BAGIAN KEDUA
A. KESIMPULAN, REKOMENDASI, DAN DAMPAK
2. Peran MSDM dalam peningkatan daya saing dan kinerja perusahaan
Suatu perusahaan dikatakan memiliki daya saing atau keunggulan kompetitif (competitive advantage) adalah ketika perusahaan tersebut mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki pesaing, melakukan sesuatu lebih baik dari perusahaan lain atau mampu melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh perusahaan lain.
Terdapat dua tipe keunggulan kompetitif, yaitu : cost advantage dan differentiation advantage. Suatu keunggulan kompetitif muncul ketika perusahaan dapat menghasilkan produk yang sama dengan yang dihasilkan pesaingnya dengan biaya yang lebih rendah (cost advantage), atau menghasilkan produk yang berbeda dan lebih baik dari yang dihasilkan pesaingnya (differentiation advantage).
Keunggulan kompetitif akan memungkinkan perusahaan untuk menciptakan nilai lebih kepada pelanggannya dan perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang lebih tinggi. Cost advantage dan differentiation advantage ini dikenal dengan positional advantage karena dapat memposisikan perusahaan sebagai pemimpin industri dalam hal biaya (cost) ataupun dalam keunikannya (differentiation).
Daya saing atau kompetitif berakar pada pengalaman (experience), percobaan dan analisis kontekstual. Ketiganya berada dalam satu pemahaman yakni insight, sebagai modal dalam membentuk pengetahuan melalui pengelolaan informasi dan interaksi kolaboratif. Dalam menciptakan inovasi, pengetahuan yang ada ditranslasikan ke dalam tindakan (action) dengan dukungan teknologi, proses dan sumber daya manusia. Faktor kesuksesan yang juga menentukan dalam pembentukan daya saing perusahaan (selain faktor modal dan keuangan) adalah : 1. Sumber daya manusia
Di dalam perusahaan SDM merupakan lokus dari pengetahuan, ide-ide dan pengalaman yang merupakan modal dalam penciptaan inovasi.
2. Budaya perusahaan.
Nilai-nilai dalam perusahaan menentukan seberapa kuat proses berbagi pengetahuan yang di bangun dalam perusahaan.
3. Sistem Knowledge Management
Penerapan KM dalam perusahaan akan berdampak besar dalam menciptakan prosedur penciptaan hingga penyebaran pengetahuan. Penciptaan inovasi sebagai daya saing harus ditopang oleh sistem KM yang kuat dan berorientasi jangka panjang.
Ukuran kualitas karyawan perusahaan yang diharapkan dapat digambarkan melalui karakteristik SDM strategik berikut ini (Reilly :2011) :
Terintegrasi : mencakup pengintegrasian serangkaian aktivitas dalam perusahaan.
Komprehensif : mencakup seluruh kegiatan operasional dalam perusahaan.
Memberi nilai tambah yang tinggi : fokus pada kegiatan bisnis penting.
Membangun modal sosial : membantu proses sharing pengetahuan, jaringan dan relasi.
Mampu mengantisipasi perubahan : melalui analisis internal dan eksternal perusahaan.
Kualitas SDM strategik ini tentu tidak datang dengan sendirinya tetapi terletak pada kemampuan perusahaan dalam memberikan perhatian terhadap SDM melalui pengembangan sistem dan praktik pengelolaan SDM dengan baik. Dimensi daya saing dalam SDM semakin menjadi faktor penting sehingga upaya memacu kualitas SDM melalui pendidikan merupakan hal yang harus dikedepankan.
Kualitas SDM juga menyangkut dimensi yang seringkali sulit diukur, seperti etos kerja serta dorongan untuk beraktualisasi dalam mencapai kinerja superior. Untuk itu dibutuhakn komitmen yang tinggi dari para pengelola PTPN X untuk meningkatkan kualitas SDM melalui strategi, kebijakan praktik perusahaan yang terintegrasi menuju keunggulan bersaing dengan membangun basis-basis keunggulan bersaing perusahaan. Pengintegrasian SDM dalam strategi bisnis ini dimaksudkan untuk memberdayakan SDM yang dimiliki dalam penegelolaan berbagai unit kerja dalam PTPN X agar proses pengelolaan sumber-sumber daya tersebut dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
Dalam rangka meningkatkan kinerja dan daya saing PTPN X harus berupaya meningkatkan kinerja SDM dengan meningkatkan keahlian dan ketrampilan untuk mempersiapkan SDM menghadapi promosi jabatan maupun pemecahan masalah.
Peningkatan kinerja ini dapat dilakukan melalui proses pendidikan, pelatihan dan pengembangan SDM. Pendidikan dan pelatihan menitikberatkan pada beberapa jenis ketrampilan dan keahlian yang relatif sejenis serta dilakukan dalam jangka pendek, sedangkan proses pengembangan SDM lebih berorientasi pada peningkatan ketrampilan dan keahlian yang lebih luas dan beragam serta dapat dilakukan dalam jangka panjang.
Keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja telah menjadi hal penting yang harus diperhatikan oleh PTPN X. Manajemen K3 bukan hanya menjadi tanggung jawab bagian Departemen SDM saja, tetapi telah menjadi tanggung jawab semua pihak yang ada di PTPN X. Manajemen K3 merupakan suatu sistem yang bertujuan
melakukan pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya kecelakaan yang diakibatkan oleh aktivitas kerja dan juga pencegahan akan timbulnya penyakit yang diakibatkan oleh hubungan kerja di dalam lingkungan kerja para karyawan. K3 harus dikelola dengan baik dan benar untuk mencegah timbulnya masalah di kemudian hari. Masalah yang berpotensi timbul mulai dari ketidakpuasan karyawan hingga tuntutan hukum karena mengabaikan faktor-faktor K3. Selain itu biaya yang akan dikeluarkan perusahaan akan sangat besar apabila sampai terjadi kecelakaan di tempat kerja.
Penerapan K3 yang baik di PTPN X akan diperoleh beberapa keuntungan diantaranya :
Menurunkan tingkat turnover karyawan.
Menciptakan kondisi kerja yang baik.
Mengurangi tingkat absensi.
Meningkatkan produktivitas.
Sedangkan, apabila perusahaan mengabaikan manjemen K3 maka beberapa potensi dampak buruk yang akan ditimbulkan diantaranya :
Meningkatnya angka kecelakaan dan kematian kerja.
Terganggunya proses operasional perusahaan.
Mengurangi output produksi.
Terciptanya hubungan industrial yang buruk.
Tuntutan hukum akibat kecelakaan dan kematian kerja.
Penutupan paksa terhadap perusahaan oleh pemerintah.
Dalam lingkungan kerja, terdapat beberapa hal yang cukup membahayakan bagi karyawan seperti yang telah diklasifikasikan oleh Kit Sadgrove, yaitu : Dangerous Machine, Pressure Systems, Noise and Vibration, Electrical Safety, Hazardous Subtances, Confined Spaces, Lifting and Handling, repetitive Strain Injury and Working with Computer, Slips, Trips and Fall, Injury caused by Vehicles, Driving Risk for service Business and Human Factor.
Manajemen K3 merupakan suatu sistem yang bertujuan sebagai upaya pencegahan (preventif) terhadap kemungkinan timbulnya kecelakaan kerja atau penyakit akibat hubungan kerja. Beberapa strategi yang dapat diterapkan oelh PTPN X untuk meminimalisir terjadinya resiko keselamatan dan kesehatan di lingkungan kerja adalah :
1. Mengontrol staff dan besaran resiko melalui pelatihan karyawan serta isolasi peralatan atau area kerja tertentu.
2. Mengontrol bahaya melalui pemeriksaan berjangka dan modifikasi proses produksi.
3. Menghilangkan bahaya merupakan tindakan yang paling efisien dengan proses produksi yang menjadi lebih aman dan mulai meninggalkan proses produksi yang berbahaya.
4. Perlu adanya pengembangan database secara electronic data interchange, sehingga pelaporan dapat dilakukan dengan cepat dan didukung dengan sumber daya manusia yang berkompeten dan andal.