• Tidak ada hasil yang ditemukan

Obat dan alat kedaruratan yang harus disediakan pada layanan imunisasi

Dalam dokumen Kejang Demam (Halaman 134-138)

Selain rutin menyediakan stetoskop, pengukur tekanan darah dan senter, sediakan juga 2 ampul adrenalin 1: 1000, minimal 4 spuit sekali pakai 1 ml dengan panjang jarum berbeda (untuk bayi, balita, anak usia sekolah dan

Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak lXVIII

remaja) dan alkohol swab. Periksa tanggal kadaluarsa secara periodik. Lebih baik dilengkapi penahan lidah, pipa oro-faring, oksigen dalam tabung, selang dan masker ukuran bayi, anak dan remaja untuk pemberian oksigen, disertai set infus dan cairan infus 10-14

Simpulan

y Semua vaksin kecuali BCG dan OPV dilaporkan dapat menyebabkan terjadinya kedaruratan, berupa reaksi anafilaksis yang berbahaya tetapi sangat jarang terjadi. Kedarutan lain berupa reaksi vasovagal (pingsan, sinkop), hipotonus –hiporesponsif, reaksi panik dan serangan menahan nafas (breath holding spell)

y Sebelum melakukan imunisasi perlu anamnesis riwayat KIPI sebelumnya.

Keluarga pasien harus diberitahu pentingnya dan manfaat imunisasi serta kemungkinan terjadinya KIPI walaupun sangat jarang terjadi.

y Vaksin yang pernah menimbulkan reaksi anafilaksis sebaiknya tidak diberikan lagi pada pasien tersebut. Bila harus diberikan, imunisasi dilakukan di rumah sakit dengan sarana penanggulangan gawat darurat yang memadai.

y Di tempat layanan imunisasi harus ada obat dan alat untuk menangani kedaruratan. Dokter, perawat atau bidan yang melakukan imunisasi harus mengenali tanda awal kedaruratan dan mampu memberikan pertolongan segera mengatasi kedaruratan tersebut.

y Penanganan kedaruratan anafilaksis pada imunisasi sama dengan anafilaksis pada umumnya yaitu baringkan dengan posisi miring ke kiri bila tidak sadar atau terdapat muntah, perhatikan jalan napas kemudian suntikan adrenalin 1 : 1000 dosis 0,01 mL/kg berat badan i.m. di paha anterolateral, pemberian oksigen, evaluasi, berikan suntikan adrenalin ulang bila diperlukan, rujuk dan rawat ke rumah sakit.

y Penanganan reaksi vasovagal (pingsan, sinkop), hipotonik-hiporesponsif, serangan panik atau menahan nafas (breath holding spell) umumnya dengan suportif yaitu tenangkan keluarga, baringkan bayi atau anak posisi telentang, longgarkan pakaian dan asesoris yang dapat mengganggu pernafasan, aliran darah atau kenyamanan, suasana lingkungan yang nyaman. Pada reaksi vasovagal mengangkat kaki lebih tinggi akan mempercepat pemulihan.

y Catat dan laporkan kejadian kedaruratan ke Komda atau Komnas Pengkajian dan Penanggulangan KIPI.

Kedaruratan pada Tindakan Imunisasi

Daftar pustaka

1. Akib AP, Purwanti A. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Dalam : Ranuh IGN dkk, editor. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi 5. Satgas Imunisasi IDAI : Badan Penerbit IDAI ; 2014. hal. 211-38.

2. National Health and Medical Research Council. Australian immunisation handbook. Edisi 9. Canberra: NHMRC. 2008. Diunduh dari http://www.health.

gov.au/internet/immunise/ publishing.nsf/Content/Handbook-home. Diunduh pada 10 Maret 2015.

3. Office of the Chief Medical Officer of Health Communicable Disease Control Unit New Brunswick Canada. Adverse events following immunization: interpretation and clinical definitions guide. 2011. Diunduh dari http://www2.gnb.ca/content/

dam/gnb/Departments/h-s/pdf/en/CDC/HealthProfessionals/AEFIs interpretation and clinical definitions guide.pdf. Diunduh pada tanggal 18 Maret 2015.

4. Mahajan D, Cook J, McIntyre PB, Macartney K, Menzies RI. Annual report:

surveillance of adverse events following immunisation in Australia, 2010.

Communicable Diseases Intelligence. 2011;35:263-80.

5. Erlewyn-Lajeunesse M, Hunt L, Heath PT, Finn A. Anaphylaxis as an adverse event following immunisation in the UK and Ireland. Arch Dis Child.

2012;97:487-90.

6. Campbell RL, Hagan JB, Manivannan V et al. Evaluation of the National Institute of Allergy and Infectious Diseases/Food Allergy and Anaphylaxis Network criteria for the diagnosis of anaphylaxis in emergency department patients. J Allergy Clin Immunol. 2012;129:748-52.

7. National Health Service (NHS). Symptoms of anaphylaxis. 2011. Diunduh dari:

www.nhs.uk/Conditions/Anaphylaxis/Pages/Symptoms. aspx . Diunduh tanggal 15 Maret 2015.

8. Simons KJ, Simons FE. Epinephrine and its use in anaphylaxis: current issues.

Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2010;10:354-361.

9. Sheikh A, Shehata YA, Brown SG, Simons FE. Adrenaline (epinephrine) for the treatment of anaphylaxis with and without shock. Cochrane Database Systematic Rev. 2008;4:CD006312.

10. Simons FE, Arudusso LR, Bilo MB et al. World Allergy Organization Guidelines for the assessment and management of anaphylaxis. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2012;12:389-99.

11. Kim H, Fischer D. Anaphylaxis. Allergy Asthma Clin Immunol 2011;7:S6.

12. Simons FE. Anaphylaxis pathogenesis and treatment. Allergy. 2011;66:31-34.

13. Simons FE, Arudusso LR, Bilo MB et al. World Allergy Organization guidelines for the assessment and management of anaphylaxis. J Allergy Clin Immunol.

2011;127:593e1-22.

14. Waserman S, Chad Z, Francoeur, MJ et al. Management of anaphylaxis in primary care: Canadian expert consensus recommendations. Allergy 2010;65:1082-92.

15. Crawford NW, Clothier HJ, Elia S, Lazzaro T, Royle J, Buttery JP. Syncope and seixures following human papillomavirus vaccination: a retrospective case series.

Med J Aust. 2011: 194:16-8.

Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak lXVIII

16. Nakada H, Narimatsu H, Tsubokura M, Murashige N, Matsumura T, Kodama Y, dkk. Risk of fatal adverse events after H1N1 influenza vaccination. Clin Infect Dis. 2010;50:1548-9.

17. Pharmaceutical and Food Safety Bureau, Ministry of Health, Labour and Welfare Japan. Safety review results of pneumococcal conjugate vaccine and haemophilus influenzae type b (Hib) vaccine for paediatrics. 2011. Diunduh dari www.pmda.

go.jp/english/service/pdf/mhlw/ 20110615-2_reference.pdf. Diunduh pada tanggal 18 Maret 2015.

18. Bonhoeffer J, Gold MS, Heijbel H, Vermeer P, Blumberg D, Braun M, dkk.

Hypotonic-hyporesponsive Episode (HHE) as an adverse event following immunization: case definition and guidelines for data collection, analysis, and presentation. Vaccine. 2004;22: 563–8.

19. Gold R, Scheiffele D, Halperin S, Dery P, Law B, Lebel M. Hypotonic- Hyporesponsive eoisodes in children hospitalized at 10 Canadian pediatric tertiary-care centers, 1991–1994. Can Commun Dis Rep. 1997;23:73–6.

20. Goodwin H, Nash M, Gold M, Heath TC, Burgess MA. Vaccination of children following a previous hypotonic-hyporesponsive episode. J Paediatr Child Health.

1999;35:549–52.

21. Baraff LJ, Shields WD, Beckwith L, et al. Infants and children with convulsions and hypotonic-hyporesponsive episodes following diphtheria-tetanus-pertussis immunization: follow-up evaluation. Pediatrics. 1988;81:789-94.

Dalam dokumen Kejang Demam (Halaman 134-138)

Dokumen terkait