• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Berdasarkan Teori Behavioral Economic

BIJAK MENGELOLA UANG DI MASA MUDA MENUAI HASIL MELIMPAH DI MASA TUA

A. PENDAHULUAN 1.Gagasan Artikel

1. Pembahasan Berdasarkan Teori Behavioral Economic

Berdasarkan teori behavioral economic yang Pada tahun 2002, Kahneman menerima Hadiah Nobel Memorial dalam Ilmu Ekonomi untuk kontribusi dalam mempelajari rasionalitas ekonomi (Ted Conferences, t.t). Kahneman dan Tversky telah berfokus banyak penelitian mereka pada bias kognitif dan heuristik (pendekatan untuk pemecahan masalah) yang menyebabkan orang untuk terlibat dalam perilaku irasional tak terduga. Perilaku ini yang kemudian mendorong keduanya untuk mengembangkan teori pengambilan keputusan dalam kondisi ketidakpastian (uncertainty) yang dikenal sebagai teori prospek (prospect theory) sekitar tahun 1979 (Kahneman, 2003).

Dampak APBN sektor pendidikan secara psikologis berpengaruh terhadap perekonomian dan pembangunan. Asumsi yang digunakan dalam penetapan postur anggaran pendidikan akan memiliki kemungkinan dampak positif dan dampak negatif.

Meskipun asumsi yang dibangun bahwa pemenuhan 20 persen anggaran pendidikan memberikan dampak positif terhadap pasar dan tenaga kerja dan diharapkan tidak terjadi kerugian, sehingga diasumsikan bahwa APBN tidak memiliki dampak negatif atau akibat buruk bagi perekonomian negara, bahkan memiliki pengaruh dalam manfaat bagi negara. (a) APBN sebagai instrumen yang digunakan untuk memperbaiki kestabilan perekonomian nasional; (b) APBN digunakan untuk menunjang sektor pasar yang ikut berperan dalam pertumbuhan ekonomi; (c) APBN menimbulkan investasi masyarakat;

dan (d) APBN memngaruhi pertumbuhan ekonomi dan perilaku masyarakat melalui

berpengaruh terhadap mekanisme pasar, sehingga membentuk ketidaksamaan pendapatan dan kesejahteraan di masyarakat.

Prinsip pertama yang diajukan oleh teori prospek adalah fungsi nilai (value function), dimana nilai dalam kerangkan kerja bipolar terletak diantara perolehan (gains) dan kehilangan (losses). Jadi, fungsi nilai bagi suatu perolehan (mendapatkan sesuatu) akan berbeda dengan kehilangan sesuatu. Value bagi suatu kehilangan dibobot lebih tinggi, sedangkan, value bagi suatu perolehan dibobot lebih rendah (Kahneman, 2003).

Misalnya, pada penetapan asumsi pemenuhan 20 persen anggaran pendidikan, ketika negara tidak memenuhi kebutuhan 20 persen, maka dirasakan lebih tinggi nilai kerugian, bila dibandingkan dengan keuntungan yang dirasakan. Dengan kata lain antara keuntungan dengan kerugian merupakan dua hal yang tidak simetris. Prinsip kedua adalah pembingkaian (framing), dimana teori prospek melihat bahwa preferensi akan tergantung pada bagaimana suatu persoalan dibingkai atau di formulasikan (Kahneman, 2003). Dalam hal ini, frame yang diadopsi dapat mempengaruhi keputusan yang diambil, dan dalam kondisi ketidakpastian orang akan memilih pilihan yang menghasilkan (expected utility) terbesar. Frame yang diadopsi kemudian ditentukan oleh formulasi masalah yang dihadapi, norma dan kebiasaan, serta karakteristik para pengambil keputusan. APBN memberikan sarana untuk membingkai persoalan pendidikan secara menyeluruh agar masyarakat dapat memahami arah pembangunan pendidikan yang direncanakan pemerintah. Perhatian pemerintah dalam mengalokasikan dana pendidikan lebih besar dari sektor lain seperti industri atau militer melalui mekanisme pembelanjaan modal akan menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap peningkatan pelayanan pendidikan dan kepentingan masyarakat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Prinsip ketiga adalah perhitungan psikologis atau perhintungan mental yakni asumsi bahwa pengambilan keputusan tidak hanya bembingkai dari pilihan-pilihan yang ditawarkan, tetapi juga membingkai hasil serta akibat dari pilihan tersebut. Berdasarkan prinsip ini, kebijakan pemerintah terlihat dari postur APBN di sektor pendidikan khususnya difokuskan pada (a) penguatan pemangku kepentingan pendidikan dan kebudayaan, (b) peningkatan akses dan mutu pendidikan dan kebudayaan, serta (c) efektivitas birokrasi melalui perbaikan tatakelola dan pelibatan publik dalam penyelenggaraan pendidikan. Khusus untuk pagu alokasi APBN 2016, Kemendikbud memberikan pilihan alokasi terbesar pada unit kerja yang mengelola program pendidikan dasar dan menengah sebesar Rp. 27, 50 triliun serta guru dan tenaga kependidikan sebesar RP. 12,57 triliun.

Prinsip keempat adalah probabilitas, dimana teori prospek melihat kecendrungan pengambilan keputusan sebagai fungsi dari bobot keputusan (decision weight) itu sendiri (Kahneman, 2003). Decision weight ini tidak selalu dihubungkan dengan besar kecilnya peluang atau frekuensi kejadian. Hal ini dapat dilihat dari fenomena yang menimbulkan kerugian berskala besar. Seperti bencana alam dan konflik. Penyusunan alokasi APBN 2016 ditetapkan dengan melihat permaslaahan pendidikan dalam jangka panjang dengan asumsi stabilitas social politik untuk lima tahun ke depan.

Prinsip kelima adalah efek kepastian dimana dalam memprediksi pilihan dilakukan tanpa pertimbangan resiko sama sekali akan lebih disukai dibanding pilihan yang masih beresiko meski kemungkinannya sangat kecil. Hal ini didasari kecenderung

(reduce) (Kahneman, 2003). Secara singkat dapat dikatakan teori prospek menunjukkan, bahwa orang akan memiliki kecenderungan irasional untuk lebih enggan mempertaruhkan keuntungan (gain) daripada kerugian (loss). Berdasarkan teori ini, APBN di sektor pendidikan ditetapkan berdasarkan pertimbangan bahwa penetapan pagu alokasi setiap unit biaya didasarkan pada prinsip disiplin anggaran dimana pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian ketersediaan penerimaan dana dalam jumlah yang cukup untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi prioritas. Tidak dibenarkan melaksanakan kegiatan atau proyek yang belum atau tidak tersedia dalam APBN.

Sistem pendidikan di Indonesia adalah sistem yang sangat besar dan sangat terdesentralisasi, dengan lebih dari 500 pemerintah daerah memiliki peran besar dalam pengelolaannya. Hal ini termasuk pengelolaan aset-aset penting dalam sistem tersebut, yaitu 59 juta pelajar, 330.000 sekolah dan hampir 3 juta guru. Meskipun di beberapa kementerian/lembaga mengalokasikan pengeluaran untuk pendidikan dalam anggaran mereka,l Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan dan mengelola sistem pendidikan. Di bawah kedua kementerian tersebut, penyelenggaraan pendidikan oleh sektor swasta dan pemerintah berjalan berdampingan, dengan dukungan pemerintah dalam bentuk penyediaan guru PNS (untuk setiap jenjang pendidikan) dan hibah sekolah (untuk jenjang pendidikan dasar). Pendidikan dasar selama sembilan tahun (sekolah dasar dan menengah pertama) bersifat wajib dan menerima subsidi yang besar, namun rumah tangga memberikan kontribusi besar untuk jenjang pendidikan menengah atas dan sangat besar untuk jenjang pendidikan tinggi. Hal ini sebagian disebabkan oleh terbatasnya dukungan untuk kedua jenjang pendidikan tersebut.

Sekolah umum di bawah Kemendikbud pada umumnya menyelenggarakan layanan pendidikan dasar, sedangkan sekolah swasta lebih banyak menyelenggarakan layanan pendidikan menengah atas dan pendidikan tinggi (World Bank, 2013:16).

Perlu diketahui bahwa meskipun belanja publik meningkat dengan pesat, Pemerintah Indonesia masih membelanjakan sebagian kecil dari PDBnya untuk pendidikan dibanding negara-negara berpenghasilan menengah lainnya. Dengan porsi sebesar 3,7 persen dari PDB, belanja pendidikan Indonesia lebih kecil dibanding negara tetangga Thailand, Vietnam atau Malaysia, dan hanya setengah dari negara-negara berpenghasilan tinggi dan maju seperti Norwegia. Belanja Indonesia lebih tinggi dibanding negara-negara tetangganya yang ber penghasilan lebih rendah, dengan porsi belanja pendidikan dari PDB lebih besar daripada Laos, Kamboja dan Filipina.

Dibandingkan dengan penerimaannya, belanja Indonesia untuk pendidikan tergolong masih rendah, terutama untukjenjang pendidikan menengah. Sebagai bagian dari PDB per kapita, belanja Indonesia per siswa berada di bawah belanja sebagian besar negara maju dan negara pembandingnya di wilayah yang sama. Pada pendidikan dasar dan menengah, Indonesia berada di bagian belakang dari distribusi. Untuk pendidikan dasar, Indonesia berada di atas Filipina dan Chili, dan hanya sedikit di bawah Meksiko atau Malaysia, namun Indonesia tertinggal tidak hanya di belakang negara-negara berpenghasilan tinggi, tetapi juga sebagian negara berpenghasilan menengah seperti Vietnam dan Thailand. Pada pendidikan menengah, perbedaannya semakin besar. Pada

2013: 10)