• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mediasi

Dalam dokumen Untitled - Research and Publication (Halaman 173-180)

Pendapat yang Mengikat dan Klausula Arbitrase Pendapat yang Mengikat

3. Mediasi

Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk memperoleh kesepakatan Para Pihak dengan dibantu oleh Mediator26. Mediator adalah Hakim atau pihak lain yang memiliki Sertifikat Mediator sebagai pihak netral yang membantu Para Pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian27. Mediasi dapat dibagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu mediasi di pengadilan dan mediasi di luar pengadilan. Adapun penjelasannya sebagai berikut

a. Mediasi di Pengadilan

Mediasi di Pengadilan diatur melalui Peraturan Mahkamah Agung (Perma) No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

Pengaturan mediasi ini meliputi prosedur mediasi dalam lingkungan peradilan umum maupun peradilan agama28 dan pengadilan di luar

24Nazyra Yossea Putri, Op.,Cit, hlm. 12.

25Lihat Huala Adolf, Hukum Perdagangan Internasional: Prinsip-Prinsip dan Konsep Dasar, 2004, hlm. 10. Ibid.

26Lihat Pasal 1 angka 1 Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

27Lihat Pasal 1 angka 2 Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

28Lihat Pasal 2 ayat (1) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi

lingkungan peradilan umum dan peradilan agama dapat menerapkan Mediasi berdasarkan Perma ini sepanjang dimungkinkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan29.

Setiap Hakim, Mediator, Para Pihak dan/atau kuasa hukum wajib mengikuti prosedur penyelesaian sengketa melalui Mediasi30. Hakim Pemeriksa Perkara dalam pertimbangan putusan wajib menyebutkan bahwa perkara telah diupayakan perdamaian melalui mediasi dengan menyebutkan nama Mediator31. Hakim Pemeriksa Perkara yang tidak memerintahkan Para Pihak untuk menempuh Mediasi sehingga Para Pihak tidak melakukan Mediasi telah melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai Mediasi di Pengadilan32. Proses Mediasi dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak diterimanya pemberitahuan putusan sela Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung33.

Semua sengketa perdata yang diajukan ke Pengadilan termasuk perkara perlawanan (verzet) atas putusan verstek dan perlawanan pihak berperkara (partij verzet) maupun pihak ketiga (derden verzet) terhadap pelaksanaan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, wajib terlebih dahulu diupayakan penyelesaian melalui Mediasi, kecuali ditentukan lain berdasarkan Perma ini34. Sengketa yang dikecualikan dari kewajiban penyelesaian melalui Mediasi meliputi35:

di Pengadilan.

29Lihat Pasal 2 ayat (2) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

30Lihat Pasal 3 ayat (1) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

31Lihat Pasal 3 ayat (2) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

32Lihat Pasal 3 ayat (3) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

33Lihat Pasal 3 ayat (6) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

34Lihat Pasal 4 ayat (1) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

35Lihat Pasal 4 ayat (2) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

160 Hukum Hak Cipta: Model Fair Use/Fair Dealing Hak Cipta Atas Buku 1) Sengketa yang pemeriksaannya di persidangan ditentukan tenggang

waktu penyelesaiannya meliputi antara lain:

a) Sengketa yang diselesaikan melalui prosedur Pengadilan Niaga;

b) Sengketa yang diselesaikan melalui prosedur Pengadilan Hubungan Industrial;

c) Keberatan atas putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha;

d) Keberatan atas putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen;

e) Permohonan pembatalan putusan Arbitrase;

f) Keberatan atas putusan Komisi Informasi;

g) Penyelesaian perselisihan partai politik;

h) Sengketa yang diselesaikan melalui tata cara gugatan sederhana;

i) Sengketa lain yang pemeriksaannya di persidangan ditentukan tenggang waktu penyelesaiannya dalam ketentuan peraturan perundang-undangan;

2) Sengketa yang pemeriksaannya dilakukan tanpa hadirnya penggugat atau tergugat yang telah dipanggil secara patut;

3) Gugat balik (rekonvensi) dan masuknya pihak ketiga dalam suatu perkara (intervensi);

4) Sengketa mengenai pencegahan, penolakan, pembatalan, dan pengesahan perkawinan;

5) Sengketa yang diajukan ke Pengadilan setelah diupayakan penyelesaian di luar Pengadilan melalui Mediasi dengan bantuan Mediator bersertifikat yang terdaftar di Pengadilan setempat tetapi dinyatakan tidak berhasil berdasarkan pernyataan yang ditandatangani oleh Para Pihak dan Mediator bersertifikat.

Proses Mediasi pada dasarnya bersifat tertutup kecuali Para Pihak menghendaki lain36. Penyampaian laporan Mediator mengenai pihak yang tidak beriktikad baik dan ketidakberhasilan proses Mediasi kepada Hakim Pemeriksa Perkara bukan merupakan pelanggaran terhadap sifat tertutup Mediasi37. Kemudian Pertemuan Mediasi dapat dilakukan

36Pasal 5 ayat (1) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

37Pasal 5 ayat (2) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

melalui media komunikasi audio visual jarak jauh yang memungkinkan semua pihak saling melihat dan mendengar secara langsung serta berpartisipasi dalam pertemuan38.

Tugas Mediator antara lain39:

1) Memperkenalkan diri dan memberi kesempatan kepada Para Pihak untuk saling memperkenalkan diri;

2) Menjelaskan maksud, tujuan, dan sifat Mediasi kepada Para Pihak;

3) Menjelaskan kedudukan dan peran Mediator yang netral dan tidak mengambil keputusan;

4) Menjelaskan membuat aturan pelaksanaan Mediasi bersama Para Pihak;

5) Menjelaskan bahwa Mediator dapat mengadakan pertemuan dengan satu pihak tanpa kehadiran pihak lainnya (kaukus);

6) Menyusun jadwal Mediasi bersama Para Pihak;

7) Mengisi formulir jadwal mediasi;

8) Memberikan kesempatan kepada Para Pihak untuk menyampaikan permasalahan dan usulan perdamaian;

9) Menginventarisasi permasalahan dan mengagendakan pembahasan berdasarkan skala prioritas;

10) Memfasilitasi dan mendorong Para Pihak untuk:

a) menelusuri dan menggali kepentingan Para Pihak;

b) mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik bagi Para Pihak;

(3) bekerja sama mencapai penyelesaian;

11) Membantu Para Pihak dalam membuat dan merumuskan Kesepakatan Perdamaian;

l2) Menyampaikan laporan keberhasilan, ketidakberhasilan dan/atau tidak dapat dilaksanakannya Mediasi kepada Hakim Pemeriksaan Perkara;

38Pasal 5 ayat (3) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

39Lihat Pasal 14 Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

162 Hukum Hak Cipta: Model Fair Use/Fair Dealing Hak Cipta Atas Buku 13) Menyatakan salah satu atau Para Pihak tidak beriktikad baik dan

menyampaikan kepada Hakim Pemeriksa Perkara;

14) Tugas lain dalam menjalankan fungsinya

Pada hari sidang yang telah ditentukan dan dihadiri oleh Para Pihak, Hakim Pemeriksa Perkara mewajibkan Para Pihak untuk menempuh Mediasi40 dan kehadiran Para Pihak berdasarkan panggilan yang sah dan patut41. Pemanggilan pihak yang tidak hadir pada sidang pertama dapat dilakukan pemanggilan satu kali lagi sesuai dengan praktik hukum acara42. Dalam hal para pihak lebih dari satu, Mediasi tetap diselenggarakan setelah pemanggilan dilakukan secara sah dan patut walaupun tidak seluruh pihak hadir43. Ketidakhadiran pihak turut tergugat yang kepentingannya tidak signifikan tidak menghalangi pelaksanaan Mediasi44. Hakim Pemeriksa Perkara wajib menjelaskan Prosedur Mediasi kepada Para Pihak45. Penjelasan yang diberikan oleh Hakim Pemeriksa Perkara meliputi46: 1) pengertian dan manfaat Mediasi;

2) kewajiban Para Pihak untuk menghadiri langsung

3) pertemuan Mediasi berikut akibat hukum atas perilaku tidak beriktikad baik dalam proses Mediasi;

4) biaya yang mungkin timbul akibat penggunaan Mediator nonhakim dan bukan Pegawai Pengadilan;

5) pilihan menindaklanjuti Kesepakatan Perdamaian melalui Akta Perdamaian atau pencabutan gugatan; dan

9) kewajiban Para Pihak untuk menandatangani formulir penjelasan Mediasi.

40Lihat Pasal 17 ayat (1) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

41Lihat Pasal 17 ayat (2) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

42Lihat Pasal 17 ayat (3) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

43Lihat Pasal 17 ayat (4) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

44Lihat Pasal 17 ayat (5) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

45Lihat Pasal 17 ayat (6) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

46Lihat Pasal 17 ayat (7) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

Mediasi di Pengadilan diselenggarakan di ruang Mediasi Pengadilan atau di tempat lain di luar Pengadilan yang disepakati oleh Para Pihak47. Mediator Hakim dan Pegawai Pengadilan dilarang menyelenggarakan Mediasi di luar Pengadilan48. Mediator non Hakim dan bukan Pegawai Pengadilan yang dipilih dan ditunjuk bersama-sama dengan Mediator Hakim atau Pegawai Pengadilan dalam satu perkara wajib menyelenggarakan Mediasi bertempat di Pengadilan49. Kemudian penggunaan ruang Mediasi Pengadilan untuk Mediasi tidak dikenakan biaya50.

b. Mediasi di Luar Pengadilan

Mediasi di luar Pengadilan merupakan mediasi yang dilaksanakan di luar Pengadilan untuk mengusahakan perdamaian. Para Pihak dengan atau tanpa bantuan Mediator bersertifikat yang berhasil menyelesaikan sengketa di luar Pengadilan dengan Kesepakatan Perdamaian dapat mengajukan Kesepakatan Perdamaian kepada Pengadilan yang berwenang dengan cara mengajukan gugatan51. Pengajuan gugatan tersebut harus dilampiri dengan Kesepakatan Perdamaian dan dokumen sebagai alat bukti yang menunjukkan hubungan hukum Para Pihak dengan objek sengketa52. Hakim Pemeriksa Perkara di hadapan Para Pihak hanya akan menguatkan Kesepakatan Perdamaian menjadi Akta Perdamaian jika Kesepakatan Perdamaian sesuai dengan ketentuan Pasal 27 ayat (2)53, bahwa dalam membantu merumuskan Kesepakatan Perdamaian, Mediator wajib memastikan Kesepakatan Perdamaian tidak memuat ketentuan yang54:

47Lihat Pasal 11 ayat (1) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

48Lihat Pasal 11 ayat (2) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

49Lihat Pasal 11 ayat (3) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

50Lihat Pasal 11 ayat (4) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

51Lihat Pasal 36 ayat (1) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

52Lihat Pasal 36 ayat (2) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

53Lihat Pasal 36 ayat (3) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

54Lihat Pasal 27 ayat (2) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

164 Hukum Hak Cipta: Model Fair Use/Fair Dealing Hak Cipta Atas Buku 1) Bertentangan dengan hukum, ketertiban umum, dan/atau

kesusilaan;

2) Merugikan pihak ketiga; atau 3) Tidak dapat dilaksanakan.

Akta Perdamaian atas gugatan untuk menguatkan Kesepakatan Perdamaian harus diucapkan oleh Hakim Pemeriksa Perkara dalam sidang yang terbuka untuk umum paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak gugatan didaftarkan55. Salinan Akta Perdamaian wajib disampaikan kepada Para Pihak pada hari yang sama dengan pengucapan Akta Perdamaian56.

Pendaftaran suatu Kesepakatan Perdamaian di Pengadilan Negeri hingga menjadi Akta Perdamaian membuat suatu kesepakatan tersebut memiliki kekuatan eksekutorial. Berbeda jika tidak didaftarkan, maka suatu Kesepakatan Perdamaian tersebut hanya akan menjadi seperti halnya perjanjian biasa yang mengikat Para Pihak sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 KUH Perdata (asas pacta sund servanda).

c. Konsiliasi57

Konsiliasi adalah proses penyelesaian sengketa dengan menyerahkan kepada suatu komisi orang-orang yang bertugas untuk menguraikan/

menjelaskan fakta-fakta (konsiliator) di mana konsiliator akan membuatkan usulan-usulan untuk suatu penyelesaian namun keputusan tersebut tidak mengikat.

d. Penilaian Ahli58

Penilaian Ahli atau disebut juga pendapat ahli adalah suatu keterangan yang dimintakan oleh para pihak yang sedang bersengketa kepada seorang ahli tertentu yang dianggap lebih memahami tentang suatu materi sengketa yang terjadi.

55Lihat Pasal 36 ayat (4) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

56Lihat Pasal 36 ayat (5) Perma No 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.

57Nazyra Yossea Putri, Op.,Cit, hlm. 13.

58Nazyra Yossea Putri, Op.,Cit, hlm. 13.

Dalam dokumen Untitled - Research and Publication (Halaman 173-180)