BAB II ANALISIS DESAIN PENGEMBANGAN MODEL
C. Model Dick and Carey
memiliki sepuluh langkah yang harus dilakukan secara sistematis,
b) hasil penelitian tidak bisa digeneralisasikan secara utuh, karena penelitian R&D ditujukan untuk pemecahan masalah “here and now”, dan dibuat berdasar sampel (spesifik), bukan populasi, c) memerlukan sumber dana dan sumber daya yang cukup besar
untuk bisa menyelesaikan penelitian karena dituntut untuk mendesiminasikan dan mengimplementasikan produk dan menyebarluaskan produk melalui pertemuan dan jurnal ilmiah, miskipun bisa bekerjasama dengan penerbit untuk sosialisasi produk untuk komersial, tetapi harus tetap memantau distribusi dan kontrol kualitas.
yang diharapkan. Kemunculan model pembelajaran yang berorientasi sistem ini, pada prinsipnya dimotivasi oleh usaha untuk memperbaiki mutu pembelajaran melalui penciptaan suasana belajar yang efektif dan kreatif. Pengimplementasian model dilakukan secara menyeluruh yang berarti seluruh langkah berada dalam satu kesatuan sistem.
Setiap langkah merupakan subsistem dari langkah lainnya, sehingga salah satu diantaranya yang kurang maksimal dikembangkan akan berpengaruh terhadap langkah lainnya.
Model desain yang ditampilkan pada gambar 2.2 di atas menunjukkan bahwa model telah dikembangkan dengan sepuluh langkah, yaitu (a) mengidentifikasi tujuan pembelajaran, (b) menganalisis pembelajaran, (c) menganalisis siswa dan konteks, (d) menuliskan tujuan pembelajaran khusus, (e) mengembangkan instrumen dan alat penilaian, (f) mengembangkan strategi pembelajaran, (g) menyeleksi dan mengembang-kan bahan, (h) mendesain pelaksanaan evaluasi formatif, (i) melakukan revisi program pembelajaran, dan (j) mendesain pelaksanaan evaluasi sumatif.27 Model ini menarik, efektif, dan efisien serta digunakan dalam pembelajaran sejak beberapa puluh tahun yang lalu.
Langkah pertama, mengidentifikasi tujuan pembelajaran.
Identifikasi tujuan dilakukan dengan maksud untuk menentukan apa yang menjadi kebutuhan siswa. Kebutuhan itu kemudian dirumuskan menjadi target yang harus dicapai setelah proses pembelajaran.
Tujuan pembelajaran menurut Dick and Carey adalah pernyataan kompetensi yang dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Kompetensi itu dirumuskan dari hasil analisis kemampuan, penilaian, dan pengalaman praktis kesulitan belajar siswa.
Langkah kedua, melakukan analisis pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan pada langkah kedua ini adalah menentukan tiga kompetensi yang harus dicapai siswa setelah mengikuti proses
27 Ibit., hh. 6-8
pembelajaran. Ketiga kompetensi tersebut meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Pengetahuan merefleksikan kemampuan nalar dan daya pikir; sikap merefleksikan perilaku; dan keterampilan merefleksikan kemampuan melakukan sesuatu secara efektif.
Langkah ketiga, menganalisis siswa dan konteks. Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah menganalisis karakteristik yang menjadi perilaku belajar siswa. Kemudian secara bersamaan dilakukan analisis konteks pembelajaran yang mencakup bahan dan kondisi-kondisi yang terkait dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa serta tugas-tugas yang dihadapinya.
Langkah keempat, merumuskan tujuan pembelajaran khusus.
Tujuan ini bersifat spesifik dan menjadi indikator untuk mengukur pencapaian kebutuhan siswa yang menjadi tujuan pembelajaran.
Dalam merumuskan tujuan pembelajaran khusus, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: (a) menentukan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajaran; (b) situasi dan kondisi yang diperlukan agar siswa dapat melakukan unjuk kemampuan dari apa yang dipelajari; (c) indikator yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Langkah kelima, mengembangkan instrumen atau alat penilaian. Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah menyusun tes berdasarkan tujuan pembelajaran khusus. Tes yang dikembangkan diharapkan mampu mengukur hasil pembelajaran siswa. Untuk itu rumusan tes harus benar-benar mencerminkan rumusan tujuan pembelajaran.
Langkah keenam, mengembangkan strategi pembelajaran.
Kegiatan pada langkah ini diawali dengan pengumpulan informasi sebagai bahan penentuan strategi pembelajaran. Berbagai bentuk strategi pembelajaran yang dirumuskan dapat dimanfaatkan untuk mengimplementasikan aktivitas sebelum pembelajaran, penyajian bahan, evaluasi, dan aktivitas tindak lanjut kegiatan pembelajaran.
Bentuk-bentuk strategi yang dipilih didasarkan pada beberapa faktor,
yaitu (a) teori baru yang berkaitan dengan aktivitas pembelajaran; (b) penelitian terbaru tentang hasil belajar; (c) jenis dan karakteristik media pembelajaran; (d) hal yang menjadi substansi dipelajari siswa;
(e) karakteristik siswa yang terlibat dalam aktivitas pembelajaran.
Kelima faktor di atas yang dipilih untuk dirumuskan menjadi tujuan pembelajaran.
Langkah ketujuh, memilih bahan ajar yang digunakan.
Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah memilih bahan ajar dari berbagai ragam bahan yang ada sebagai sumber informasi pengetahuan siswa. Istilah bahan ajar dimaksud adalah sumber yang memiliki kemiripan dengan media pembelajaran. Keduanya menjadi sumber informasi yang dapat mengantar siswa untuk mengetahui dan memahami sesuatu yang dipelajari.
Langkah kedelapan, mendesain pelaksanaan evaluasi formatif.
Kegiatan yang dilakukan adalah menyusun rencana pelaksanaan evaluasi pembelajaran pada setiap pertemuan kemudian melaksanakannya dan hasilnya menjadi data untuk menentukan keberhasilan dan kegagalan proses pembelajaran. Ada tiga jenis evaluasi formatif yang dapat diaplikasikan oleh guru untuk menilai keberhasilan dan kegagalan siswa, yaitu (a) evaluasi perorangan, (b) evaluasi kelompok; (c) evaluasi lapangan. Ketiganya memiliki peran strategis untuk memberi input pada perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran.
Langkah kesembilan, melakukan revisi program pembelajaran.
Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah mengumpulkan data-data hasil evaluasi formatif sebagai informasi untuk mengetahui kelemahan-kelemahan desain dan proses pembelajaran. Berbagai kelemahan yang ada disempurnakan untuk dikembangkan menuju tercapainya tujuan pembelajaran. Kegiatan ini merupakan langkah terakhir dari proses model desain yang dikembangkan oleh Dick and Carey.
Langkah kesepuluh, mendesain pelaksanaan evaluasi sumatif.
Kegiatan yang dilakukan adalah merancang dan melaksanakan
evaluasi sumatif. Pelaksanaan evaluasi ini berbeda dengan evaluasi formatif karena dilakukan setelah program selesai dievaluasi secara formatif. Evaluasi sumatif dikategorikan tidak tergolong ke dalam proses desain sistem pembelajaran sehingga dalam pelaksanaannya tidak melibatkan perancang program tetapi melibatkan penilai independen.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dirumuskan bahwa model Dick and Carey memiliki kekuatan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Kekuatan model ini adalah (a) dikembangkan dengan pendekatan sistem yang dapat memacu guru memahami semua langkah pembelajaran yang ditetapkan; (b) mendesain dua jenis evaluasi yang menunjukkan keberhasilan proses dan program pembelajaran terukur dengan baik; (c) berorientasi umum sehingga dapat dijadikan sebagai referensi pada setiap model yang dikembangkan. Dick and Carey berpandangan bahwa model dalam pembelajaran memiliki pengaruh yang besar, yaitu menjadi pedoman guru untuk menyusun langkah-langkah tindakan dalam upaya menciptakan proses pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik.
Model Dick and carey selain memiliki kekuatan, juga memiliki kelemahan, yaitu (a) bersifat umum sehingga sulit dijadikan sebagai acuan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran yang bersifat khusus; (b) terlalu luas sampai pada desain evaluasi sumatif, dan (c) bagi peneliti pemula lebih sulit diaplikasikan secara utuh karena bersifat umum dan terlalu luas. Ketiga kelemahan yang dikemukakan di atas, menjadi dasar lahirnya model yang berorientasi khusus. Artinya memungkinkan bagi desainer untuk mendesain pembelajaran yang cocok dengan situasi dan kondisi kongkrit di lapangan.