• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Purnomo (1985), berdasarkan proses yang dilaluinya, kulit dibedakan menjadi kulit mentah dan kulit jadi atau kulit tersamak. Kulit mentah merupakan kulit yang baru saja tanggal dari tubuh hewan dan belum mendapatkan perlakuan apapun sehingga sifatnya masih labil dan mudah mengalami kerusakan akibat faktor fisika, kimia, maupun biologi.

Berdasarkan dari mana kulit berasal, kulit mentah dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kulit hewan besar (hides) dan kulit hewan kecil (skins). Yang termasuk dalam kulit hewan besar antara lain sapi, kerbau, streer, kuda dan lain-lain. Sementara itu, yang termasuk dalam kulit hewan kecil antara lain kambing, domba, kelinci, dan lain-lain. Kulit samak merupakan produk jadi dari kulit mentah yang telah melalui proses-proses kimiawi serta pengawetan. Kulit yang umumnya digunakan untuk kulit samak adalah kulit sapi, kerbau, domba, dan kambing (Trihatmojo, 2009).

Penyamakan kulit adalah suatu proses pengolahan untuk mengubah kulit mentah hides maupun skines menjadi kulit tersamak atau leather. Penyamakan kulit merupakan cara untuk mengubah kulit mentah (hide/skin) yang bersifat 6 labil (mudah rusak oleh pengaruh fisik, kimia, dan biologis) menjadi kulit yang stabil terhadap pengaruh

tersebut yang biasa disebut kulit tersamak (leather).

Kulit samak atau kulit jadi memiliki sifat-sifat khusus yang sangat berbeda dengan kulit mentahnya, baik sifat fisis maupun sifat khemisnya. Kulit mentah mudah sekali membusuk dalam keadaan kering, keras, dan kaku. Sementara itu, kulit tersamak memiliki sifat lemas dan teksturnya lentur.

Salah satu dalam proses penyamakan dikenal adanya sistem penyamakan berbulu dan tidak berbulu. Sistem penyamakan berbulu tentunya ditujukan untuk mempertahankan keindahan bulunya.

Sementara itu, penyamakan tidak berbulu tentunya sengaja ditujukan untuk menghilangkan bulu. Sekilas yang membedakan kedua proses tersebut adalah dilakukannya proses pengapuran pada sistem penyamakan tidak berbulu dengan tujuan supaya mempermudah dalam menghilangkan bulunya (Irfan, 2012).

Proses penyamakan kulit bertujuan untuk mengubah kulit mentah yang mudah rusak oleh pegaruh kimiawi dan fisik serta aktivitas mikroorganisme, menjadi kulit tersamak yang lebih tahan terhadap pengaruh-pengaruh tersebut. Metode penyamakan kulit menggunakan bahan penyamak nabati dan bahan penyamak mineral.

Penyamakan nabati menggunakan bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan yang mengandung bahan penyamak (tanin). Bahan penyamak dapat berasal dari bahan kayu/kulit kayu, buah/kulit buah, daun, akar, dan sebagainya. Ciri-ciri tumbuh-tumbuhan yang mengandung bahan penyamak nabati yaitu jika dirasakan rasanya sepat; bahan jika diiris meninggalkan warna biru hitam pada pisau;

serta bahan penyamak ditambah dengan gelatin dan garam pada pH 4,7 akan membentuk endapan.

Prinsip penyamakan nabati dimulai dengan molekul kecil dan daya ikat kecil, maka penetrasi cepat dan kulit tidak mengalami kontraksi. Molekul dan daya ikatan diperbasar di dalam kulit dengan mengubah kepekatan dan pH sehingga kulit menjadi tersamak dengan sempurna dan merata (Pancapalaga & Nurjanah, 2020).

Penyamakan krom menghasilkan kulit yang lebih lembut dan lebih tahan terhadap panas yang tinggi, serta kekuatan tariknya lebih tinggi. Hasilnya akan lebih baik bila dilakukan pengecatan karena

sifat-sifat tersebut menjadikan kulit samak krom lebih cocok untuk kulit atasan.

Penyamakan krom merupakan penyamakan yang dimulai dengan pH rendah atau keadaan asam, yaitu antara pH 2 sampai pH 3. Oleh sebab itu, kulit perlu pengasaman agar mendapatkan kondisi yang diinginkan. Lama proses penyamakan krom biasanya memerlukan waktu antara 4 sampai 8 jam. Hal ini bukan merupakan patokan atau standar, tetapi juga tergantung dari tebal tipisnya kulit.

Penyamakan krom melalui 4 tahapan reaksi yang terjadi bersamaan. Reaksi ini terjadi antara ligan-ligan koordinasi pada kromium kompleks dengan pengaturan kondisi pH, suhu, dan konsentrasi kemungkinan dominasi dari masing-masing reaksi dapat dikontrol. Keempat reaksi-reaksi itu yaitu reaksi antara gugus OH dan krom; reaksi antara kation dari komponen krom dan sulfat;

reaktivitas dari bahan masking, misalnya formiat; serta reaktivitas dari protein kulit.

Pada pH rendah, konsentrasi OH⁺ dalam larutan juga rendah dan basisitas kromium juga rendah. Reaksi pertama dengan kenaikan pH akan mengarah ke kanan. Koordinasi dari ion-ion sulfat cenderung tidak dipengaruhi oleh pH, dan ion sulfat akan masuk ke dalam kompleks pada pH rendah. Pembentukan ikatan koordinasi asam organik lemah atau bahan masking (masking agent) dengan kromium kompleks, tergantung pada asam, Nilai pH yang tinggi akan menaikkan kereaktifan protein kulit. Setelah terjadinya ionisasi tersebut, nilai pH menjadi rendah dan kereaktifan terhadap kromium juga lebih kecil.

Reaksi gugus karboksil pada protein sama dengan asam lemah, tetapi cenderung lebih dipengaruhi oleh perubahan pH. Kenaikkan pH akan menaikkan basisitas kromium kompleks (lebih banyak OH yang masuk ke dalam kompleks). Dengan naiknya nilai pH, maka reaktifitas protein juga meningkat dan tahap awal penyamakan tercapai.

Pada akhir kenaikan basisitas yang berarti basisitas tinggi dan ion sulfat sebagian sudah meninggalkan kompleks, dengan naiknya basisitas dua senyawa kromium saling bergabung antara satu dengan lainnya melalui gugus OH. Penggabungan kromium kompleks secara

sempurna dengan protein kulit akan menghasilkan ikatan silang (Pancapalaga & Nurjanah , 2020).

Adapun sebelum melakukan penyamakan perlu melalui tahap pra-penyamakan (beamhouse) yang terdiri dari beberapa proses, yaitu pencelupan, perendaman, pembuangan daging, penghilangan kapur, dan pengawetan. Pencelupan merupakan proses pertama dalam pra- penyamakan. Tujuan dari pencelupan adalah untuk menghilangkan kotoran, darah, larutan garam, dan protein yang masih menempel pada kulit dengan cara mendiamkan kulit di dalam air selama satu jam.

Proses selanjutnya setelah kulit telah bersih dari kotoran adalah perendaman dengan kapur. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan bulu dan bagian lain dari kulit yang tidak diperlukan dalam proses penyamakan. Pada pelaksanaannya, diperlukan bahan kimia tambahan berupa sodium sulfide sebagai bahan pembengkak kulit (Setiyono & Yudo, 2014).

Selanjutnya yaitu pembuangan daging. Tujuan dari dilakukannya pembuangan daging dalam pra-penyamakan adalah untuk menghilangkan sisa-sisa daging yang masih menempel pada kulit yang tidak dibutuhkan dalam proses penyamakan. Setelah kulit sepenuhnya bersih dari bulu dan daging, kemudian dilakukan penghilangan kapur sisa dari proses perendaman. Kapur yang ada dihilangkan dengan menggunakan bahan kimia asam lemah (latic acid) dengan perlakuan berupa pemukulan (bating) (Setiyono &

Yudo, 2014).

Proses terakhir dari pra-penyamakan adalah pengawetan, bertujuan untuk mencegah adanya pengendapan garam-garam krom pada serat kulit. Dilakukan dengan melakukan pengasaman hingga pH tertentu. Setelah tahap pra-penyamakan selesai, dilajutkan dengan tahap penyamakan (tanning). Tahap ini dilakukan guna menstabilkan jaringan kulit khususnya jaringan protein dengan menggunakan krom.

Tahap terakhir dalam usaha penyamakan adalah tahap pasca- penyamakan (finishing). Proses yang terdapat pada pasca-penyamakan antara lain penekanan (pressing), pencukuran (shaving), pewarnaan

(coloring), pengeringan (drying), serta pelapisan permukaan.

Sementara itu menurut Raffy (2012), prinsip mekanisme penyamakan kulit adalah memasukkan bahan penyamak ke dalam anyaman atau jaringan serat kulit sehingga menjadi ikatan kimia antara bahan penyamak dan serat kulit. Kegiatan penyamakan kulit dilakukan dengan cara seperti berikut.

1. Pre-tanning

Kegiatan ini bertujuan untuk mengawetkan kulit mentah agar dapat bertahan hingga penyamakan sesungguhnya dilakukan. Kegiatan ini dinamakan dengan pengerjaan basah yang meliputi proses perendaman (soaking), pengapuran (liming), pembuangan kapur (deliming), baitsen (bating), dan pengasaman (pickling). Adapun tujuan dari masing-masing kegiatan tersebut yaitu sebagai berikut.

a. Perendaman bertujuan untuk mengubah kondisi kulit kering menjadi lemas dan lunak.

b. Pengapuran bertujuan untuk menghilangkan bulu dan epidermis, kelenjar keringat dan lemak, zat-zat yang tidak diperlukan, memudahkan pelepasan subcutis, dan sebagainya.

c. Pembuangan kapur bertujuan untuk menghilangkan kapur yang terkandung dalam kulit karena penyamakan dilakukan dalam kondisi asam sehingga harus terbebas dari kapur yang bersifat basa.

d. Bating merupakan proses penghilangan zat-zat nonkolagen.

e. Pengasaman bertujuan membuat kulit bersifat asam (pH 3,0–35) agar kulit tidak bengkak bila bereaksi dengan obat penyamaknya.

2. Tanning

Tahapan proses penyamakan disesuaikan dengan jenis kulit. Kulit dibagi atas dua golongan. Pertama, hide untuk kulit dari binatang besar seperti kulit sapi, kerbau, kuda dan lain-lain. Kedua, skin untuk kulit domba, kambing, reptil, dan lain-lain. Jenis zat penyamak yang digunakan memengaruhi hasil akhir yang diperolah.

Penyamak nabati (tanin) memberikan warna cokelat muda atau kemerahan, bersifat agak kaku tapi empuk, serta kurang tahan terhadap panas. Penyamak mineral paling umum menggunakan

krom. Penyamakan krom menghasilkan kulit yang lebih lembut/

lemes dan lebih tahan terhadap panas.

3. Finishing

Kegiatan setelah penyamakan kulit terdiri dari pengetaman (shaving), pemucatan (bleaching), penetralan (neutralizing), pengecatan dasar, peminyakan (fat liquoring), penggemukan (oiling), pengeringan, pelembaban, dan perenggangan. Masing-masing kegiatan tersebut yaitu seperti berikut.

a. Pengetaman merupakan suatu kegiatan yang membuat kulit memiliki tingkat ketebalan yang sama.

b. Pemucatan bertujuan untuk menghilangkan flek-flek besi, merendahkan pH, dan lebih menguatkan ikatan antara bahan penyamak dengan kulit.

c. Penetralan dilakukan bagi kulit samak krom, karena kulit samak krom berkadar asam tinggi sehingga perlu dinetralkan agar tidak mengganggu proses selanjutnya.

d. Pengecatan dasar dilakukan dengan tujuan agar pemakaian cat tutup tidak terlalu tebal.

e. Peminyakan pada kulit memiliki tujuan antara lain untuk pelumas serat-serat kulit agar kulit menjadi tahan tarik dan tahan getar, menjaga serat kulit agar tidak lengket satu dengan yang lainnya, serta membuat kulit tahan air.

f. Penggemukan bertujuan agar zat penyamak tidak keluar ke permukaan sebelum kering.

g. Pengeringan dilakukan bagi kulit atasan dengan tujuan untuk menghentikan proses kimiawi dalam kulit. Kulit yang diperah airnya dengan mesin atau tangan kemudian dikeringkan.

h. Pelembaban dilakukan bagi kulit bawahan dengan tujuan agar kulit dengan mudah dapat menyesuaikan dengan kondisi udara di sekitar.

i. Kegiatan akhir dari bagian ini adalah peregangan yang bertujuan agar kulit mulut secara maksimal sehingga tidak akan mulur lagi setelah menjadi barang.

Dokumen terkait