• Tidak ada hasil yang ditemukan

Non Obyek PPh Pasal 22

Dalam dokumen Tinjauan Umum dan Implementasi (Halaman 70-74)

C. Penghitungan PPh Pasal 21 Atas Bonus

4. Penghitungan PPh Pasal 21 Untuk Selain Pegawai

5.2 Non Obyek PPh Pasal 22

5.1.7 Badan Selaku Penjual Barang Yang Tergolong Sangat Mewah

Pengenaan pajaknya ditentukan sebagai berikut:

Pemungut Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah. yaitu:

a. Pesawat udara pribadi dengan harga jual lebih dari Rp 20.000.000.000

b. Kapal pesiar dan sejenisnya dengan harga jual lebih dari Rp 10.000.000.000

c. Rumah beserta tanahnya dengan harga jual atau harga pengalihannya lebih dari Rp10.000.000.000 dan luas bangunan lebih dari 500m2;

d. Apartemen. kondominium. dan sejenisnya dengan harga jual atau pengalihannya lebih dari Rp10.000.000.000 dan/atau luas bangunan lebih dari 400m2;

e. Kendaraan bermotor roda empat pengangkutan orang kurang dari 10 orang berupa sedan. jeep. spart utility vehicle (suv). multi purpose vehicle (mpv). minibus dan sejenisnya dengan harga jual lebih dari Rp5.000.000.000 dan dengan kapasitas silinder lebih dari 3.000 cc

Objek Pajak Penjualan barang-barang yang tergolong sangat mewah oleh badan

Tarif PPh Pasal 22 = 5% x Harga Jual (excl. PPN dan PPnBM)

Sifat Tidak Final

Saat terutang Saat penjualan

Saat penyetoran Disetor paling lambat tanggal 10 bulan takwim berikutnya Saat pelaporan Dilaporkan paling lambat 20 hari setelah masa pajak berakhir

Contoh:

PT Mobil Wow melakukan penjualan sebuah mobil merek BMWow seri terbaru senilai Rp 6 milyar (tidak termasuk PPM dan PPnBM).

PPh Pasal 22 yang harus dipungut

= 5% x Rp6.000.000.000

= Rp 300.000.000

PPh Pasal 22 ini harus dipungut oleh PT Mobil Wow pada saat penjualan mobil tersebut.

2. Impor barang yang dibebaskan dari pungutan BM dan atau PPN seperti;

a. Barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal balik dan cukai;

b. Barang untuk keperluan badan internasional yang diakui dan terdaftar pada Pemerintah Indonesia beserta pejabatnya yang bertugas di Indonesia dan tidak memegang paspor Indonesia;

c. Barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial, atau kebudayaan;

d. barang untuk keperluan museum, kebun binatang, dan tempat lain semacam itu yang terbuka untuk umum;

e. barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

f. barang untuk keperluan khusus kaum tuna netra dan penyandang cacat lainnya;

g. peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah;

h. barang pindahan;

i. barang pribadi penumpang awak sarana pengangkut, pelintas batas, dan barang kiriman sampai batas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan perudang-undangan Pabean;

j. barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang ditujukan untuk kepentingan umum;

k. persenjataan, amunisi, dan perlengkapan mititer, termasuk suku cadang yang diperuntukan bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara;

l. barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan barang bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara;

m. Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan Imunisasi Nasional (PIN);

n. buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama;

o. kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau, dan kapal angkutan penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat keselamatan manusia yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan pengkapan ikan nasional;

p. pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaanyang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional;

q. kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan

atau pemeliharaanserta prasarana yang diimpor dan digunakan;

dilaksanakan oleh Direktora t Jenderal Bea (DJBC) sesuai dengan

ketentuan g berlaku yan

r. peralatan yang digunakan untuk penyediaan data batas dan photo udara wilayah Negara Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh Tentara nasional Indonesia;

s. Barang untuk kegiatan hulu minyak dan gas bumi yang importasinya dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama;

Impor sementara jika pada waktu impornya nyata nyata dimaksudkan untuk diekspor kembali;

Impor kembali ( re-impor). yang meliputi barang-barang yang telah diekspor kemudian diimpor kembali dalam kualitas yang sama atau barang-barang yang telah diekspor untuk keperluan perbaikan.

pengerjaan dan pengujian. yang telah memenuhi syarat yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai;

Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp 2.000.000 (Dua Juta Rupiah) dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-

pecah Oleh Bendaharawan Pemerintah; Tanpa SKB

PPh Pasal

Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp 10.000.000 22 (Sepuluh Juta Rupiah) dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah- pecah oleh Pemungut BUMN;

Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak. listrik. gas.

air minum/PDAM dan benda-benda pos; Pemungut Bendaharawan Pemerintah, Kuasa Pengguna Anggaran dan BUMN

Emas batangan yang akan diproses untuk menghasilkan barang perhiasan dari emas untuk tujuan ekspor;

Pembayaran / pencairan dana jaring pengaman sosial (JPS) oleh kantor perbendaharaan dan kas negara;

Pembayaran untuk pembelian barang sehubungan dengan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

STUDI KASUS S OAL 1

Bendahara Pengeluaran KPP Pratama Denpasar Timur selama bulan Juni 2015 melakukan transaksi sebagai berikut:

1. Membayar PAM AIR dari PDAM sebesar Rp 5.000.000.

2. Membayar tagihan pengadaan kertas dari PT ABG sebesar Rp 8.000.000.

3. Membayar tagihan pengadaan bolpen dari PT ACG sebesar Rp 950.000. Pertanyaan:

1. Apakah transaksi di atas terutang PPh Pasal 22? Jika terutang berapa?

2. Apakah perusahaan yang dipungut PPh Pasal 22 harus diberikan bukti pungutan?

3. Siapakah yang melakukan penyetoran PPh Pasal 22 atas transaksi di atas?

S OAL 2

PT Cahaya memasok komputer untuk Pemda Bali senilai Rp 220.000.000 (termasuk PPN), ongkos angkut dari gudang PT Cahaya sampai ke Kantor Pemda Rp 1.500.000, biaya administrasi lainnya Rp 5.000.000.

Berapa PPh Pasal 22 yang dipotong oleh Bendaharawan Pemda Bali tersebut.

S OAL 3

PT "DUNIA LAIN" ingin mengimpor barang dari Thailand, tetapi karena tidak mempunyai API maka meminta bantuan importir "DUNIAKU" yang sudah mempunyai API untuk mengimpor barang tersebut. Sesuai dokumen impor nilai pembeliannya US$ 15.000, Kurs Tengah BI Rp 8.600, Kurs Menteri Keuangan Rp 8.700, Kurs Bank Mandiri cabang Tanjung Priok adalah Rp 8.750, tarif Bea Masuk adalah sebesar 20% dan PPN Impor 10% serta PPn BM 10%. Atas jasa impor ini importir

"DUNIAKU" mendapatkan komisi sebesar Rp 10.000.000. Bagaimana aspek perpajakan atas kasus di atas dan hitung berapa PPh yang harus dipotong/dipungut?

6

PPh PASAL 23

PPh Pasal 23 biasanya terkait dengan passive income yang diterima oleh subjek pajak dalam negeri. misalnya dividen, bunga, royalti, dan hadiah. Dalam perkembangannya PPh Pasal 23 juga dikenakan atas active income yang diterima oleh subjek pajak dalam negeri juga. khususnya Wajib Pajak Badan.

Dalam dokumen Tinjauan Umum dan Implementasi (Halaman 70-74)