Saat ini, produk barang-barang kulit umumya diwarnai dengan bahan sintetis. Keunggulan pewarnaan sintetis memberikan tampilan yang menarik, warna lebih bervariasi, serta mudah pengerjaannya. Namun, penggunaan pewarna sintetis tidak ramah lingkungan karena limbah dari pewarna sintetis dapat berbahaya. Berhanu & Ratnapandian (2017) mengatakan pewarna dapat terdegradasi menjadi senyawa yang bersifat karsinogenik dan beracun.
Belakangan ini, penggunaan pewarna alami semakin diminati karena zat warna alami memiliki keunggulan, yaitu tidak menimbulkan kerusakan pada lingkungan dan tidak memberikan efek samping terhadap kesehatan. Selain itu, bahan warna alami lebih mudah diperoleh. Salah satu proses pewarnaan alami dapat dilakukan dengan teknik pewarnaan ecoprint.
Teknik pewarnaan ecoprint merupakan kategori teknik pewarnaan pengecapan. Warna yang dihasilkan dari teknik pewarnaan ecoprint berbentuk motif yang menyerupai bentuk bahan pewarna yang digunakan. Bahan yang digunakan biasanya berupa tumbuh- tumbuhan bagian daun, bunga, batang, maupun akar yang memiliki kriteria tertentu.
Salah satu tumbuhan yang bisa digunakan adalah daun dengan kriteria berbulu halus pada permukaannya seperti daun jati. Motif yang dihasilkan dari daun tersebut akan mendetail hingga terlihat tulang daun dan pori-porinya. Untuk menghasilkan warna ecoprint yang baik harus mempertimbangkan teknik pewarnaan ecoprint, jenis bahan tekstil yang digunakan, jenis zat fiksasi, massa zat fiksasi, hingga lama proses pewarnaan.
Flint (2008) mengartikan teknik ecoprint sebagai suatu proses untuk mentransfer warna dan bentuk ke media kain maupun media lainnya melalui kontak langsung. Flint mengaplikasikan teknik ini
dengan cara menempelkan tanaman yang memiliki pigmen warna pada kain, kemudian direbus di dalam wadah besar. Tanaman yang digunakan pun merupakan tanaman yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap panas karena hal tersebut merupakan faktor penting dalam mengekstraksi pigmen warna.
Metode ecoprint ini merupakan suatu proses pewarnaan alami yang berbeda dengan yang sudah umum dilakukan masyarakat. Selain menstranfer warna, juga menghasilkan bentuk secara alami sesuai bentuk tanaman (daun dan bunga) pada media yang akan diwarnai.
Izmal (2016) mengartikan metode ecoprint digunakan untuk menghias permukaan kulit dengan berbagai macam bentuk dan warna (pewarnaan) yang dihasilkan dari bahan alam. Saat ini, pewarnaan ecoprint banyak digunakan pada tekstil seperti bahan cotton, kombinasi cotton dan polyester, serta kombinasi cotton dan tencel.
Ecoprint menjadi suatu proses mencetak warna dan bentuk melalui kontak langsung. Menurut Irianingsih dan Nining (2018), pencetakan ecoprint yaitu mentransfer pola (bentuk) daun dan bunga ke permukaan berbagai kain agar warna tanaman mudah meresap. Proses ecoprint menggunakan teknik gulungan (bundel), dibuat dengan menempelkan bahan alami langsung ke bahan tekstil, kemudian dikukus untuk menonjolkan bentuk dan warna bahan alami.
Teknik ecoprint didefinisikan sebagai proses pemindahan warna dan bentuk ke kain melalui kontak langsung. Flint menggunakan teknik ecoprint dengan menempelkan tumbuhan berpigmen ke kain serat alami, kemudian merebus atau mengukusnya dalam ketel besar.
Tanaman yang digunakan adalah tanaman yang peka terhadap panas karena ini merupakan faktor penting dalam ekstraksi pigmen warna (Wirawan & Alvin, 2019).
Ecoprint memiliki keunikan tersendiri karena menghasilkan warna yang berbeda. Daun atau bunga yang digunakan jika diambil pada tempat yang tidak sama, maka akan mendapatkan hasil warna yang tidak sama. Begitu juga jika menggunakan kedua sisi daun.
Rahutami dkk. (2020) mengungkapkan cara-cara untuk mengetahui
tanaman yang digunakan untuk ecoprint, yaitu sebagai berikut.
1. Tanaman dengan aroma tajam merupakan indikasi bahwa tanaman ini dapat digunakan sebagai pewarna alam.
2. Menggosokkan daun pada kain atau tangan, jika daun tersebut meninggalkan warna maka dapat dipakai.
3. Daun direndam dalam air panas dalam waktu sepuluh menit, jika air menunjukkan perubahan warna maka tanaman tersebut bisa dipakai.
Untuk mendapatkan hasil yang baik, maka sebaiknya daun atau bunga yang akan digunakan mendapatkan treatment agar dapat mencetak warna dan motif yang maksimal. Tujuan dari diperlakukannya daun ini agar daun yang akan digunakan dapat mengeluarkan tanin. Tanin merupakan senyawa astringent yang menyimpan rasa pahit, didapat dari gugus polifenol-nya yang dapat mengikat dan mengendapkan atau menyusutkan protein (Haffida
& Fahmi, 2017). Terdapat tiga bahan yang bisa digunakan dalam fermentasi ini, yaitu sebagai berikut.
1. Cuka untuk mempertajam warna asli
2. Wuyung untuk hasil warna yang lebih gelap dari warna asli.
3. Tawas untuk mempertegas warna asli.
Bahan wuyung dan tawas digunakan dengan cara dilarutkan pada air panas. Takaran yang digunakan berbeda tergantung dengan hasil yang diinginkan. Menggunakan takaran yang tidak sama akan mendapatkan hasil warna yang beragam. Durasi proses dalam merendam dapat dilakukan dengan waktu 1 sampai 24 jam, faktor ini juga akan menghasilkan warna yang berbeda (Rahutami dkk., 2020).
Menurut Flint (2008), terdapat tiga metode untuk mengaplikaskan teknik ecoprint, yaitu sebagai berikut.
1. Hapazome
Hapazome merupakan proses transfer warna dan bentuk secara langsung dengan memukulnya menggunakan palu kecil. Teknik ini digunakan pada jenis kain seperti linen, rami, kapas, rami, dan sutra.
Sumber: fitinline.com Gambar 1.1 Teknik Hapazome
2. Solar Dye
Dengan teknik ini, material alam (daun, kulit, batang, buah) diletakkan di atas permukaan kain dan dimasukkan ke dalam jar berisi air yang kedap udara. Metode ini membutuhkan tenaga matahari dan didiamkan selama kurang lebih 1 bulan.
Sumber: Tresnarupi & Hendrawan (2019) Gambar 1.2 Teknik Solar Dye
3. Dye Bundle
Teknik ini merupakan teknik melalui proses pengukusan. Pada akhir proses pewarnaan, kain dibiarkan hingga kering kemudian dapat melalui proses fiksasi dan pencucian kain. Teknik ini sangat bagus digunakan pada material sutra dan wol.
Sumber: Tresnarupi & Hendrawan (2019) Gambar 1.3 Teknik Dye Bundle
Hasil dari ecoprint dapat dikatakan baik apabila bentuk motif eco printing pada serat daun menghasilkan bentuk yang jelas dan tajam.
Menurut Khotimah (2020), bentuk motif didapat sesuai bentuk tumbuhan yang sebenarnya. Adanya unsur titik serta garis yang jelas pada bentuk tekstur akan memberikan nilai keindahan pada motif ecoprint (Maharani, 2018).
Pancapalaga dkk. (2021) menjelaskan salah satu contoh pembuatan ecoprint dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Pewarnaan kain penutup/blinket dengan zat warna alami dari tegeran, manggis, dan tingi. Adapun cara pembuatan ekstraksi zat warna alami yaitu sebagai berikut.
a. Mengambil batang kayu tegeran atau mangrove atau tingi yang telah terpotong kecil-kecil.
b. Masukkan potongan batang kayu tegeran atau mangrove atau tingi ke dalam wadah panci, kemudian tambahkan air dengan perbandingan 1:10 (8,5 kg kayu tegeran:85 liter air).
c. Rebus kayu tegeran, manggis, dan tingi sambil sesaat diaduk agar proses ekstraksi tercampur dengan baik, rebus hingga volume air menjadi setengahnya.
d. Setelah proses perebusan selesai, kemudian saring dengan kain kasa penyaring larutan hasil proses ekstraksi kayu tegeran untuk memisahkan dengan sisa bahan yang diesktrak (residu).
e. Kain penutup/blinket direndam dalam larutan zat warna alami yang telah dibuat selama 30 menit.
2. Perlakuan pada kulit crust
a. Membuat larutan mordan dengan cara menimbang tunjung sebanyak berat kulit, dilarutkan dalam 4 liter air.
b. Kulit crust sebelumnya dicuci dahulu, setelah itu direndam larutan mordan yang telah dibuat selama ±30 menit.
3. Menata daun dan bunga pada kulit a. Hamparkan plastik di atas lantai.
b. Bentangkan kulit crust di atas plastik tadi.
c. Di atas kulit diletakkan daun dan bunga.
d. Lalu ditutup kain penutup/blinket.
e. Ditutup plastik kembali dan diinjak-injak kulitnya.
f. Kemudian digulung menggunakan kayu, mulai dari hamparan plastik pertama, kulit, kain penutup, dan plastik kedua.
4. Pengukusan
a. Setelah kulit digulung, masukkan dalam steam/pengukus dengan suhu 60°C selama 2 jam.
b. Kemudian gulungan kulit dibuka dan dihamparkan di lantai hingga dingin.
c. Kulit siap dijadikan produk barang-barang kulit seperti dompet, tas, sepatu, dan lain-lain.