• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Pustaka

3. Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)

a. Pengertian Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)

Model pembelajaran TGT yaitu salah satu cara pembelajaran kooperatif yang menggunakan sistem turnamen akademik, di mana model ini harus menggunakan sebuah kuis dan sistem skor untuk kemajuan peserta, di setiap kelompok peserta mempunyai perwakilan satu orang untuk maju ke depan dengan kemampuan akademik sebelumnya sama dengan yang lain.24

Menurut Slavin bahwa TGT merupakan model pembelajaran kooperatif menggunakan turnamen akademik dan menggunakan kuis-kuis, dijadikan satu orang maju ke depan sebagai perwakilan dari masig- masing tim dengan pengetahuan akademik yang sama diantara mereka.25 Asma berpendapat bahwa model TGT adalah suatu model pembelajaran oleh guru dan diakhiri dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa.

Setelah itu siswa dipindahkan ke kelompok masing-masing untuk mendiskusikan dan menyelesaikan pekerjaan dari pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang diberikan guru. Sebagai ganti tes tertulis siswa akan dipertemukan di meja turnamen.26

Menurut Trinato model TGT adalah peserta didik memainkan games

24 Robert E. Slavin, CooperativeLearning, (Teori, Riset dan Praktek), terj. Nurulita, hlm. 163.

25 Slavin Robert E., Cooperative Learning, (Bandung: Nusa Media, 2005), hlm. 163

26 Asma Nur, Model Pembelajaran Kooperatif, (Jakarta: Departemen Pendidikan, 2006), hlm. 54.

dengan anggota-anggota tim lain untuk mendapatkan tambahan poin untuk skor tim mereka, atau dengan kata lain dalam model ini peserta didik dituntut untuk aktif. Peserta didik mewakili kelompoknya dalam sebuah games tournaments untuk mendapatkan skor atau poin yang kemudian digunakan sebagai penarik semangat dan kebanggaan dalam kelompoknya.27

Aktivitas model pembelajaran kooperatif tipe TGT peserta didik didorong untuk bermain sambil berpikir, dan bekerja sama dalam satu kelompok untuk berkompetisi dengan kelompok yang lain. Dalam hal ini, guru hanya sebagai fasilitator dan motivator yang baik bagi peserta didik serta dapat menerapkan peraturan dalam berkompetisi di kelas sebaik mungkin, sehingga memberi kesempatan untuk peserta didik untuk saling mengenal lebih dalam mengenai teman-temmannya di kelas dan menuntun peserta didik untuk berpikir secara kritis serta keterampilan yang kreatif.

b. Langkah-Langkah Model Pembelajran TGT

Langkah-langkah model pembelajaran TGT adalah sebagai berikut:28 1) Presentasi di kelas

Di dalam materi TGT pertama peserta didik diperkenalkan oleh guru dalam bentuk presentasi di dalam kelas. Langkah ini merupakan pengajaran langsung seperti pembelajaran yang dipimpin oleh guru sebagai pengetahuan awal peserta didik untuk memahami materi. Penyampaian materi diharapkan dapat dijadikan pengetahuan kepada peserta didik dalam melakukan belajar tim dengan peserta didik yang lain serta dapat mengerjakan kuis-kuis.

2) Tim

Di dalam sebuah tim biasanya terdiri dari empat sampai enam peserta didik. Fungsinya yaitu untuk memastikan bahwa semua anggota tim benar-

27 Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 83.

28 Slavin Robert E., Cooperative Learning, (Bandung: Nusa Media, 2005), hlm. 166-168.

benar belajar dengan baik, khususnya untuk mempersiapkan anggotanya untuk bisa mennyelesaikan kuis dengan baik. Guru memberikan penugasan kepada setiap tim berupa soal atau lembar kerja terhadap peserta didik untuk menguasai materi yang telah disampaikan oleh guru. Dalam hal ini semua peserta didik dalam tim dapat saling menggali informasi atau bertukar pendapat untuk memecahkan masalah dalam satu kelompok diskusi.

3) Game

Game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya relevan yang dirancang sedemikian rupa untuk menguji pengetahuan peserta didik yang diperolehnya dari presentasi di kelas dan pelaksanaan kerja tim. Kebanyakan game hanya berupa nomor-nomor pertanyaan yang ditulis pada lembar yang sama. Pada kesempatan ini peneliti menggunakan game sebagai seleksi untuk perwakilan setiap tim melaju ke turnamen.

4) Turnamen

Turnamen adalah suatu struktur dimana game berlangsung. Biasanya turnamen berlangsung, setelah guru memberikan presentasi di kelas dan tim telah melaksanakan kerja kelompok terhadap lembar kegiatan peserta didik.

Pada tahap ini, memungkinkan peserta didik berkontribusi secara maksimal terhadap skor tim jika mereka melakukan yang terbaik. Kontribusi masing- masing peserta didik dalam tahap ini bersifat lebih efisien karena peserta didik memainkan games tournaments akademik bersama peserta didik lain yang kemampuannya sama.

5) Rekognisi Tim

Skor tim diskusi didasarkan skor games tournament anggota- anggotanya. Setiap peserta didik memberikan kontribusi skor dalam kelompok

diskusinya. Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu.

Alur pembelajaran model pembelajaran TGT yang dikembangkan dalam penelitian ini disajikan pada Gambar 1:29

Gambar 2.1 Pola Kelompok Permainan Tipe TGT

Dalam games ini, guru memberikan soal-soal dalam bentuk kartu soal yang akan diperebutkan oleh setiap peserta didik dalam suatu tim. Apabila salah satu peserta didik yang bisa menjawab soal yang paling banyak dengan baik dan benar akan mendapatkan poin yang banyak maka akan dijadikan perwakilan untuk games tournaments. Dalam penelitian ini, games tournaments berupa pertanyaan-pertanyaan materi kimia yang ditulis pada setiap kartu pada media destinasi. Setiap peserta didik harus bisa menjawab setiap pertanyaan yang

29 Mohammad Fathurrohman, Model-Model Pembelajaran Inovatif Alternatif Desain Pembelajaran yang Menyenangkan. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2015), hlm.60.

diberikan yang diberikan oleh guru. Permainan dalam TGT sangat efektif untuk mengajar tujuan pembelajaran yang dirumuskan dengan baik dengan satu jawaban benar. Meski demikian, TGT dapat diadaptasi untuk digunakan dengan tujuan yang dirumuskan dengan kurang baik dengan menggunakan penilaian yang bersifat terbuka, misalnya esai atau kinerja.

Adapun peraturan dalam permaianan TGT sebagai berikut dalam satu permainan terdiri dari kelompok pembaca, kelompok penantang I, kelompok penantang II, dan seterusnya sejumlah kelompok yang ada. Kelompok pembaca bertugas yaitu mengambil kartu bernomor dan mencari pertanyaan pada lembar permainan, membaca pertanyaan secara keras-keras dan memberi jawaban.

Kelompok penantang I bertugas untuk menyetujui pembaca atau memberi jawaban yang berbeda, sedangkan kelompok penantang II bertugas menyetujui pembaca atau memberi jawaban yang berbeda dan mengecek jawaban. Kegiatan ini dilakukan secara bergiliran (games ruler). Model TGT ini peserta didik dilatih untuk menumbuhkan kemampuan berpikir secara mandiri dan dapat membuat peserta didik menjadi aktif dalam proses pembelajaran berlangsung.

c. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran TGT

Dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki keunggulan dan kelemahan.30 Keunggulannya sebagai berikut.

1) Dimana kelas yang menggunakan model pembelajaran TGT para peserta didiknya memperoleh teman yang lebih banyak di- bandingkan dengan peserta didik yang ada dalam kelas tradisional.

2) Meningkatkan perasaan/persepsi percaya diri kepada peserta didik bahwa hasil yang mereka peroleh bukan berdasarkan keberuntungan tetapi karena kinerja.

30 Sudjana, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), hlm. 10.

3) Meningkatkan harga diri sosial peserta didik tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka.

4) Meningkatkan kooperatif terhadap yang lain.

5) Keterlibatan peserta didik lebih tinggi dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak.

6) Meningkatkan kehadiran peserta didik di sekolah.

Sedangkan kelemahan dari model pembelajaran TGT adalah sebagai berikut.

1) Bagi guru

Guru sangat sulit menentukan/membuat kelompok untuk peserta didik yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademik. Tetapi kesulitan ini dapat diselesaikan jika guru mampu menguasai kelas secara menyeluruh.

2) Bagi peserta didik

Peserta didik yang berkemampuan tinggi tidak terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada pesertaa didik lainnya. Masalah ini dapat diselesaikan oleh guru dengan cara memberikan pengarahan atau pandangan kepaada peserta didik yang kemampuan akademik tinggi supaya dapat menularkan keahlianya kepada peserta didik yang lain.

4. Media Destinasi

Media pembelajaran destinasi adalah media pembelajaran dalam bentuk permainan. Penggunaan media permainan dapat menimbulkan efek positif bagi kecerdasan, dan mental anak. Permaianan itu sendiri merupakan modal awal bagi pembinaan kecerdasan dan mental serta emosional anak. Oleh karena itu, dengan mengikuti pola serta permainan games, media destinasi sebagai alat bantu dalam pembelajaran kimia dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa serta hasil

belajar siswa.31

Media pembelajaran destinasi yaitu media papan atau kertas untuk anak-anak yang dimainkan oleh dua orang atau lebih. papan permainan seperti permainan ulat tangga, namun tidak terdapat ular dan tangga melainkan hanya berisi nomor saja.

Permainan destinasi terdiri dari papan permainan, pion, kartu soal, dan dadu.

Langkah pion dihitung berdasarkan mata dadu yang muncul, ketika pion sampai pada kotak destinasi trtentu dan menunjukkan nomor soal yang harus dijawab. Kelompok yang menjadi pemenang adalah kelompok yang paling banyak menjawab pertanyaan sampai batas waktu yang ditentukan. Apabila belum sampai pada batas waktu yang ditentukan, kelompok sudah ada yang sampai tujuan maka diulang dari awal.

Permainan destinasi ini dirancang untuk meningkatkan motivasi siswa, melatih kerjasama, dan membuat siswa berlomba-lomba menjadi yang terbaik.32

Media pembelajaran sebagai alat bantu, untuk mampu meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa. Media pembelajaran destinasi adalah media yang mampu membuat peserta didik tertarik untuk mengikuti pembelajaran dan merasa mrenyenangkan dalam proses pembelajaran.

5. Motivasi Belajar

a. Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi merupakan perubahan energi di dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”.33 Mc.

Donald mengatakan, “motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan

31Karimah, R F., Supurwoko & Wahyuningsih, “Pengembangan Media Pembelajaran Ular Tangga Fisika Untuk Siswa SMP/MTS Kelas VIII”, Jurnal Pendidikan Fisika, Vol. 2, Nomor 1, Tahun 2014, hlm. 6-10.

32 Ekawati, E, Sugiharto & Susilowati, E., “ Efektifitas Metode Pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) Yang Dilegkapi Dengan Media Power Point Dan Destinasi Terhadap Prestasi Belajar”, Jurnal Pendidikan Kimia, Vol. 2, Nomor 1, Tahun 2013, hlm. 80-84.

33 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011), hal. 158.

terhadap adanya tujuan”. Selain itu, motivasi juga akan menyebabkan terjadinya

\suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia sehingga menimbulkan rasa, perasaan dan juga emosi, untuk kemudian bertindak untuk melakukan sesuatu.

“Yang didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan”.34

Menurut pakar ahli, yang bernama Dimyati dan Mudjiono berpendapat bahwa motivasi merupakan terkandung adanya keinginan mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar.35

A.W Bernard mengungkapkan bahwa motivasi adalah fenomena yang dilibatkan dalam perangsangan tindakann kearah tujuan tertentu yang sebelumnya kecil atau tidak ada gerakaan kearah tujuan-tujuan tertentu.

Motivasi yaitu usaha memperbesar atau mengadakan gerakan untuk mencapai tujuan tertentu.36

Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi keberhasilannya. Karena itu motivasi belajar perlu diusahakan terutama yang berasal dari dalam diri dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita.37 Motivasi merupakan satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa.

Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukankegiatan belajar.

b. Macam-Macam Motivasi Belajar

Motivasi dibagi menjadi dua jenis: (1) motivasi intrinsik dan (2) motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang tergabung didalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. Motivasi ini sering juga disebut motivasi murni. Motivasi yang sebenarnya yang timbul dari dalam diri siswa sendiri. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor- faktor dari luar situasi belajar, seperti angka kredit, ijazah, tingkatan

34 Sadiman, interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada,2014), hal. 73- 74.

35 Muhammad Fathurrohman dan Sulistyorini, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm.

141-142.

36 Sardirman, Interaksi dan Motivasi belajar mengajar, (Jakarta: Rajawali, 2011), hlm. 95.

37 M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2007), hal. 57.

hadiah, medali pertetangan, dan persaingan yang bersifat negatif ialah sarcasm, ridicule dan hukuman.38

Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk membangkitkan motivasi peserta didik dari jenis motivasi intrinsik, karena dengan meningkatkan motivasi intrinsik peserta didik menjadi semangat dalam diri peserta didik sendiri sehingga menjadikan semangat dalam pembelajaran.

c. Indikator dan Komponen Motivasi

Motivasi itu memiliki indikator-indikator untuk mengukurnya. Pakar ahli bernama Sardiman menyebutkan indikator-indikator motivasi sebagai berikut:39 1) Tekun menghadapi tugas

2) Ulet menghadapi kesulitan

3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah 4) Lebih senang bekerja mandiri

5) Cepat bosan pada tugas-tugas rutin 6) Dapat mempertahankan pendapatnya

7) Tidak mudah melepaskan hal-hal yang diyakininya 8) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.

Adapun komponen motivasi memiliki dua komponen, yaitu: komponen dalam (inner component) dan komponen luar (outer component). Komponen dalam yaitu perubahan dalam diri seseorang keadaan merasa tidak puas dan ketegangan psikologis. Sedangkan komponen luar yaitu apa saja yang diinginkan seseorang, kelakuannya yang menjadi tujuannya. 40

38 Hamalik, Proses Belajar Mengajar…, hlm. 163

39Muhammad Nasikhul Abid, “Indikator-indikator Motivasi”, dalam

http://www.scribd.com/doc/36537893/12/Indikator-Motivasi, diakses pada tanggal 19 Desember 2019, pukul 08.40.

40 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011), hlm. 159

Berdasarkan uraian di atas, motivasi memiliki indikiator dan komponennya.

Indikator-indikator motivasi digunakan untuk mengukur pada motivasi yang dimiliki tiap-tiap siswa. Sedangkan, komponen motivasi ada dua yaitu komponen dalam adalah suatu kebutuhan-kebutuhan yang ingin diwujudkan dan komponen luar adalah suatu tujuan yang ingin dicapai oleh siswa.

6. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

“Hasil belajar berasal dari dua kata yaitu hasil dan belajar. Hasil dapat diartikan sebagai sesuatu yang diadakan oleh usaha”.41 Sedangkan kata belajar memiliki beberapa pengertian diantaranya belajar adalah suatu usaha yang di lakukan oleh seseorang dalam perubahan tingkah laku supaya lebih baik melalui pengalaman dan latihan.42 yang menyangkut tiga ranah yaitu:

1) Ranah kognitif

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri atas enam aspek yaitu pengalaman (comprehension), pengetahuan (knowladge), analisis (analysis), aplikasi (application), penilaian (evaluation), dan sinteesis (synthesis).

2) Ranah afektif

Berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu menjawab, menerima, menilai, organisasi, dan karakteristik dengan suatu nilai atau kompleks nilai. Tipe hasil belajar pada ranah afektif terlihat pada peseerta didik dalam berbagai tingkah laku dan aktivitasnya seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru, kebiasaan belajar dan hubungan sosial dengan temmannya..

41 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 391.

42 Aunurrahman, Belajar dan pembelajaran,(Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 35

3) Ranah Psikomotorik

Berkenaan dengan hasil belajar kemampuan dan keterampilan bertindak.

Asda enam aspek psikomotorik, yaitu keterampilan, gerakan refleks, gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan ketrampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.43

Belajar menurut Clifford T. Morgan berpendapat bahwa “Learning may be defined as any relatively permanent change in behaviour which occurs as a of axperience or practice”,44 belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman.

Pada hakekatnya hasil belajar merupakan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikirdan bertindak yang mencakup aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan, sikap (afektif), Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru. Sedangkan menurut Nana Sudjana, hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yangdimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya.45

Berdasarkan uraian di atas, dapat diartikan hasil belajar yaitu kemampuan dalam mempelajari pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik setelah menerima suatu proses pengalaman dalam pembelajaran.

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kedua

43 Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1989), hlm. 22.

44 Clifford T. Morgan dan Richard A. King, Introduction to Psychology, (Tokyo: Grow Hill, 1971), hlm.

63.

45Nana Sudjana, Penilaian Hasil Belajar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 22.

faktor tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar.

1) Faktor internal

a) Faktor jasmani (fisiologi) misalnya pendengaran, penglihatan dan sebagainya.

b) Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh terdiri atas :

(1) Faktor intelektif meliputi bakat, kecerdasan dan prestasi yang dimiliki.

(2) Faktor non intelektif, yaitu kepribadian tertentu seperti kebiasaan, sikap, minat, emosi, dan penyesuaian diri.

c) Faktor kematangan fisik atau psikis.

2) Faktor eksternal

a) Faktor sosial yang terdiri dari, (1) lingkungan masyarakat; (2) lingkungan keluarga; (3) lingkungan sekolah; dan (4) lingkungan kelompok.

b) Faktor budaya seperti kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi dan adat istiadat.

c) Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas belajar, fasilitas rumah dan iklim.46

Persentase faktor hasil belajar tersebut dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik yang berbeda-beda, sehingga kemampuan peserta didik yang didapatkan berbeda pula. Dalam penelitian ini, faktor hasil belajar yang dilihat adalah dari faktor eksternal yaitu faktor lingkungan fisik yang berkaitan dengan fasilitas belajar. Oleh karena itu, penelitian ini

46 Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2004), hlm. 138

menggunakan model TGT dan kartu arisan, yang diharapkan agar dapat mempengaruhi proses pembelajaran menjadi lebih baik, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dengan baik.

7. Larutan Penyangga dan Peranannya a. Pengertian Larutan Penyangga

Larutan penyangga, larutan dapar, atau buffer adalah larutan yang digunakan untuk mempertahankan nilai pH tertentu agar tidak banyak berubah selama reaksi kimia berlangsung. Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah pH-nya hanya berubah sedikit dengan pemberian sedikit asam kuat atau basa kuat atau dengan kata lain Larutan penyangga adalah satu zat yang menahan perubahan pH ketika sejumlah kecil asam atau basa ditambahkan kedalamnya.

b. Jenis dan Sifat-Sifat Larutan Penyangga

a) Asam Lemah Dengan Basa Konjugasinya (Buffer Asam)

Misalnya, ke dalam campuran larutan CH3COOH dan CH3COO- ditambahkan sedikit asamatau basa, yang terjadi adalah sebagai berikut.

(1) Jika ditambahkan asam maka ion H+ dari asam akan bereaksi dengan ion CH3COO- membentuk CH3COOH menurut reaksi:

CH3COO-(aq) + H+(aq) CH3COOH(aq)

Sehingga harga pH tetap.

(2) Jika ditambahkan basa, ion OH- akan dinetralkan oleh CH3COOH menurut reaksi:

CH3COOH(aq)+ OH-(aq) CH3COO-(aq) + H2O(l)

Sehingga harga pH tetap.

b) Basa Lemah Dengan Asam Konjugasinya (Buffer Basa)

Misalnya, kedalam campuran larutan NH3 dan NH4+ ditambahkan sedikit asam atau basa. Hal yang terjadi adalah sebagai berikut.

Jika ditambahkan asam ion H+ akan dinetralkan oleh NH3, menurut reaksi:

NH3(aq) + H+(aq) NH4+

Sehingga harga pH tetap

(1) Jika yang ditambahkan basa maka ion OH- akan bereaksi dengan ion NH4+

sebagai berikut.

NH4++ OH-(aq) NH3(aq) + H2O(l)

c. Prinsip Kerja Larutan Penyangga

Larutan penyangga berperan untuk mempertahankan pH pada kisarannya.

Jika ke dalam air murni dan larutan penyangga CH3COOH/CH3COO– ditambahkan sedikit basa kuat NaOH 0,01 M pada masing-masing larutan, maka pada larutan penyangga hanya naik sedikit dari 4,74 menjadi 4,82. Larutan penyangga CH3COOH/CH3COO mengandung asam lemah CH3COOH dan basa konjugasi CH3COO. Jika ditambah NaOH, maka ion OH hasil ionisasi NaOH akan dinetralisir oleh asam lemah CH3COOH. Akibatnya, pH dapat dipertahankan. Jika basa kuat NaOH diganti dengan asam kuat HCl maka Ion H+ hasil ionisasi HCl akan dinetralisir oleh basa konjugasi CH3COO, sehingga pH dapat dipertahankan.

Gambar 2.2 Perbandingan Larutan Non-Penyangga dan Larutan Penyangga Saat Ditambahkan NaOH

Jika ke dalam larutan penyangga CH3COOH/CH3COOditambah asam kuat atau basa kuat terlalu banyak maka asam CH3COOH akan habis bereaksi.

Akibatnya larutan penyanggatidak dapat mempertahankan pH. Jadi, larutan penyangga mempunyai keterbatasan dalam menetralisir asam atau basa yang ditambahkan.

d. Perhitungan pH Larutan Penyangga 1) Larutan penyangga asam

Dapat digunakan tetapan ionisasi dalam menentukan konsentrasi ion H+ dalam suatu larutan dengan rumus berikut:

[H+] = K x

v l x g atau pH = p Ka - log

dengan, Ka = tetapan ionisasi asam lemah a = jumlah mol asam lemah g = jumlah mol basa konjugasi 2) Larutan penyangga basa

Dapat digunakan tetapan ionisasi dalam menentukan konsentrasi ion H+ dalam suatu larutan dengan rumus berikut:

[H+] = K x

v l x g atau pH = p Kb - log

dengan, Kb = tetapan ionisasi basa lemah b = jumlah mol basa lemah g = jumlah mol asam konjugasi

e. Pengaruh Penambahan Asam atau Basa serta Pengenceran terhadap pH Larutan Penyangga

pH suatu larutan penyangga ditentukan oleh komponen-komponennya.

Komponen-komponen itu dalam perhitungan membentuk perbandingan tertentu.

Jika campuran tersebut diencerkan, maka harga perbandingan komponen- komponennya tidak berubah sehingga pH larutan juga tidak berubah. Secara teoritis, berapapun tingkat pengenceran tidak akan merubah pH. Akan tetapi dalam praktiknya, jika dilakukan pengenceran yang berlebihan, maka pH larutan penyangga akan berubah.

V1M1=V2M2

Keterangan:

V1 : Volume sebelum pengenceran M1 : Molaritas sebelum pengenceran V2 : Volume sesudah pengenceran M2 : Molaritas sesudah pengenceran f. Peranan Larutan Penyangga

Adanya larutan penyangga ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari seperti pada obat-obatan, fotografi, industri kulit dan zat warna. Selain aplikasi tersebut, terdapat fungsi penerapan konsep larutan penyangga ini dalam tubuh manusia seperti pada cairan tubuh. Cairan tubuh ini bisa dalam cairan intrasel maupun cairan ekstrasel. Dimana sistem penyangga utama dalam cairan intraselnya seperti H2PO4- dan HPO42- yang dapat bereaksi dengan suatu asam dan basa. Adapun sistem penyangga tersebut, dapat menjaga pH darah yang hampir konstan yaitu sekitar 7,4. Selain itu penerapan larutan penyangga ini dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari seperti pada obat tetes mata. Pada

Dokumen terkait