• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pekerjaan Kolom

Dalam dokumen LAPORAN KP FINAL PALING FIX-4-257 (Halaman 95-110)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

B. Gambar Struktural

1) Pekerjaan Kolom

Laporan Kerja Praktek

Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik Universitas Andalas

Laporan Kerja Praktek III-48 6) Sika Bond

Sika Bond berfungsi untuk menyambung dan menguatkan ikatan antara beton lama dan baru, yang biasanya kompatibel dengan seluruh jenis semen Portland.

Gambar 3.64 Sika Bond 7) Integral Waterproofing

Integral Waterproofing adalah bahan adittive dalam campuran beton yang digunakan untuk meningkatkan ketahanan beton terhadap air dan kelembapan. Integral water proofing ini digunakan pada kolom lantai 4 dan dak beton lantai 5. Untuk 1m3 beton dicampur dengan 2 liter integral waterproofing.

Gambar 3. 65 Integral Waterproofing 3.4.3 Metode Pelaksanaan Proyek

Laporan Kerja Praktek III-49 struktur kolom pada proyek Pembangunan Gedung Laboratorium Teknologi Terpadu Politeknik Negeri Padang, yaitu :

a) Menggunakan mutu beton K300 b) Tebal selimut beton adalah 40 mm

c) Tulangan pokok BJTS 420B 36 D19, 32 D19, 28 D19,dan 24 D19

d) Tulangan begel tumpuan BJTS 420B D13 – 100 e) Tulangan begel lapangan BJTS 420B D13 – 150 f) Tulangan pengikat tumpuan BJTS 420B D13 –200 g) Tulangan pengikat lapangan BJTS 420B D13 – 300 h) Sambungan besi 50D

a. Pekerjaan Pembesian Kolom

Dalam melakukan pekerjaan pembesian kolom, merujuk pada SNI 2847:2019 tentang persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung dan penjelasan. Pada pasal 25 bagian pendetailan tulangan, halaman 559-606 terdapat acuan spesifikasi teknis di antaranya,

1. Persyaratan selimut beton

Ketebalan selimut beton berkisar antara 40 mm – 75 mm tergantung pada kondisi paparan cuaca dan tulangan. Untuk tulangan dengan ukuran diameter 16 mm – 57 mm, ketebalan selimut beton berkisar antara 40-50 mm.

2. Spasi minimum penulangan

Untuk tulangan longitudinal pada kolom, spasi bersih antar tulangan harus tidak kurang dari nilai terbesar dari 40 mm, 1,5 db, dan 4/3 dagg

3. Tulangan Longitudinal

Jumlah minimum tulangan longitudinal adalah tiga dalam sengkang ikat segitiga, empat dalam sengkang ikat segi empat, dan enam dalam sengkang spiral.

4. Sambungan lewatan

Laporan Kerja Praktek

Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik Universitas Andalas

Laporan Kerja Praktek III-50 Panjang sambungan lewatan tekan tidak boleh kurang dari 300 mm.

5. Tulangan Transversal

Pada sengkang ikat, diatur untuk spasi bersih minimum sebesar 4/3 dagg, spasi pusat ke pusat sengkang tidak melebihi nilai terkecil dari 16db tulangan longitudinal, 48 db sengkang ikat, dan dimensi terkecil komponen struktur.

Pada pelakasanaan proyek di lapangan, kolom menggunakan tulangan utama baja ulir dengan diameter 19 mm dan tulangan sengkang baja ulir dengan diameter 13 mm. Dimana pada bagian tumpuan (1/4 dari tinggi kolom) tulangan sengkang / tulangan transversal dipasang dengan jarak/spasi 100 mm, sedangkan pada bagian lapangan tulangan sengkang dipasang dengan jarak 150 mm.

Tulangan pengikat pada daerah tumpuan dipasang dengan jarak 200 mm sedangkan pada daerah lapangan dipasang dengan jarak 300 mm. Panjang maksimal dari baja tulangan untuk proyek ini adalah 8 m. Jika dibutuhkan lebih dari itu, maka tulangan akan disambung dengan cara membengkokkan ujungnya dan mengaitkannya dengan tulangan lainnya.

Prosedur pekerjaan pembesian kolom:

1. Persiapkan material dan alat bantu yang digunakan

2. Potong tulangan utama, tulangan sengkang, dan tulangan pengikat menggunakan Bar Cutting sesuai dengan Shop Drawing

3. Bengkokkan tulangan sengkang dan tulangan pengikat menggunakan Bar Bender

4. Susun tulangan utama, tulangan sengkang, dan tulangan pengikat dengan jarak sesuai dengan Shop Drawing. Tulangan sengkang disusun dengan spasi 150 mm, dan 100 mm.

5. Penambahan tulangan ekstra sebagai pengkaku agar tulangan tidak bergeser ketika diangkat dan tetap pada posisinya ketika dilakukan pengecoran

Laporan Kerja Praktek III-51 6. Tulangan di rakit secara ex situ (tidak langsung di lokasi rencana kolom) lalu di angkut menggunakan tower crane untuk proses pemasangan tulangan di titik yang telah ditentukan berdasarkan shop drawing.

Gambar 3. 66 Pembesian Kolom b. Pekerjaan Bekisting Kolom

Dalam melakukan pekerjaan bekisting kolom, merujuk pada SNI 2847:2019 tentang persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung pada pasal 26.11.1 (hal 650). Pada proyek ini, pemasangan bekisting menggunakan peri vario system, yaitu sistem bekisting yang dapat mewujudkan tampilan beton yang rata dan tidak berongga. Penggunaan sistem bekisting ini dapat meningkatkan efisiensi waktu untuk pekerjaan kolom pada proyek karena praktis dan dapat digunakan berulang kali. Pada bekisting kolom ini, terdiri dari beberapa bagian, diantaranya adalah papan phenolic film dengan tebal 15 mm dan dibagian luar terdapat besi hollow dengan ukuran 5x5 cm dengan jarak 25 cm sebagai tempat perlekatan dan penyangga papan. Selain itu juga terdapat Tierod dan wingnut sebagai pengunci dan penyambung papan dengan jarak sabuk 1 m.

Prosedur pekerjaan pemasangan bekisting kolom:

1. Persiapkan material dan alat bantu yang digunakan

2. Melakukan marking oleh surveyor untuk memberikan tanda atau acuan pada saat akan memasang bekisting. Tujuan marking agar bekisting yang dipasang pas dan tepat pada titik yang direncanakan sesuai shop drawing.

Laporan Kerja Praktek

Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik Universitas Andalas

Laporan Kerja Praktek III-52 3. Bekisting kolom di angkat menggunakan tower crane ke titik

rencana.

4. Surveyor memeriksa dan memastikan kembali posisi bekisting apakah sudah pas dan tepat.

5. Pemasangan bekisting . Bekisting di ikat satu sama lain dengan sambungan yang kuat .

6. Memasang elemen perkuatan tambahan sepeti kayu penahan di luar panel bekisting.

Gambar 3. 67 Bekisting Kolom c. Pekerjaan Pengecoran

Dalam melakukan pekerjaan pengecoran kolom, merujuk pada SNI 2847:2019 tentang persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung pada pasal 26.5.2 tentang pengecoran dan pemadatan beton (hal.630)

Pengecoran dilakukan menggunakan Concrete Bucket yang diangkat menggunakan Tower Crane. Beton diambil dari concrete mixer truck yang membawa beton ready mix ke lokasi proyek dengan kapasitas maksimal 6 m3 per truck. Mutu beton yang digunakan adalah K-300, dengan ketebalan selimut 40 mm. Volume Bucket 0,7 m3 dan volume pengecoran 1 kolom dengan dimensi 80 cm x 80 cm dan tinggi 445 cm adalah 2,85 m3.

Prosedur pekerjaan pengecoran kolom:

1. Persiapkan material dan alat bantu yang digunakan

Laporan Kerja Praktek III-53 2. Lakukan slump test untuk menguji workability dari beton. Pada proyek ini diambil rentang keruntuhan yakni 12 – 14 cm. Dengan sampel uji 2-3 per truck

3. Beton dari Mixer Truck dimasukkan ke dalam concrete bucket 4. Beton dalam concrete bucket selanjutnya di angkut

menggunakan tower crane ke titik kolom yang akan dilakukan pengecoran.

5. Beton ready mix di dalam concrete bucket selanjutnya dimasukkan ke dalam kolom menggunakan tremie dan digunakan vibrator ke dalam kolom yang sedang di cor agar campuran beton dapat menyebar secara merata dan cepat.

Gambar 3. 68 Pengecoran Kolom d. Pembongkaran Bekisting Kolom

Selanjutnya setelah beton pada kolom mengeras dilakukan pembongkaran atau pembukaan bekisting dari Kolom.

Pembongkaran bekisting dapat dilakukan setelah ±12 jam setelah pengecoran. Pembongkaran bekisting dilakukan dengan membuka kayu dan multiplex pada kolom dan selanjutnya di angkut ke bawah menggunakan tower crane.

Laporan Kerja Praktek

Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik Universitas Andalas

Laporan Kerja Praktek III-54 Gambar 3. 69 Pembongkaran Bekisting Kolom 2) Pekerjaan Balok

Pada proyek Pembangunan Gedung Laboratorium Teknologi Terpadu Politeknik Negeri Padang, dimensi balok yang digunakan ada dua, yaitu untuk balok induk 40 cm x 80 cm dan untuk balok anak terdapat bermacam macam ukuran , di antaranya 35 cm x 70 cm, 25 cm x 50 cm, 20 cm x 30 cm dan 12 cm x 20 cm.

a. Pekerjaan Pembesian

Dalam melakukan pekerjaan pembesian balok, merujuk pada SNI 2847:2019 tentang persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung pada pasal 9 terkait Balok pada halaman 178-208.

Pada proyek ini, sebelum melakukan pekerjaan pembesian, terlebih dahulu dilakukan pekerjaan pemasangan scaffolding, plywood dan kayu penyangga sebagai penopang dan pijakan balok di lokasi yang akan direncanakan. Setelah scaffolding terpasang, terlebih dahulu dipasang bekisting bawah balok (bodeman) dengan menggunakan kayu penyangga dan plywood dengan ketebalan 12 mm.

Balok menggunakan tulangan utama baja ulir dengan diameter 19 mm dan tulangan sengkang baja ulir dengan diameter 13 mm. Dimana pada bagian tumpuan (1/4 dari tinggi kolom) tulangan sengkang / tulangan transversal dipasang dengan jarak/spasi 100 mm, sedangkan pada bagian lapangan tulangan sengkang dipasang dengan jarak 150 mm.

Laporan Kerja Praktek III-55 Prosedur pekerjaan pembesian balok:

1. Persiapkan material dan alat bantu yang digunakan

2. Potong tulangan utama dan tulangan sengkang menggunakan Bar Cutting sesuai dengan Shop Drawing

3. Bengkokkan tulangan sengkang dan tulangan pengikat menggunakan Bar Bender

4. Susun tulangan utama, tulangan sengkang, dan tulangan pengikat dengan jarak sesuai dengan Shop Drawing. Tulangan sengkang disusun dengan spasi 150 mm, dan 100 mm.

5. Tulangan di rakit secara in situ (langsung di lokasi titik rencana balok) yang telah ditentukan berdasarkan shop drawing.

6. Untuk mengikat antar tulangan digunakan kawat bendrat berukuran diameter 1 mm dan dibuat berlapis lapis sesuai kebutuhan perkuatan.

Gambar 3. 70 Pembesian Balok b. Pekerjaan Bekisting

Dalam melakukan pekerjaan bekisting balok, merujuk pada SNI 2847:2019 tentang persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung dan penjelasan pada pasal 26.11.1 (hal 650).

Setelah pembesian untuk balok selesai dikerjakan, pekerja akan melanjutkan pekerjaan pemasangan bekisting pada balok.

Papan bekisting atau plywood dengan tebal 12 mm dirakit sesuai dengan dimensi balok yang digunakan.Bagian bawah bekisting dipasang suri suri atau kaso yang berukuran 6/12 cm dengan jarak 60-70 cm. Bekisting balok bagian bawah biasanya disebut

Laporan Kerja Praktek

Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik Universitas Andalas

Laporan Kerja Praktek III-56 bodeman. Bodeman dipasang sebelum penulangan balok dan untuk bagian kanan kiri disebut bekisting dinding balok. Pada bekisting ditambahkan minyak bekisting untuk mempermudah pembongkaran bekisting jika balok telah selesai dicor.

Prosedur pekerjaan pemasangan bekisting balok:

1. Persiapkan material dan alat bantu yang digunakan, yakni scaffolding set, kayu ukuran 5/7, dan plywood 12 mm.

2. Pemasangan scaffolding di bawah balok yang akan di rencanakan. Jumlah scaffolding yang akan digunakan menyesuaikan dengan bentang balok yang akan di topang.

3. Pemasangan kayu penyangga di atas scaffolding dilanjutkan pemasangan bodeman menggunakan plywood

4. Bekisting balok di kerjakan langsung di titik rencana sesuai shop drawing.

Gambar 3. 71 Bekisting Balok c. Pekerjaan Pengecoran

Dalam melakukan pekerjaan pengecoran balok, merujuk pada SNI 2847:2019 tentang persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung pada pasal 26.5.2 tentang pengecoran dan pemadatan beton (hal.630)

Pengecoran dilakukan dengan concrete pump yang akan menyalurkan campuran beton ke balok yang akan dicor. Pekerjaan pengecoran pada balok biasanya dilakukan bersamaan dengan pengecoran pelat lantai (monolit).

Laporan Kerja Praktek III-57 Prosedur pekerjaan pengecoran balok:

1. Persiapkan material dan alat bantu yang digunakan

2. Lakukan slump test untuk menguji workability dari beton. Pada proyek ini diambil rentang keruntuhan yakni 12 – 14 cm. Dengan sampel uji 2-3 per truck

3. Beton dari Mixer Truck dimasukkan ke dalam backend kit 4. Beton selanjutnya di pompa ke lokasi yang akan di cor

menggunakan concrete pump

5. Selanjutnya digunakan vibrator ke dalam balok dan pelat yang sedang di cor agar campuran beton dapat menyebar secara merata dan cepat.

Gambar 3. 72 Pengecoran Balok 3) Pekerjaan Pelat Lantai

a. Pekerjaan Bekisting Pelat Lantai

Dalam melakukan pekerjaan bekisting balok, merujuk pada SNI 2847:2019 tentang persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung dan penjelasan pada pasal 26.11.1 (hal 650).

Bekisting pelat lantai dirakit bersamaan dengan pekerjaan bekisting balok. Setelah bekisting balok terpasang, maka papan bekisting pelat dapat dirakit dengan paku agar bekisting kuat dan rapat, sehingga tidak terjadi kebocoran. Papan bekisting atau plywood Meranti dengan tebal 12 mm dirakit sesuai dengan layout pelat lantai pada perencanaan. Papan ini dapat digunakan 2-3 kali.

Sebelum pemasangan bekisting plat lantai, dilakukan pengukuran dengan Total Station untuk memastikan kerataan plat lantai.

Laporan Kerja Praktek

Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik Universitas Andalas

Laporan Kerja Praktek III-58 Bekisting plat dapat dibongkar setelah 14-21 hari. Pada bekisting ditambahkan minyak bekisting untuk mempermudah pembongkaran bekisting jika pelat lantai telah selesai dicor.

Prosedur pekerjaan pemasangan bekisting plat:

1. Persiapkan material dan alat bantu yang digunakan, yakni scaffolding set, kayu ukuran 5/7, dan plywood 12 mm.

2. Pemasangan scaffolding di bawah plat yang akan di rencanakan.

Jumlah scaffolding yang akan digunakan menyesuaikan dengan bentang plat yang akan di topang.

3. Pemasangan kayu penyangga di atas scaffolding dilanjutkan pemasangan bodeman menggunakan plywood

4. Bekisting plat lantai di kerjakan langsung di titik rencana sesuai shop drawing.

Gambar 3. 73 Bekisting Pelat Lantai b. Pekerjaan Pembesian

Dalam melakukan pekerjaan pembesian plat, merujuk pada SNI 2847:2019 tentang persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung dan penjelasan pada pasal 8.8 (Halaman 161)

Pembesian pada pelat lantai dilakukan setelah penyelesaian pembesian balok. Pembesian pada plat lantai ini menggunakan besi ulir dengan diameter 13 mm dengan jarak 120 mm yang dipasang dua lapis, saling tegak lurus, diikat menggunakan kawat bendrat, dan di letakkan diatas decking beton setebal 40 mm. Decking beton ini digunakan untuk memberikan batasan / rongga antara bekisting dengan tempat dipasangnya tulangan atau yang dikenal sebagai

Laporan Kerja Praktek III-59 selimut beton. Pembesian pelat lantai langsung dilakukan di atas bekisting pelat. Pelat lantai pada basement dibangun dengan ketebalan 15 cm, sedangkan plat lantai 1,2,3 dan 4 direncanakan memiliki ketebalan 14 cm.

Prosedur pekerjaan pembesian plat:

1. Persiapkan material dan alat bantu yang digunakan

2. Potong tulangan menggunakan Bar Cutting sesuai dengan Shop Drawing

3. Susun tulangan (besi diameter 13 mm) dua lapis, dan dipasang tegak lurus antar lapisannya

4. Tulangan di rakit secara in situ (langsung di lokasi titik rencana balok) yang telah ditentukan berdasarkan shop drawing.

5. Untuk mengikat antar tulangan digunakan kawat bendrat berukuran diameter 1 mm dan dibuat berlapis lapis sesuai kebutuhan perkuatan.

Gambar 3. 74 Pembesian Pelat Lantai c. Pekerjaan Pengecoran Pelat Lantai

Dalam melakukan pekerjaan pengecoran plat, merujuk pada SNI 2847:2019 tentang persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung pada pasal 26.5.2 tentang pengecoran dan pemadatan beton (hal.630)

Pengecoran pelat lantai dilakukan bersamaan dengan pengecoran balok (monolit). Langkah pengerjaannya juga sama dengan pengecoran balok.

Laporan Kerja Praktek

Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik Universitas Andalas

Laporan Kerja Praktek III-60 Prosedur pekerjaan pengecoran plat:

1. Persiapkan material dan alat bantu yang digunakan

2. Lakukan slump test untuk menguji workability dari beton. Pada proyek ini diambil rentang keruntuhan yakni 12 – 14 cm. Dengan sampel uji 2-3 per truck

3. Beton dari Mixer Truck dimasukkan ke dalam backend kit 4. Beton selanjutnya di pompa ke lokasi yang akan di cor

menggunakan concrete pump

5. Selanjutnya digunakan vibrator ke dalam balok dan pelat yang sedang di cor agar campuran beton dapat menyebar secara merata dan cepat.

Gambar 3. 75 Pengecoran Pelat Lantai 4) Pekerjaan Atap

Pada proyek Pembangunan Gedung Laboratorium Teknologi Terpadu Politeknik Padang, struktur bangunan terdiri dari dua jenis penutup, yaitu sebagian menggunakan atap dengan konstruksi baja dan sebagian lainnya berupa dak beton. Pemasangan atap baja tersebut direncanakan pada area yang terletak di antara grid 4-7 berdasarkan gambar rencana. Dalam melakukan pekerjaan baja, merujuk pada SNI 1729:2020 tentang Spesifikasi untuk Bangunan Gedung Baja, pasal 18 (Hal. 102)

Laporan Kerja Praktek III-61 a. Pekerjaan Pemasangan Angkur Baja

Pemasangan angkur baja berfungsi sebagai penghubung antara material beton dan baja, memastikan kekuatan dan kestabilan struktur. Prosedur pekerjaan pemasangan angkur baja :

1. Persiapkan material dan alat bantu yang digunakan 2. Penentuan lokasi dan ukuran angkur yang akan dipasang.

3. Pembuatan lobang tempat angkur akan di pasang menggunakan bor beton, pastikan lubang yang telah di bor bebas dari debu dan sisa material.

4. Pemasangan angkur baja, menggunakan kunci pengencang.

Angkur yang digunakan memiliki diameter 19 mm dengan jarak antar angkur sebesar 500 mm. Setiap kolom membutuhkan 8 buah angkur baja.

5. Pemasangan plat baja. Plat baja yang digunakan memiliki ketebalan 12 mm dan dimensi panjang serta lebar masing masing 80 cm (sesuai ukuran kolom).

Gambar 3. 76 Pemasangan Angkur b. Pekerjaan Pemasangan Kolom HWF 400.400.13.21

Baja HWF berfungsi sebagai elemen struktural yang menyalurkan beban dari kuda-kuda, gording, dan komponen atap lainnya ke kolom. Prosedur pekerjaan pemasangan kolom baja : 1. Persiapkan material dan alat bantu yang digunakan

2. Kolom baja HWF di angkat ke lokasi pemasangan menggunakan tower crane

Laporan Kerja Praktek

Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik Universitas Andalas

Laporan Kerja Praktek III-62 3. Kolom baja HWF ditempatkan dengan hati hati di atas kolom yang akan dilakukan penyambungan, hal ini untuk meminimalisir risiko pergeseran atau kerusakan.

4. Pemasangan stiffener dengan ketebalan 10 mm dibagian bawah kolom HWF yang berfungsi untuk menambah kekakuan dan memperkuat sambungan.

5. Kolom baja HWF dihubungkan pada angkur dan plat yang telah dipasang sebelumnya dan kemudian dikunci menggunakan baut dengan menggunakan kunci pengencang.

Gambar 3. 77 Pekerjaan Pemasangan Kolom HWF c. Pekerjaan Pemasangan balok baja IWF 350.175.7.11

Baja IWF berfungsi sebagai balok penopang utama yang menahan beban atap, memberikan kekuatan dan stabilitas pada struktur atap baja. Proses pemasangan baja IWF diawali dengan mengangkatnya ke lokasi pemasangan menggunakan tower crane, memastikan elemen ini dapat diposisikan dengan tepat dan aman.

Setelah baja IWF berada di lokasi yang diinginkan, sambungkan baja tersebut menggunakan dua buah baut baja, yang dipasang dengan jarak antar baut sebesar 14 cm. Pastikan baut dipasang dengan benar untuk menjamin kekuatan sambungan dan keamanan struktur keseluruhan. Setiap langkah pemasangan harus dilakukan secara teliti dan sesuai dengan pedoman teknik untuk menjaga integritas struktur dan mengoptimalkan kinerja elemen penopang atap.

Laporan Kerja Praktek III-63 Gambar 3. 78 Pekerjaan Pemasangan Balok IWF

Dalam dokumen LAPORAN KP FINAL PALING FIX-4-257 (Halaman 95-110)