menghidupkan kembali segala perbendaharaan ilmu pengeta- huan dan kerochanian dari zaman Junani dan Romawi;
diakibatkan djuga karena timbulnja berbagai ilmu pengetahu
an dan sebagainja, serta gerakan Reformasi dan Protestantis- me terhadap Geredja Katholik Roma.
Pendek-kata, THOMAS MORE adalah anak kelahiran zaman . transisi itu, jaitu transisinja Zaman Tengah ke Zaman Baru;
transisinja Zaman jang dibelenggu oleh dogma Agama ke Za
man jang mulai mendjundjung tinggi kebebasan otak dan pikir
an dalam menuntut ilmu; transisinja Zaman dominasi Geredja Katholik kearah Zaman Reformasi dan Protestantisme; pokek- nja ialah transisinja zaman sempit berudara sesak kearah zaman meluas berudara segar. Transisi ini berlaku kurang le
bih 300 tahun sebelum revolusi industri di Inggeris dan revolusi- bordjuis di Perantjis.
Sebagai orang jang berpendidikan tinggi, dan jang dapat menjelaraskan dalam diri pribadinja ketadjaman dan kebebas
an berpikir dengan kejakinan tentang kekeramatan dan ke- agungan adjaran-adjaran Katholik, maka THOMAS MORE sangat terpandang sekali dalam masjarakatnja. Malahan sedjak HENDRIK KE-VHI bertachta (1509-1547), THOMAS MORE diminta untuk memangku djabatan-djabatan penting dekat se- kitar Radja. Sekalipun THOMAS MORE menduduki djabatan jang tinggi sekali tetapi kepribadiannja tidak dapat menerima begitu sadja segala kepalsuan sekitar kegemerlapannja peng- hidupan Istana Radja HENDRIK KE-VHI. Antara lain ia me- rasa tertusuk hati dan djiwanja dengan kemelaratan kaum tani disekitar kota London, jang pada waktu itu tanah-tanahnja dilarang oleh kaum feodal dan bangsawan sekitar Radja untuk digarap dan ditanami, melainkan tanah-tanah itu harus diko- songkan untuk lapang-penggembala bagi domba/karena waktu itu perdagangan wol domba mulai berkembang dan lebih me- nguntungkan bagi kaum bangsawan daripada hasil pertanian.
Inggeris pada waktu itu sedang mengalami ,,vroeg-kapitalisme” , kapitalisme hidjau dan muda-remadja jang pemain utamanja ialah kaum bangsawan dan penduduk kota jang baru tiuibul mendjadi orang kaja; atau dalam istilah pada waktu itu ialah
"noblemen and gentlemen” . Mereka ini mendjadi kaja-raja, dan mereka hidup dalam kemewahan dan kesenangan. Mereka mengelilingi Radja HENDRIK KE-VIH dengan segala matjam
■’lipservice” ; pemudjaan dan pengagungan diatas bibir jang tidak keluar dari hati. Disebalik segala kemewahan ini, THO
MAS MORE melihat kemelaratan umum jang diderita oleh 158
kaum tani dan tukang-tukang ketjil, dan jang sumber-penghi- dupannja makin hari makin terdesak karena keserakahan kaum bangsawan dan penduduk kota jang baru kaja itu.
Dari kesemuanja ini lahirlah kemudian suatu buku, jang ber- isi suatu tjeritera chajal jang bertudjuan setjara samar-samar mengeritik keadaan pada waktu itu. Buku itu semiila oleh THOMAS MORE diberi nama „Nusquama” , jang kemudian di- robah mendjadi nama ,,Utopia” . Baik ,.Nusquaraa’’ maupun
„Utopia” mengandung arti jang sama, jaitu: „Tak ada” . Dengan ERASMUS, tokoh Humanis jang terbesar dari zamannja Re- naisance, ia berkorespondensi tentang bukunja ini.
Baiklah kita menindjau sebentar isi pokok buku ^Utopia”
karyanja THOMAS MORE, jang diterbitkan pada tahun 1515
— 1516 itu.
Buku ini berisi dua bab. Bab pertama mentjeritakan situasi masjarakat Inggeris pada waktu itu. Tetapi kesemuanja dilu- kiskan setjara samaran dan sindiran. Ini dapat dimengerti karena THOMAS MORE adalah terlalu dekat dengan Radja H ENDRIK KE-VIH, sehingga ia tidak dapat menggunakan tjara lain daripada satire samaran itu. Tetapi gaja-bahasanja adalah tadjam dan sangat menarik dan mentjerminkan djiwa seorang moralis jang tertusuk hatinja oleh keburukan-keburuk- an sosial pada waktu itu. Dalam bab pertama dari bukunja itu THOMAS MORE melukiskan pertemuannja dengan seorang pelaut namanja RAFA E L HYTHLODAEUS dikota Antwerpen di Belgia sekarang, dan melalui pelaut RAFAEL HYTHLO
DAEUS (artinja: pandai mendongeng) ini THOMAS MORE membeberkart ia punja sindiran terhadap keburukan masjara
kat di Inggeris. Umpama dalam menggambarkan keserakahan- nja kaum bangsawan jang memaksa tanah subumja kaum tani untuk tidak boleh digarap melainkan didjadikan lapang peng- gembalaan domba untuk wolnja, maka kita membatja dalam bab pertama itu R A FA E L mendongeng sebagai berikut:
’’Sheep that were won’t to be so meek and tame and so small eaters, now become so great devourers and so wild, that they eat up and swallow down the very men themselves. They con
sume, destroy, and devour whole fields, houses and cities” . ,(Domba-domba jang biasanja begitu lemah dan djinak dan begitu sedikit makannja, sekarang mendjadi begitu serakah sampai mereka memakan habis dan menelan setiap orangnja sendiri. Mereka menghabiskan, merusak, dan menanduskan seluruh lapangan, rumah-rumah dan kota-kota” .
Bahwasanja sampai kambing makan orang, hal ini — kata RAFAEL selandjutnja — disebabkan karena "the noblemen and gentlemen” hanja tertarik oleh hasil keuntungannja ’’the finest and therefore dearest wool” , („w ool jang terbaik dan jang termahal” ) dan tidak lagi tertarik oleh ’’the yearly re
venues and profits that were won’t to grow to their fore-fathers and predecessors o f their lands” („penghasilan dan keuntungan tiap tahun jang biasa didapat dari tanah nenek-mojang dan orang-orang jang terdahulu” ), Karena ketamakan dan kesera- kahan inilah maka ’’noblemen and gentlemen” ini kemudian:
’’enclose all into pastures, thrown down houses, pluck down towns, and leave nothing standing but only the church to be made a sheep-house” („memagaxi semuanja mendjadi ladang penggembalaan, merobohkan rumah-rumah, meratakan kota- kota dan hanja membiarkan berdiri Geredja untuk didjadikan kandang kambing” ). Dan kesemuanja ini mengakibatkan poverty” (kemelaratan) jang melahirkan kemudian ’’thieves, 0 m? v6 n° ^ be ^ther vagabonds or idle serving men, and shortly will be thieves” ; jaitu pentjuri dan pengemis gelandangan, jang akan mendjadi pentjuri djuga, Dan memberantas ini tak mung- kin hanja dengan menghukum pentjuri-pentjuri ketjil ini sadja, tanpa menghilangkan sumbemja.
Saja tidak akan melandjutkan tentang isinja bab pertama mi, tjukup kalau saja ringkaskan bahwa tidak ada satu segi danpada kebobrokan masjarakat Inggeris pada waktu itu luput dari pandangan mata dan sindiran THOMAS MORE itu.
™ ^ S .pun dalam bab kedua dari bukunja „Utopia” ini THOMAS MORE menjuruh pelaut RAFAEL mentjeriterakaii tentang ke- balikannja dari masjarakat Inggeris itu. Untuk ini R A FA E L aimmta mendongeng tentang adaiija suatu kepulauan jang ber- aaa ditengah-tengah lautan antara Brazil dan India, dan jang rrrJrDTTcf kundjungi. Dulunja ada seorang pahlawan. bemama i f ’ i *,an^-.daPa^ mengadakan perombakan-perombakan T^m, dJiwa rakjatnja dan djuga dalam susunan masja- dipulau itu. Dasar masjarakat pulau Utopia itu adalah miiiK-Dersama atas segala kekajaan umum. Pulau Utopia itu mempunjai 54 kota-kota besar, dan setiap kota memiliki tanah Jang dikerdjakan setjara gotong-rojong oleh setiap S . warga-kota. Tersebar diatas tanah pertanian itu ter- rum^11 Penginapan jang luas dan besar, dimana S S R ‘¥ (? pok warga-kota jang setjara bergilir&n meng- gar&p tanah, dapat menginap. Pertanian bergotong-rojong ini 160
didjalankaii dengan menggunakan tiap penemuan baru dibidang ilmu dan pertukangan.
Setiap kota dipulau Utopia mempunjai pemerintah kotanja masing-masing, jang dipilih oleli warga-kota. Dalam tiap kota diadakan djuga penggabungan-penggabungan dari setiap 30 keluarga; dan setiap 10 gabungan ini, jang dus terdiri dari 300 keluarga merupakan lagi suatu gabungan besar. Gabungan- gabungan ini mengadakan aturan-aturan untuk melantjarkan kegotong-rojongan dibawah pimpinan seorang jang dipilih di- antara mereka sendiri. Djadi boleh saja katakan di Utopianja THOMAS MORE dari 450 tahun jang lalu itu ada Rukun Te- tangga, dan Rukun Kampung, jang menurut tjeriteranja R A FA E L tersebut disana dulu itu diberi nama Syphogran dan Tranibor.
Kemudian setiap kota mengirimkan wakilnja keibu kota Utopia itu, jang bemama kota Amauratum, dan jang artinja ,,tak terang” atau ,,tak terkenal” . Wakil-wakil kota itu merupa
kan -perwakilan pusat, jang mempunjai wewenang dan kewa- djiban untuk mengadakan aturan-aturan jang berhubungan dengan seluruh kesedjahteraan penduduk dan masjarakat.
Selain segi ekonominja, dan segi susunan pemerintahannja, maka R A F A E L djuga mendongeng tentang segala tata-tjara kehidupan penduduk Utopia dalam sehari-harinja; djuga ten
tang sistim pendidikannja; hidup kekeluargaannja, baik dida
lam rum all tangganja masing-masing maupun didalam kego- tong-rojongannja ditempat-tempat pekerdjaan bersama;
malahan dibagian achir didjelaskan pula Agamanja penduduk kota U topia itu, serta ceremoni-ceremoni daripada agamanja itu, penuh dengan djiwa Humanisme dan toleransi.
Dan R A F A E L mengachiri dongengannja itu dengan harapan semoga setiap negara dapat mengikuti djedjak Utopia itu, jang dapat memberantas djurang perbedaan antara sikaja dengan simelarat, antara golongan atasan dengan golongan rendahan, antara kerdja untuk umum dan kerdja untuk diri sendiri, dan sebagainja lagi. Sebab hanja dengan meniru Utopia itu, segala keburukan masjarakat dapat diberantas, sebab kalau tidak, maka setiap Negara dan Pemerintahan itu pada hakekatnja adalah sekedar komplotan belaka dari golongan jang kaja untuk mempertah ankan kedudukan kemewahannja terhadap simiskin dan simelarat. Kata pelaut R A F A E L dalam bagian achir dari tjeriteranja tentang Utopia itu:
161
219/B (11)
"Therefore, when I consider and weigh in my minds all those commonwealths which nowadays anywhere flourish, so God help me, I can perceive nothing but a certain conspiracy o f rich men procuring their own commodities under the name and title o f the commonwealth. They invent and devise all means and cra fts; first how to keep safely without fear o f losing, that they have unjustly gathered together, and next how to hire and abuse the work and labour of the poor for as littley money as may be.**
„Karena itu, bila saja memperhatikan dan menimbang- nimbang^ daiam hati segala bentuk dan susunan negara- negara jang dewasa ini menghias dimana-mana, maka Alhamdulillah, saja dapat menginsjafi, bahwa semua itu pada hakekatnja tidaklah lain hanja sekedar komplotan belaka dari orang-orang jang kaja memperoleh kekajaan- nja sendiri dengan nama dan atas nama negara. Mereka mentjiptakan dan mengichtiarkan segala piranti dan ke- pandaian, pertama bagaimana bisa tetap aman, tanpa takut cot-ii kekajaan, jang mereka telah kumpulkan nr.tnv3' . Pa!rut> da°- kemudian bagaimana tjaranja
tpnnCTQ15en-'ie^ a- men3alah gunakan pekerdiaan dan a£a dan simiskan dengan uang sedikit mungkin.”
emiiaaniah isi pokok satire-sosialnja THOMAS MORE itu.
THOMASUMOmr r° ^ tir Pandan£an serta tjita-tjitanja tn i+n ™ i . j Situasi masjarakat Inggris pada wak- minknn • , dap.at dlunRkiri bahwa buku ’ ’Utopia” mentjer- Adannn *-U 1 besar sekali, sesuai dengan zamannja.
lora qSrnii ^ a™3a sendiri adalah zaman jang sangat berge- ke-l^ Tnnii>; a ^ ukankah pada waktu itu abad Dan hnVnnL-1^611^ 11 ^ untuk mengindjak keabad jang ke-16?
B erom b^ " a-h Pada .Waktu * u di Er°Pah Barat tim bll suatu waktu itn 3anS njaha dahsjat dan multi-complex? Bukankah dan 1 teroukannja djalan lautan ke Afrika, Asia dalam hniiocf •/Bl!kankah waktu itu zaman Renaissance atau itu adalah a i^nja zaman Cinquecento ? Bukankah waktu Dierman ? mannja Hervorming dan Reformasi, terutama di
” v r ^ k nnH ?i^anSah waktu itu adalah zaman timbulnja Bukankah -I ser^a mulai menghilangnja feodalisme?
cenentans- terhnH * mulai Iahir Hunanisme sebagai aliran P ^0gma lapuk dari Gerad^a Katholik?
tAntnno- Besar” kata FRIEDRICH ENGELS
tentang zamannja THOMAS MORE ini, dimana djuga ilmu 162
pengetahuan m engalam i revolusinja, dan mentjjeiW mematah
kan belenggu dogm atism e theologinja Geredja!‘Katholik 4ar*
Zaman-Tengah, dan dimana nilai-nilai lama, jang telah dikete- mukan oleh bangsa Junani (— sekalipun m elaluK hriliiant natural-philosophical intuitions” — ) („intuisi jajig^g^ni|^h^
mengenai fa lsa fa h alam” ) dan oleh bangsa Arab (— ““jani^-ole Engels dinjatakan sebagai: ’ ’extremely important, but sporadic
discoveries o f the A rabs” — ) („sangat penting tetapi hanja penemuan jan g djarang oleh bangsa-bangsa Arab” ), merupa- kan salah satu sum bem ja.
Kata E N G E L S seterusnja tentang zamannja THOMAS MORE ini didalam k aryan ja: "Dialecties o f nature” , bahwa: ’ ’it was a time w hich called, fo r giants and produced giants — giants in power o f thought, passion and character, in universality and learning” . ,,Ia adalah zaman, jang memerlukan raksasa dan menghasilkan raksasa dalam pemikiran, raksasa dalam perasa- an, dan raksasa dalam watak universalitet dan ilmu- pengetahuan” .
L E O N A R D O D A V IN C I, A L B R E C H T D m E K ,
V ELLI, dan LUTH ER jang disebut o l e h ^ ^ T H O M A S
’’giants” itu adalah pada hakekatnja Pa^ramaja , ™ ° * MORE. Dan G ALILEI, COPERNICUS, FRANCIS BACON, H A R V E Y dan DESCARTES jang disebut oleh JA£ ROMEIN dalam bukunja: ’’Inleiding tot de Geschiedems der W
adalah "g ia n ts” jang djuga pantarannja THOMAS MORE.
Pula R A F A E L , CORREGIO, MICHEL ANGELO jang disebut oleh M A X B E E R dalam bukunja: „Algemeene Geschiedems van het Socialism e” adalah termasuk pula sebagai giants jang djadi pantarannja djuga dari THOMAS MORE.
Karena itu saja memandang THOMAS MORE dengan satire sosialnja ’ ’U topia” itu sebagai ’’giants pula dalam istilahnja FRIEDRICH ENGELS. Ia adalah anak-kelahiran daripada
’’m ighty epoch” tersebut, ia adalah produk dan zaman transisi jang maha-hebat itu ; dan ia adalah pula tenaga pendorong bagi kemadjuannja zaman transisi tersebut.
K ita sama mengetahui, bahwa setelah THOMAS MORE me
nulis bukunja ’’Utopia” itu, hubungannja dengan Radja HEN
DRIK V H I tidak mendjadi renggang, melainkan ia mendapat kedudukan jang lebih tinggi lagi, jaitu sebagai ’’Lord High Chancellor” . Tetapi achirnja tak dapat dihindari bahwa seorang jang berwatak seperti THOMAS MORE itu akan bentrokan
kegemerlapan kehidupan disekitar Istananja. Dan dalam ben- trokan pendapat mengenai sesuatu segi penghidupan pribadinja Radja HENDRIK VIII itu, jang menjangkut prinsip adjaran Agama, THOMAS MORE dipersalahkan mendjalankan „hoog- verraad” , jaitu kedjahatan mengchianati Radja, dan dipenggal- lah kepalanja.
Kepalanja THOMAS MORE terputus dari badannja, dan me- ninggallah THOMAS MORE pada tahun 1535. Tetapi djiwa THOMAS MORE tidak hilang, dan tjita-tjitanja tidak terputus dari hati nurani manusia-manusia jang dimelaraikan atau dimiskinkan pada waktu rezimnja HENDRIK V m tadi itu.
Malahan. sebaliknja tjita-tjitanja terus hidup dan melintasi abad jang satu keabad jang lainnja, sehingga sampai pada aewasa ini chajal "Utopia” -nja hidup terus sebagai suatu tja- ang daripada tjita-tjita sosialisme sepandjang sedjarah dan sepandjang masa.
2. ()STAATS-ROMANS” LAIN-LAINN J A : Saudara-saudara sekalian,
Sedjak THOMAS MORE dengan karyanja "U topia” meng- mtrodusir tjita-tjita^ keadilan sosialnja melalui „staats- omans , jaitu melalui tjeritera roman jang melukiskan bukan enidupannja seseorang, melainkan kehidupannja sesuatu masjarakat atau negara dalam alam chajal dan alam-pengeta- v?rn,UT^aka tjara ini kemudian banjak sekali ditiru oleh ann-ahh pemikir sesudah THOMAS MORE tersebut.
+ .1.a^ ara P^rmulaan abad ke-16 sampai achir abad ke-17 jatat antara lain Mstaats-romans” karyanja kanselir Ing- geris iSACO dengan nama: "Nova Atlantis” : karyanja penulis kar^eri^' HARRINGTON; dengan nama "Oceana” ; Pt DL *»?' ,1SSC^0P Inggeris HALL dengan nama: ’ ’Mundus alter
" 7 5 J . karyanja penulis THOMAS CAMPANELLA, dengan dpmSm °lis” ; kary anJa penulis Perantjis RABELAIS lagi nHistoire des Sevarambes", dan banjak lain-lain na<3a daripada karya „staats-romans” ini sedans riiv,^ na a Pr°tes terhadap keburukan masjarakat jang menKemukatnS1 dalam zaman transisi itu, sambil keineinan imHii aj. an .^an lamunan mereka, penuh berisi keagamaan dari n ^iwanja dari belenggu dogma pelopor dan npnrfi l man Bengali. Pada umumnja, mereka adalah
E ' “ 164
3. "C IV IT A S SA LIS” KARYAN JA TH OM AS CAM PAN ELLA:
Dari sekian banjak },staats-romans” tersebut tadi, saja akan mengambil satu sadja untuk mengemukakan pokok-isinja, ja itu karyanja THOM AS CAM PANELLA : ’’Civitas Solis” , atau
„K ota Surya” , karena karyanja ini, diantara sekian banjaknja
„staats-rom ans” lainnja, setelah ,,Utopia” -nja THOMAS MORE, ja n g paling banjak disebut dan dikupas dalam literatuur sosialis.
THOM AS C AM PAN E LLA (1568 — 1639), jang hidupnja adalah lebih kurang satu abad kemudian daripada THOMAS MORE, dilahirkan dan dibesarkan ditengah-tengah pertentang- annja K eradjaan Napoli di Italia dengan Keradjaan Castillia di Spanjol. Napoli adalah djadjahan Spanjol, sehingga ^senngkali timbul pemberontakan-pemberontakan dari rakjat Napoli ter
hadap radja-radja Spanjol. Dizaman itu pemberontakan-pem
berontakan demikian selalu dipimpin dan digerakkan oleh kaum bangsawan Napoli, dengan bantuannja kaum Padri dan kaum tjendekiawan lapisan atasan. CAMPANELLA adalah seorang padri ja n g ikut dalam gerakan-gerakan pemberontakan itu, dan sebagai akibatnja ia pada tahun 1600 tertangkap dan didjeblos- kan dalam pendjara. Dalam pendjara inilah lahir bukunia.
,,Civitas Solis” , jan g sebenarnja adalah suatu lampiran sadja dari buku 4 djilid tebalnja tentang Philosofi dan Politik.
Sambil meniru tjara THOMAS Mt)RE, maka dalam bukunja ini C A M P A N E L L A menjuruh seorang nachoda laut asal dan Genua m endongeng tentang segala apa jang ia telah melihat dan alami dalam pelajarannja keseluruh pendjuru dunia.
BertjeriteraLah kemudian nachoda dari Genua itu tentang adanja suatu kota, jang bentuknja adalah tudjuh lapis lmg- karan seperti matahari. Dalam kota itu terdapat suatu peme
rintahan dan masjarakat berdasarkan hak-milik bersama, se
hingga seluruh kerdja untuk kemakmuran masjarakat dilakukan bersama dan pembagian hasil rezekinja dilakukan pula menurut aturan-aturan jan g seadil-adilnja. Malahan didalam dongeng tentang m asjarakat „K ota Surya” itu terdapat suatu „kebe- basan” lepas dari ikatan keluarga.
Sebab, kata dongeng tersebut, institut keluarga adalah di- bangunkan oleh manusia karena ada hak-milik privaat, sedang
kan djusteru hak-milik privaat inilah jang mendjadi sumbemja segala keburukan masjarakat, jaitu pentjurian, perampokan,
penipuan, baik oleh jang melarat maupun oleh jang kaja. Jang melarat mentjuri untuk mendapat apa jang ia tidak memiliki, dan jang sudah kaja menipu untuk mempertahankan miliknja atau mentjuri lagi untuk menambah apa jang ia telah miliki.
Hubungan laki perempuan adalah didasarkan atas kepenting- an umum, dan ditundukkan kepada keperluan untuk mendapat keturunan jang sehat dan kuat. Dan jang menentukan hubungan ini ialah Pemerintah, jang terdiri dari kaum Padri jang berbudi luhur, dan jang menentukan sjarat-sjarat tentang laki-laki mana dengan wanita-wanita jang mana dapat bergaul.
Masjarakat „Civitas Solis” tidak mengenai lagi ikatan ke- luarga, dan dengan demikian sumber hak-milik privaat dengan segala akibat buruknja menghilang, dan timbullah masjarakat bahagia, sedjahtera dan berkeadilan sosial.
^Demikianlah beberapa isi-pokok daripada bukunja CAMPA- NELLA tadi itu, dan jang mentjerminkan suatu djiwa seorang Padri jang terkekang didalam pendjara, dan jang fantasinja terbang tinggi sekali kedalam lamunan dan chaialan mengenai suatu susunan masjarakat jang berkeadilan sosial.
Dibanding dengan karyanja THOMAS MORE, maka nilainja tidak sepadan. Sekalipun demikian nama CAM PANELLA dengan ,,Civitas Solis” -nja seringkali disebut sebagai tjontoh bagaimana pada abad ke-16 dan ke-17 terdar>at orang-orang jang terpengaruh oleh Utopiania THOMAS MORE melakukan sematjam „sport” , sematjam olahraga dengan fantasi dan la- munannja, untuk roenuansrkan segala tjita-tjitanja mengenai keadilan-sosial itu tidak ditengah-tengah kenjataan dari kehi- belaka se^ m "^iar^’ melainkan dalam impian dan dongengan