PENGALIHAN HAK CIPTA ATAS BUKU
C. Wasiat
100 Hukum Hak Cipta: Model Fair Use/Fair Dealing Hak Cipta Atas Buku 2. Pasal 211 Kompilasi Hukum Islam, hibah dan orang tua kepada
anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan.
3. Pasal 212 Kompilasi Hukum Islam, hibah tidak dapat ditarik kembali, kecuali hibah orang tua kepada anaknya.
4. Pasal 213 Kompilasi Hukum Islam, hibah yang diberikan pada swaat pemberi hibah dalam keadaan sakit yang dekat dengan kematian, maka harus mendapat persetujuan dari ahli warisnya.
5. Pasal 214 Kompilasi Hukum Islam, warga negara Indonesia yang berada di negara asing dapat membuat surat hibah di hadapan Konsulat atau Kedutaan Republik Indonesia setempat sepanjang isinya tidak bertentangan dengan ketentuan pasal-pasal ini.
Terkait dengan Hak Cipta dan Hak Terkait dapat dipindahkan kepemilikannya yakni berupa hak ekonominya melalui hibah kepada Pemegang Hak Cipta. Pemegang Hak Cipta dapat merupakan orang perorangan maupun badan hukum yang pelaksanaan hibahnya berdasarkan ketentuan sebagaimana dijabarkan sebelumnya. Sedangkan Hak Moral tetap melekat kepada Pencipta aslinya.
anaknya sesudah ia meninggal dunia40. Bagi ahli waris, ia mempunyai kewajiban kepada orang tua (pewaris) yakni:
1. mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai;
2. menyelesaikan baik utang-utang berupa pengobatan, perawatan, termasuk kewajiban pewaris maupun penagih utang;
3. menyelesaikan wasiat pewaris;
4. membagi harta warisan di antara ahli waris yang berhak.
Ulama mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali berpegang kepada prinsip ini, karena ada hadis Rasulullah Saw. yang mengatur mengenai ini. Hadist tersebut diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Hisyam bin Ammar, yang artinya, “Tidak boleh berwasiat kepada ahli waris”41.
Wasiat (wasoi) secara terminologi hukum Islam adalah pemberian kepemilikan yang di lakukan seseorang untuk orang lain, sehingga ia berhak memilikinya ketika si pemberi meninggal dunia. Pemberian kepada orang lain tersebut dapat berupa barang, piutang atau manfaat untuk dimiliki oleh orang yang diberi wasiat sesudah orang yang berwasiat mati. Semua para ahli hukum Islam mendasarkan pendapat mereka pada Al Qur’an Surat Al-Baqarah (2:180) sebagai berikut.
Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini) adalah kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”.
Para ahli hukum Islam mengemukakan bahwa wasiat adalah pemilikan yang didasarkan pada orang yang menyatakan wasiat telah meninggal dunia dengan jalan kebaikan tanpa menuntut imbalan (tabarru). Menurut Al Jazari, dikalangan madzhab Syafi’i, Hambali, dan Maliki memberi definisi wasiat secara rinci yakni wasiat adalah suatu transaksi yang mengharuskan orang yang menerima wasiat berhak memiliki sepertiga harta peninggalan orang yang menyatakan wasiat setelah ia meninggal dunia. Berdasarkan itu pula menurut Sayyaid Sabiq bahwa pengertian ini sejalan dengan definisi yang dikemukan oleh para ahli hukum Islam
40Lihat Pasal 108 Kompilasi Hukum Islam.
41Sunan Ibnu Majjah, Jilid II, Al-Maktabah Al-Ilmiyah, Beirut, hlm. 905 dalam M. Anshary, Hukum Kewarisan Islam dalam Teori dan Praktik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2013), hlm. 17.
102 Hukum Hak Cipta: Model Fair Use/Fair Dealing Hak Cipta Atas Buku di kalangan Madzhab Hanafi yang mengatakan wasiat adalah tindakan seseorang yang memberikan haknya kepada orang lain untuk memiliki sesuatu baik merupakan kebendan maupun manfaat secara suka rela tanpa imbalan yang pelaksanaannya ditangguhkan sampai terjadi kematian orang yang menyatakan wasiat tersebut. Hukum wasiat di kalangan ahli hukum Islam terdapat perbedaan menyangkut dasar persoalan apakah wasiat itu wajib dilakukan bagi seseorang atau hanya sunnah saja (anjuran) ataukah diskreasi untuk melakukan atau sebagai pembolehan hukum.
Imam Al-Zuhri berpendapat wasiat wajib dilakukan oleh orang yang memiliki harta. Pendapat ini pula didukung oleh Ibnu Hazm yang didukung oleh banyak kalangan sahabat Nabi seperti Ibnu Umur, Zubair, Abdullah Ibn Aufa, Talhah. Pendapat lain menyatakan hukum wajib itu hanya ditunjukan kepada karib kerabat yang tidak memperoleh hak waris. Kemudian sebagian pendapat menyatakan sunnah jika dilakukan untuk suatu kewajiban. Pendapat ini dikemukakan oleh Empat Imam, yaitu Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal. Menurut Ibnu Qudamah, pengikut Madzhab Hambali, menyatakan membolehkan adanya wasiat kepada ahli waris apabila dikehendaki. Sedangkan menurut Imam Malik, wasiat boleh dilaksanakan bila disetujuhi oleh ahli waris. Bila yang menyutujui hanya sebagian maka wasiat diambil dari orang yang membolehkan saja.
Pendapat lain dalam Madzhab Zahiri, Ibn Hazm menyatakan,
“wajib bagi setiap muslim berwasiat kepada keluarga dekat yang tidak mendapatkan warisan, baik karena warisannya diambil oleh ahli waris yang lebih berhak maupun karena sebenarnya tidak mendapatkan warisan”. Namun al Mawardi, pengikut Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa wasiat kepada keluarga dekat adalah sunnah bukan wajib. Semua ahli Hukum Islam sepakat dengan ketentuan pokok (rukun) dan syarat wasiat sebagai berikut.
1. Orang yang berwasiat (mushi)
Mushi disyaratkan sudah dewasa (minimal berusia 21 tahun), berakal sehat, dan tanpa paksaan dalam berwasiat
2. Orang yang menerima wasiat (mushalahu)
Mushalahu disyaratkan harus dapat diketahui dengan jelas, telah diwujudkan ketika wasiat dinyatakan, bukan untuk tujuan kemaksiatan, dan tidak membunuh mushi.
3. Sesuatu yang diwasiatkan (mushabihi)
Mushabihi harus memenuhi syarat bahwa dapat berlaku sebagai harta warisan atau dapat menjadi objek perjanjian, sudah berwujud ketika wasiat dinyatakan, milik mushi, dan jumlahnya maksimal 1/3 dari harta warisan kecuali semua ahli waris menyetujui.
4. Sighat/ikrar
Ikrar wasiat dapat dinyatakan secara lisan, tertulis, maupun dengan isyarat. Isi sighat/ikrar di dalam Kompilasi Hukum Islam, semua rukun dan syarat dijadikan satu bersamaan dengan prosedur pelaksanaannya yang diatur dari Pasal 194 s.d Pasal 209 dan penjelasannya sebagai berikut:
a. Pasal 194 Kompilasi Hukum Islam
(1) Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapat mewasiatkan sebagian harta bendanya kepada orang lain atau lembaga.
(2) Harta benda yang diwasiatkan harus merupakan hak dari pewasiat.
(3) Pemilikan terhadap harta benda seperti dimaksud dalam ayat (1) pasal ini baru dapat dilaksanakan sesudah pewasiat meninggal dunia.
Terhadap Pasal 194 ayat (1), tidak diketahui mengapa Kompilasi Hukum Islam memberi batasan pada umur 21 (dua puluh satu) tahun, yang berbeda dengan hukum perkawinan yang menentukan ukuran pria diizinkan menikah jika sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun bagi wanita dan 16 (senam belas) tahun bagi wanita42. Tidak juga dikenal dalam fiqh adanya ketentuan tentang umur 21(dua puluh satu) tahun. Hanya apabila memperhatikan KUH Perdata, ketentuan umur 21 (dua puluh satu) tahun dapat dipahami dari ketentuan tentang seseorang yang belum dewasa adalah belum berumur 21(dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin.
Apabila mereka yang kawin belum berumur 21 (dua puluh satu) tahun itu bercerai, mereka tidak kembali lagi dalam keadaan belum dewasa. Dewasa dan kedewasaan dalam perkawinan itu berlangsung seterusnya walaupun perkawinan putus sebelum yang kawin itu mencapai umur 21 (dua puluh
42Lihat Pasal 7 UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
104 Hukum Hak Cipta: Model Fair Use/Fair Dealing Hak Cipta Atas Buku satu) tahun43. Hukum perdata memberikan pengecualian-pengecualian tentang usia belum dewasa yaitu, sejak berumur 18 (delapan belas) tahun seorang yang belum dewasa, melalui pernyataan dewasa, dapat diberikan kewenangan tertentu yang hanya melekat pada orang dewasa. Seorang yang belum dewasa dan telah berumur 18 (delapan belas) tahun kini atas permohonan, dapat dinyatakan dewasa harus tidak bertentangan dengan kehendak orang tua. Dengan demikian dapat dipahami, konsensus yang terjadi pada ketentuan tentang kedewasaan berupa penetapan umur 21 (dua puluh satu) tahun pada Kompilasi Hukum Islam tersebut sama atau mungkin mengambil pendapat dalam KUH Perdata.
Umur 21 (dua puluh satu) tahun setelah dianggap mampu berbuat karena memiliki daya yuridis atas kehendaknya sehingga dapat pula menentukan keadaan hukum bagi dirinya sendiri. Undang-undang menyatakan bahwa orang yang telah dewasa telah dapat memperhitungkan akibat daripada kehendak seseorang yang berumur 21 (dua puluh satu) tahun tersebut dalam suatu perbuatan hukum, misalnya membuat perjanjian, membuat surat wasiat, dan lain sebagainya. Sedangkan menyangkut suatu barang yang diwasiatkan, dalam Islam sejak lama telah disepakati sebagai barang milik sendiri tanpa ada perbedaan pandangan.
Demikian juga tentang berlakunya wasiat adalah setelah pewasiat meninggal dunia. Tidak berlaku sewaktu dia hidup. Inilah yang membedakan dengan hibah atau pemberian langgsung. Seperti halnya dengan hukum waris yang dapat dilaksanakan setelah pewarisan meninggal dunia.
b. Pasal 195 Kompilasi Hukum Islam
(1) Wasiat dilakukan secara lisan dihadapan dua orang saksi, atau tertulis dihadapan dua orang saksi, atau dihadapan Notaris.
(2) Wasiat hanya diperbolehkan sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta warisan kecuali apabila seua ahli waris menyetujui.
(3) Wasiat kepada ahli waris berlaku bila disetujui oleh semua ahli waris.
(4) Pernyataan persetujuan pada ayat (2) dan (3) pasal ini dibuat secara lisan di hadapan dua orang saksi atau tertulis di hadapan dua orang saksi di hadapan Notaris.
43Lihat Pasal 330 KUH Perdata.
Terhadap Pasal 195 ayat (1), tentang kesaksian merupakan hukum formil yang ada dalam Hukum Islam, meskipun dalam rukun dan syarat berlakunya wasiat, kesaksian tidak dimuat, namun dalam hukum Islam sendiri mengakui adanya hukum formil tentang kesaksian. Seperti dalam hukum perkawinan disyaratkan adanya kesaksian dua orang saksi dikarenakan perbuatan tersebut sangat berharga. Demikian pula terhadap wasiat harta sangatlah penting adanya kesaksian, sebab persoalan harta dikemudian hari sangatlah penting dan memungkinkan terjadinya masalah baru dalam kewarisan. Terutama bagi pihak yang berkepentingan langsung terhadapnya dan pihak yang merasa dirugikan karena wasiat itu ada . Kesaksian menjadi penting dalam wasiat, karena para yuridis Islam merasa penting memasukkannya sebagai syarat formil dalam wasiat. Hal ini seperti dalam firman Allah SWT dalam QS Al-Maidah 106 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila salah orang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka berhendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, jika kamu atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sebab yang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) kami tidak akan menukar sampah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang- orang berdosa”.
Terhadap Pasal 195 ayat (2), hal yang penting yang sangat membedakannya dengan KUH Perdata adalah adanya batasan 1/3 harta sebagai jumlah maksimal dalam wasiat. Sekalipun harta itu milik dirinya namun hukum Islam melihat adanya kepentingan bagi ahli warisan untuk juga menikmati peninggalan pewaris. Dikarenakan ini merupakan upaya hukum untuk memelihara harta benda pewasiat untuk kepentingan ahli waris di kemudian hari. Hanya pasal ini dapat lebih dari 1/3 bila para ahli waris menyetujuinya. Kemudian menjadi pertanyaan, apakah wasiat itu dapat disetujui oleh para ahli waris yakni berumur 21 tahun ataukah usia 9 tahun seperti sering disyaratkan dalam kitab-kitab fikih Islam? KHI tidak menyebut berapa usia pihak ahli waris untuk dapat menyetujui wasiat tersebut. Menurut penulis
106 Hukum Hak Cipta: Model Fair Use/Fair Dealing Hak Cipta Atas Buku harus dikembalikan kepada umur kedewasaan yaitu 21 (dua puluh satu) tahun yaitu usia mana telah disepakati sebagai orang yang telah cakap bertindak hukum menyangkut harta kekayaan. Sedangkan dalam KUH Perdata Pasal 897 menyebutkan bahwa anak-anak di bawah umur yang belum mencapai umur delapan belas tahun penuh, tidak diperkenankan membuat surat wasiat (Lihat juga KUH Perdata Pasal 151, Pasal 169, Pasal 330, Pasal 904, Pasal 1677).
Demikian juga terhadap Pasal 195 ayat (3) Kompilasi Hukum Islam berbeda sekali dengan KUH Perdata yang tidak menyaratkan wasiat kepada ahli waris ataupun tidak. Dalam pasal ini ditambahkan ketentuan khusus bahwa ahli waris hanya berhak beroleh wasiat harta jika ada persetujuan dari ahli waris lainnya. Pendapat terkenal dalam hal ini adalah madzhab yang empat, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
Dasar hukumnya adalah Hadist Rasulullah Saw. yang menegaskan “tidak ada wasiat bagi ahli” (HR Tirmizi).
Logika hukum terhadap masalah ini dikarenakan wasiat memiliki fungsi sosial yaitu memberikan kelapangan kepada kerabat dekat yang tidak termasuk ahli waris yang mendapat pembagian harta peninggalannya, terutama dekat keluarga dekat dengan lemah maupun membantu kaum dhuafa, fakir miskin , atau untuk memberi sumbangan kepada sarana ibadah atau pendidikan. Firman Allah Swt. yang artinya:
“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik” (QS An Nisaa, 4:8).
“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, kami jadikan pewaris- pewarisanya. Dan (jika ada) orang- orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada merika baginya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu” (QS An Nisaa 4:33).
Memahami semangat dasar dari ayat atas jelas sekali tidak semua kerabat mendapat harta warisan, dan tidak semua dari mereka hidup lapang. Di antara mereka ada yang terhijab oleh kerabat yang lebih dekat.
Dengan kata lain mereka tidak mendapatkan hak warisnya. Tujuan seperti itu akan sulit dicapai bila mana wasiat ditujukan kepada ahli waris. Suatu wasiat kepada ahli waris bisa menimbulkan sengketa di antara ahli waris
itu sendiri. Karena akan memicu kerenggangan hubungan kekerabatan sedang mereka memiliki kedudukan yang sama dengan pewaris. Pihak ahli waris yang mendapat harta wasiat merasa diutamakan, sedangkan pihak yang tidak mendapat wasiat mereka dianak-tirikan. Membeda-bedakan antara anak yang satu dengan anak yang lain dalam pemberian, hal ini terlarang dalam Islam. Hal ini sebagaimana di dalam Hadis Rasulullah Saw. “Samakanlah pemberian diantara anak-anak kamu” (HR Bukhari).
c. Pasal 196 Kompilasi Hukum Islam, berisikan: “Dalam wasiat baik secara tertulis maupun lisan harus disebutkan dengan tegas dan jelas siapa-siapa atau lembaga apa yang ditunjuk akan menerima harta benda yang diwasiatkan.”
d. Pasal 197 Kompilasi Hukum Islam
(1) Wasiat menjadi batal apabila calon penerima wasiat
berdasarkan putusan Hakim yang telah mempunyai hukum tetap dihukum karena:
a. Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat kepada pewasiat;
b. Dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewasiat telah melakukan suatu kejahatan yang diancam hukuman lima tahun penjara atau hukuman yang lebih berat;
c. Dipersalahkan dengan kekerasan atau ancaman mencegah pewasiat untuk membuat atau mencabut atau merubah wasiat untuk kepenitngan calon penerima wasiat;
d. Dipersalahkan telah menggelapkan atau merusak atau memalsukan surat wasiat dan pewasiat.
(2) Wasiat menjadi batal apabila orang yang ditunjuk untuk menerima wasiat itu:
a. Tidak mengetahui adanya wasiat tersebut sampai meninggal dunia sebelum meninggalnya pewasiat;
b. Mengetahui adanya wasiat tersebut, tapi ia menolak menerimanya;
c. Mengetahui adanya wasiat itu, tetapi tidak pernah menyatakan menerima atau menolak sampai ia meninggal sebelum meninggalnya pewasiat.
(3) Wasiat menjadi batal apabila yang diwasiatkan musnah.
108 Hukum Hak Cipta: Model Fair Use/Fair Dealing Hak Cipta Atas Buku e. Pasal 198 Kompilasi Hukum Islam, wasiat yang berupa hasil dari
suatu benda ataupun pemanfaatan suatu benda harus diberikan jangka waktu tertentu.
f. Pasal 199 Kompilasi Hukum Islam
(1) Pewasiat dapat mencabut wasiatnya selama calon penerima wasiat belum menyatakan persetujuan atau sesudah menyatakan persetujuan tetapi kemudian menarik kembali.
(2) Pencabutan wasiat dapat dilakukan secara lisan dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau tertulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan akte Notaris bila wasiat terdahulu dibuat secara lisan.
(3) Bila wasiat dibuat secara tertulis, maka hanya dapat dicabut dengan cara tertulis dengan disaksikan oleh dua orang saksi atau berdasarkan akte Notaris.
(4) Bila wasiat dibuat berdasarkan akte Notaris, maka hanya dapat dicabut berdasarkan akte Notaris.
g. Pasal 200 Kompilasi Hukum Islam
Harta wasiat yang berupa barang tak bergerak, bila karena suatu sebab yang sah mengalami penyusutan atau kerusakan yang terjadi sebelum pewasiat meninggal dunia, maka penerima wasiat hanya akan menerima harta yang tersisa.
h. Pasal 201 Kompilasi Hukum Islam, apabila wasiat melebihi sepertiga dari harta warisan sedangkan ahli waris ada yang tidak menyetujui, maka wasiat hanya dilaksanakan sampai sepertiga harta warisnya.
i. Pasal 203 Kompilasi Hukum Islam
(1) Apabila surat wasiat dalam keadaan tertutup, maka penyimpanannya di tempat Notaris yang membuatnya atau di tempat lain, termasuk surat-surat yang ada hubungannya.
(2) Bilamana suatu surat wasiat dicabut sesuai dengan Pasal 199 maka surat wasiat yang telah dicabut itu diserahkan kembali kepada pewasiat.
j. Pasal 204 Kompilasi Hukum Islam
(1) Jika pewasiat meninggal dunia, maka surat wasiat yang tertutup dan disimpan pada Notaris, dibuka olehnya di hadapan ahli waris, disaksikan dua orang saksi dan dengan membuat berita acara pembukaan surat wasiat itu.
(2) Jika surat wasiat yang tertutup disimpan bukan pada Notaris maka penyimpan harus menyerahkan kepada Notaris setempat atau Kantor Urusan Agama setempat dan selanjutnya Notaris atau Kantor Urusan Agama tersebut membuka sebagaimana ditentukan dalam ayat (1) pasal ini.
(3) Setelah semua isi serta maksud surat wasiat itu diketahui maka oleh Notaris atau Kantor Urusan Agama diserahkan kepada penerima wasiat guna penyelesaian selanjutnya.
k. Pasal 205 Kompilasi Hukum Islam, dalam waktu perang, para anggota tentara dan mereka yang termasuk dalam golongan tentara dan berada dalam daerah pertempuran atau yang berda di suatu tempat yang ada dalam kepungan musuh, dibolehkan membuat surat wasiat di hadapan seorang komandan atasannya dengan dihadiri oleh dua orang saksi.
l. Pasal 206 Kompilasi Hukum Islam, mereka yang berada dalam perjalanan melalui laut dibolehkan membuat surat wasiat di hadapan nakhoda atau mualim kapal, dan jika pejabat tersebut tidak ada, maka dibuat di hadapan seorang yang menggantinya dengan dihadiri oleh dua orang saksi.
m. Pasal 207 Kompilasi Hukum Islam, wasiat tidak diperbolehkan kepada orang yang melakukan pelayanan perawatan bagi seseorang dan kepada orang yang memberi tuntunan kerohanian sewaktu ia menderita sakit sehingga meninggalnya, kecuali ditentukan dengan tegas dan jelas untuk membalas jasa.
n. Pasal 208 Kompilasi Hukum Islam, wasiat tidak berlaku bagi Notaris dan saksi-saksi pembuat akte tersebut.
o. Pasal 209 Kompilasi Hukum Islam
(1) Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan Pasal 176 sampai dengan Pasal 193 tersebut di atas, sedangkan terhadap orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta wasiat anak angkatnya.
110 Hukum Hak Cipta: Model Fair Use/Fair Dealing Hak Cipta Atas Buku (2) Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat
wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya.
Pengalihan hak cipta atas buku dapat dilakukan dengan wasiat dengan memerhatikan ketentuan dalam KUH Perdata di atas dan apabila dikehendaki dapat disesuai dengan hukum Islam. Melalui mekanisme hukum Islam, wasiat memerhatikan ketentuan-ketentuan sebagaimana tertuang dalam huruf a s.d huruf o di atas.