MENULIS ARTIKEL SEMINAR DAN JURNAL
G. Model Pengembangan Modul
Dalam teori pengembangan pembelajaran, ada banyak
136- Keterampilan Menulis Akademik: Panduan bagi Mahasiswa di Perguruan Tinggi model pengembangan bahan ajar/modul yang dapat dijadikan acuan. Salah satunya adalah model pengembangan yang dikemukakan oleh Jolly dan Bolitho (dalam Tomlinson, 1998:98).
Dalam teori ini ada langkah-langkah yang harus dilalui dalam mengembangkan bahan ajar, yaitu: (1) identifikasi kebutuhan, (2) eksplorasi kebutuhan materi, (3) realisasi kontekstual bahan ajar, (4) realisasi pedagogik, (5) produksi bahan ajar, (6) penggunaan keefektifan materi ajar melalui penggunaan bahan ajar oleh peserta didik, dan (7) evaluasi bahan ajar
Model pengembangan modul yang lain juga dijabarkan oleh Dick, Carey, dan Carey. Menurut mereka ada beberapa langkah dalam model ini, yaitu:
1. mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran 2. melaksanakan analisis pembelajaran
3. mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa 4. merumuskan tujuan pembelajaran
5. mengembangkan instrumen penilaian 6. mengembangkan strategi pembelajaran 7. mengembangkan materi pembelajaran
8. merancang dan melaksanakan evaluasi formatif 9. merevisi materi pembelajaran
10. mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif (2015:6—7).
Dengan melihat kedua model tersebut, kita dapat mengombinasikan menjadi model yang baru. Kombinasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh bahan ajar (modul) yang dihasilkan dari langkah-langkah yang lebih lengkap. Dari pemaparan itulah dapat dibuat beberapa langkah dalam menyusun bahan ajar, yaitu:
1. Identifikasi kebutuhan bahan ajar. Langkah ini diawali dengan melakukan identifikasi kebutuhan. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan penggunaan angket yang diajukan kepada para dosen dan mahasiswa. Analisis ini digunakan untuk mengetahui apakah produk yang akan dikembangkan merupakan hal yang penting dalam suatu proses pembelajaran.
Identifikasi kebutuhan ini berkaitan dengan kendala-kendala yang dihadapi dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran mata pembelajaran sastra, kesulitan-kesulitan mereka dalam menggunakan bahan ajar yang sudah ada, dan harapan- harapan dosen dan mahasiswa terhadap bahan ajar yang akan dikembangkan. Analisis kebutuhan ini dapat diketahui melalui angket dan wawancara.
2. Mendesain modul. Setelah melakukan identifikasi kebutuhan, langkah berikutnya adalah merancang dan mendesain modul
Keterampilan Menulis Akademik: Panduan bagi Mahasiswa di Perguruan Tinggi- 137 yang disesuaikan dengan analisis kebutuhan mahasiswa. Pada tahap ini, peneliti merumuskan tujuan khusus yang ingin dicapai dan dikembangkan dalam suatu produk. Tahapan ini juga mencakup proses mendesain silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang lengkap dengan perangkat pembelajarannya. Hal-hal lain yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan contoh-contoh, merancang pola urutan berpikir yang runtut, bahasa yang mudah dipahami, dan melibatkan pengalaman belajar mahasiswa agar modul yang dikembangkan lebih bermanfaat bagi mahasiswa.
3. Produksi modul. Pada tahap ini, peneliti memproduksi modul yang masih berupa prototipe awal. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam langkah ini termasuk menentukan desain produk bahan ajar serta menyiapkan sarana dan prasarana untuk uji coba dan validasi.
4. Validasi ahli (Expert Judgesment). Proses validasi ini bertujuan untuk mengetahui apakah modul yang disusun sudah memenuhi kriteria yang diharapkan. Di samping itu juga proses validasi diharapkan mampu mendapatkan masukan atau input-input tentang kualitas bahan ajar tersebut. Tahap ini dilakukan sebelum bahan ajar hasil pengembangan ini digunakan oleh mahasiswa. Uji validasi tersebut mencakup ahli dalam bidang kegrafikaan, ahli pembelajaran, ahli bahasa, dan ahli penyajian.
Khusus untuk bidang kegrafikaan, bahan ajar yang diperuntukkan bagi mahasiswa memang tidak terlalu membutuhkan poin ini. Bidang ini dapat dikategorikan sebagai penunjang/pendukung modul agar terlihat menarik secara tampilan fisik.
5. Revisi bahan ajar. Revisi bahan ajar dilakukan setelah mendapatkan beberapa masukan dari para ahli. Pada tahap ini, kita merevisi materi bahan ajar pengembangan berdasarkan informasi, saran, dan masukan dari para ahli. Revisi mencakup isi bahan ajar, kebahasaan, penyajian, dan kegrafikaan (jika dianggap perlu).
6. Uji coba bahan ajar. Tahap ini merupakan uji coba terhadap sekelompok mahasiswa atau uji coba lapangan terbatas (field trial). Uji coba ini digunakan dengan tujuan untuk memperoleh informasi tentang efek potensial modul yang dikembangkan.
Secara sederhana, penjabaran langkah-langkah pengembangan modul di atas dapat dilihat dari bagan berikut.
138- Keterampilan Menulis Akademik: Panduan bagi Mahasiswa di Perguruan Tinggi H. Simpulan
Dalam proses pembelajaran, ada banyak elemen yang harus dipenuhi dengan baik agar tujuan pembelajaran tercapai. Salah satu elemen tersebut adalah tersedia bahan ajar yang memadai.
Kategori memadai tersebut tidak hanya pada faktor ketersediaan saja tetapi juga ada faktor lain yang perlu diperhatikan. Faktor- faktor tersebut antara lain: (1) bahan ajar disusun berdasarkan analisis kebutuhan, (2) bahan ajar memudahkan siswa dalam mempelajari materi (bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, (3) menumbuhkan dan membangkitkan minat belajar siswa dan lain sebagainya.
Beberapa teori dari para ahli disodorkan dalam menyusun bahan ajar, baik modul, lembar kerja siswa, buku teks, dan lain- lainnya. Salah satunya adalah teori yang dikembangkan oleh Dick, Carey, dan Carey yang menyusun teorinya menjadi 9 langkah.
Langkah-langkah teori ini adalah: (1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, (2) analisis pembelajaran, (3) mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa, (4) merumuskan tujuan pembelajaran, (5) mengembangkan instrumen penilaian, (6) mengembangkan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan materi pembelajaran, (8) merancang dan melaksanakan evaluasi formatif, (9) merevisi materi pembelajaran, (10) mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif. Teori lain juga dikembangkan oleh Jolly dan Bolitho yang dijabarkan dalam 7 langkah. Ketujuh langkah tersebut mencakup:(1) identifikasi kebutuhan, (2) eksplorasi kebutuhan materi, (3) realisasi kontekstual bahan ajar, (4) realisasi pedagogik, (5) produksi bahan ajar, (6) penggunaan keefektifan materi ajar melalui penggunaan bahan ajar oleh peserta didik, dan (7) evaluasi bahan ajar.
Dalam menghasilkan produk berupa modul yang lebih baik maka diperlukan langkah mengombinasikan beberapa teori dan tidak hanya sekadar mengadopsi. Teori Dick, Carey, dan Carey dan
Identifikasi
kebutuhan Desain
modul
Produksi modul
Validasi ahli Revisi
Modul Uji coba
Modul
Keterampilan Menulis Akademik: Panduan bagi Mahasiswa di Perguruan Tinggi- 139 teori Jolly dan Bolitho dapat dikombinasikan menjadi teori yang lebih baik. Artinya kedua teori tersebut sama-sama dipadukan untuk saling melengkapi. Kedua teori tersebut akhirnya memunculkan langkah-langkah berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) desain modul, (3) produksi modul, (4) validasi ahli, (5) revisi modul, dan (6) uji coba modul.
Daftar Pustaka
Atmazaki. 2005. “Pembelajaran Kemampuan Bersastra: Motivasi, Inisiatif, Kreativitas, dan Refleksi” dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XVI HISKI. Palembang 18—21 Agustus 2005.
Depdiknas. 2008. Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta:
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas.
Dick, Carey, dan O. Carey. 2005. The Systematic Design of Instruction. Boston: Pearson.
Jabrohim dan Ari Wulandari ed. 1994. Metode Penelitian Sastra.
Jakarta: Hanindita Rosadakarya
Kosasih, E. 2012. Dasar-dasar Keterampilan Bersastra. Bandung:
Yrama Widya
Lestari, Ika. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi.
Padang: Akademia.
Nurhayati. 2012. Silabus: Teori dan Aplikasi Pengembangannya.
Yogyakarta: Leutika Prio.
Pradotokusumo, Partini Sardjono. 2005. Pengkajian Sastra. Jakarta:
Gramedia
Prastowo, Andi. 2010. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif.
Yogyakarta: Diva Pers.
Purwanto. 2007. Pengembangan Modul. Jakarta: Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (PUSTEKKOM).
Semi, M. Atar. 1990. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa Setiawan, D. 2007. Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Tomlinson, Brian (Ed). 1998. Materials Development in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.