• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBINAAN TENAGA CADANGAN KESEHATAN

a) Kebijakan manajemen bencana dan krisis kesehatan di Indonesia (pengorganisasian, SPM, dan kebijakan lainnya) b) Konsep dasar manajemen bencana dan krisis kesehatan (All

hazard berdasarkan Health Emergency and Disaster Risk dari WHO 2021 dan Disaster logic model oleh Prof Marvin)

c) Jenis-jenis perencanaan bencana (rencana penanggulangan krisis kesehatan, rencana kontingensi, rencana operasi, dan rencana pemulihan)

d) Penerapan keamanan dan keselamatan selama melakukan operasi tugas di daerah bencana

e) Rapid Health assessment (RHA)

f) Pelaksanaan registrasi, laporan harian, laporan akhir tugas ke klaster kesehatan

g) Kepemimpinan dalam bencana dan krisis kesehatan (incident command system)

h) Operasionalisasi Health Emergency Operation Center (HEOC)/Klaster Kesehatan.

2) Kompetensi Penunjang

Kompetensi penunjang adalah materi pelatihan tambahan sebagai pelengkap kompetensi inti. Materi kompetensi penunjang sebagai berikut.

a) Komunikasi efektif dalam bencana dan krisis kesehatan b) Penyusunan peta respons

c) Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan (SIPKK) d) Pemberdayaan masyarakat untuk krisis kesehatan

e) Penilaian kerusakan dan kerugian bidang kesehatan pascabencana/Kajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitupasna) Bidang Kesehatan

f) Analisis risiko dengan berbagai instrumen (identifikasi hazard, menghitung dampak dan menganalisis risiko).

3) Kompetensi Khusus

Kompetensi khusus adalah kompetensi pilihan. Tidak menjadi dasar untuk leveling. Pilihan materi sebagai berikut.

a) Tracing (pelacak kontak erat) b) Radio komunikasi

c) Penggerak masyarakat untuk kesehatan (petugas yang diharapkan hadir di pengungsian dan komunitas terdampak, yang bertugas untuk menjadi penggerak/motivator kegiatan kesehatan masyarakat, bekerjasama dengan stakeholder di wilayah terdampak serta profesi kesehatan lainnya)

d) Manajemen data dan informasi bencana (petugas data dan informasi)

e) Pengelola media sosial di situasi krisis f) Pengemudi ambulans

g) Administrasi

h) Psychological First Aid i) Pemulasaraan jenazah j) Logistik

k) Pengelola limbah (medis dan domestik) l) Teknik Dekontaminasi

m) Medical first aid n) Medical record.

b. Level Kompetensi Manajemen Krisis Kesehatan

Level kompetensi yang dimiliki tenaga cadangan kesehatan disesuaikan dengan kebutuhan kompetensi manajemen bencana kesehatan dari tenaga cadangan tersebut. Untuk setiap level Tenaga Cadangan Kesehatan terdapat kompetensi yang harus sudah diikuti oleh tenaga cadangan tersebut, sesuai tabel di bawah ini.

Tabel 3.2 Level Tenaga Cadangan Kesehatan LEVEL DESKRIPSI LEVEL KEBUTUHAN

PEMBINAAN 0

(Pre- elementary)

Telah melakukan registrasi dan lulus kredensialing

Belum pernah mengikuti

pelatihan dan tidak memiliki

pengalaman kebencanaan

• Briefing Manajemen Bencana

Basic Life Support (BLS)

1 (Dasar)

Telah mengikuti pelatihan/kompete nsi level 0

dan/atau telah memiliki

pengalaman bencana

Pelatihan Inti 1) Kebijakan

manajemen krisis kesehatan di Indonesia 2) Konsep dasar

manajemen bencana dan krisis kesehatan 3) Rapid Health

assessment (RHA) 4) Pelaksanaan

registrasi, laporan harian dan laporan

LEVEL DESKRIPSI LEVEL KEBUTUHAN PEMBINAAN akhir tugas ke klaster

kesehatan.

2 (Menengah)

● Telah mengikuti pelatihan level dasar

● Memiliki

pengalaman ikut pelatihan/simul asi terkait kebencanaan, atau

● Pernah

berpartisipasi aktif dalam kegiatan- kegiatan non emergency (pra- bencana)

Pelatihan Inti 1) Jenis-jenis

perencanaan bencana 2) Penerapan

keamanan dan keselamatan selama melakukan operasi tugas di daerah bencana 3) Kepemimpinan

dalam bencana dan krisis kesehatan (incident

command system) 4) Operasionalisasi

HEOC/ klaster kesehatan Pelatihan

Penunjang (Pilihan):

1) Tracing (pelacak kontak erat)

2) Radio komunikasi 3) Penggerak

masyarakat

untuk kesehatan 4) Manajemen data

dan informasi bencana

3 (Mahir)

● Memenuhi standar level menengah

● Memiliki pengalaman dalam

kedaruratan/be ncana

● Mempunyai kemampuan kepemimpinan pada situasi bencana (dilihat dari pengalaman dia menjadi koordinator tim, atau dari

sertifikat pelatihan

kepemimpinan)

Menyelesaikan semua kompetensi penunjang

II. Pengembangan Kompetensi a. Peningkatan Kapasitas

Penyelenggaraan peningkatan kapasitas terdiri dari pelatihan, workshop, dan seminar.

1) Pelatihan

Pelatihan merupakan salah satu bentuk peningkatan kapasitas yang diberikan kepada tenaga cadangan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan terkait penanggulangan krisis kesehatan dalam rangka meningkatkan kinerja dan profesionalisme. Pelatihan dilaksanakan minimal 30 jam pembelajaran.

Pelatihan dapat dilakukan baik secara klasikal (pelatihan, kursus, seminar) maupun non klasikal (pelatihan jarak jauh, magang). Materi pelatihan disesuaikan dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh anggota Tenaga Cadangan Kesehatan sesuai dengan level tenaga cadangan.

Pelatihan dilaksanakan oleh institusi pelatihan yang terakreditasi oleh Kementerian Kesehatan, yaitu lembaga diklat Kementerian Kesehatan, lembaga diklat pemerintah daerah, institusi perguruan tinggi, organisasi profesi, LSM/NGO.

Jenis pelatihan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi Tenaga Cadangan Kesehatan antara lain:

a) Level 0 (Pre-elementary)

1. Pelatihan manajemen krisis kesehatan

2. Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD)/Basic Life Support (BLS)

b) Level 1 (Dasar)

1. Pelatihan manajemen bencana/krisis kesehatan

2. Pelatihan Kaji Cepat Masalah Kesehatan/Rapid Health Assessment (RHA)

c) Level 2 (Menengah)

1. Pelatihan manajemen krsis kesehatan 2. Pelatihan manajemen korban massal 3. Pelatihan penyusunan peta respons

4. Pelatihan penyusunan rencana kontingensi

5. Pelatihan Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan (SIPKK)

6. Pelatihan Tim Reaksi Cepat (TRC) 7. Table Top Exercise (TTx)

8. Simulasi penanggulangan krisis kesehatan

9. Analisis risiko dan pengurangan risiko krisis kesehatan 10. Penilaian kerusakan dan kerugian bidang kesehatan

pascabencana (Jitu Pasna).

d) Level 3 (Mahir)

1. Pelatihan manajemen krisis kesehatan

2. Pelatihan penanggulangan krisis kesehatan akibat kimia, biologi, radiologi dan nuklir (KBRN)

3. Pelatihan penanggulangan krisis kesehatan akibat konflik sosial

4. Pelatihan kepemimpinan dalam kedaruratan/bencana

5. Pelatihan pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan krisis Kesehatan.

2) Pelatihan Tenaga Cadangan Kesehatan dilakukan dengan beberapa mekanisme antara lain:

a) Penyusunan dan pengembangan kurikulum terkait pelatihan penanggulangan krisis kesehatan:

1. Identifikasi dan integrasi kurikulum pelatihan terkait penanggulangan bencana dan krisis kesehatan yang dimiliki BNPB, Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan dan Pusat Krisis Kesehatan.

2. Menyusun kurikulum dan modul pelatihan Tenaga Cadangan Kesehatan sesuai kompetensi.

Tahapan kegiatan dalam penyusunan kurikulum antara lain:

1. Identifikasi dan penyusunan kompetensi peserta latih yang ingin dicapai untuk menjawab gap kompetensi 2. Menyusun draf kurikulum sesuai pedoman

penyusunan kurikulum pelatihan bidang kesehatan 3. Menyusun rancang bangun program mata pelatihan

(RBPMP),

4. Menyusun panduan penugasan sesuai metode pembelajaran yang ada di RBPMP

5. Menyusun bahan ajar atau modul pembelajaran 6. Menyusun soal-soal pre dan post test, uji sumatif,

checklist uji keterampilan dan sikap/perilaku.

7. Penetapan/pengesahan kurikulum 8. Sosialisasi kurikulum pelatihan

9. Pelatihan bagi pelatih untuk implementasi kurikulum.

b) Pengembangan sistem pelatihan

1. Membuat e-learning terkait kebencanaan dengan reward sertifikat, SKP, dan sebagainya. Termasuk Menyusun kurikulum pelatihan jarak jauh.

2. Menyiapkan Learning Management System (LMS) serta media pembelajaran pelatihan sesuai dengan kurikulum.

3. Pelatihan luring dilaksanakan oleh institusi pelatihan yang terakreditasi, bila institusi pelatihan belum terakreditasi maka bekerja sama dengan institusi pelatihan terakreditasi.

a) Workshop

Pertemuan ilmiah untuk meningkatkan kompetensi terkait peningkatan kinerja dan karir yang diberikan oleh pakar/praktisi. Fokus kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan tertentu yang relevan dengan bidang tugas atau kebutuhan pengembangan karier dengan memberikan penugasan kepada peserta untuk menghasilkan produk tertentu selama kegiatan berlangsung dengan petunjuk praktis dalam penyelesaian produk (sumber: Pedoman Pengembangan Kompetensi PNS di Lingkungan Kementerian Kesehatan RI).

b) Seminar

Pertemuan ilmiah untuk meningkatkan kompetensi terkait peningkatan kinerja dan karier yang diberikan oleh pakar/praktisi untuk memperoleh pendapat para ahli mengenai suatu permasalahan di bidang aktual tertentu yang relevan dengan bidang tugas atau kebutuhan pengembangan karier.

c) Sertifikasi

Peserta pelatihan yang telah mengikuti pelatihan dan lulus akan diberikan Sertifikat Pelatihan Digital yang diterbitkan oleh institusi yang terakreditasi melalui mekanisme yang telah diatur oleh Direktorat Peningkatan Mutu Nakes dan telah tercantum nilai Satuan Kredit Profesi (SKP) dari organisasi profesi.

3) Pendidikan

Dalam pengelolaan krisis kesehatan, Tenaga Cadangan Kesehatan merupakan komponen yang penting dan perlu disiapkan dengan sebaik mungkin. Salah satu strategi penyiapan Tenaga Cadangan Kesehatan dapat dilakukan

dengan melibatkan mahasiswa pada Perguruan Tinggi bidang Kesehatan.

Untuk mencapai kompetensi tenaga cadangan pada Perguruan Tinggi bidang kesehatan telah disiapkan mata kuliah tersendiri yaitu mata kuliah Pengelolaan Krisis Kesehatan Pada Bencana, dengan jumlah beban satuan kredit semester/SKS sebesar 2 SKS terdiri dari 1 SKS teori dan 1 SKS praktek. Sementara itu muatan SKS mata kuliah tersebut memiliki muatan dasar dan umum sebesar 1,5 SKS dan muatan kekhususan prodi sebesar 0,5 SKS (kompetensi spesifik dari masing-masing prodi).

Mata kuliah ini memuat materi tentang prinsip-prinsip teoritis dan keterampilan dasar penanggulangan bencana.

Fokus mata kuliah ini meliputi berbagai aspek yang terkait dengan penanggulangan bencana.

Kegiatan belajar mahasiswa berorientasi pada pencapaian kemampuan berpikir secara sistematis, komprehensif, dan kritis dalam mengaplikasikan konsep dan keterampilan dasar penanggulangan bencana. Kegiatan belajar dilakukan melalui kuliah, diskusi, penugasan, dan praktikum melalui pendekatan Interprofessional Education (IPE) dan interprofessional Collaboration (IPC).

Mata kuliah pengelolaan krisis kesehatan berupa materi umum (untuk semua jurusan), meliputi:

1. Dasar-dasar manajemen penanggulangan bencana (pengertian, jenis, dan karakteristik bencana, siklus penanggulangan bencana, perencanaan dalam penanggulangan bencana dan pengorganisasian penanggulangan di Indonesia).

2. Dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat dan kesehatan masyarakat.

3. Dasar hukum/regulasi dalam penanggulangan bencana dan krisis kesehatan.

4. Basic life support (khusus untuk mahasiswa jurusan non keperawatan dan kebidanan, materi ini diberikan tetapi tidak mendalam).

5. Penanggulangan krisis kesehatan a. Pengurangan risiko kesehatan:

1) Analisis risiko krisis kesehatan 2) Mitigasi krisis kesehatan

3) Upaya pengurangan risiko kesehatan

4) Kesiapsiagaan

5) Sistem kewaspadaan dini.

b. Darurat Krisis Kesehatan:

1) Rapid Health Assessment (RHA)

2) Penyusunan rencana operasi darurat krisis kesehatan

3) Kegiatan operasional klaster kesehatan 4) Penanganan korban luka/trauma

5) Penanganan kesehatan pengungsi (air bersih dan sanitasi, sanitasi makanan dapur umum, pelayanan kesehatan dasar, surveilans, pengendalian penyakit menular/tidak menular, gizi darurat, trauma healing, kesehatan ibu hamil dan anak)

6) Sistem komando lapangan

7) Sistem komunikasi dan informasi kesehatan

8) Support system (manajemen perbekalan kesehatan;

perbaikan dan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan darurat).

Catatan:

Point 4) dan 5) perlu tahu tetapi tidak mendalam. Ini akan menjadi materi spesifik di tiap jurusan.

c. Penanggulangan pascakrisis kesehatan (kesiapsiagaan menghadapi potensi munculnya KLB-Penyakit).

6. Simulasi penanggulangan krisis Kesehatan

a. Manajemen korban massal (penanganan pre-hospital and hospital). (jurusan: keperawatan, penata anestesi, ostetis protetis).

b. Mental health and psychosocial support (jurusan:

keperawatan, psikologi kesehatan, akupunktur terapis, okupasi terapis).

c. Kesehatan lingkungan dalam situasi krisis kesehatan (jurusan kesehatan lingkungan).

d. Penanganan gizi darurat (jurusan gizi).

e. Kesehatan reproduksi dalam situasi krisis kesehatan (jurusan kebidanan).

f. Fasilitas pelayanan kesehatan aman untuk situasi krisis kesehatan dan bencana (jurusan teknik elektromedik dan jurusan radiologi).

g. Komunikasi dan informasi kesehatan (jurusan perilaku dan promosi kesehatan, jurusan rekam medik).

III. Monitoring Kesehatan secara Berkala

Tenaga Cadangan Kesehatan diharapkan untuk selalu memeriksa kesehatan secara berkala baik fisik maupun mental. Hasil pemeriksaan tersebut dijadikan dasar untuk memperbaharui data status kesehatan di website Tenaga Cadangan Kesehatan. Data ini menjadi dasar bagi sistem untuk melakukan skrining saat kondisi darurat membutuhkan mobilisasi Tenaga Cadangan Kesehatan. Oleh karena itu, bila sedang dalam kondisi sakit, Tenaga Cadangan Kesehatan agar memperbaharui status kesehatannya di website.

Pemeriksaan kesehatan secara berkala dilakukan sekurang- kurangnya 6 bulan sekali melalui self assessment fisik (formulir 1) dan self assessment mental (formulir 2) menggunakan aplikasi yang tersedia dalam website Tenaga Cadangan Kesehatan. Bila memungkinkan, dapat melakukan jenis pemeriksaan kesehatan lainnya, antara lain: pemeriksaan fisik, tekanan darah, berat badan, tinggi badan, pemeriksaan laboratorium (kadar gula darah, profil lipid:

kadar kolesterol, LDL, HDL, trigliserida), foto rontgen thorax