KESULITAN BELAJAR MEMBACA AL-QURAN
D. Metode Otak Kanan Wafa
Metode wafa adalah salah satu metode yang muncul diantara metode-metode yang lain dalam rangka memberikan kontribusi keilmuan kepada khalayak. Metode WAFA ini
149 M. Edy Waluyo, “ Revolusi Gaya Belajar Untuk Fungsi Otak” Jurnal Pendidikan Islam .Vol.8, No.2, 2014, Hal 216-217.
141 diciptakan oleh KH.Muhammad Shaleh Drehem Lc pada tahun 2012. Beliau adalah pendiri Yayasan Syafatul Qur‟an Indonesia (YAQIN) dan juga IKADI (Ikatan Dai Indonesia) Jawa Timur.
Metode wafa merupakan pembelajaran Al-Quran berbasis otak kanan.150 Karena dalam metode pengajaran serta buku yang disajikan dilakukan sesuai dengan cara kerja otak kanan. Metode ini dilakukan dengan pengaplikasian dari teori sampai praktek, menggunakan benda-benda yang dikenal sehingga cepat dalam mengenal Al-Quran yang menggabungkan antara metode visualisasi, cerita dan gambar151. Metode WAFA memiliki beberapa karakteristik metode yang diterapkan dalam pembelajaran, adapun karakteristik yang dimaksud:
1. Materi
a. Penggunaan bahasa ibu dalam penyusunan buku WAFA disusun huruf perhuruf dari mudah kesulit bentuk kata bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia. Adapun yang dimaksud dengan bahasa ibu yaitu huruf hijaiyah di susun atau dirangkan menjadi kata yang terdengan seperti bahasa Indonesia, seperti “ ma-ta sa-ya ka-ya ro- da, a-da to-ha ba-wa ja-la, so-fa na-ma ko-ta la-ma, dza- sya gha-za ba-wa ka-do, ha-tsa kho-dzo sa-ma do-„a”.
152jadi dalam pembacaan huruf hijaiyah itu sendiri tidak diawali dengan huruf alif hingga ya, akan tetapi huruf ditulis berdasarkan kata yang disusun menjadi kalimat.
b. Buku wafa dilengkapi dengan berbagai macam gambar yang berhubungan dengan konsep atau materi tertentu.
Contohnya pada halama satu ada kata “ ma-ta sa-ya ka- ya ro-da”.153 Dikalimat tersebut diserati dengan gambar
150 Fithriyah musa‟adatul. “pengaruh metode wafa terhadap kemampuan anak membaca al-quran di mi al-hidayah mangkujajar kebangbahu lamongan”
jurnal ilmiah pendidikan dasar islam vol 1,2019, hal 46-47.
151 Pangastuti ratna “pembelajaran al-quran anak usia dini melalui metode wafa”. The annual converence on Islamic early childhood education vol 2, 2017, hal 112
152 Rahmawati siti rohmaturrosyidah & imrotus solihah. “Sebuah inovasi metode pembelajaran Al-Quran dengan optimalisasi otak kiri dan kanan” the annual conference on Islamic early childhood education. vol 2, 2017,hal 154-155
153 Ibid 1
142
mata, seorang anak dan gambar mobil yang ada rodanya.
Hal ini bisa sangan menarik perhatian sang anak dikarenakan buku yang disajikan tidak hanya polos tetapi memiliki gambar.
c. Buku WAFA disajian dengan warna yang menarik154..
Seperti cara kerja otak kanan yang cenderung kepada seni, salah satu teori otak kanan yang diterapka oleh metode wafa yaitu dengan menyajikan buku dengan warna.
Gambar 1. Buku WAFA halaman 1
2. Proses Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran metode WAFA, ada beberapa karakteristik strategi yang diterapkan.
Karakteristik yang dimaksud adalah:
a. Penggunaan strategi TANDUR dalam proses pembelajaran. Strategi ini merupakan bagian dari Quantum Teaching yang merupakan salah satu metode yang dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif dengan menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yag terjadi di dalam kelas. Metode ini bersandar pada spirit “ bawalah dunia kita kedunia mereka, antarkan dunia mereka ke dunia kia”. Ketika kita sudah bisa masuk kedunia anak
154 Ibid 2
143 sendiri, maka kita dapat memahami metode apa yang baik disampaikan terhadap sang anak.155 Serta dengan menciptakan lingkungan belajar yang efektif, berarti ada interaksi antara sang murid terhadap gurunya. Sehingga hal ini tidak membuat proses pembelajaran menjadi pasif. Serta membosankan. Adapun prosen TANDUR itu sendiri yaitu.
b. Tumbuhkan
Maksud dari tumbuhkan yaitu, tujuannya yaitu menarik minat sang anak serta rasa ingin tahu mereka.
Seperti di dalam buku WAFA tertulis kata ma-ta sa-ya ka-ya ro-da. Hal tersebut disertai dengan gambar yang ada. Serta ketika membaca hal tersebut, sang guru mebacanya dengan menyanyikannya dan mengajak anak untuk memegang mata mereka. Tujuan utamanya yaitu menarik minat dan rasa penasaran sang anak. Jika hal tersebut telah dilakukan, maka selanjutnya bisa dilakukan dengan mudah.
c. Alami
Maksud dari alami ini yaitu, melibatkan sang anak untuk mengalami proses pembelajaran tersebut.
Misalkan seorang guru mengataka ma-ta sa-ya ka-ya ro- da. Jadi sang guru memegang matanya sambil mengucapkan kata tersebut serta menyuruh anak untuk terlibat yaitu mengikuti gerakan yang dilakukan sang guru.
d. Namai
Pada tahap ini, anak-anak diarahkan untuk bisa menamai apa yang telah diperaktekkan oleh mereka.
Contoh pada buku WAFA ada kata ma-ta sa-yaa ka-ya ro-da. Anak-anak disuruh mengidentifikasi huruf-huruf hija iyah yang ada di kata tersebut.
155 Fithriyah musa‟adatul. “pengaruh metode wafa terhadap kemampuan anak membaca al-quran di mi al-hidayah mangkujajar kebangbahu lamongan”
jurnal ilmiah pendidikan dasar islam vol 1, 2019, hal 46-47.
144
e. Demontrasi
Pada tahap ini, anak-anak dikondisikan untuk mendemonstrasikan konsep dengan penggabungan antara membaca dan melakukan sehingga seluruh siswa dapat terlibat secara aktif. Sebagai contoh, anak secara bersama-sama atau bergantian memperagakan ma-ta, sa- ya, ka-ya ro-da dengan kartu. Hal ini bisa juga dilakukan dengan bermain tebak-tebakan huruf hijaiyah, baca tiru dengan alat peraga, dan lain-lain.
f. Ulangi
yaitu anak diminta untuk mengulangi materi atau kosep yang telah dipelajari apakah mereka benar-benar telah melakukan tujuan pembelajaran
g. Rayakan
Setelah anak-anak berusaha keras untuk belajar dan menguasai materi, maka pada tahapini perlu dilakukan perayaan atas keberhasilan mereka.perayaan yang dilakukan seperti bernyanyibersama, yel-yel, reward dan lain-lainnya. Hal ini bisa memotifasi sang anak lebih semangat lagi dalam belajar
Dari tekhnik pengajaran tandur ini tentulah membuat suasana belajar menjadi lebih ceria dan menyenangkan.
Karena anak dapat belajar dengan baik jika kondusi lingkungan sekitarnya yang menyenagkan. Serta dengan metode ini sangan bagus karena mengembangkan tiga gaya belajar sekaligus yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditif, dan gaya belajar kinestetik.yamana gaya belajar visual yaitu dimana gagasan, konsep,data dan informasi lainnya dikemas dengan bentuk gambar dan teknik, menggunakan gaya belajar auditif yaitu para siswa yang belajar melalui mendengar, dan gaya belajar kinestetik yaitu dengan melakukan, menyentuh, merasa,bergerak dan mengalami156(wuluyo edy : 2014). Ketiga gaya belajar
156 Woluyo edy “ refolusi gaya belajar untuk fungsi otak” jurnal pendidikan islam vol 8, 2 2014.
145 tersebut dapat diterapkan dengan metode ini dengan baik.
Sehingga sang anak dapatdengan maksimal menyerap informasi tentang pembelajaran Al-Quran tersebu.
E. Kelebihan dan kekurangan metode WAFA dalam memahami