kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter/fiskal, dan agama, serta kewenangan bidang lain.
Kelima, kewenangan daerah tidak hanya di wilayah daratan, tetapi juga di wilayah lautan yang meliputi: (a) eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah 12 mil laut diukur dari garis pangkal kepulauan ke arah perairan kepulauan (kewenangan daerah kabupaten dan daerah kota di wilayah laut adalah sepertiga dari batas laut daerah provinsi; dengan demikian kewenangan daerah provinsi di wilayah laut hanya dua per tiga dari dua belas mil laut dimaksud; (b) pengaturan kepentingan administratif; (c) pengaturan tata ruang; (d) penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah; dan (e) bantuan penegakan dan kedaulatan negara.
Keenam, pelaksanaan otonomi daerah diharapkan dapat menumbuhkan demokrasi, meningkatkan prakarsa, kreativitas, dan peran serta masyarakat serta dapat menentukan keputusan sesuai dengan kepentingan daerahnya.
B. Otonomi Daerah dalam Aspek
Dalam upaya mengelola negara secara efisien dan efektif, maka wilayah/daerah negara Republik Indonesia dibagi ke dalam daerah provinsi, kabupaten dan kota sebagaimana termuat dalam BAB VI tentang Pemerintah Daerah, Pasal 18, Undang Undang Dasar 1945 (berdasar hasil Amandemen) sebagai berikut:
Ayat (1):
“Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah- daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan Undang-Undang”. (*) (Perubahan kedua disahkan 18 Agustus 2000)
Ayat (2):
“Pemerintah daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”. (*)
Ayat (5):
“Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat”. (*)
Ayat (6):
“Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan”. (*)
Ayat (7):
“Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam Undang-Undang”. (*)
Terkait dengan hal tersebut, selanjutnya pada Pasal 18 A diatur hal sebagai berikut:
Ayat (2) :
“Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumberdaya alam dan lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan Undang-Undang”. (*)
Sejalan dengan hal itu, selanjutnya pada Pasal 18 B diatur hal sebagai berikut:
Ayat (2):
“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-Undang”. (*)
Melengkapi hal tersebut, selanjutnya diatur pula dalam BAB IX A tentang Wilayah Negara, Pasal 25 A sebagai berikut:
“Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-Undang”.
(*): Perubahan kedua disahkan 18 Agustus 2000.
Penyerahan kekuasaan bukan saja dalam tataran horizontal, Cheema dan Rondenelli (1983) mengemukakan ada beberapa bentuk pelimpahan atau penyerahan otoritas yakni:
1. Dekonsentrasi; merupakan proses pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Pusat/Nasional kepada Pemerintah-pemerintah Daerah/Subnasional untuk menjalankan tanggungjawab manajerial dan administratif pada saat menerapkan tugas-tugas Pemerintah Pusat/Nasional.
2. Delegasi; merupakan bentuk desentralisasi yang muncul ketika lembaga-lembaga pemerintah yang semi otonom atau badan usaha milik negara diberi tanggungjawab untuk mengelola atau menjalankan fungsi pelayanan sektor publik.
3. Devolusi; merupakan penyerahan atau pemberian kewenangan dan tanggung jawab secara politis kepada Pemerintah Daerah/
Subnasional. Proses ini biasanya diikutioleh transfer fiskal sehingga Pemerintah Daerah/Subnasional tidak hanya memiliki otonomi administrasi dan politik semata tapi juga memiliki otonomi finansial.
4. Privatisasi; pemerintah sebagai pemegang otoritas layanan barang-barang publik mendivestasikan tanggungjawab mereka kepada aktor-aktor non-negara (institusi swasta atau ornop) untuk menjadi provider dalam proses delivery pelayanan publik.
Sesuai dengan rumusan dan tafsiran Undang-Undang yang mengatur otonomi daerah di Indonesia, maka dikenal beberapa asas yakni:
a. Asas desentralisasi;
b. Asas dekonsentrasi;
c. Asas tugas pembantuan (medebewind).
Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas- luasnya, dalam arti bahwa daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan didi luar yang menjadi urusan pemerintah yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini. Daerah memiliki kewenangan membentuk kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Terkait dengan prinsip dimaksud, dilaksanakan juga prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab. Nyata; berarti daerah telah memiliki potensi untuk merealisasikan isi dan jenis otonomi yang dilimpahkan sehingga isi dan jenis otonomi bagi tiap daerah tidak selalu sama dengan daerah lainnya.
Otonomi yang bertanggung jawab; mengandung makna otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus sejalan dengan tujuan serta maksud dari pemberi otonomi (Marbun, 2005:9).
Pembagian wilayah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, BAB II Pembagian Wilayah, Pasal 2 sebagai berikut:
“Dalam menyelenggarakan pemerintahan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah-Daerah Otonom dan Wilayah Adminsitratip”.
Selanjutnya pada BAB IV Wilayah Administratif – Bagian Pertama Pembentukan dan Pembagian, Pasal 72; disebutkan bahwa:
(1) Dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Wilayah-wilayah Provinsi dan Ibukota Negara.
(2) Wilayah Provinsi dibagi dalam Wilayah Kebupaten dan Kotamadya.
(3) Wilayah Kabupaten dan Kotamadya dibagi dalam Wilayah- wilayah Kecamatan.
(4) Apabila dipandang perlu sesuai pertumbuhan dan perkembangannya, dalam wilayah Kabupaten dapat dibentuk Kota Administratif yang pengaturannya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Sedangkan pada bagian lain yakni pada Pasal 74; disebutkan bahwa:
(1) Nama dan batas Daerah Tingkat I adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Provinsi atau Ibukota Negara.
(2) Nama dan batas Daerah Tingkat II adalah sama dengan nama dan batas Wilayah Kabupaten atau Kotamadya.
Penggalian potensi daerah merupakan suatu hal yang sangat penting guna menunjang pembangunan dan kemajuan daerah, karenanya potensi laut merupakan salah satu kekayaan potensial yang banyak dimiliki daerah di Indonesia yang tidak lain merupakan negara kepulauan, karenanya potensi laut perlu dikelola secara efektif agar dapat memberikan kemaslahatan kepada rakyatnya. Untuk itulah dalam Undang-Undang Otonomi Daerah memuat perangkat aturan yang digunakan sebagai pijakan guna mengelola wilayah dan sumberdaya laut secara bertanggung jawab.
Seiring dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat, maka diadakan perubahan ketentuan yang mengatur sistem pemerintahan di Indonesia terkait dengan pemerintahan daerah yang selanjutnya Kebijakan Otonomi Daerah di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 2001 setidaknya menunjukkan adanya hal-hal mendasar berupa perubahan yang dilakukan demikian besar. Perubahan substansial dimaksud yakni
penguatan masyarakat lokal dalam rangka peningkatan kapasitas demokrasi baik di tingkat lokal ataupun nasional, pengembalian martabat dan harga diri masyarakat daerah yang telah sekian lama dimarginalkan.
Kekuasaan yang demikian dengan segala atributnya kemudian harus dibagi dengan masyarakat di daerah, tentunya hal ini tidak mudah dan kekuasaan tersebut harus direlakan untuk dibagi-bagi, sementara hal mendasar dari desentralisasi dan otonomi daerah adalah “devolusi”
kekuasaan ke daerah. Mengingat kata kunci otonomi daerah adalah kewenangan, karena dengan kewenangan maka daerah akan menjadi kreatif untuk menciptakan kelebihan dan insentif aktivitas ekonomi dalam pembangunan daerah. Berlakunya Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 serta Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 dinyatakan tidak berlaku lagi.
Dalam UU Nomor 22 Tahun 1999 di antaranya mengatur aspek kewilayahan, bahwa kewenangan daerah tidak hanya di wilayah daratan, namun juga di wilayah lautan, sebagaimana diatur dalam BAB II Pembagian Daerah, Pasal 3 yakni:
“Wilayah Daerah Provinsi, sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1), terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepaulauan” (1999:5)
Sedangkan dalam BAB IV Kewenangan Daerah pada Pasal 10 diatur:
(1) Daerah berwenang mengelola sumberdaya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
(2) Kewenangan daerah di wilayah laut, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, meliputi:
a. eksplorasi, eksploitasi, koservasi dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut 12 mil laut diukur dari garis pangkal kepulauan ke arah perairan kepulauan (kewenangan daerah Kabupaten dan daerah Kota di wilayah laut adalah
sepertiga dari batas laut daerah provinsi; dengan demikian, kewenangan daerah provinsi di wilayah laut hanya dua per tiga dari dua belas mil laut dimaksud);
b. pengaturan kepentingan administratif;
c. pengaturan tata ruang;
d. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah;
e. dan bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara (1999:7-8).
Sejalan dengan hal tersebut, terdapat juga beberapa aspek penting yang mendukung pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999, Undang-Undang ini mengatur perimbangan keuangan antara Pemerintah pusat dan daerah dengan tujuan guna memberdayakan dan meningkatkan kemampuan perekonomian daerah, menciptakan sistem pembiayaan daerah yang adil, proporsional, rasional, transparan, partisipatif, bertanggung jawab serta mewujudkan sistem perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang mencerminkan pembagian tugas kewenangan dan tanggungjawab yang jelas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Pada tahun kelima implementasi Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999, tepatnya tahun 2004 berbagai pertimbangan atas dampak pelaksanaan undang undang tersebut kemudian diadakan revisi sehingga diterbitkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, setidaknya untuk menyelaraskan dengan hasil amandemen Undang-Undang Dasar 1945 pasal 1, 5, 18 (butir a dan b), 20, 21, 22 (butir d), 23 (butir e ayat 2), 24 (ayat 1, 31 (ayat 1), 33 dan 34 serta sesuai amanat UUD 1945 (hasil amandemen) bahwa pemerintah daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Untuk itu daerah diharapkan meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi,
pemerataan dan keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 terdiri dari 26 bab, dan 240 pasal dibandingkan dengan Undang-Undang sebelumnya, maka undang undang ini jauh lebih lengkap.
Mencermati otonomi daerah dalam konteks Undang-Undang tentang pemerintahan daerah di atas, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang cukup mendasar, dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 lebih mengarahkan otonomi daerah guna melancarkan pelaksanaan pembangunan dan kestabilan politik, sedangkan otonomi dalam Undang- Undang Nomor 22 tahun 1999 lebih menekankan pada prinsip demokrasi, peranserta masyarakat dan keadilan serta memperhatikan potensi dan keragaman daerah.
Dalam hubungannya dengan aspek kewilayahan, Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dituangkan pada Bab I Pasal 2 ayat (1) sebagai berikut:
“Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas Daerah-daerah Provinsi dan Daerah Provinsi itu di bagi atas Kabupaten dan Kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah”.
Selanjutnya daerah-daerah dimaksud memiliki berbagai kewenangan, dalam hal ini kewenangan daerah dalam pengelolaan sumber daya laut.
Untuk itu berikut kewenangan daerah yang termuat dalam Undang -Undang Nomor 32 Tahun 2004 khususnya dalam pengelolaan sumber daya laut yaitu pada Bab III Pasal 18 sebagai berikut:
Ayat (1):
“Daerah yg memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumberdaya di wilayah laut”.
Ayat (2):
“Daerah mendapatkan bagi hasil atas pengelolaan sumberdaya alam di bawah dasar dan/atau di dasar laut sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.
Ayat (3):
“Kewenangan daerah untuk mengelola sumberdaya di wilayah
laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut;
b. pengaturan administratif;
c. pengaturan tata ruang;
d. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah;
e. ikut serta dalam pemeliharaan keamanan; dan f. ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara”.
Ayat (4):
“Kewenangan untuk mengelola sumberdaya di wilayah laut, sebagaimana ayat (3) paling jauh 12 mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk Provinsi dan 1/3 dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota”.
Ayat (5)
“Apabila wilayah laut antara 2 provinsi kurang dari 24 mil, kewenangan untuk mengelola sumberdaya di wilayah laut dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antar 2 provinsi tsb, dan untuk kabupaten/kota memperoleh 1/3 dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud”.
Ayat (6)
“Ketentuan sebagaimana ayat (4) dan ayat (5) tidak berlaku terhadap penangkapan ikan oleh nelayan kecil”.
Tindak lanjut dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahahan Daerah, maka dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000. Adapun tujuan peletakan kewenangan dalam penyelenggaraan otonomi daerah adalah guna peningkatan kesejahteraan rakyat, pemerataan dan keadilan serta demokratisasi dan penghormatan terhadap budaya lokal dan memperhatikan potensi daerah/
lokal. Untuk itu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, pasal 3 ayat 1 disebutkan bahwa kewenangan provinsi sebagai daerah daerah otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan. Dalam hal lintas kabupaten/kota serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya sebagaimana diatur dalam pasal 9 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang dalam menentukan kewenangan tersebut adanya kriteria sebagaimana disebutkan dalam angka 1 dan 2 bagian
A penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, bahwa kewenangan provinsi dimaksud dikelompokkan dalam bidang yang pada dasarnya merupakan upaya untuk membatasi kewenangan pemerintah provinsi sebagai daerah otonom.
Dengan demikian bahwa kewenangan untuk mengatur, membina serta mengawasi dan memanfaatkan potensi daerah sesuai dengan kepentingan masyarakat di daerah pada dasarnya merupakan kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Jadi pemberdayaan potensi dalam hal ini subsektor perikanan dan kelautan yang bukan dan atau tidak termasuk kewenangan provinsi sebagaimana yang tersebut dalam angka 1 dan 2 ayat 5 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 adalah jelas menjadi bagian dari kewenangan urusan kabupaten/kota.
Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok- pokok Pemerintahan di Daerah, tidak memberikan kewenangan terhadap wilayah laut pada provinsi Daerah Tingkat I maupun Kabupaten/Kota Daerah tingkat II. Namun pascaruntuhnya kekuasaan Orde Baru, dengan hadirnya Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang disahkan oleh Presiden B.J. Habibie pada tanggal 7 Mei 1999 memberikan landasan hukum bagi wilayah Daerah provinsi yang meliputi wilayah darat dan laut (Pasal 3), serta pemberian otonomi kepada daerah provinsi, daerah Kabupaten, dan Daerah Kota (Pasal 2, ayat 1) yang masing-masing berdiri sendiri tidak mempunyai hubungan hierarki (Pasal 4, ayat 2). Pada bagian lain juga memuat bahwa kewenangan daerah kabupaten dan daerah kota di wilayah laut adalah sejauh sepertiga dari batas laut daerah provinsi (Pasal 10, ayat 3).
Selanjutnya, dilakukan perubahan dengan dikeluarkannya Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang disahkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada tanggal 15 Oktober 2004. Dalam ketentuan ini memuat penegasan bahwa daerah provinsi dibagi atas Kabupaten dan Kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah (Pasal 2, ayat 1). Pada bagian lain juga memuat ketentuan bahwa daerah (provinsi, kabupaten/kota) yang mempunyai wilayah laut diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di
wilayah laut (Pasal 18, ayat 1), dan kewenangan tersebut sejauh 12 mil laut dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi dan 1/3 (sepertiga) dari kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota (Pasal 18, ayat 4), selanjutnya dapat dilihat perkembangan tersebut dalam matrik 3 berikut:
Matrik 3: Perbandingan Pembagian Kewilayahan dan Kewenangan Pada UU No. 5/1974; UU No. 22/1999 dan UU No. 32/2004
No Substansi UU No. 5/1974 UU No. 22/1999 UU No. 32/2004 1 Wilayah
NKRI Daerah
Otonom dan Wilayah Administratif (Pusat, Dati I, Dati II) (Psl. 2)
Daerah Provinsi, Daerah
Kabupaten dan Daerah Kota bersifat Otonom;
Daerah Provinsi juga sbg Wil.
Administrasi (Psl.
2 ayat 1 dan ayat 2); masing-masing mrpk. Daerah yg berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarki (Psl. 4 ayat 1)
Daerah-daerah Prop., Provinsi dibagi atas Kabupaten dan Kota masing-masing mempunyai pemerintah an daerah (Psl 2 ayat 1); pemerintahan daerah dimaksud memiliki hub.
dg. Pemerintah dan pemerintah daerah lainnya (Psl. 2 ayat 4) 2 Urusan
Pemerintahan Sentralisasi Otonomi Luas Otonomi Luas 3 Wilayah
Daerah Provinsi
Wil.Administratif (Psl. 2)
Wilayah darat dan wilayah laut sejauh 12 mil laut (Psl. 3)
Wilayah darat dan kewenangan mengelola wil.
laut sejauh 12 mil laut (Psl.18, ayat 4); Jika wil laut Prop. kurang dr 24 mil, dibagi sama jarak (Psl.
18, ayat 5) 4 Wilayah
Daerah Kabupaten/
Kota
Wil.Administratif (Psl. 2)
Wilayah darat dan wilayah laut sejauh 1/3 (sepertiga) dari batas laut Daerah Provinsi (Psl.10, ayat 3)
Wilayah darat dan kewenangan mengelola wil.
laut sejauh 1/3 (sepertiga) dari wil. kewenangan Provinsi (Psl. 18 ayat 4)
Sumber: Diolah oleh Peneliti
Berdasarkan matrik 3 di atas, dapat diketahui bahwa ada pergeseran dalam beberapa substansi dalam Undang-Undang Nomor 5/1974 menjadi Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 maupun dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dalam hal otonomi pada UU Nomor 5/1974 titik berat otonomi ada pada Daerah Tingkat II (Dati II) Kabupaten maupun Kotamadya (Pasal 11), berbeda halnya dalam UU Nomor 22/1999 bahwa derah provinsi, daerah kabupaten dan daerah kota masing-masing adalah otonom dan berdiri sendiri bahkan tidak ada hubungan hierarki. Hal ini mengalami perubahan dalam UU Nomor 32/2004, bahwa daerah provinsi dibagi atas kabupaten dan kota yang memiliki hubungan dalam pelaksanaan tugas pembantuan yaitu pelimpahan tugas dari pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota.
Sementara itu, dalam hal wilayah daerah provinsi maupun kabupaten/
kota dalam UU Nomor 5/1974 merupakan wilayah administratif dalam arti Daerah Tingkat I (Dati I/Provinsi) maupun Daerah Tingkat II (Dati II/Kabupaten/Kotamadya) tidak memiliki kewenangan pada wilayah laut. Namun, dalam UU Nomor 22/1999 daerah provinsi, daerah kabupaten dan daerah kota memiliki wilayah laut bagi yang dalam wilayahnya berbatasan dengan laut dengan batasan wilayah laut pada daerah provinsi sejauh 12 mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan. Daerah kabupaten maupun kota yang memiliki wilayah berbatasan dengan laut memiliki kewenangan di wilayah laut sejauh sepertiga dari batas laut daerah provinsi. Dalam perkembangannya UU Nomor 22/1999 direvisi menjadi UU Nomor 32/2004 dengan menghasilkan pembaharuan bahwa wilayah laut provinsi maupun Kabupaten/Kota bukanlah memiliki wilayah laut akan tetapi kewenangan untuk mengelola wilayah laut sejauh 12 mil bagi daerah provinsi dan sepertiga dari batas laut kewenangan provinsi merupakan kewenangan pengelolaan dari Kabupaten/Kota. Selanjutnya dalam konteks kewenangan pengelolaan wilayah laut tersebut, manakala jarak wilayah laut antar provinsi kurang dari 24 mil laut maka wilayah kewenangannya dibagi menjadi dua sama jarak.