C. Penghitungan PPh Pasal 21 Atas Bonus
4. Penghitungan PPh Pasal 21 Untuk Selain Pegawai
5.1 Obyek Pajak dan Pemungut Pajak PMK-224/PMK
011/2012
. PMK- Jo
175/PMK.01/201 3
Di dalam Pasal 22 UU PPh, diatur bahwa Menteri Keuangan
dapat menetapkan bendaharawan pemerintah untuk memungut pajak sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang. dan badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari Wajib Pajak yang melakukan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang
lain.
5.1.1 BENDAHARA PEMERINTAH
Pengenaan pajaknya ditentukan sebagai berikut:
Objek Pajak Pembelian barang di atas Rp 2.000.000 dalam jumlah yang tidak terpecah-pecah
Tarif PPh Pasal 22 = 1.5% x Nilai Pembelian (excl. PPN)
Sifat Tidak Final
Saat terutang Saat pembayaran
Saat penyetoran Disetor dalam hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran
Saat pelaporan Dilaporkan paling lambat 14 hari setelah masa pajak berakhir
Contoh :
Departemen Agama membeli 10 buah AC dari PT Jaya Negeriku dengan harga per unit Rp 3.300.000 (termasuk PPN).
PPh Pasal 22 yang harus dipungut
= 1.5% x (10 x 100/110 x Rp 3.300.000)
= 1.5% x Rp 30.000.000
= Rp 450.000
PPh Pasal 22 ini dipungut oleh Bendaharawan Departemen Agama dan SSP disetor oleh Bendahara atas nama dan NPWP rekanan.
5.1.2 BUMN
Badan Usaha Milik Negara yaitu badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan, yang meliputi:
1. PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Hutama Karya (Persero), PT Krakatau Steel (Persero); dan
2. Bank-bank Badan Usaha Milik Negara, berkenaan dengan pembayaran atas pembelian barang dan/atau bahan-bahan untuk keperluan kegiatan usahanya.
Pengenaan pajaknya ditentukan sebagai berikut:
Objek Pajak Pembelian barang di atas Rp 10. 000.000 dalam jumlah yang tidak terpecah-pecah
Tarif PPh Pasal 22 = 1.5% x Nilai Pembelian (excl. PPN)
Sifat Tidak Final
Saat terutang Saat pembayaran
Saat penyetoran Disetor dalam hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran
Saat pelaporan Dilaporkan paling lambat 14 hari setelah masa pajak berakhir
Contoh :
PLN membeli 10 buah Mesin dari PT Jaya dengan harga per unit Rp 33.000.000 (termasuk PPN).
PPh Pasal 22 yang harus dipungut
= 1.5% x (10 x 100/110 x Rp 33.000.000)
= 1.5% x Rp 300.000.000
= Rp 4.500.000
PPh Pasal 22 ini dipungut oleh PLN dan SSP disetor oleh PLN atas nama dan NPWP rekanan.
5.1.3 Bank Devisa dan Ditjen Bea Cukai Pengenaan pajaknya ditentukan sebagai berikut :
Objek Pajak Impor Barang
Tarif 1. Importir dengan API = 2.5% x nilai impor
2. Importir non API = 7.5% x nilai impor
3. Barang tidak dikuasai = 7.5%xnilailelang
4. Kedelei,terigu,gandum = 0.5%xnilai impor
5. Barang-Barang tertentu = 7.5%x nilai impor API (Angka Pengenal Impor)
Nilai Impor adalah CIF (Cost, Insurance, Freight)
Sifat Tidak Final
Saat terutang Saat pembayaran Bea Masuk
Penyelesaian dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB)
Saat penyetoran Disetor dalam jangka waktu sehari sejak pemungutan dilakukan
Saat pelaporan Dilaporkan secara mingguan paling lambat 7 hail setelah batas waktu penyetoran pajak berakhir Contoh:
PT Importa mengimpor mesin industri dengan nilai CIF US$ 10.000 , Bea masuk 25%, PPN 10% dan PPnBM 25%. Diketahui kurs tengah BI Rp 9.000 dan kurs KMK Rp 9.200 per dolar, PT Importa juga sudah mempunyai API.
PPh Pasal 22 yang harus dipungut
CIF = $ 10.000 Bea Masuk = $ 2.500 Nilai lmpor = S 12.500
= Rp 9.200 x $ 12.500
= Rp 118.750.000
PPh Pasal 22 = 2.5% x Rp 118.750.000
= Rp 2.968.750
PPh Pasal 22 ini disetor sendiri oleh PT Importa ke Bank Devisa atau dipungut oleh Dirjen Bea Cukai pada saat pelunasan Bea Masuk.
5.1.4 Pertamina dan Badan Usaha Lain Di Bidang Migas Pengenaan pajaknya ditentukan sebagai berikut:
Objek Pajak Penjualan hasil produksinya di dalam negeri
Tarif SPBU
Swastanisas i
SPBU Pertamin (persentase dari Bahan Bakar Minyak 0.3% a 0.25%
penjualan) 0.3% 0.25%
- Bahan Bakar Gas 0.3% 0.25%
0.3% 0.3 %
0.3% 0.3 %
- Pelumas 0.3% 0.3 %
Sifat Final untuk penyalur/agen
Tidak Final untuk selain penyalur/agen
Saat terutang Saat penerbitan Surat Perintah Pengeluaran Barang (Delivery Order)
Saat penyetoran Disetor sendiri oleh WP sebelum penebusan Delivery Order
Saat pelaporan Dilaporkan paling lambat 20 hari setelah masa pajak berakhir
Contoh:
PT Sakti, pemilik SPBU swasta, membeli solar ke PERTAMINA dengan nilai sebesar Rp 100.000.000.
PPh Pasal 22 yang harus dipungut
= 0.3% x Rp 100.000.000
= Rp 300.000
5.1.5 Badan Usaha Tertentu
Pengenaan pajaknya ditentukan sebagai berikut :
Badan Usaha
• industri semen.
• industri kertas.
• industri baja.
• industri o to motif , yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak
Objek Pajak Penjualan hasil produksinya di dalam negeri
Tarif
• industri semen 0.25% x DPP PPN Tidak Final
• industri kertas 0.10% x DPP PPN Tidak Final
• industri baja 0.30% x DPP PPN Tidak Final
• industri otomotif 0.45% x DPP PPN Tidak Final Saat terutang Saat penjualan
Saat penyetoran Disetor paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya Saat pelaporan Dilaporkan paling lambat 20 hari setelah masa pajak
berakhir Contoh:
PT Mulia Sejahtera membeli baja senilai Rp 50.000.000 (tidak termasuk PPN) ke PT Krakatau Steel (Persero).
PPh Pasal 22 yang harus dipungut
= 0.3% x Rp 50.000.000
= Rp 150.000
PT Krakatau Steel harus memungut PPh Pasal 22 ini pada saat penjualan.
5.1.6 Industri / Eksportir Di Bidang Perhutanan, Perkebunan, Pertanian dan Perikanan
Pengenaan pajaknya ditentukan sebagai berikut :
Pemungut •Industri/ Eksportir bidang Perhutanan
•Industri/ Eksportir bidang Perkebunan
•Industri/ Eksportir bidang Pertanian
Industri/ Eksportir bidang Perikanan yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak
Objek Pajak Pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor dari pedagang pengumpul
Tarif PPh Pasal 22 = 0.25% x Nilai Pembelian (excl. PPN)
Sifat Tidak Final
Saat terutang Saat pembelian
Saat penyetoran Disetor paling lambat tanggal 10 bulan takwim berikutnya Saat pelaporan Dilaporkan paling lambat 20 hari setelah masa pajak berakhir Contoh:
PT Jaya Sejahtera. industri plywood. membeli kayu dari pedagang pengumpul senilai Rp 80.000.000 (tidak termasuk PPN).
PPh Pasal 22 yang harus dipungut
= 0.25% x Rp 80.000.000
= Rp 200.000
PPh Pasal 22 ini harus dipungut oleh PT Jaya Sejahtera pada saat pembelian kayu dari pedagang pengumpul.
5.1.7 Badan Selaku Penjual Barang Yang Tergolong Sangat Mewah
Pengenaan pajaknya ditentukan sebagai berikut:
Pemungut Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah. yaitu:
a. Pesawat udara pribadi dengan harga jual lebih dari Rp 20.000.000.000
b. Kapal pesiar dan sejenisnya dengan harga jual lebih dari Rp 10.000.000.000
c. Rumah beserta tanahnya dengan harga jual atau harga pengalihannya lebih dari Rp10.000.000.000 dan luas bangunan lebih dari 500m2;
d. Apartemen. kondominium. dan sejenisnya dengan harga jual atau pengalihannya lebih dari Rp10.000.000.000 dan/atau luas bangunan lebih dari 400m2;
e. Kendaraan bermotor roda empat pengangkutan orang kurang dari 10 orang berupa sedan. jeep. spart utility vehicle (suv). multi purpose vehicle (mpv). minibus dan sejenisnya dengan harga jual lebih dari Rp5.000.000.000 dan dengan kapasitas silinder lebih dari 3.000 cc
Objek Pajak Penjualan barang-barang yang tergolong sangat mewah oleh badan
Tarif PPh Pasal 22 = 5% x Harga Jual (excl. PPN dan PPnBM)
Sifat Tidak Final
Saat terutang Saat penjualan
Saat penyetoran Disetor paling lambat tanggal 10 bulan takwim berikutnya Saat pelaporan Dilaporkan paling lambat 20 hari setelah masa pajak berakhir
Contoh:
PT Mobil Wow melakukan penjualan sebuah mobil merek BMWow seri terbaru senilai Rp 6 milyar (tidak termasuk PPM dan PPnBM).
PPh Pasal 22 yang harus dipungut
= 5% x Rp6.000.000.000
= Rp 300.000.000
PPh Pasal 22 ini harus dipungut oleh PT Mobil Wow pada saat penjualan mobil tersebut.