Latar Belakang
Hal yang menarik terkait isu konflik pemanfaatan sumber daya perikanan laut menunjukkan bahwa konflik terjadi sejak masa Orde Baru hingga otonomi daerah. Bagaimana bentuk pemanfaatan sumber daya perikanan laut di Selat Madura yang dilakukan nelayan Bangkalan, Sampang dan Pasuruan pada masa Orde Baru hingga otonomi daerah.
Konflik Pemanfaatan Sumber Daya Alam
Kajian ini menggali lebih dalam keterkaitan perubahan rezim pemerintahan dalam pola hubungan negara-masyarakat, guna menjelaskan konflik-konflik yang muncul dalam pemanfaatan sumber daya perikanan laut sebagai sumber daya bersama (CPR) selama tiga periode rezim pemerintahan. . Meerdal, teori Common Property karya Garrett Hardin dan Common-Pool Resource/CPR karya Vincent dan Elinor Ostrom, serta teori kebijakan publik.
Dasar-dasar Teoretis
Kebijakan Publik
Lasswell dan Abraham Kaplan (1970:71) mendefinisikan kebijakan publik sebagai: “sebuah program terencana yang berisi tujuan, nilai, dan praktik.” Kebijakan publik muncul di tengah konflik dan sebagian besar untuk mengatasi konflik yang ada, saat ini, dan masa depan.
Teori Konflik
Dalam serangkaian klaim tentang intensitas konflik, Simmel menyatakan bahwa: Semakin tinggi derajat keterlibatan emosional pihak-pihak yang terlibat dalam suatu konflik, maka semakin kuat pula kecenderungan untuk mengarah pada kekerasan. Manajemen konflik bertujuan untuk membatasi atau menghindari kekerasan melalui atau mendorong perubahan pada pihak-pihak yang terlibat untuk berperilaku positif.
Otonomi Daerah
Sedangkan desentralisasi politik adalah pemberian kekuasaan mengambil keputusan dan mengawasi sumber daya tertentu yang diberikan kepada lembaga pemerintah daerah dan daerah, dengan tujuan pemberdayaan daerah. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa salah satu inti dari kebijakan publik adalah konflik (Nugroho, 2008), terutama dalam perebutan sumber daya politik baik dari sumber ekonomi, sosial, budaya dan lainnya.
Sumber daya Milik Bersama (Common-Pool Resource/CPR)
Terkait dengan sumber daya yang disengketakan oleh pihak-pihak yang berkonflik, Hardin (1968) menegaskan bahwa sumber daya perikanan laut merupakan sumber daya yang mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan sumber daya lainnya, misalnya daratan, seperti dalam kajian Scott (1976). Properti bersama (res komune), berbeda dengan aset non-properti (res nullius).
Pola Relasi Negara dengan Masyarakat dalam Resolusi Konflik
Dalam konteks ini terjadi perebutan sumber daya politik yang muncul dari perekonomian, yaitu perikanan laut. Untuk itu, dalam penyelesaian konflik pemanfaatan sumber daya perikanan laut perlu memperhatikan kontribusi keberadaan peraturan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan sumber daya tersebut pada saat konflik penangkapan ikan.
Historis, Ekologis, dan Geografis
Secara khusus wilayah perairan Selat Madura meliputi: Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Kota Pasuruan dan Kota Probolinggo. Keadaan Selat Madura dimanfaatkan oleh nelayan setidaknya dari 11 kabupaten/kota di Pulau Jawa. Selat Madura merupakan perairan laut yang memisahkan dua daratan antara Pulau Jawa dan Pulau Madura yang terletak di timur laut Pulau Jawa.
Antara Pulau Madura dan pantai Jawa, jarak Selat Madura bervariasi antara 30 dan 40 mil laut (Jonge, 1989:4). Perairan Selat Madura saat ini sangat tidak cocok untuk lalu lintas pelayaran internasional modern. Provinsi Jawa Timur mempunyai beberapa kabupaten/kota yang wilayahnya berbatasan langsung dengan perairan Selat Madura yaitu 11 kabupaten/kota yaitu Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Sampang, Pamekasan, Bangkalan, Sumenep.
Potensi dan Nilai Produksi Perikanan Laut
Tancap Kelong, Serok, Jaring Angkat Lainnya, Jaring Tramel, Dompet, Jaring Insang, Jaring Bulat, Jala Panjang Tetap/Ton, Jala Pindah kecuali Jala Tuna, Alat Pancing Lainnya, Nampan, Pemanen Rumput Laut, Pemanen Kerang. Berdasarkan tabel diatas diketahui produksi perikanan laut terbesar di Jawa Timur adalah Kabupaten Sumenep dengan total produksi sebesar 56.984,6 ton, sedangkan Bangkalan pada peringkat keempat dengan total produksi sebesar 23.110,1 ton, Sampang pada peringkat kesembilan dengan total produksi sebesar 23.110,1 ton. total produksi sebesar 10.729,0 ton dan Kabupaten Pasuruan pada peringkat kesepuluh dengan total produksi sebesar 9.992,9 ton.
- Camplong, Sreseh, Kabupaten Sampang
- Lekok dan Kraton, Kabupaten Pasuruan
Data di atas menunjukkan bahwa kecamatan dengan jumlah nelayan terbanyak adalah Kecamatan Klampis sebanyak 1.047 nelayan, kemudian kedua Kecamatan Tanjung Bumi sebanyak 870 nelayan dan ketiga Kecamatan Bangkalan sebanyak 761 nelayan. Kecamatan yang terletak di bagian selatan Pulau Madura atau di perairan Selat Madura yang memiliki jumlah nelayan terbanyak adalah Kecamatan Socah sebanyak 690 jiwa, kemudian Kecamatan Kwanyar sebanyak 644 nelayan. Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa jumlah nelayan laut terbanyak pada tahun 2005 terdapat di Desa Kwanyar Barat yaitu sebanyak 231 orang atau 36,09% sedangkan urutan kedua terdapat di Desa Batah Barat yaitu sebanyak 198 orang atau 30,94%.
Selain itu, jumlah nelayan di Kabupaten Kwanyar hanya 9% dari total penduduk berusia 15 tahun ke atas yang bekerja atau nelayan menduduki peringkat ketiga dari 10 mata pencaharian yang ada. Jumlah nelayan Kwanyar tidak dominan untuk luas wilayah kecamatan, yakni jumlah nelayan sebanyak 640 orang dan armada kapal/kapal penangkap ikan sebanyak 428 unit dengan alat tangkap sebanyak 948 unit. Hasilnya menunjukkan bahwa nelayan Kwanyar mampu menjaga lingkungan laut dengan tetap menggunakan alat tangkap tradisional (jaring hanyut).
Nelayan Modern Camplong-Sreseh dan Lekok-Kraton
Detil keadaan nelayan, perahu, dan alat penangkapan ikan di Kabupaten Sampang dapat dilihat pada Tabel 3.37 berikut ini: Berdasarkan data pada tabel di atas, terlihat bahwa jumlah nelayan terbanyak berada di wilayah selatan Pulau Madura yaitu Kabupaten Sampang dengan berjumlah 4.683 jiwa, kemudian Kecamatan Camplong dengan jumlah nelayan 1.520 jiwa dan Kecamatan Sreseh dengan jumlah nelayan 790 jiwa, serta Kecamatan Pangarengan dengan jumlah nelayan 348 jiwa, sedangkan di utara Pulau Madura yaitu di Kecamatan Ketapang, Kabupaten Banyuates, dan Kabupaten Sokobanah. Nelayan terbanyak merupakan warga Desa Labuhan yaitu 414 jiwa atau 31,92% dari total jumlah nelayan di Kecamatan Sreseh, terbanyak kedua adalah Desa Noreh dengan jumlah penduduk 402 jiwa atau 31% dari total jumlah nelayan di Sreseh. distrik.
Nelayan Camplong dan Sreseh dapat dikategorikan berdasarkan kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap dan tingkat sosial ekonominya, hal ini menandakan nelayan modern karena alat penangkapan ikannya didominasi oleh jenis alat tangkap yang lebih produktif dalam menghasilkan hasil tangkapan. Pada tahun 2005 jumlah nelayan bertambah 33 orang atau meningkat 0,30% dibandingkan tahun 2001, namun jumlah armada kapal mengalami penurunan yang sangat besar yaitu sebanyak 5.341 unit atau turun 53,80% dibandingkan tahun 2003. Pada tabel di atas terlihat bahwa pada tahun 2006 jumlah nelayan terbanyak terdapat di Kecamatan Lekok, baik dari segi jumlah nelayan, perahu, maupun alat penangkapan ikan.
Konflik Nelayan Bangkalan, Sampang, dan Pasuruan
Kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir di sentra penangkapan ikan di Sampang dan Pasuruan tidak jauh berbeda: tingkat pendidikan yang relatif terbatas dan jumlah penduduk di daerah penangkapan ikan yang cukup tinggi, serta terbatasnya luas lahan, dan tidak terlalu subur sebagai daerah pertanian. tanah, jadi selain pertanian, tanah ini juga merupakan sumber penghidupan. Populasi utamanya adalah memancing. Kenyataan di atas berbeda jika dibandingkan dengan para nelayan asal Bangkalan (Kwanyar) yang tinggal di wilayah pesisir yang cukup subur dan jumlah penduduknya tidak sebanyak penduduk di sentra penangkapan ikan di Sampang dan Pasuruan. Dengan demikian, keberadaan nelayan Sampang dan Pasuruan dalam aktivitas penangkapan ikan di perairan Selat Madura memiliki ciri khas.
Jumlah nelayan jauh lebih banyak dibandingkan jumlah nelayan Bangkalan, dan kedua wilayah pesisir Sampang dan Pasuruan didominasi oleh lahan kering, sehingga aktivitas penduduk pesisir yang paling menonjol adalah pada sektor perikanan laut. Meski berprofesi sebagai nelayan, namun mereka tetap bisa memanfaatkan lahan tersebut untuk bercocok tanam karena lahan pesisir cukup subur untuk bercocok tanam dan jumlah penduduknya tidak sepadat di pesisir Sampang dan Pasuruan. Intensitas penangkapan ikan yang dilakukan nelayan Sampang dan Pasuruan pada perairan laut di wilayahnya sangat berbeda dari segi potensi sumber daya perikanan laut jika dibandingkan dengan wilayah Bangkalan.
Penerapan Otonomi Daerah
Apalagi kewenangan pemerintah daerah menurut undang-undang no. 22 Tahun 1948 ada dua macam, yaitu: (a) Pemerintahan daerah yang berdasarkan hak otonomi; dan (b) pemerintahan daerah berbasis hak Medebewind. Apalagi UU No. Lahirlah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah yang terdiri dari 76 pasal dan terbagi dalam 9 bab. Pada tanggal 23 Juli 1974, UU No. 5 Tahun 1974 disahkan sebagai koreksi atas UU No. 18 Tahun 1965.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 menggunakan 3 asas secara bersama-sama secara seimbang dan harmonis, yaitu: asas dekonsentrasi, asas desentralisasi, dan asas bantuan. Tidak mengatur mengenai penyelenggaraan pemerintahan tingkat desa, namun ketentuan ini diatur tersendiri dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979. Pada dekade terakhir sebelum reformasi yaitu masa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan. .
Otonomi Daerah dalam Aspek Kewilayahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi menjadi provinsi-provinsi dan provinsi-provinsi tersebut terbagi atas kabupaten dan kota, masing-masing provinsi, kabupaten dan kota mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang.” Pemekaran daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, BAB II Pembagian Daerah, Pasal 2 sebagai berikut: Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000.
Dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah tidak memberikan kewenangan wilayah laut kepada Daerah Provinsi Tingkat I atau Daerah Kabupaten/Kota Tingkat II. Pasca runtuhnya Orde Baru, dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang disahkan oleh Presiden B.J. Selanjutnya perubahan dilakukan dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang disahkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada tanggal 15 Oktober 2004.
Kebijakan Pengelolaan Sumber daya Perikanan Laut
- Prinsip-prinsip Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut
- Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Laut
- Teknik Pengelolaan Perikanan
- Sistem Bagi Hasil Tangkapan Perikanan Laut
- Akses Terbuka atau Tanpa Pengaturan
- Pengaturan oleh Swasta atau Perusahaan
- Pengaturan oleh Negara
- Pengaturan oleh Internasional
- ERA ORDE BARU
- Era Otonomi Daerah
- III ZEE
Tujuan pengelolaan sumber daya perikanan menyangkut pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Dalam pengelolaan sumber daya perikanan laut, selain berhadapan dengan sumber daya yang volatil (yaitu sumber daya yang terus bergerak), juga terdapat kompleksitas biologis dan fisik perairan, serta dihadapkan pada hak kepemilikan yang kompleks (common property resources). ). Tampaknya terdapat beberapa aspek positif dalam pengelolaan sumber daya perikanan laut dalam kaitannya dengan efisiensi peraturan, efisiensi ekonomi, dan distribusi yang adil.
Ada empat bentuk eksploitasi sumber daya perikanan laut, yaitu (1) tidak ada aturan sama sekali atau sering disebut open access, (2) milik bersama, (3) milik negara, dan (3) milik pribadi (dalam hal ini milik pribadi). , pihak swasta dapat berbentuk perusahaan) (Nikijuluw. Asas laissez-faire artinya tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikan pemanfaatan sumber daya perikanan laut. Ketentuan ini menunjukkan bahwa wilayah perairan tidak diatur secara tegas dan hanya memuat peraturan. terkait dengan pengelolaan sumber daya perikanan laut dan kegiatan penangkapan ikan.