Dia menjelaskan itu dalam peluncuran resmi situs belanja online ayooklik.com. Dia menjelaskan kehadiran ayooklik.com, seusai dengan kebijakan e-katalog dari L embaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).
Menurut Basuki, terdapat empat situs belanja di bidang gadget dan TI dalam e-katalog LKPP, sehingga institusi pemerintah di pusat maupun daerah dapat dengan mudah mengakses sesuai dengan kebutuhan mereka. Basuki mengatakan untuk mendukung penjualan, www.ayooklik.com telah membentuk tim pendukung, yakni tim
pengembangan w eb, tim desain, dan tim online sales . Rudy Hartono, Marketing Manager PT A irmas Perkasa, menambahkan guna menyosialisasikan penggunaan e-katalog , perusahaannya berkerja sama dengan LKPP melakukan sosialisasi kepada sejumlah institusi pemerintah dan BUMN di hotel Kempinski, Selasa (26/4).
"Hampir semua provider penyedia IT dan gaw ai sudah bergabung dalam ayooklik.com, sehingga apa pun kebutuhannya tersedia mulai dari harga paling murah sampai mahal, pengiriman pun dapat dilakukan baik dalam partai besar maupun partai kecil," jelasnya.
MENYELEKSI
Bab-bab sebelumnya sudah dibahas penggunaan media sosial sebagai sarana markeing. Kali ini kita kembali membahasnya.
Sulit untuk menghindari pembahasan tentang aplikasi-aplikasi yang sudah lekat dengan keseharian pengguna internet ini.
Berbicara bisnis online, sama saja dengan berbicara soal neizen, para warga internet. Mereka mayoritas adalah warga Facebook, Twiter, Instagram, LinkedIn, sampai Path, Pinterest, atau Google+.
Tiga nama terakhir belum dibahas secara khusus, dengan perimbangan Path merupakan media sosial dengan cakupan terbatas. Sedangkan Pinterest dan Google+ gaungnya kurang bergema di Indonesia.
Menjadi pertanyaan para pebisnis online pemula, apakah dia harus akif di semua media sosial? Bukankah itu hanya buang-buang waktu dan energi saja? Kalau harus diseleksi, plaform media sosial mana yang harus diikui?
Yasmin Bendror dari yMarkeingMaters pernah menulis di Aabaco Small Business, bahwa kita idak perlu mendatar di semua kanal media sosial. “Kenali mana yang paling relevan dengan bisnismu.
Lebih baik tampil mengesankan di satu atau dua kanal saja daripada hanya biasa-biasa saja di lima atau enam kanal,”
ungkapnya. Mendatar di media sosial memang grais dan menjanjikan banyak hal. Tapi perlu diingat tentang waktu dan
Memilih Media Sosial yang
Tepat
BAB 34
99 Langkah Sukses Berbisnis E-Commerceenergi yang akan dihabiskan di sana. Ada banyak orang yang salah fokus, bukan lagi fokus ke bisnisnya, tapi justru ke sosialisasi yang berlebihan. Maka sebelum mendatar ke suatu aplikasi, pasikan bahwa kamu punya komitmen mengelolanya untuk kepeningan bisnis.
Media sosial yang paling tepat untuk markeing sudah pasi yang punya banyak member. Kian banyak penggunanya, kian besar potensi mendapatkan pasar. Lebih dari itu, pikirkan juga apakah audiens di sana cocok dengan produk atau jasa yang ditawarkan.
Neil Patel dari KISSMetrics memberi beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan acuan:
1. Di mana audiens saya?
Inilah pertanyaan utamanya, di media sosial mana audiens yang jadi target pasar bisnis online kita? Teman kita di Facebook atau follower kita di Twiter belum tentu audiens kita. Ada jutaan akun Facebook dan Twiter palsu, hanya berupa akun anonim. Apalagi kita memakai jasa beli follower, maka dipasikan mereka bukan audiens sama sekali.
2. Di mana audiens saya aktif?
Plaform media sosial dengan jumlah pengguna besar belum tentu juga menjanjikan. Sebagai contoh, Google+ mengklaim punya lebih dari 1 miliar pengguna. Faktanya, hanya 35% aja yang akif di bulan-bulan terakhir. Hal serupa juga terjadi pada Facebook, Twiter, Instagram, dan seterusnya. Agar mudah, coba perhaikan berapa jumlah temanmu di Facebook? Katakan ada 2000, apakah semua akif update status di sana? Berapa orang yang benar-benar akif mem-posing sesuatu dan berinteraksi di sana? Tentu idak benar-benar 2000, bisa jadi hanya setengahnya.
3. Di mana audiens saya melakukan pencarian?
Media sosial juga dipakai untuk mencari data dan informasi, bukan sekadar untuk bersosialisasi. Itu benar. Ini berari para pebisnis punya harapan untuk ditemukan oleh mereka saat mereka membutuhkan sesuatu.
Media Sosial yang Layak Diperhitungkan
Tiga pertanyaan itu dapat dipakai sebagai panduan menentukan media sosial untuk menunjang bisnis. Neil menyebutkan, seidaknya bergabunglah dengan iga besar media sosial paling populer saat ini, yaitu:
•
Media sosial dengan 1,5 miliar pengguna, dan sudah terbuki dapat bertahan selama lebih dari 10 tahun. Seidaknya setengah dari jumlah penggunanya cukup akif seiap hari.
Rerata pengguna Facebook menghabiskan waktu 18 menit sekali berkunjung.
•
Rata-rata pengguna Twiter punya seidaknya 208 follower, dengan rerata 307 tweet dan 170 menit dihabiskan di sana seiap hari oleh seiap pengguna. Segmen pasar di sini sangat potensial. Sebanyak 29% pemilik akun Twiter selalu
akif seiap harinya. Media sosial ini disebut sebagai pemimpin di antara plaform dengan pengguna brand terloyal. Orang bisa dengan mudah melakukan retweet atas informasi atau pujian tetang suatu brand.
•
Ada dua orang bergabung ke LinkedIn seiap deiknya.
LinkedIn masih menjadi media sosial kalangan profesional dan pebisnis terdepan. Di sinilah para member terhubung
dengan perusahaan-perusahaan.
Ada satu lagi media sosial di urutan ke-4 yang perlu diperimbangkan, Google+. Tidak sepopuler Facebook atau Twiter, plaform milik Google ini dapat dikatakan perpaduan antara kecanggihan search engine, integrasi email, yang dikolaborasikan dengan Hangouts, itur komunikasi mereka. Sayangnya banyak orang atau organisasi yang kurang tertarik dengan Google+.
Ada lagi plaform media sosial yang tak dapat diremehkan, yaitu:
1. Instagram
Mengandalkan konten visual, dan dianggap cukup ampuh sebagai media markeing. Konten visual diyakini lebih menarik 5 kali lipat di Twiter, dan sebanyak 93% di Facebook. Maka,
Instagram menjawabnya dengan 100% konten yang berupa visual, baik foto maupun video. Sejumlah pebisnis sudah terjun langsung memanfaatkan Instagram sebagai media markeing. Desainer video games, pengusaha kuliner, penjual buku, pembicara seminar, hingga seniman, banyak yang sudah menjadikan Instagram sebagai pendukung bisnisnya.
2. YouTube
Media sosial dengan plaform video ini masih belum tertandingi, kendai sudah bermunculan media sosial serupa. Bahkan YouTube sudah dijadikan sebagai search engine utama untuk mencari konten video. Di Amerika Serikat, audiens YouTube lebih banyak daripada TV kabel. Banyak brand yang menyebarkan viral di sini, yang sering tanpa disadari audiens bahwa itu adalah video “iklan”.
Beberapa Media Sosial Unik
Sama seperi pasar di dunia nyata, pasar bisnis di dunia maya pun ada juga yang bersifat unik atau niche. Kalau kamu menjual sesuatu yang unik, baik jasa atau produk, perimbangkan untuk membidik segmen ini juga. Walau jumlahnya idak semasif
Facebook atau Twiter, media sosial niche punya anggota fanaik yang bisa menjadi segmen potensial.
Berikut contoh media sosial unik untuk kalangan terbatas:
• Untappd: untuk pecinta bir
• Behance: kalangan pekerja kreaif profesional
• Care2: komunitas gaya hidup cinta lingkungan
• Goodreads: para pecinta baca
• Ravelry: penghobi sulam-menyulam
• MeetPips: komunitas pedagang forex
Untuk mencari media sosial unik, bisa dicoba melakukan googling dengan keyword yang sesuai. Misalnya, “social media for food lovers” untuk mencari media sosial bidang makanan dan seterusnya.
Tentu saja bukan berari kamu melupakan media sosial besar, sebab di sana tetap ada potensi untuk bertemu dengan komunitas yang jauh lebih beragam.