• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANTJA SILA ADALAH ALIRAN SOSIALISME

Dalam dokumen PDF Sosialisme Indonesia - Unibos (Halaman 65-105)

Saudara-saudara sekalian,

Ketegasan ini memerlukan pendjelasan. Sebabnja ialah, bahwa ada dikal-angan atasan bangsa kita sendiri jang mengira, bahwa Pantja Sila kita itu tidak berisikan tjita-tjita sosialisme.

Malahan ada lagi orang-orang jang setjara dungu dan dangkal menuduh PRESIDEN SUKARNO dan setiap orang jang mem- propagandakan tjita-tjita Sosialisme Indonesia sebagai keha- rusan dan kelandjutan daripada tjita-tjita Pantja Sila, sebagai orang-orang jang sudah menjeleweng dan dengan begitu sudah meng-chianati adjaran Pantja Sila.

Untuk memberikan pegangan kepada Saudara-saudara mahasiswa menghadapi tuduhan-tuduhan ini, maka lebih dulu saja persilahkan Saudara-saudara untuk sekali lagi membatja beberapa bagian daripada kuliah-umum saja di Malang sini du­

lu, terutama bagian jang mendjelaskan paham-sosialisme jang didukung oleh pergerakan rakjat kita, dan hubungkanlah bebe­

rapa bagian daripada isi itu dengan Pembukaan U.U.D. 1945.

Pembukaan U.U.D. ’45 memuat suatu kalimat jang terkenal dengan Pantja Sila. Kata Pantja Sila itu sendiri tidak disebut sama sekali. Jang ada ialah alinea ke>4 dari Pembukaan itu, jang berbunji:

...Negara Republik Indonesia jang berkedau- latan Rakjat dengan berdasarkan kepada:

219/B (5)

65

Ke-Tuhanan Jang Maha Esa,

Kemanusiaan jang adil dan beradab,

Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat kebidjaksanaan dalam permusjawaratan/perwakilan, serta

dengan mewudjudkan suatu,

Keadilan sosial bagi seluruh Rakjat Indonesia” .

Inilah perumusan Pantja Sila dalam kalimat alinea ke-4 Pembukaan U.U.D. ’45.

Isi dan djiwa alinea ke-4 itu tidak dapat dan tidak boleh kita lepaskan daHpada alinea-alinea lainnja. Pembukaan U.U.D. ’45 sebenamja mengenai 4 alinea.

Alinea pertama berbunji: „bahwa sesungguhnja kemerdeka- an itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka pen- djadjahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan” . Alinea pertama ini terang djelas mengutuk kolonialisme; malahan menurut BUNG KARNO dalam Rapat Besar Badan Penjelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan tanggal 14 Djuli 1945 merupakan:

v alU d{£ waan> aanklacht dihadapan muka dunia atas pendja- wfn!S r ? n? a 3anS telah berlaku diatas tanah-air dan bangsa

9 abad lamanja” ; kemudian disusul dengan alinea , ■f'1*!’ berisikan funksi ,,perdiuangan pergerakan kemerde-

^donesia” ; jang dimaksud ialah pergerakan Rakjat jang berdjuang untuk kemerdekaan Indonesia. _

ke-2 itu tegas dikatakan, bahwa pada s a a t - s a a t

ggai 17 dan 18 Agustus 1945 itu, jaitu hari-hari Djumahat , tu PahinS dari bulan Ramadhan, maka „perdjuang-

^geia? an kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada T?nir-ii?T ^°erbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan mori i , ones^a kedepan pintu gerbang Negara Indonesia jang

a’ bersatu, berdaulat, adil dan makmur” .

d*s^u ditandaskan funksi perdjuangan pergerakan

t aan Indonesia sebagai funksinja seorang ,,pengantar m n m Ii}donesiaM, funksi mana oleh Mr. ALI SASTROAMI- kpinm^ l baru-baru ini, sewaktu beliau atas nama

^asionalis memberikan sambutannja atas rentjana b erk a t? tGtapan M-p -R -s - Pada tanggal 3 Desember I960

„Saudara Pendjabat Ketua dan Sidang Jang Mulia, dari kata-kata dalam Pembukaan Undang-undang Dasar *45 itu,

tegaslah peranan pergerakan kem erdekaan ra k ja t kita.

S edjak lah irn ja sam pai pada saat-saat proklam asi kem er­

dekaan, fu n gsi pergerakan kem erdekaan ra k ja t itu : ialah m engantarkan. O rang m engantar tidak pernah djalan dibelakang. M ungkin ia kadang-kadang disam ping pada saat-saat djalan n ja untuk ra k jat kita itu teran g dan lurus, tapi ia selalu. ada dimuka, apalagi bila djalan ja n g harus ditundjukkan kepada ra k jat ja n g m enderita dan berdju ang itu berliku-liku, gelap-gulita dan penuh dengan bahaja.

Dan ketika kolonialism e dan im perialism e m asih m era- djalela ditanah-air kita, pergerakan kem erdekaan ra k jat kita selalu harus menempuh djalan ja n g gelap-gulita, penuh dengan bahaja, pula dengan ham batan ja n g berduri, penuh dengan dju ran g-dju ran g ja n g dipin ggirnja terserak batu- batu besar dan batu-batu kerikil ketjil-ketjil ja n g dapat

m enggelintjirkan sipenundjuk djal'an.

Tak terhitunglah barisan pengantar dan penundjuk djalan itu ja n g tergelintjir m asuk dju ran g pembuangan, pen-Digulan, atau terdjerum us m asuk m eringkuk pendjara dengan segala duka deritanja sampai naik ketiang peng- gantungan.

Tapi sekalipun demikian, seluruh pergerakan kem er­

dekaan Indonesia, baik ja n g berlandasan ideologi N asional­

isme, maupun ja n g berideologi Islam, dan ja n g berideologi Kom unism e sem uanja tidak pernah m eninggalkan fungsi- n ja sebagai pengantar rakjat kita ja n g dihisap dan dime- laratkan oleh kolonialism e dan imperialisme ketudjuan m entjapai Indonesia m erdeka” .

Demikian Mr. A L I SASTROAM IDJOJO.

Saudara-saudara sekalian,

D jikalau direnungkan sebentar funksi pergerakan rakjat kita dimasa lampau, maka saja sendiri dapat ikut merasakan bahagianja pemimpin-pemimpin kita, ja n g pada w aktu tanggal 18 A gu stu s 1945 dan berikutnja m endengarkan Pembukaan U.U.D. ’45 itu. Tidak sedikit ja n g sa ja lihat m entjutjurkan air m atanja w aktu m endengar siaran radio bahw a pergerakan rakjat dengan selam at dan sentausa m engantarkan rakjat Indo­

nesia kedepan pintu gerbang N egara Indonesia ja n g merdeka, pintu gerbang ja n g berpuluhan tahun diidam-idamkan, jang

sekalipun beluin disadari realiteit daripada bentuk dan isinja geoung Indonesia merdeka itu, toch dengan penuh perasaan terharu dimasukinja.

a? a dihadapan pintu gerbang itu tidak dihirau- W n f? ! ? 1,.?811 keberanian sudah membadja disebabkan lampau asa berdjuang melawan bahaja-bahaja masa Saudara-saudara sekalian,

ge^ ian rak i'a^ H ^ ^ - teranSlah kiranja hubungan antara per- iane bprdn«i!!i S dlmasa pendjadjahan dengan Negara kita, antara tiitn h-?*1 ? antJa Sila ini; teranglah pula hubungannja dengan tiitn didukung oleh pergerakan rakjat dulu Memisahkan" kpSi 5 5 ar? kita dewasa ^ 3aitu Pantja Sila.

rakjat dari N p S ini» J'aitu memisahkan pergerakan memisahkan ikan . rartl memisahkan pohon dari akarnja;

nia: iano- fli,ov, ari aim ja; memisahkan sungai dari sumber-

^■engakibatkan bentjana.

rXwrv fyxtiHtiSl yj.Tj.v. . .

rakan Rakjat adalsiVf3*^. daripada tjita-tjita perge- tjita-tjita Pantia. c*n ^ta-tjita sosialisme maka tidak mung-kin

n«i,oi a tldak berisikan sosialisme itu.

vjikalau sudah sa-

dengan tjita-tiita « ^.a1Per^ atkan hubungannja Pantja Sila dalam Pembukaan TTTTn11? dar* apa Jan§ tegas tertera akan saja kemukakaV.’ 1 J"5, maka ada P^gangan lain jang dapi tuduhan-tudnfc!! -ePada Saudara-saudara dalam mengha- Periksalah keselumv. D o an^ dun£u dan dangkal tersebut.

chususnja pasal 33 7 pasal daripada U.U.D. ’45 kita itu, sedangkan pasaia3 3 ^ j^ y V tl53bei-” a^askai1 sosia*isme>

dasarTt-n1? ^ 11 ^ susun sebagai usaha bersama ber- (2) Tiab kekeluargaan.

dan jane jan£ penting bagi Negara kuasai o!eh Negara* * hldup oranS banJak dl“

didalamn^a ^ L dan kek^ aan aIam jang terkandung untuk RPhac ^Uasaii Negara dan dipergunakan adalah dasar darinad^^6^ ke? iakmuran Rakjat,

ekonomi-sosialis keseluruhan kebidjaksanaan daripada

Pern ah pasal 33 ini, terutam a a ja t 1, dibahas se tja ra m en- dalam oleh M r. W IL O P O dan W ID JO JO N IT IS A S T R O dalam sebuah sym posion di F aku ltas E kon om i dari U niversitas In d o­

nesia D ja k a rta pada tahun 1955, ja n g karena pentingnja pem - bahasan kedua tok oh itu, kem udian diterdjem ahkan oleh Cornel U niversity, N ew -Y ork pada tahun 1959. D ari pem bitjaraan- pem bitjaraan didalam sym posion itu, terpan tjar pula d jiw a anti- liberalism enja dan sem angat sosialistisnja daripada ’ ’econom ic ob jectiv es” N egara R epublik Indonesia.

D em ikianlah pegangan ja n g ke-2.

M asih ada pegangan ja n g ke-3, ja n g hendak sa ja kem uka- kan, ja itu periksalah daripada perum usan kata-kata itu ,,w or- d ingsgeschiedenis” -n ja atau ’’historical backgrou nd” -nja. _ Ini m em erlukan ketekunan dibidang research, dibidang penelitian;

salah satu sum ber penelitian setjara ilmijah adalah dokum entasi.

D okum entasi N egara m engenal tjatatan-tjatatan sten ografis dari ham pir sem ua risalah sidang-sidang Badan P enjelidik U sa ­ ha P ersiapan K em erdekaan Indonesia sebelum hari Proklam asi 17 A e u stu s 1945. Pem buat dan pem egang tjatatan-tjatatan-asli authentik itu adalah Mr. G A F A R PRIN GGOD IG DO, dulu W akil- Kepala K a n tor Badan Penjelidikan tersebut, sekarang P rofessor dan P residen U niversitas Airlangga^ di Surabaja. Dokum en-do- kumen itu untuk pertam a kalinja sa ja djum pai diw aktu hangat- han gatn ja perdebatan dalam Sidang K onstituante di Bandung m engenai D asar N egara pada bulan-bulan Oktober, N opem ber dan D esem ber tahun 1958, melalui sardjana-sardjana kita dari U niversitas G adjah Mada, D jok jakarta. Dokum en-dokum en itu sebagian dapat kita djum pai dalam bukunja P ro f. Mr. Muh. Y A - M IN b erd ju d u l: „N askah persiapan Undang-undang D asar 1945” djilid I, diterbitkan pada tahun 1960.

D jikalau Saudara-saudara m em peladjari keseluruhannja isi pidato pemimpin-pemimpin nasional kita dari seluruh kepulauan N usantara, dari seluruh lapisan m asjarakat dan dari semua aliran ideologi-politik dan agama, pada sa’ at-sa’at m endekatnja keruntuhan D jepang, m aka disitulah Saudara-saudara akan m endjum pai n afas dan nada ja n g sama, sem uanja berisikan tuntutan kem erdekaan, ,,kemakmuran dan keadilan” . Jang ter- djelas sekali ialah pidato BU N G K A R N O pada tanggal 1 Djuni 1945 di Gedung P edjam bon D jakarta, pidato mana kemudian dibukukan setjara chusus dengan nam a: „L a h im ja Pantja-Sila” .

Saja andjurkan kepada semua mahasiswa untuk mempeladjari- nja dengan sungguh-sungguh.

Saja sekarang mengutip beberapa bagian daripada pidato itu dimana kita dapat meneliti makna jang sedalam-dalamnja daripada Pantja Sila itu, baik dalam hubungannja dengan tjita - tjita sosialisme dan demokrasi maupun dengan idee gotong- rojong.

Berkatalah BUNG KARNO pada tanggal 1 Djuni 1945.

,,Saudara-saudara! „Dasar-dasar Negara” telah sa ja usuikan Lima bilangannja. Inikah Pantja Dharma? Bukant wama Fantja Dharma tidak tepat disini. Dharma berarti ke- wadjiban, sedang kita membitjarakan dasar. Saja senang Kepaaa simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima plnTi! t D3ari kita lima setangan. Kita mempunjai

■inner JanS lima- bilangannja? (Seorang

? e*dawa lima). Pendawapun lima orangnja.

mufaknt ?Pa P^sip* kebangsaan, internasionalisme, mtfakat, kesedjahteraan dan ketuhanan, lima pula bilang-

Pantja Dharma, tetapi saja namakan narnnni? £ Petundjuk seorang teman kita ahli bahasa — dan d ^ L !a,ntP SUa- SUa artinja a z a s a t a u d a s a r , Hnnpaio i , , una dasar itulah kita mendirikan Negara In ­ donesia, kekal dan abadi. (Tepuk tangan riuh).

ak^nah;i^?ran^ a^ ada saudara-saudara jang tidak suka 3 sad-m ^u: ®aJa boleh peras, sehingga tinggal rasan” !j-„audara'?audara tanja kepada saja, apakah „p e- kirltan *a ^u' Eerpuluh-puluh tahun sudah saja pi- Wpitanc^S13’ la^a^ dasar-dasarnja Indonesia Merdeka.

dan ^ ua dasar jang pertama, kebangsaan

tibm Slon? sme' kebangsaan dan perikemanusiaan, e « o ? mendjadi satu: itulah jang dahulu saja namakan s o c i o - n a t i o n a l i s m e:

bukan demokrasi Barat, tapi p o- d p n o- nomiscbe democratie, jaitu politiek-demokratie v sociale rechtvaardigheid, demokrasi d e n g a n Keseajanteraan, saja peraskan pula mendjadi satu: Inilah jang dulu saja namakan s o c i o - d e m o c r a t i e .

lain.

T inggal lagi ke-Tuhanan ja n g m enghorm ati satu sama T W i ia n e asalnja lim a itu telah m endjadi tig a : soeio- naSonalism e socio-dem ocratie dan ke-Tuhanan. K a au tuan nationalism*;, s ]ik ti ambinah ja n g tiga mi. Tetapi senang kep sem ua tuan-tuan senang kepada T ri Sila barangkali tid ^ Baiklah, sa ja djadikan m endjadi satu. Apakah ja n g satu itu ?

Sebagai tadi telah saja katakan: kita mendirikan N e- Sebagai taa k i t a s e m u a harus mendukungnja.

g a ra Indones ’ - l B m u a ! Bukan K risten buat Indone- S e m u a b u * j , buat Indonesia, bukan H adikoe- sia, b u k a n golon gan i s i b u k a n V an E ck buat Indonesia, bukan N ^ s e n S o ja n g k a ja buat Indonesia tetapi( Indonesia buat Indonesia! — s e m u a b u a t s e m u a .

neras iang lim a m endjadi tiga, dan ja n g D jiklau sa j p dapatlah saja ambil satu perkata- tig a ^ n d j a dl s a t u . M s a i perkataan „ g 0 t o n g - r o - j no ^ N egara Indonesia ja n g kita dirikan haruslah ne- g a ra g o t o n g - r o j o n g .

A langkah hebatn ja! N e g a r a G o t o n g - R o j o n g ! (T epuk tangan riu h -ren d ah ).

nntonsr-roiong” adalah faham ja n g dinamis lebih di- n a i dari kekfluargaan b« £ & £ £ £ nHalnh ^atu faham ian g statis, tetapi goton g -rojon g m eng gam barkan satu usaha, satu amal, satu pekerdjaan ja n g di-

an ggota ja n g terhorm at S oekardjo: satu karjo, satu gawe. M arilah kita m enjelesaikan karjo, gawe, peker- diaan amal ini b e r s a m a - s a m a ! G oton g -rojon g ada- lah pem banting-tulang bersam a. A m a l semua buat ke- pentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.

H olopis-kuntul-baris buat kepentm gan bersam a! Itulah g oton g -ro jo n g ! (Tepuk tangan riuh-rendah).

Demikian B U N G K A R N O waktu m endjelaskan P a n tja Sila itu, belum dalam alam Indonesia Merdeka, tapi m asih dalam kungkungan D jepang. N afas keseluruhan pidato beliau itu te- gas-tegas anti-liberalisme, anti-individualisme, dan pro-kollekti- vism e dan sosialistis.

rapat Badan PenjelidFk TT^ ° J JUga dimuka sia, beliau mentida IJTTn r PersiaPan Kemerdekaan Indone- atas dasar individualisme jang mendasarkan falsafahnja

telah mengetahui, bahwa didasarkan atas Ha«a Jaar?Pada negara-engara itu tadi jalah oleh revolusi P e r a S ? ^ fafah pikiran jang dikemukakan Adjaran-adiarflTi ’ Jaitu individualisme dan liberalisme.

MONTBSQUEU n ^ g i ^ luarkan oleh ROUSSEAU, oleh NUEL KANT faf HOBBES, oleh LOCKE, oleh IMMA- jang mendjadi daqn? i ndivjdualisme dan liberalisme itulah saja sebutkan tadi alsafah Undang-undang Dasar jang didunia ini” ^ mend3adi sumber melapetaka-melapetaka Demikian BUNO ttao-n

beliau sendiri b u k a n ^ T ^ - ’ PenK?ah Pantja Sila — menurut tadi itu, jang kemudi?n 1 lpta Pantj a Sila — _ dizaman D jepang berdiri atas Umu-*roaitt**airena d3as.an3a sebagai penggali jang djah Mada E>jokjakarfa ™ ^an amal-ilmijah oleh Universitas Ga- gelar 19 SePtember 1951 diberi- Jngm saja ingatkan rt;Z- ?n?ns causa dalam ilmu Hukum.

k ? P ada upatjara nrornio-^ a - Senat Universitas Gadjah n bahwa: 0S1 honoris causa tersebut, menegas-

>,Pantja Sila itu

pandangan hiduD az? s Pandangan dunia, suatu azas buah hasil penjelidikan P.erenangan djiwa jang dalam, atas basis pengetahna« JanS teratur dan saksama di- . Dan pendjelasan-Den^T n P^SPtonum hidup jang luas” . jang aetjara dokumentaiJ Jang saJa kemukakan ini dan penehtian-ilmijah dan dapat diudji dan setjara maka tegaslah bahwa p a5 s 2?pat' dipertanggung-djawabkan, anti-kolonial. Ja S^a itu berwatak sosialistis dan

ANTJA s i l a B e r WATAK a n t i-k o l o n i a l i s m e. Saudara-saudara sekalian,

sebut dalam^eselurahan'TOD^45Ch” Hme^ ang tidak Pernah d i“

unan UUD 45 — dan jang saja m aksud de- 7279

ngan U U D ’45 ia la h : Pem bukaan 37 pasal, 4 pasal aturan per­

alihan dan aturan tam bahan — m aka perkataan „kolon ialism e- an -sich ” , ja itu pen djadjah an, setja ra tegas tertulis didalam U U D

’45 sebagai suatu hal ja n g tidak sesuai dengan ,,perikem anu­

siaan dan perikeadilan” dan karena itu setja ra im peratief oleh U U D ’45 „h a ru s dihapus” . B atjalah sekali lagi alinea pertam a dari pem bukaan U U D ’45.

M entafsirkan P a n tja Sila lepas daripada w atak anti-kolonial- ism e adalah bertentangan dengan djiw a dan kata-kata UUD ’45.

B eberapa sa rd jan a asing sendiri m engakui akan w atak anti- kolonialism e P a n tja Sila serta besarnja pengaruh atas djalan- n ja R evolusi Indonesia. R U T G E R — seorang ahli sedjarah — m engatakan bah w a ,,dari semua negara-negara di A sia T engga- ra, Indonesialah dalam U ndang-undang D asarnja, pertam a-tam a dan paling tegas m elukiskan latar belakang p sych ologis ja n g sesu n ggu h n ja daripada semua revolusi melawan pendjadjahan.

D alam fa lsa fa h N egaranja, jaitu P an tja Sila, dilukiskan alasan- alasan setja ra lebih mendalam daripada revolusi-revolusi itu .

Sedangkan P ro f. K A H 3N pernah menulis dalam bukunja

’ ’N ationalism & R evolution” bahw a „P a n tja Sila adalah ” a m atured social philosophy” (filsa fa t s o s i a l ja n g sudah dew asa), iang san gat besar pengaruhnja atas djalannja Revolusi. P a n tja Sila adalah suatu synthesis, suatu perpaduan dari idee-idee Islam M odern, D em okrasi Modern, Marxisme, idee-idee dem okrasi- desa-asli dan kom unism e asli. Demikianlah pandangan P rof.

K A H IN tentang Pantj'a Sila selaku Staatsfilosofie.

M ari sekarang kita tindjau hubungan antara w atak anti-ko- lonialism e itu dengan tjita -tjita Sosialisme, atau dengan lain per- kataan m ari kita m enindjau: apakah w atak anti-kolom alism e itu

m engharuskan adanja tjita -tjita sosialism e.

U ntuk m engupas m asalah ini setjara^ ilmijah, m aka diperlu- kan pengertian daripada arti kata kolonialisme itu, tidak h an ja m enurut ilmu semantiek tapi dju ga menurut ilmu pengetahuan sedjarah, ilmu pengetahuan ekonom i dan ilm u pengetahuan politik.

D alam kuliah ja n g dulu, saja m enjinggung theorie-nja K A U T S K Y m engenai dua m atjam koloni, jaitu „A rbeits kolo- nien” (koloni untuk memindahkan lebihnja tenaga buruh) dan

..Ausbeutmgs-kolonien” (koloni untuk penghisapan), ja n g achir ini terbagi lagi dalam „Ausbeutungskolonien alten Stils” (koloni model-kuno untuk handels-kapitaal), dan „ Ausbeutungskolonien neuen Stils” (koloni modem untuk pasaran industri dan penana- man modal). Keseluruhan pendapat KAUTSKY ini ialah me- nandaskan bahwa kolonialisme itu diakibatkan oleh kapitalisme.

Djikalau kita merangkaikan keseluruhan pendapat dari para sardjana-sardjana dunia jang progresief dibidang sedjarah dan ekonomi, maka dapatlah saja tekankan disini — seperti apa jang S^ ja definisikan tentang anti-kolonialisme dimuka peri- TfoVio natalies Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia hatnto? Djal5ai^a Pada tanggal 23 Maret 1957 — bahwa pada un+iib- T«^a i n , onialisme itu adalah rangkaian nafsu bangsa Han lr*h 2 • an bangsa lain dibidang politik, sosial-ekonomi dan kebudajaan dengan djalan:

a. dominasi politik, b. exploitasi ekonomi, c- penetrasi kebudajaan.

lorUsir^angsa°laf^n fqitiaiua ba£* sesuatu bangsa untuk mengko- me, idealism^ 9f 0,, . sosial-ekonomi; dan bukan avonturis-

Karena itu ”miSS1° n sacree” '

Prof. THOMAS Mnnxr0iak th.eori<: GUSTOV KLEMM, theorie jang dengan eaia a an sardjana jang konservatif, nada jang sama half1 lramanj a masing-masing menulis dengan keharusan sosiai pt a .oIonialisme tidak didorong oleh suatu nama dan avontH^0^ ? 15’ tapi sekedar nafsu untuk mentjari („tugas keramat” * a ,°rong oleh idealisme, ,.mission sacree”

jang dipikulkan men’s burden” , (kewadjiban sutji an ini saja andiurkan V a S ° rang kulit Putih>- Dalam hubung- pleidooinja BUNP w a S p a a f ara ma^asiswa untuk m em batja Belanda di Den TTnQO- a Pada tahun 1928 dimuka pengadilan dimuka peneadiloTw- ^ £1(Jato-Pemkelaannja BUNG K A R N O dan jang dibukntaw ^dia-Belanda di Bandung pada tahun 1930, mana setjara tadiam nan?a ^Indonesia M enggugat” , di- pada sistim koloniahsme **ara ^miJa^ dibongkar hakekat dari- hanja bersifat Jan& saja sinjalir diatas itu tidak melukai hati, dapat k ita ^ a H a ^ k.on.se.rvatif> tapi djuga bersifat Jnggris jang- t e r k p n a i * ari sjairnja pudjangga-imperialis (1885— 1932? nai? a^ a paitu RUDYARD KIPLING Jain bersadjak- dalam bukunja "The five nations” antara 74

„Take up the White Man’s Burden — Send forth the best ye breed —

Go bind your sons .to exile, To serve your captives need;

To wait in heavy harness, On fluttered folk and wild — Your new-caught, sullen peoples, Half-devil and half-child” .

(Angkatlah bebanmu, kau kulit putih — Kirimlah keturunanmu jang terbaik,

Anak-anakrnu berbomdong-bondong ke negeri Asing Mengabdi kebutuhan tawanan-tawananmu;

Gunakan perlengkapan sewadjarnja, Untuk djaga masa jang buas dan biadab, Hamba-takluk-anmu jang baru,

Setengah setan dan setengah kanak-kanak).

Demikianlah djiwa seorang pudjangga-imperialisme, tjong- kak dan sombong jang pada dasarnja djiwa itu sama dengan diiwanja sardjana-sardjana Barat pengikut paham ” racialisme”

atau „sosial-Darwinisme” , jang antara lain menemukan dalam dirinja biologist MADISON GRANT, dan sardjana LOTHROP STODDARD, penulis buku-buku "Rising Tide o f Color against white world-supremacy” dan ”The new world of Islam” , djuru- bitjara imperialisme dan - racialisme jang^ sangat pandai tapi reaksionnair, konservatif dan melukai hati.

' Kita menolak theorie-theorie idealisme dan ’’white supre­

macy” itu.

’’The white man’s burden seems to be the brown man’s property” demikian kata seorang India, menurut Prof. Dr. JAN ROMEIN dalam bukunja ” In de ban van Prambanan” . Memang ini tepat sekali.

„Beban” orang kulit-putih adalah „kekajaan” orang kulit- sawo-mateng, dan dalam melaksanakan "mission sacree” -nja itu maka ” property” -nja si kulit-sawo-matang pindah ke „puntjak” - nja si kulit-putih; dan jang tinggal adalah hanja "brown-man’s poverty and misery” , kemelaratan dan kenistaan bagi si-kulit sawo-matang.

Karena itu kita menolak penafsiran djalannja sedjarah hanja atas hukum-hukum idealisme sadja; sedjarah berkembang djuga, dan terutama, atas dasar-dasar sosial-ekonomis. Sedja­

rah bukan semata-mata mempunjai perumulaan dan untuk se-

melWFRTTmZrber!!entSeperti J’anS dikatakan oleh ROMEIN J F S has a beginning, but fo r the tertiitnn /»a ’ i ? sedJarah adalah ibarat suatu lingkaran onlvrfEn J L V Sl d C? cle” ) ^lainkan sedjarah adalah "n ot tidak hania nPlh °v I ? y’ but also Progress” , sedjarah adalah Kemadiuan i a n k e l a n d j u t a n , tapi djuga kemadjuan I ekonomis. (bdorong oleh keharusan-keharusan sosial- Inggeris^an i£™a§an^‘ PedaSanS Portugis, Spanjol, Belanda, l v S a h k L e n“ Ue t S f r i ntjiS di Aaia p k d aa ta d ke-16 dan dagangan mereka mpmi s°sial-ekonomis, jakni karena per- Bospurus dan mPl • ? disebabkan Turki menguasai ngah antara E ropah A qif !alu:lintas perdagangan di Laut-Te- pitalisme di E r m ^ t > * an karena mulai timbul handels-ka- feodaliame keoer^n akibat pertumbuhan masjarakat dari ngah; dan fcandPiJ w ? ? 3? dan Peria<*ustrian ketjil dan mene-

kapitahsme ini memerlukan expansi.

ilmu sedjarah dfk &nS/ ,ak^ at handels-kapitalisme ini dalam Menurut BUNG TC?piT/lengan nama ”commercial-re volution” , ini kita mulai maka dalam ’’commercial-revolution’ '

kebilangan kemerdekaan politik.

pci muudti industrial re-

^ lo n tja tse d e m S ii^ 1^^’ teruta^ a di Inggeris volution”. HandrisJta1^?^. sehin£Sa meledaklah

mentjari lapanean 1 iSme’. artinj a surplus-modal-dagang, jang tjepat dibidang la^ industri; dan dengan kemadjuan industri bertimbun5ir«^U n^ ndus^ maka surplus modal- lsme. Kesemuania nrnrtnb*1- j1 Bank- Lahirlah Finanz-kapital- menerus-meningkat itn alam kapitalisme jang terus ekonomi. Jaitu pertama «,4- a?lkan a t a s d u a prinsip adjaran sardjana ekonomi dan mentjari untung, jang oleh kan.: Erwerbswirtschaf? ^ W e r NER SOMBART dinama- tupi kebutuhan iano- £aJ bukan atas prinsip untuk menu- Bedarf-deekungs^rtfch!1l WERNER SOMBART dinamakan bebas prinsipe itu aHoioift-Prinsip jang kedua jalah persaingan filsafah »individualisme hakekatnja pengedjawantahan

uduame dan liberahsme” dibidang ekonomi.

Bersamaan denpan u^v,i

mendjadi industri-ka^Hoi; ngnja handels-kapitalisme kapitalisme, maka tp ? iiw 6i kemudian mendjadi finanz-

Ka terllhat Pula Pwses-konsentrasi dan proses

Dalam dokumen PDF Sosialisme Indonesia - Unibos (Halaman 65-105)