BAB III PEMBAHASAN
C. Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Boho Oi
Berdasarkan tanggapan masyarakat terhadap tradisi Boho Oi Ndeu secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok elemen masyarakat yaitu masyarakat desa Riamau dari pihak generasi tua dan pihak generasi muda. Dalam hal ini generasi tua terhitung antara umur 40 Tahun sampai 50 Tahun seperti tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama yang memiliki pemahaman yang selaras bahwa tradisi Boho Oi Ndeu merupakan peninggalan leluhur dan harus dipertahankan.
Boho Oi Ndeu yang sudah mendarah daging dalam masyarakat Desa Riamau menjadi sebuah keharusan untuk dilaksanakan setiap selesai acara akad pernikahan. Ditambah lagi dengan adanya akulturasi nilai-nilai Agama Islam dalam tradisi. Boho Oi Ndeu ini justru mempertebal ataupun menambah semangat masyarakat di desa Riamau untuk tetap mempertahankan tradisi Boho Oi Ndeu.
Kemudian berdasarkan hasil wawancara dan tanggapan dari tokoh Agama yaitu Ustadz Ramlin bahwa tradisi Boho Oi Ndeu merupakan peristiwa akulturasi tradisi lokal dengan nilai-nilai dalam Agama Islam, hal ini sesuai dengan sejarah masuknya Islam di Nusantara yang kemudian masuk ke wilayah. Karena pada saat itu datangnya islam dibawa oleh para mubaliq cara dakwah merekapun itu harus dengan situasi dan kondisi sehinga terjadilah akulturasi antara tradisi dan hukum islam termasuk tradisi boho oi ndeu ini merupakan hasil akulturasi selama tidak bertentangan dengan nass. Dewasa ini menjadi suatu hal yang wajar bahwa tradisi
Boho Oi Ndeu sulit ditinggalkan oleh masyarakat di Desa Riamau karena sudah melalui sejarah yang panjang sehingga sampai menjadi suatu hukum adat di masyarakat Desa Riamau.
Dalam pandangan tokoh agama tentang tradisi boho oi ndeu ini memiliki kesamaan dengan makna kaum santri di jawa yang diklaarifikasikan oleh George Ritzer yakni bahwa santri adalah varian masyarakat di jawa yang taat kepada ajaran islam dan model pemahaman agamapun yang ortodoks. Sehingga dalam konteks ini tokoh agama di desa riamau juga memiliki presepsi dalam menjelaskan tradisi boho oi ndeu, karena yang peneliti wawancara diatas adalah tokoh agama yang paling taat beragama dan bahkan di pandang oleh masyarakat desa riamau.
Artinya dalam konteks inipun tokoh agama masih mempertahankan tradisi boho oi ndeu karena dalam konsep fiqih pun ada Urf (budaya) yang baik atau Urf yang secara harfiah adalah suatu keadaan, ucapan, perbuatan, atau ketentuan yang telah dikenal manusia dan telah menjadi kebiasaan dan menjadikan tradisi untuk melaksanakannya atau meninggalkannya. Dan juga tokoh agamapun menjelaskan bahwa selama tradisi itu baik dan tidak bertentangan dengan Al-qur’an maka tradisi itu tidak menjadi masalah.
Masyarakat Islam di desa Riamau secara mayoritas sangat mempercayai apabila melakukan doa melalui tradisi Boho Oi Ndeu akan cepat dikabulkan oleh Allah Swt. dan keluarga yang melaksanakan tradisi tersebut tetap dalam keadaan kebahagiaan dan harmonis. Dewasa ini tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh Agama menganggap bahwa tidak ada masalah dengan tradisi Boho Oi Ndeu sebab sudah mengalami akulturasi dengan syariat Islam dan menetapkan tradisi Boho Oi Ndeu sebagai sumber hukum atau Urf dalam masyarakat Islam di desa Riamau yang dilaksanakan setelah acara pernikahan.
Dilihat dari tangapan tokoh agama diatas peneliti melihat bahwa pandangan tokoh agama ini memiliki hubungan dengan pandangan Clifford Geertz yang kemudian menulis buku “Agama
Jawa” lalu mengklarifikasikan masyarakat jawa dengan tiga tipe yakni (abangan,santri dan priyayi).
Berdasarkan tangapan pendapat tokoh agama diatas ini mengacu kepada teorinya Clifford Greetz yang mengklarifikasi masyarakat jawa yakni (santri,priyayi dan abangan) Seperti masyarakat jawa yang dulu yang diklarifikasikan oleh Clifford Greetz salah satunya adalah kaum abangan yang dimana pengertian kaum abangan ini adalah sebutan untuk golongan penduduk jawa muslim yang mempraktikkan islam dalam versi yang lebih sinkretis dan kaum abangan ini diasumsikan sebagai bentuk religiositas masyarakat desa. 50
Dari paparan diatas dapat dipahami bahwa pandangan kaum abangan terhadap tradisi boho oi ndeu dalam islam memiliki makna dan nilai filosofis tersendiri, selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat islam maka itu tidak menjadi sebuah persoalan karena melihat situasi dan kondisi masyarakat desa riamau rata-rata beragama islam.
Sehinga wajar saja dalam konteks padangan tokoh agama mengaharuskan dan menjadikan tradisi boho oi deu adalah sebuah keharusan yang dilakukan, karena tradisi ini pun memiliki efek terhadap sepasang penagantin yang sudah melaksanakan akad nikah.
Disisi lain juga tradisi ini juga dalam pandagan kaum abangan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap nilai gotong royong masyarakat desa riamau karena di setiap pelaksanaan tradisi boho oi ndeu semua elemen masyarakat bersatu serta ikut berpartisipasi untuk mendoakan serta mengharapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa supaya kedua pasangan yang sudah diamandikan agar hidup harmonis dan bahagia.
50 Istilah abangan,santri dan priyayi bukan merupakan istilah yang diada-adakan oleh Clifford Geertz,tetapi diambil dari penggolongan yang diterapkan oleh masyarakat sendiri. Lihat dalam pendahuluan bukunya. The religion of jawa, terj. Aswab mahasin: Abangan,santri,priyayi dalam masyarakat jawa, (bandung Dunia pustaka Jaya, 1981). H.8
Kemudian dalam pandangan kaum priyayi di kategorikan oleh Clifford Grreedz terhadap tradisi boho oi ndeu yang menekankan kepada aspek penggabungan ajaran agama dengan tradisi kejawen,bahkan juga tradisi Hiduisme dan Budhisme.
Dalam konteks pandangan tokoh agama ini dapat dilihat bahwa ada akulturasi antara budaya nenek moyang terdahulu sehinga kemudian di bungkus dengan syariat islam sehinga dijadikan sebagai dasar hukum dalam pelaksanan tradisi boho oi ndeu.
Dalam tradisi boho oi ndeu ini juga nenek moyang terdahulu memiliki bacaan dan sistem tersendiri sebelum masuknya islam setelah masuknya islam di desa riamau baru adanya percampuran dalam sistem pelaksanan dan bahkan do’a yang digunakan,ini artinya bahwa ada akulturasi antara tradisi boho oi ndeu dengan agama islam.
Kemudian dalam pandangan kaum santri di kategorikan oleh Clifford Grreedz terhadap tradisi boho oi ndeu yang menekankan kepada aspek golongan yang berada dalam lingkaran Fundamentalisme ajaran islam. Dalam konteks pandagan tokoh agama terhadap tradisi boho oi ndeu kaum santri melihat bahwa memang sebuah keharusan masyarakat yang rata-rata beragama islam harusnya mengikuti ajaran islam secara kaffah baik dari ibadah,aktifitas dan bahkan dalam tradisi boho oi ndeu ini.
Karena menurut pandangan kaum santri ini yang menjadi landasan dan dasar hukum agama islam adalah Al-qur’an dan Sunnah apalagi menambah dan mengurangi apa yang menjadi perintah Al-qur’an dan Hadits (Bid’ah). Melihat tradisi boho oi ndeu ini juga yang memiliki kesamaan dengan kebiasaan Agama lain seperti Agama Hindu, seperti penggunaan bunga, kelapa kuning, serta telur ayam kampong, soal kebahagiaan rumah tangga itu bukan di tentukan dijalankan atau tidaknya tradisi boho oi ndeu tapi ditentukan oleh Allah Swt dengan perbutan kita sendiri. Oleh karena itu tradisi ini tidak harus di pertahankan apalagi menjadi keharusan bagi para pengantin yang sudah melaksanakan akad
nikah,karena kalau sudah di akadkan atas nama Allah dan Rasulnya maka itu lebih dari cukup dan meyakinkan bahwa kedua pasangan akan hidup harmonis dan bahagaia dunia akhirat, tradisi ini juga sudah keluar dari konteks ajaran agama islam (Bid’ah).
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat di ambil kesimpulan:
1. Proses Pelaksanaan Tradisi Boho Oi Ndeu di Desa Riamau Berdasarkan pada gambaran pada bab tiga dapat ditemukan proses ritual dalam tradisi boho oi ndeu di desa riamua dan memiliki beberapa makna dari pada alat dan bahan yang digunakan memiliki nilai filosofis tersendiri seperti batok kelapa yang bermakna menjaga kondisi air tetap alami dan netral,bunga dan daun pandan memiliki makna sebagai harapan agar pasangan suami istri tetap harmonis seperti halnya keharuman bunga dan daun pandan tersebut,beras kuning bermakna harapan agar pasangan suami istri tersebut dilimpahkan rejeki untuk melangsungkan kehidupan rumah tangga kedepanya.
2. Pandagan Masyarakat Terhadap Tradisi Boho Oi Ndeu
Berdasarkan pembahsan pada bab tiga dapat ditemukan pandangan masyarakat terhadap tradisi boho oi ndeu,terdapat antara tokoh masyarakat abangan,priyayi dan kelompok santri.
Bagi kelompok abangan memandang tradisi ini menjadi salah satu wadah bagi masyarakat desa riamau dalam memperkuat gtong royong di dalam masyarakat desa riamau.
Karena di setiap kali prosesi tradisi boho oi ndeu ini semua masyarakat bergotong royong baik dalam pekerjaan lebih-lebih
dalam berdo’a kepada Tuhan agar kedua pasangan yang telah di akadkan dan dimandikan menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia dunia akhirat,ini Nampak bahwa ada kerja sama yang baik masyarakat desa riamau dan memiliki makna dan nilai filosofis tersendiri, selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan syariat islam maka itu tidak menjadi sebuah persoalan karena melihat situasi dan kondisi masyarakat desa riamau rata- rata beragama islam.
Bagi kelompok priyayi tradisi ini memiliki sejarah panjang sehinga sulit dilupakan oleh masyarakat desa riamau selain dari pada itu juga tradisi ini memiliki akulturasi antara budaya dengan syariat islam sehinga dalam pandangan kelompok priyayi tidak menjadi persoalan jika tradisi ini dipertahankan karena memiliki nialai filosofis yang baik bagi kedua pasangan setelah melaksanakan akad.
Sedangkan kelompok santri melihat tradisi boho oi ndeu ini memiliki kesamaan dengan kebiasaan Agama lain seperti Agama Hindu, seperti penggunaan bunga, kelapa kuning, serta telur ayam kampong, soal kebahagiaan rumah tangga itu bukan di tentukan dijalankan atau tidaknya tradisi boho oi ndeu tapi ditentukan oleh Allah Swt dengan perbutan kita sendiri. Sehingga kaum santri banyak yang berhenti dan tidak mau lagi menggunakana tradisi boho oi ndeu. Tradisi boho oi ndeu menurut kelompok santri tidak memiliki landasan hukum yang jelas dan bahkan tradisi ini tidak ada anjuran dalam syariat islam. Maka kaum santri
mensimpulkan tradisi ini adalah tradisi yang dibuat-buat (bid’ah) oleh masyarakat desa riamau itu sendiri.
3. Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Boho Oi Ndeu
Dari berbagai macam tanggapan diatas dapat disimpulkan bahwa tokoh agama di desa riamau masih mempertahankan tradisi boho oi ndeu karena, menurut mereka tradisi ini tidak bertentangan dengan syariat islam.
B. Saran
1. Sebagai mahasiswa Fakultas Ushuluddin Dan Studi Agama yang berlatar belakang agama harus lebih jeli dalam melihat pada tradisi-tradisi yang ada dalam masyarakat, dengan berbekal ilmu agama yang dimiliki berusaha untuk merekonstruksi tradisi yang ada atau paling tidak meminimalisir tradsi-tradisi yang tidak sesuai dengan Islam.
2. Diharapkan kepada pelaku (para
peneliti,mahasiswa,LSM,Ormas dll),yang mengkaji suatu tradisi agar tidak hanya menggunakan referensi secara tekstual, akan tetapi secara kontekstual juga sangat diperlukan untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dibalik tradisi yang hidup di masyarakat.
3. Masyarakat dusun Maria khususnya hendaklah lebih memperhatikan dampak yang ditimbulkan oleh suatu adat bukan hanya semata bukan untuk melestarikan adat,akan tetapi jika mudaratnya lebih banyak hendaknya ditiadakan.
4. Kepada lembaga-lembaga tertentu (Dinas Kebudayaan,penjaga budaya Indonesia dll)dalam hal ini khususnya yang berkompenten pada kosentrasi penanganan masalah atau adat, agar ikut andil dalam mengontrol pelaksanaan tradisi atau adat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh,Jakarta: Kencana, 2003.
Asmawi, Perbandingan Ushul Fiqh, Jakarta: Amzah, 2013.
Emzir, Metode Penelitian Kulitatif,Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
Gary Dessler, Manajemen Sumber Daya Manusia,KLaten: PT Intan Sejati, 2006.
Hilman Hadikusuma, Pengantar Antropologi Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2004.
Masnun tahir, Pendekatan Integratif Dalam Kajian Hukum Perdata Islam di Indonesia, Pidato Pengukuhan Guru Besar Hukum Perdata Islam UIN Mataram, 29 Maret 2018.
Moh.Rifai, Fiqh untuk Madrasah Aliyah (Semarang: Wicaksana, 1991).
Rijkschroeff, Sosiologi Hukum Dan Sosiologi Hukum, Mandar Maju:
Bandung November 2001.
Rostiyati Ani, Fungsi Upacara Tradisional Bagi Masyarakat Pendukungnya Masa Kini, Yogyakarta: Departemen dan Kebudayaan, 1994.
Saebani Ahmad Beni, Sosiologi Hukum, Cv Puataka Setia: Bandung 2006.
Saepudin Shidiq, Usul Fiqh, Jakarta: Kencana 2004.
Saifullah, Refleksi Sosiologi Hukum, Refika Aditama: Semarang Januari 2007.
Sainun, Tradisi Merarik Penikahan Masyarakat Sasak (Institut Agama Islam Negeri (IAIN)) Mataram, 2016.
Satria Efendi, Ushul Fiqh, Jakarta: kencana, 2008.
Soekanto Soerjono, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Rajagrafindo Persada:
Jakarta, September 1988.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&G,Bandung: Al-Fabeta, 2014.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 2014.
Suhardi, Upacara Daur Hidup Suku Sasak, penerbit pustaka widiya selong: 2010.
Suriyaman Masturi Pide, Hukum Adat, Dahulu, Kini dan akan Datang, Jakarta: Kencana, 2017.
Syafe’i Rahmat, Ilmu Ushul Fiqih, Cv Pustaka Setia Bandung, September 2015.
Syofian Siregar, Statistika Deskriptif untuk Penelitian, Jakarta: Rajawali Pers, 2010.
DR. Deddy Mulyana,M.A., Metodologi penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya),Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2006.
Burhan Bungin(ED.),Metodologi Penellitian Kualitatif,Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 2001.
Juliet Corbin,Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2012.
Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi, Alfabeta Bandung, 2014.
Moleong J. Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif,Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006.
Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah,Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Mardani, Hadis Ahkam, Jakarta: Rajawali Pers, 2012.
Sayyid Sabiq, Ringkasan Fiqih Sunnah, Jakarta Timur : Beirut Publishing 2014.