• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. Monitoring Kesehatan secara Berkala

Tenaga Cadangan Kesehatan diharapkan untuk selalu memeriksa kesehatan secara berkala baik fisik maupun mental. Hasil pemeriksaan tersebut dijadikan dasar untuk memperbaharui data status kesehatan di website Tenaga Cadangan Kesehatan. Data ini menjadi dasar bagi sistem untuk melakukan skrining saat kondisi darurat membutuhkan mobilisasi Tenaga Cadangan Kesehatan. Oleh karena itu, bila sedang dalam kondisi sakit, Tenaga Cadangan Kesehatan agar memperbaharui status kesehatannya di website.

Pemeriksaan kesehatan secara berkala dilakukan sekurang- kurangnya 6 bulan sekali melalui self assessment fisik (formulir 1) dan self assessment mental (formulir 2) menggunakan aplikasi yang tersedia dalam website Tenaga Cadangan Kesehatan. Bila memungkinkan, dapat melakukan jenis pemeriksaan kesehatan lainnya, antara lain: pemeriksaan fisik, tekanan darah, berat badan, tinggi badan, pemeriksaan laboratorium (kadar gula darah, profil lipid:

kadar kolesterol, LDL, HDL, trigliserida), foto rontgen thorax

Koordinator Klaster Kesehatan memilih dan menetapkan tenaga yang akan dimobilisasi.

Pada kondisi tertentu, sistem dapat memberikan peringatan dini pada para Tenaga Cadangan Kesehatan sebagai informasi kesiapsiagaan untuk dimobilisasi. Peringatan dini diberikan pada situasi ancaman krisis kesehatan sebagai berikut.

1. Gempa ≥ 6 Skala Richter.

2. Potensi tsunami sesudah terjadi gempa bumi.

3. Potensi intensitas curah hujan ekstrem (> 150 mm).

4. Level IV (status awas) untuk gunung berapi.

I. Persiapan Mobilisasi

Ketika terdapat kejadian yang diduga darurat krisis kesehatan di suatu daerah, maka Dinas Kesehatan setempat melakukan RHA untuk memastikan benar tidaknya terjadi kedaruratan serta dampak dari krisis kesehatan tersebut. Selain itu, secara simultan Dinas Kesehatan setempat mempersiapkan aktivasi rencana penanggulangan krisis kesehatan dan rencana kontingensi.

Setelah dipastikan terjadi darurat krisis kesehatan maka klaster kesehatan dan rencana penanggulangan krisis kesehatan diaktivasi serta disesuaikan dengan hasil RHA. Berdasarkan hasil RHA maka Koordinator Klaster Kesehatan akan mengidentifikasi kebutuhan mobilisasi Tenaga Cadangan dari luar wilayah terdampak. Klaster kesehatan di daerah terdampak terus melakukan RHA dan memperbaharui informasi perkembangan, termasuk kebutuhan Tenaga Cadangan Kesehatan.

Kementerian Kesehatan dan/atau dinas kesehatan provinsi secara simultan mempelajari profil kapasitas maksimum daerah terdampak, berdasarkan hasil asistensi/kajian risiko (yang telah dilakukan pada prakrisis kesehatan), serta informasi awal krisis kesehatan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui prediksi kebutuhan awal sambil berkoordinasi untuk pemenuhan Tenaga Cadangan kesehatan.

Apabila dibutuhkan bantuan Tenaga Cadangan Kesehatan maka Koordinator Klaster Kesehatan kabupaten-kota/provinsi dan Kementerian Kesehatan melihat dashboard Tenaga Cadangan Kesehatan. Dashboard tersebut digunakan untuk men-skrining Tenaga Cadangan Kesehatan yang potensial dimobilisasi berdasarkan kebutuhan dari hasil RHA. Adapun Tenaga Cadangan Kesehatan yang diutamakan untuk dimobilisasi adalah Tenaga Cadangan Kesehatan yang terdekat dengan lokasi terdampak, memiliki akses tercepat,

dalam kondisi sehat, memiliki kecocokan level dan kompetensi, serta siap untuk dimobilisasi. Koordinator Klaster Kesehatan menetapkan Tenaga Cadangan Kesehatan (organisasi pengampu dan/atau individu) yang memenuhi kriteria, untuk dapat dimobilisasi ke lokasi terdampak dengan prinsip akses terdekat, tercepat, dan aman.

Koordinator klaster kesehatan dapat menambah jumlah Tenaga Cadangan yang dimobilisasi berdasarkan perkembangan situasi krisis kesehatan.

Tenaga Cadangan Kesehatan yang telah ditetapkan untuk dimobilisasi ke wilayah terdampak harus melapor pada dinas kesehatan di wilayah asal. Selain itu juga harus mendapatkan informasi sebagai berikut.

1. Kondisi terkini di lokasi bencana.

2. Kebutuhan pelayanan kesehatan maupun kebutuhan bantuan kesehatan lainnya di wilayah terdampak. Cara penghitungan kebutuhan SDM kesehatan saat krisis kesehatan dapat dilihat pada formulir 3-8.

3. Akses menuju lokasi terdampak.

4. Kondisi keamanan.

Tenaga Cadangan Kesehatan yang teregistrasi melalui suatu organisasi pengampu akan mendapatkan penjelasan (briefing) pra- penugasan dari organisasinya tersebut sebelum berangkat ke lokasi terdampak krisis kesehatan, meliputi:

1. Informasi terkini dari klaster kesehatan

2. Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan di wilayah terdampak 3. Prosedur dan tugas tim di lapangan

4. Memastikan kesiapan tim:

a. Logistik (pribadi, tim dan operasional) sesuai kebutuhan pelayanan yang akan dilakukan menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

1) Pribadi

a) Checklist kesiapan b) Perencanaan individu c) Job description

d) Daftar kontak (orang-orang yang dapat dihubungi untuk koordinasi di lapangan maupun untuk keadaan darurat/emergency)

e) KTP/Paspor

2) Kebutuhan Operasional

a) Logistik medis (emergency kit, obat-obatan, kit kesehatan reproduksi, logistik medis lainnya)

b) Logistik non-medis (hygiene kit, family kit, logistik kesehatan lingkungan, PMT, kantong jenazah, media KIE, APD, dan logistik non-medis lainnya)

3) Kebutuhan Tim a) Tenda/akomodasi b) Kompor

c) Genset

d) Makanan siap saji b. Dokumen

1) Form-form sesuai sub klaster atau tim

2) Buku saku pedoman teknis di lapangan (bila perlu)

3) Surat tugas (khusus Tenaga Cadangan Kesehatan non personal)

4) Member card Tenaga Cadangan Kesehatan

5) Surat Pengantar/Keterangan logistik (bila Tenaga Cadangan Kesehatan membawa logistik)

6) Dokumen lainnya (contoh: hasil rapid test antigen, dokumen renkon, dan dokumen lainnya)

c. Lama penugasan sesuai dengan deklarasi tanggap darurat lokasi terdampak, kurang lebih 7 (tujuh) hari di lokasi terdampak di luar waktu perjalanan.

Catatan:

Persiapan mobilisasi dan perjalanan Tenaga Cadangan Kesehatan dalam kondisi penyakit infeksi emerging (PIE) dan kondisi khusus lainya mengacu pada regulasi yang ada.

J. Pelaksanaan di Wilayah Terdampak

Sesampainya di wilayah terdampak, Tenaga Cadangan Kesehatan melakukan hal-hal sebagai berikut.

1. Melaporkan kedatangan kepada Health Emergency Operation Center (HEOC) di sekretariat HEOC dengan menyerahkan member card Tenaga Cadangan Kesehatan dan/atau surat tugas.

2. Mengisi secara manual atau digital, formulir laporan kedatangan yang berisi antara lain: data rincian Tenaga Cadangan Kesehatan, Kompetensi anggota tim, Kapasitas layanan, dan Logistik yang dibawa.

Setelah proses pelaporan kedatangan selesai, maka Tenaga Cadangan Kesehatan akan mendapatkan hal-hal sebagai berikut dari HEOC.

1. Tanda pengenal/identitas sebagai anggota HEOC.

2. Surat tugas/SK penugasan dari Koordinator Klaster Kesehatan yang berisi antara lain informasi lokasi penugasan serta durasinya.

3. Informasi situasi terkini penanganan krisis kesehatan.

4. Informasi mekanisme penanganan sesuai dengan penugasan.

5. Formulir pelaporan harian dan informasi waktu pengumpulan laporan harian.

6. Informasi terkait akses menuju ke lokasi penugasan dan nomor telepon penanggung jawab di lokasi penugasan.

7. Informasi waktu rapat koordinasi berkala yang harus diikuti oleh perwakilan Tenaga Cadangan Kesehatan.

Setelah mendapatkan penugasan dari HEOC, maka Tenaga Cadangan Kesehatan memulai penugasan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1. Melakukan koordinasi dengan HEOC.

2. Melaksanakan tugas di lokasi penugasan pada jam operasional sesuai arahan HEOC dan hasil koordinasi dengan penanggung jawab kesehatan di lapangan yang dibentuk oleh HEOC (bila ada).

3. Melaksanakan tugas sesuai standar prosedur yang berlaku.

4. Kerja sama yang baik perlu dilakukan agar pelayanan kepada masyarakat terdampak berjalan dengan sinergis.

5. Melaporkan hasil penugasan setiap hari kepada HEOC menggunakan format laporan yang ditetapkan oleh HEOC, pada waktu yang sudah ditentukan HEOC.

6. Mempublikasikan informasi situasi kesehatan, harus berkoordinasi dengan HEOC.

7. Perwakilan Tenaga Cadangan Kesehatan wajib mengikuti rapat koordinasi berkala yang dipimpin oleh HEOC.

8. Apabila Tenaga Cadangan Kesehatan membutuhkan tambahan sumber daya kesehatan selama penugasan, dapat mengajukan kepada Koordinator Sub Klaster/Tim masing-masing.

9. Selama penugasan, Tenaga Cadangan Kesehatan melakukan monitoring dan evaluasi kinerja serta kesehatan fisik dan mentalnya. Apabila perlu, dapat mengomunikasikan permasalahan internal kepada HEOC.

10. HEOC mengendalikan dan mengevaluasi kinerja setiap tenaga cadangan serta berhak memberikan sanksi apabila tenaga

cadangan melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku.

Rapat koordinasi Klaster Kesehatan berkala di HEOC mendiskusikan berbagai hal, diantaranya sebagai berikut.

1. Situasi kesehatan terkini di lokasi penugasan.

2. Permasalahan kesehatan/potensi permasalahan kesehatan.

3. Kebutuhan untuk pelayanan kesehatan.

4. Upaya respons/antisipasi yang harus dilaksanakan oleh berbagai pihak.

5. Rencana kegiatan harian dari sub klaster.

Pada akhir penugasan, Tenaga Cadangan Kesehatan menyusun dan menyerahkan laporan kepulangan yang formatnya sudah ditentukan oleh HEOC. Dalam laporan tersebut, disampaikan juga pemanfaatan sisa logistik kesehatan/non kesehatan yang dipakai selama penugasan (contoh: didonasikan, dibawa pulang, dan sebagainya). Selanjutnya melakukan serah terima kepada Tenaga Cadangan Kesehatan yang akan meneruskan penugasan (bila ada).

K. Pascamobilisasi

Tenaga Cadangan Kesehatan yang telah selesai bertugas dan kembali ke daerah asal, melapor pada dinas kesehatan di wilayah asal.

Tenaga Cadangan Kesehatan tersebut harus mendapatkan debriefing yang terdiri dari proses pembelajaran, evaluasi, serta assessment fisik maupun mental. Bagi tenaga cadangan yang mempunyai organisasi pengampu, debriefing menjadi tanggung jawab organisasi pengampu. Bagi tenaga cadangan perorangan yang tidak memiliki organisasi pengampu, debriefing dapat dilakukan dengan melakukan self assessment fisik maupun mental di dashboard tenaga cadangan. Hasil self assessment dilaporkan pada dinas kesehatan melalui dashboard tenaga cadangan untuk ditindaklanjuti bila diperlukan.