehatan mental dengan kehidupan sosial!

3. Apa peranan kepribadian dalam kesehatan mental?

4. Jelaskan bagaimana lingkungan memberikan pengaruh terhadap perkembangan kepribadian!

5. Jelaskan prinsip utama dari mental yang sehat!

READING

COPY

P

embahasan mengenai kesehatan mental dalam buku ini akan lebih terfokus kepada kesehatan mental, bukan kesakitan mental, sehingga penjelasan mengenai bagaimana ciri atau karakteristik orang yang sehat mental akan mendapatkan porsi yang luas. Dalam bab ini akan dibahas mengenai karakteristik manusia yang memiliki kesehatan mental yang didasarkan kepada rumusan para ahli kepribadian, yaitu dari Gordon Allport, Abraham Maslow, Erich Fromm, Carl Rogers, dan Viktor Frankle.

Dalam dokumen PDF Copy Reading Copy Reading (Halaman 62-66)