Jika organisasi telah menentukan perilaku antipersaingan merupakan topik material, sub-bagian ini mencantumkan pengungkapan yang dianggap relevan untuk pelaporan tentang topik oleh sektor minyak dan gas.
STANDAR PENGUNGKAPAN NO.
RUJUKAN STANDAR SEKTOR
Manajemen topik
GRI 3: Topik Material 2021
Pengungkapan 3-3 Manajemen topik material 11.19.1
Pengungkapan Standar Topik
GRI 206: Perilaku Anti-persaingan 2016
Pengungkapan 206-1 Langkah-langkah hukum untuk perilaku anti-persaingan, praktik anti-trust dan monopoli
11.19.2
Rujukan dan sumber
GRI 206: Perilaku Antipersaingan 2016 mencantumkan instrumen antarpemerintah resmi dan rujukan tambahan yang berkaitan dengan pelaporan tentang topik ini.
Instrumen resmi tambahan dan rujukan yang digunakan dalam mengembangkan topik ini, serta sumber daya yang mungkin bermanfaat untuk pelaporan tentang perilaku antipersaingan oleh sektor minyak dan gas dicantumkan dalam Daftar Pustaka.
Topik 11.20 Anti-korupsi
Antikorupsi merupakan cara organisasi mengelola potensi terlibatnya perilaku korupsi. Korupsi merupakan praktik seperti suap, pembayaran uang pelicin, penipuan, pemerasan, kolusi, pencucian uang, atau penawaran atau penerimaan bujukan untuk melakukan sesuatu yang tidak jujur atau melanggar hukum. Topik ini membahas dampak terkait dengan korupsi dan pendekatan organisasi terkait kontrak dan transparansi kepemilikan.
Korupsi di sektor minyak dan gas dapat terjadi di seluruh rantai nilainya dan berhubungan dengan berbagai dampak negatif, seperti misalokasi pendapatan sumber daya, kerusakan pada lingkungan, penyalahgunaan demokrasi dan hak asasi manusia, dan ketidakstabilan politik. Korupsi dapat menyebabkan pengalihan pendapatan publik ke penerima manfaat swasta, yang merugikan investasi, misalnya, dalam infrastruktur atau layanan. Hal ini sangat penting di negara-negara dengan tingkat kemiskinan tinggi, yang menyebabkan peningkatan ketidaksetaraan dan konflik dalam sumber daya minyak dan gas (lihat topik 11.18 Konflik dan keamanan).
Sektor minyak dan gas menghadapi risiko lebih tinggi dalam korupsi dibandingkan dengan sektor lain. Karakteristik sektor ini yang berkontribusi pada potensi korupsi di antaranya adalah interaksi yang sering antara organisasi sektor minyak dan gas dan orang-orang yang terikat politik , seperti pejabat pemerintah untuk mendapatkan izin dan persetujuan sesuai hukum lainnya. Karakteristik sektor terkait lainnya meliputi transaksi keuangan yang kompleks dan jangkauan internasional sektor ini.
Badan usaha milik negara (BUMN) menghadapi tantangan tertentu terkait dengan korupsi karena mereka mungkin memiliki kontrol internal yang kurang efektif dan mungkin mendapatkan pengawasan independen yang berat sebelah. Selain mendorong keuntungan, BUMN juga dapat mengejar tujuan yang lebih luas seperti pembangunan masyarakat. Sekalipun demikian, tanpa pengawasan yang memadai, tindakan untuk pembangunan masyarakat dapat disalahgunakan untuk tujuan korupsi. Organisasi di sektor minyak dan gas yang menjalin kerja sama dengan BUMN dalam usaha bersama dapat menghadapi risiko tambahan terkait dengan korupsi sebagai akibat dari hubungan bisnis ini.
Kasus korupsi selama proses penawaran untuk izin eksplorasi dan izin produksi telah didokumentasikan di sektor minyak dan gas. Organisasi di sektor ini telah menggunakan praktik kotor untuk memperoleh informasi rahasia, memengaruhi pengambilan keputusan, dan menghindari persyaratan lingkungan atau persyaratan lainnya. Kasus tersebut mengakibatkan izin diberikan kepada organisasi yang kurang memenuhi syarat, membahayakan investasi publik, atau memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dan komunitas lokal. Prosedur pemberian izin yang tidak jelas juga dapat menghalangi pengawasan publik pada investasi minyak dan gas serta transaksi yang dapat menyebabkan berkurangnya pendapatan publik.
Dalam kasus lain, praktik kotor telah menargetkan untuk menghalangi atau mengarahkan kebijakan dan regulasi atau untuk memengaruhi penegakan kebijakan dan regulasi tersebut. Hal ini meliputi regulasi mengenai hak atas tanah dan sumber daya, pajak, dan retribusi pemerintah lainnya, atau perlindungan lingkungan.
Di seluruh rantai nilai, kurangnya transparansi dalam prosedur pengadaan di sektor minyak dan gas juga dapat mendatangkan risiko korupsi atau penipuan. Contoh hal ini dapat meliputi pembayaran suap untuk agar dibebaskan dari regulasi atau persyaratan kualitas, menerima suap komisi untuk mendapatkan kontrak dengan harga lebih rendah, atau mendapatkan keuntungan dari harga lebih rendah yang dibebankan oleh entitas yang ditetapkan sebagai organisasi garda depan.
Untuk memerangi korupsi dan mencegah dampak negatif yang berasal darinya, organisasi di sektor minyak dan gas diharapkan oleh pasar, norma internasional, dan pemangku kepentingan untuk menunjukkan ketaatannya terhadap integritas, tata kelola, praktik bisnis yang bertanggung jawab.
13
13 Orang yang populer secara politis dedifinisikan oleh Financial Action Taskforce sebagai “individu yang diberi kepercayaan dengan fungsi publik yang menonjol” [367].
Kotak 7. Transparansi tentang kontrak dan struktur kepemilikan
Publikasi kontrak pemerintah merupakan praktik yang sedang berkembang. Publikasi ini didukung oleh organisasi-organisasi seperti PBB, Dana Moneter Internasional (IMF), Korporasi Keuangan Internasional (IFC), Asosiasi Advokat Internasional, dan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Kontrak yang mengatur ekstraksi sumber daya minyak dan gas biasanya dirancang oleh organisasi di sektor ini dan pemerintah atas nama warga negara atau komunitas lokal tanpa pengawasan publik. Ketentuan yang adil untuk berbagi risiko dan manfaat yang menguntungkan, termasuk yang berkaitan dengan transisi yang tepat, sangatlah relevan karena pandangan jangka panjang dan dampak proyek yang luas. Transparansi kontrak membantu komunitas lokal menuntut tanggung jawab dari pemerintah dan organisasi tentang ketentuan dan kewajiban mereka yang dirundingkan. Hal ini juga mengurangi ketidakselarasan informasi antara pemerintah dan organisasi minyak dan gas serta membantu memberikan kesempatan setara dalam perundingan.
Kurangnya transparansi tentang struktur kepemilikan dapat mempersulit untuk menentukan siapa yang mendapatkan manfaat dari transaksi keuangan di sektor minyak dan gas. Transparansi kepemilikan manfaat telah diidentifikasi sebagai peluang signifikan untuk mencegah konflik kepentingan, korupsi, serta
penghindaran dan pengelakan pajak.
Lihat rujukan [365] dan [369] di Daftar Pustaka.