• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skema 3.2 Skema Alur Fikir

5.2 Proses Pelaksanaan P2K2 yang Dilakukan Pendamping PKH Pasca-Diklat P2K2 di 6 Wilayah (Padang, Yogyakarta, Makasar,

5.2.4 Method

5.2.4.1 Waktu Pelaksanaan P2K2

Umumnya frekuensi pertemuan P2K2 bisa dilakukan 1 kali dalam sebulan selama 1 hingga 2 jam. Di tengah kesibukan Pendamping melaksanakan tugas terkait PKH dan ketersediaan waktu dari KPM, frekuensi pertemuan yang memungkinkan memang hanya 1 kali dalam sebulan seperti diungkapkan informan berikut:

“Kalau kita ngasihnya 1x dalam 1 bulan. Hal ini karena keterbatasan waktu yang saya miliki dan binaan KPM saya juga sangat banyak. Kemudian agar KPM juga tidak merasa bosan juga. Kalau keseringan juga mereka bosan juga“

(Pendamping W, Wilayah Bandung)

Namun pada wilayah yang sulit dijangkau, salah satu informan mengalami kesulitan sehingga pernah melakukan pertemuan P2K2 1 kali dalam dua bulan:

“Awalnya dua bulan satu kali, karena ada 8-10 kelompok per pendamping, dan lokasi berjauhan. Sekarang karena dikejar pemutakhiran, jadi satu bulan satu kali seperti yang diminta”

(Pendamping CC, Jayapura) 5.2.4.2 Lokasi

Pertemuan P2K2 dilakukan di dua lokasi. Pertama adalah rumah KPM. Pada beberapa kelompok, pertemuan dilaksanakan secara bergiliran di rumah KPM yang mampu menampung semua anggota kelompok:

“Saya di rumah salah satu warga dan bergilir saja dan dicari rumah yang luas karena kan FDS banyak orangnya sekitar 20 an ada juga 10 an” (Pendamping E, Wilayah Bandung)

Kondisi ini juga terjadi di Banjarmasin, dimana rumah KPM secara bergilir dijadikan tempat pertemuan P2K2. KPM

“Bergantian gitu. Diundi seperti arisan. Diundi saat pertemuan, waktu mau pulang, nanti bulan depan di rumah siapa. Ganti, ganti bu. Sambil kita silaturahmi” (KPM V, Wilayah Banjarmasin”

Lokasi kedua adalah fasilitas umum seperti di Balai Desa, Sekolah maupun Masjid setempat seperti dijelaskan oleh salah satu pendamping:

“Kadang tidak tentu ada yang di rumah Ketua kelompok, bergiliran atau sesuai dengan permintaan, nyewa balai RW, pernah di Madrasah, Masjid juga pernah bahkan pernah di demo karena pake masjid dikira kampanye waktu itu (Pendamping AK, Wilayah Padang)

Adapun cara untuk menentukan lokasi pertemuan KPM setiap bulan adalah dengan berdiskusi kepada KPM maupun perangkat desa seperti Ketua RW. Lokasi pertemuan P2K2 biasanya sudah disepakati saat pertemuan P2K2 sebelumya.

5.2.4.3 Strategi Pendamping dalam Melakukan P2K2 5.2.4.3.1 Strategi Menentukan Materi

Dari semua modul yang tersedia, sebetulnya Pendamping diberikan keleluasaan untuk menentukan modul dan materi mana yang akan disampaikan terlebih dahulu. Pendamping biasanya memiliki cara tersendiri untuk menentukan modul mana yang akan disampaikan. Adapun cara Pendamping menentukan materi diantaranya adalah, pertama, terdapat Pendamping yang menyampaikan materi secara berurut dari Modul 1 hingga seterusnya. Seperti dikemukakan oleh Pendamping berikut: “Berurutan sesuai modul dari modul 1 dan selanjutnya”

(Pendampin U, Wilayah Jayapura).

Kedua, Pendamping menyampaikan materi secara acak untuk menghindari kebosanan, hal ini dikemukakan oleh salah satu Pendamping: “Kadang berurut tapi karena saya orangnya bosenan jadi saya bagi aja berapa kelompok KPM nah modul yang disampaikan beda-beda” (Pendamping Y, Wilayah Banjarmasin).

Ketiga, menyamakan dengan materi yang sedang disampaikan oleh Pendamping di wilayah lain, seperti dijelaskan oleh Pendamping:

“Bisa dari yang sudah disampaikan pendamping lain di wilayah lain juga biar enak bisa sambil tukar pikiran” (Pendamping W, Wilayah Banjarmasin). Berdasarkan keterangan informan tersebut, dengan menyamakan materi yang disampaikan oleh Pendamping di wilayah lain akan memudahkan Pendamping tersebut bertukar pikiran mengenai materi yang sedang disampaikan.

Keempat, Pendamping menyampaikan materi sesuai dengan permintaan KPM: “Kalau saya pertama dulu nanyain kemereka mau bahas apa lalu ke dua dan seterusnya apa nah disitu saya susun dan seterusnya juga sesuai dnegan keinginan mereka saja.

Tapi tetep modul lain juga saya berikan. Emang cenderungnya ya mereka suka bahas materi ekonomi dan anak” (Pendamping AK, Wilayah Bandung)

5.2.4.3.2 Strategi Penyampaian Materi

Dalam kegiatan P2K2, Pendamping memiliki metode dalam menyampaikan materi. Dari temuan lapangan, terdapat beberapa cara Pendamping dalam memberikan materi, sebagai berikut:

• Mengadakan Sesi Tanya Jawab

Pendamping biasanya melakukan sesi tanya jawab kepada KPM agar penyampaian materi menjadi lebih interaktif. Disini Pendamping dapat bertanya kepada KPM mengenai materi yang sedang disampaikan, begitu juga KPM dapat bertanya kepada Pendamping. Hal ini diceritakan oleh salah satu Pendamping:

“Kalau saya ya awal itu saya kasih materi 15 menit saja, lalu saya kasih ice breaking biar tidak mengantuk lalu deh sesi tanya jawab dan disitu peserta nanya dan saya coba lempar ke anggota lainnya biar jawab. Jadinya ya pada aktif (Pendamping W, Wilayah Bandung)

diharapkan dapat menambah semangat dari KPM seperti dikemukakan oleh Pendamping berikut:

“Kalau saya caranya ya biasanya di awal saya kasih buka dengan mengulang modul dipertemuan sebelumnya biar mereka ingat. Kemudian saya kasih tebak-tebakan dulu lalu setelah itu saya jelaskan materi yang minggu ini dan saya kasih tebak-tebakan juga. Nah kalau saya ada rejeki kadang saya kasih hadiah mereka ya kecil-kecilan musalnya sabun cuci. (Pendamping E, Wilayah Bandung)

• Melakukan Games dan Ice Breaking

Games dan ice breaking merupakan salah satu cara Pendamping untuk menghindari kebosanan dari KPM. Hal ini diakui oleh KPM bahwa adanya permainan dan ice breaking membuat penyampaian materi tidak monoton:

“Selama 2 jam itu ada ice breakingnya supaya ketawa ada games nya. Biasanya ada tebak-tebakan. Rame bu seru.

Atau nyanyi-nyanyi, bisik-bisikkan menyampaikan kata kata sampai engga sampai engga. Kalau nyanyi, nyanyi mars PKH”

(KPM Y, Wilayah Banjarmasin).

Hal ini dikuatkan oleh pernyataan KPM lain: “Nyanyi dulu, pemanasan dulu abis itu pembahasan. Kalau sudah bosan kita nyanyi lagi, permainan supaya jangan ngantuk” (KPM L, Wilayah Banjarmasin)

• Memakai Alat Bantu Ajar yang Dapat Mendukung Penyampaian Materi

Seperti yang sudah dijelaskan pada poin 5.2.3.1., Pendamping biasanya menggunakan alat bantu ajar lain guna mendukung penyampaian materi. Ini merupakan salah satu metode Pendamping sehingga KPM lebih mudah memahami materi: “Biasanya pakai gambar, ada tulisan-tulisannya.

Flipchart. Ditempel atau digantung. Terus ada ditonton juga.

Pendampingnya ada laptop” (KPM H, Wilayah Banjarmasin) Penggunaan alat bantu ajar ini diakui membantu KPM, seperti

diungkapkan KPM berikut:

“Selama 2 jam itu ada ice breakingnya supaya ketawa ada games nya. Biasanya ada tebak-tebakan. Rame bu seru.

Atau nyanyi-nyanyi, bisik-bisikkan menyampaikan kata kata sampai engga sampai engga. Kalau nyanyi, nyanyi mars PKH.

Kalau sudah bosan kita nyanyi lagi, permainan supaya jangan ngantuk” (KPM Y, Wilayah Banjarmasin)

5.2.4.3.3 Strategi Pendamping dalam Menghadapi KPM

Pertemuan P2K2 diikuti oleh KPM yang berasal dari latar belakang umur, pendidikan dan kondisi yang beragam. Hal ini dapat menjadi kendala dalam pelaksanaan P2K2 namun beberapa Pendamping memiliki strategi untuk menghadapi KPM dari berbagai kondisi tersebut:

• KPM Lansia

Beberapa KPM merupakan lansia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pendamping karena kondisi mereka seringkali tidak memungkinkan untuk menangkap materi secepat peserta lain maupun fisik yang sudah terbatas sehingga tidak bisa mencapai lokasi pertemuan. Untuk lansia yang masih bisa melakukan pertemuan, salah satu Pendamping berinisiatif menempatkan KPM lansia di barisan depan sehingga lebih mudah untuk melihat dan mendengar materi, hal ini diceritakan oleh salah satu Pendamping: “Saya mengatur dengan cara yang lebih tua atau KPM yang lanjut usia saya persilakan untuk duduk paling depan” (Pendamping RN, Wilayah Jayapura). Namun apabila kondisi fisik lansia tidak memungkinkan untuk datang ke lokasi pertemuan, salah satu Pendamping menjelaskan bahwa ia menjadwalkan pertemuan di lokasi lansia tersebut atau rumah terdekat yang mudah dicapai:

“Saya mengatur jadwal P2K2 dengan baik sehingga semua KPM bisa ikut meskipun lansia dan juga saya melakukan

• KPM yang Membawa Anak

Peserta P2K2 sebagian besar merupakan Ibu Rumah Tangga yang harus membawa anak pada saat pertemuan P2K2. Kondisi ini diakui Pendamping seringkali mengganggu konsentrasi peserta dalam menyimak materi. Salah satu Pendamping di Wilayah Banjarmasin mengatasi hal ini dengan membawa alat-alat mewarnai yang diperuntukan bagi anak peserta P2K2 sehingga tidak mengganggu konsentrasi Ibunya.

Seperti penjelasan informan berikut:

“Kalau saya, kadang kalau kita P2K2 ada ibu-ibu kan suka bawa anak. Itu kadang anaknya rewel ganggu konsentrasi ibunya sehingga saya coba ngeprint gambar-gambar dari google kan banyak kemudian sedia pensil warna biar mereka bisa mewarnai disitu dan ibunya tenang untuk P2K2”

(Pendamping LI, Wilayah Banjarmasin)

• KPM Datang Terlambat

KPM yang datang terlambat di pertemuan P2K2 biasanya dipersilahkan untuk bergabung oleh Pendamping. Beberapa Pendamping akan menjelaskan kembali secara singkat. Seperti dijelaskan oleh Pendamping berikut:

“Jika bergabung di tengah-tengah saya mempersilahkan ikut menyesuaikan dengan peserta lainnya. Kalau sebelumnya tidak hadir, saya mempersilahakan duduk dan menyesuaikan dengan peserta lainnya setelah pertemuan selesai baru saya berbincang dengan peserta tersebut menanyakan alasannya mengapa tidak ikut pertemuan dan mengapa terlambat dalam mengikuti sesi pertemuan P2K2” (Pendamping UN, Wilayah Jayapura)