Dyan Nur Andiyana, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 121
PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN
122 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
kimia sekitar 70% berada di bawah SKM (Standar Kelulusan Minimal) yaitu <75. Pembelajaran kimia termasuk tatanama senyawa sederhana selama ini selalu diawali dengan penjelasan guru tentang aturan-aturan penamaan senyawa sederhana kemudian diikuti dengan contoh-contoh dari aturan penamaannya. Hal ini merupakan penyebab kesulitan yang dihadapi oleh siswa-siswa tersebut.
Menurut penelitian Habiddin (2011) kebanyakan mahasiswa kesulitan memberikan nama/ rumus kimia senyawa ionik biner terutama untuk senyawa ionik yang mengandung unsur yang dapat membentuk lebih dari satu kation, misalnya unsur Fe yang dapat membentuk kation Fe2+ dalam senyawa FeCl2 dan kation Fe3+ dalam senyawa FeCl3, serta penamaan molekul/ ion poliatomik. Selain itu masing jarang dilakukan penelitian materi tatanama senyawa sederhana. Berdasarkan karakteristiknya materi tersebut cocok dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan model pembelajaran Induktif.Materi tersebut bukan termasuk materi yang banyak melibatkan operasi matematik dan dapat mengarahkan siswa saling bekerjasama dalam memecahkan masalah serta belajar dalam kelompok dengan suasana yang menyenangkan, sehingga diharapkan masing-masing siswa dapat memahami materi ini dengan baik.
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengandung unsur pendekatan ilmiah.
Model pembelajaran kooperatif dilakukan dengan mengelompokkan siswa secara heterogen ke dalam kelompok- kelompok kecil. Jigsaw adalah salah satu model pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran tipe Jigsaw, siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok yang anggotanya mempunyai karakteristik heterogen. Masing-masing siswa bertanggung jawab untuk mempelajari topik yang ditugaskan dan mengajarkan pada anggota kelompoknya, sehingga mereka dapat saling berinteraksi dan saling membantu. Model pembelajaran ini berangkat dari dasar pemikiran “getting better together” atau “raihlah yang lebih baik secara bersama-sama” yang menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif kepada siswa untuk memperoleh serta mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan sosial yang bermanfaat bagi kehidupannya di masyarakat (Solihatin &
Raharjo, 2007).
Model pembelajaran kimia Induktif yang juga berbasis pada konstruktivisme memiliki karateristik yang sesuai untuk diterakapkan dalam pembelajaran tatanama senyawa sederhana. Menurut Sulistyani (2010) pembelajaran kimia menggunakan model Induktif menekankan pada pengembangan daya nalar siswa. Pembelajaran kimia pada materi tatanama senyawa sederhana selama ini diajarkan dengan metode direct instruction, dimana pembelajaran dimulai dari menjelaskan aturan penamaan terlebih dahulu kemudian contoh-contoh nama senyawa. Hal itu tidak membuat siswa berpikir untuk membangun konsep. Maka dengan model pembelajaran induktif diharapkan mampu mengembangkan daya berpikir kritis siswa sehingga pengetahuan yang didapat akan memiliki jangka waktu yang lama.
METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (Quasi Experimental Design). Kelas eksperimen satu dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, sedangkan kelas eksperimen dua dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Induktif. Desain eksperimen yang digunakan pada penelitian ini tertera pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Rancangan Penelitian Eksperimen Semu
Subjek Perlakuan Postes
Eksperimen satu X1 O1
Eksperimen dua X2 O2
Keterangan:
X1:Pembelajaran dengan model kooperatif tipe Jigsaaw X2: Pembelajaran dengan model Induktif
O1: Prestasi belajar kelas eksperimen satu O2: Prestasi belajar kelas eksperimen dua Subyek Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi populasi yaitu seluruh siswa kelas X di SMA Negeri 7 Malang yang terdiri dari 10 kelas. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive cluster sampling. Kelas pertama (kelas X-IPA 3) sebagai kelas eksperimen satu dan kelas kedua (kelas X-IPA 4) sebagai kelas eksperimen dua.
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini terdiri dari instrumen perlakuan yang meliputi silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), handout dan worksheet, sedangkan instrumen pengukuran yang meliputi lembar observasi dan ulangan harian. RPP dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw diterapkan pada kelas eksperimen satu,
Dyan Nur Andiyana, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 123
sedangkan RPP dengan model pembelajaran Induktif diterapkan pada kelas eksperimen dua. Lembar observasi digunakan untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran dan prestasi belajar afektif. Ulangan harian digunakan untuk mengetahui prestasi belajar kognitif siswa. Sebelum dilakukan ulangan harian, terlebuh dahulu dilakukan validitas isi terhadap soal tes yang digunakan. Validasi ditinjau dari segi teknis, isi, editorial, materi, konstruksi dan bahasa yang ditetapkan berdasarkan penilaian dan pertimbangan dari para ahli dibidangnya.
Pengumpulan Data
Nilai prestasi belajar afektif siswa diperoleh dari lembar observasi selama proses pembelajaran sedangkan nilai prestasi belajar kognitif siswa diperoleh dari kuis yang dilakukan setiap akhir pembelajaran dan tes ulangan harian yang dilakukan setelah materi tatanama senyawa sederhana selesai dipelajari.
Analisis data
Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan statistik. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran, penilaian kuis dan penilaian afektif siswa, baik kelas eksperimen satu maupun kelas eksperimen dua. Penilaian keterlaksanaan pembelajaran dan penilaian afektif siswa dilakukan setiap proses pembelajaran berlangsung, sedangkan penilaian kuis dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi tatanama senyawa sederhana. Sedangkan analisis statistik digunakan untuk menganalisis kemampuan awal siswa dan prestasi belajar siswa, yaitu uji prasyarat analisis dan uji hipotesis.
HASIL DAN PEMBEHASAN Hasil
Deskripsi Data Kemampuan Awal Siswa
Data kemampuan awal siswa diperoleh dari nilai ulangan harian pada materi reaksi redoks. Ringkasan data kemampuan awal siswa ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Data Kemampuan Awal Siswa Kelas Jumlah Siswa Nilai
Tertinggi
Nilai
Terendah Nilai Rata-rata
Eksperimen satu 35 79,00 56,00 69,80
Eksperimen dua 35 82,00 52,00 70,74
Data kemampuan awal siswa selanjutnya dianalisis secara statistik yakni meliputi uji prasyarat analisis (uji normalitas dan uji homogenitas) serta uji kesamaan dua rata-rata. Hasil uji prasyarat analisis (uji normalitas dan uji homogenitas) menunjukkan bahwa data kemampuan awal siswa terdistribusi secara normal dan mempunyai varian yang sama, maka digunakan uji-t untuk uji kesamaan dua rata-rata kemampuan awal siswa. Hasil dari uji-t menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal siswa pada kedua kelas yang digunakan sebagai sampel (kemampuan awal kedua kelas sama).
Deskripsi Data Prestasi Belajar Siswa
Prestasi belajar kognitif siswa meliputi nilai kuis dan nilai ulangan harian. Prestasi belajar kognitif yang berupa nilai kuis dianalisis secara deskriptif sedangkan nilai ulangan harian dianalisis secara statistik. Penilaian kuis dilakukan tiap akhir pembelajaran. Data nilai kuis dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Data Nilai Kuis
Kelas Rata-rata nilai kuis ke-
Rata-rata
1 2
Eksperimen satu Eksperimen dua
70,28 71,43
83,43 80,57
76,86 76,00
Prestasi belajar kognitif siswa diperoleh dari nilai ulangan harian materi tatanama senyawa sederhana. Data hasil belajar kognitif siswa dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Deskripsi Nilai Ulangan Harian Siswa
Kelas Jumlah
Siswa
Nilai Terendah
Nilai
Tertinggi Rata-rata
Eksperimen satu 35 56,00 100,00 76,91
Eksperimen dua 35 62,00 96,00 74,43
124 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
Data nilai ulangan harian terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis yakni uji normalitas dan uji homogenitas dimana nilai ulangan harian siswa terdistribusi normal dan memiliki varian yang homogen sehingga menggunakan uji-t untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian. Data hasil uji-t ulangan harian siswa dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil Uji-t Nilai Ulangan Harian Siswa Variabel
Rata-rata Nilai
signifikansi Kesimpulan Eksperimen satu Eksperimen dua
Nilai Tes 76,91 74,43 0,211 Tidak ada perbedaan
prestasi belajar kognitif siswa
Tabel 5 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan prestasi belajar kognitif antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan model pembelajaran Induktif.
Prestasi Belajar Afektif
Penilaian afektif siswa diperoleh berdasarkan aspek penilaian karakter dan keterampilan sosial. Pada saat proses pembelajaran berlangsung dilakukan penilaian afektif siswa. Data prestasi belajar afektif siswa dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Data Nilai Afektif
Pertemuan Rata-rata nilai
Eksperimen satu Eksperimen dua Pertama
Kedua
87,83 90,05
86,14 89,83
Rata-rata 88,94 87,98
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diuraikan dalam pembahasan untuk menindaklanjuti hasil analisis sebagai berikut.
1) Nilai prestasi belajar kognitif siswa
Prestasi belajar kognitif meliputi nilai kuis dianalisis secara deskriptif sedangkan nilai ulangan harian dianalisis secara statistik.
a. Nilai kuis
Ketuntasan nilai kuis pada kegiatan belajar I untuk siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mencapai 70,28% sedangkan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Induktif 71,43%. Dengan demikian kedua kelas dapat melanjutkan pembelajaran untuk siklus pembelajaran berikutnya karena ketuntasan yang dicapai pada kegiatan belajar I lebih dari 67%.
Ketuntasan nilai kuis pada kegiatan belajar II untuk siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mencapai 83,43% sedangkan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Induktif 80,57%. Secara rata-rata nilai kuis tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa dapat memahami materi tatanama senyawa sederhana dengan baik. Hal ini dapat ditunjukkan dengan persentase ketuntasan nilai kuis siswa tiap siklus lebih dari 67%.
b. Ulangan harian
Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran model kooperatif tipe Jigsaw dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran induktif. Tidak adanya perbedaan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kedua model pembelajaran ini sama-sama berbasis konstruktivisme. Siswa pada kedua kelas sama-sama membangun pengetahuannya sendiri dan melakukan investigasi untuk membuktikan pengetahuannya.
Pada fase diskusi siswa belum terbiasa dengan kegiatan diskusi dalam pembelajaran karena guru cenderung ceramah, maka perlu ada solusi strategis untuk mengatasi masalah ini misalnya guru secara bertahap merancang kegiatan diskusi karena dengan kegiatan diskusi dapat melatih siswa untuk memiliki sikap saling menghargai. Hal ini sesuai dengan penelitian Diana (2013) yang sama-sama mengalami hambatan dalam kegiatan diskusi pada saat model pembelajaran kooperatif Jigsaw.
Dyan Nur Andiyana, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 125
Faktor kedua ditinjau dari karateristik materi tatanama senyawa sederhana. Model pembelajaran Induktif seharusnya lebih baik dari model pembelajaran lainnya karena lebih sesuai dengan hirarki materi pembelajaran. Tetapi siswa masih baru dengan model pembelajaran Induktif sehingga prestasi belajarnya juga kurang optimal. Namun demikian, penerapan model pembelajaran ini secara terus-menerus dapat meningkatkan sikap ilmiah dan daya nalar siswa
Faktor ketiga yaitu keterbatasan alokasi waktu. Pihak sekolah telah menyediakan waktu tiga minggu untuk pembelajaran materi tatanama senyawa sederhana. Akan tetapi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan Induktif membutuhkan waktu yang lebih lama saat kegiatan pembelajarannya, sehingga tujuan dari model pembelajaran tersebut kurang tercapai dengan baik.
2) Nilai prestasi belajar afektif
Prestasi belajar afektif siswa meliputi beberapa aspek penilaian karakter dan keterampilan sosial, yaitu: bertanya, berpendapat, menjawab pertanyaan, jujur, bekerja sama dan tanggung jawab. Prestasi belajar afektif dinilai pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan Tabel 6 rata-rata nilai prestasi belajar afektif siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw hampir sama dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Induktif. Hal ini mungkin model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan model pembelajaran Induktif sama-sama berbasis konstruktivisme, dimana menurut Iskandar (2011:14) model pembelajaran konstruktivisme dimulai dari proses “aktif dan memikat” yang memberi kesempatan bagi siswa untuk membangun makna dari pengalaman sehingga terjadi kegiatan hands-on mind-on activities. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai prestasi belajar afektif siswa yang di belajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan siswa yang di belajarkan dengan model pembelajaran Induktif yakni baik.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Keterlaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan pembelajaran dengan model pembelajaran Induktif pada materi tatanama senyawa sederhana berlangsung dengan sangat baik.
2. Tidak terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Induktif di Kelas X SMANegeri 7 Malang.
DAFTAR RUJUKAN
1. Diana, N. R. 2013. Pengaruh Metode Jigsaw Disertai Media LKS dan Power Point pada Pembelajaran Kimia Ditinjau dari Kreativitas Terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Materi Pokok Hidrokarbon Kelas X Semester Genap di SMA Negeri 1 Ponorogo T.A. 2011/2012. Jurnal Pendidikan Kimia, (Online), 2 (3): 54- 55,(http://eprints.uns.ac.id/11949/1/1236-5577-1-PB.pdf), diakses tanggal 6 Februari 2014.
2. Habiddin. 2011. Identifikasi Prakonsepsi Mahasiswa Baru Pendidikan Kimia Sebagai Langkah Awal Penentuan Strategi Pembelajaran yang Tepat. Prosiding Seminar Nasional Lesson Study 4, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Malang, 10 November 2011.
3. Iskandar, S. M. 2011. Pendekatan Pembelajaran Sains Berbasis Kontruktivis. Malang: Bayumedia.
4. Solihatin, E & Raharjo. 2007. Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.
5. Sulistyani. 2010. Pendekatan Induktif dalam Pembelajaran Kimia Beracuan Konstruktivisme untuk Membentuk Pemikiran Kritis, Kreatif, dan Berkarakter. Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia 2010, Yogyakarta, 30 Oktober 2010. Dalam Staff UNY, (Online), (http://staff.uny.ac.id), diakses 6 Februari 2014.
126 Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014
Ayunda Naila Farihah, dkk.
Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pembelajarannya (SNKP) 2014 127